Mubadalah.id – Sebuah gerakan IsIam berbasis semangat kesalingan, dewasa ini mencuat ke publik sebagai sebuah wajah pembaruan kehidupan berisIam yang lebih smiley dan friendly.
Sesuai makna katanya, nilai Mubadalah berkeinginan untuk menyuguhkan potret praktik IsIam berkeadilan dalam relasi antar sesama—utamanya antara lelaki dan perempuan.
Gagasan dan gerakannya progresif, menyentuh aktivisme perempuan, orang muda, juga baru-baru ini berfokus pada kalangan disabilitas dengan masyarakat akar rumput sebagai basis utama.
Salah satu tokoh penggeraknya adalah KH Husein Muhammad—selain Faqihuddin Abdul Kodir (murid Kiai Husein) selaku penginisiasinya, sufi dari Cirebon yang bersahabat karib dengan Gus Dur.
Tak heran, jika jeli melihat gerak gelombang Mubadalah—tanpa mengglorifikasi atau deuisisasi pendewaan), orang bisa menemukan percikan nilai, semangat, juga pemikiran khas Gus Dur.
Khas dalam arti ramah, riang, serta memeluk.
Tiga prinsip Mubadalah dan cita-cita Gus Dur
Mubadalah mengenal tiga prinsip kunci di dalam praktik pendekatannya. Tiga prinsip ini sangat berkeinginan untuk menghadirkan agama yang berpihak kepada kemanusiaan. Ketiganya persis seperti cita-cita Gus Dur.
Nilai-nilai mubadalah memegang prinsip bahwa teks agama bersifat egaliter, relasi sesama bersemangatkan kesalingan, serta keterbukaan akan reinterpretasi. Gamblang sudah, Mubadalah sangatlah progresif.
Teks agama yang egaliter mengandung pengertian bahwa sumber qauliyah di dalam praktik agama (Alquran dan Assunnah) menyasar perempuan dan lelaki secara keseluruhan. Artinya, tidak ada dalil parsial yang mengistimewakan salah satu gender saja.
Sementara itu, prinsip relasi kesalingan mengajarkan perlunya kerja sama antara lelaki dan perempuan dalam menjalankan perintah agama. Tidak boleh ada praktik hegemoni, dominasi, serta despotik di antara keduanya.
Selanjutnya, Mubadalah juga mengenal prinsip keterbukaan reinterpretasi teks-teks agama. Hal ini bermakna bahwa selalu ada ruang untuk melakukan kontekstualisasi dan penyelarasan.
Tradisi ber-ushul fiqih
Dalam kaidah ushul fiqih, sebagaimana sering Gus Dur pakai, progresivitas Mubadalah sesuai dengan adagium al muhafazah ‘ala al qadim as shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah. Yakni, kesadaran untuk melanjutkan tradisi baik terdahulu, sekaligus mengupayakan kontekstualisasi yang lebih baik.
Sementara, dalam hal maqashid syariah, Mubadalah mempertimbangkan betul bagaimana al kulliyat al khamsah sungguh mengakomodasi kepentingan pria dan wanita secara berimbang.
Pertimbangan akomodatif yang lagi-lagi egaliter ini erat kaitannya dengan salah satu dari sembilan nilai utama pemikiran Gus Dur, yakni ihwal kesetaraan. Selain itu, praktik tersebut juga cocok dengan nilai keadilan dan pembebasan.
Mubadalah mengedepankan sinergi dan kolaborasi (musyarakah), alih-alih kompetisi dan penaklukan. Dalam kaca pandang Mubadalah, relasi antar sesama memang semestinya demikian, tidak stratifikatif dan berlapis-lapis.
Pengaruh intelektualitas Gus Dur
Secara garis besar, tampak jelas bagaimana pemikiran Gus Dur punya relevansi dengan prinsip-prinsip dalam pendekatan Mubadalah. Tentu, kita tak bisa dan tak boleh menyebut jika Mubadalah lahir dari buah pikiran Gus Dur seorang.
Namun, kita bisa mengatakan bahwa perspektif dan intelektualitas Gus Dur, tanpa bisa dielakkan lagi, telah mewarnai pelbagai pemikiran keislaman dewasa ini. Diseminasinya telah berlangsung luas dan menyentuh banyak kalangan.
Selain nilai Mubadalah, lahirnya Jaringan Islam Liberal (JIL) kiranya juga tak lepas dari pengaruh Gus Dur di arena pembaruan IsIam. Apalagi, salah seorang pentolan JIL, Ulil Abshar Abdalla, secara terang-benderang mengakui sebagai santri dan fans Gus Dur.
Jadi, sangat Gus Dur bukan, IsIam kita hari-hari ini? Tapi, tentu saja mustahil kita menyebut terminologi Islam Gus Dur. Selain terdengar terlalu mendewakan, frasa tadi juga pasti bakal menyeret timbulnya polemik.
Akan lebih bijaksana jika kita bersyukur ria pernah memiliki sosok Gus Dur sebagai teladan dalam berislam di Indonesia ini. Tentu, ia bukan teladan sempurna. Lagi pula, adakah yang sempurna di antara kita semua? []




















































