Mubadalah.id – Belakangan ini, saya suka sekali memasak. Karena saya seorang konten kreator, kegiatan itu juga kerap saya abadikan dalam bentuk video dan saya unggah di story media sosial. Responnya beragam. Ada yang meminta resep, ada yang mengapresiasi, tapi tidak sedikit pula yang melontarkan komentar bernada menghakimi.
Konten memasak yang seharusnya sesederhana kegiatan menyiapkan makanan sering berubah menjadi medan tafsir ideologis. Selalu ada yang merasa perlu memberi label pada saya “Wah, sudah kembali ke kodrat.” “Perempuan memang tempatnya di dapur.” Bahkan ada yang berkata, “Dulu kamu nggak suka masak. Sekarang suka masak, berarti sudah tunduk.”
Komentar-komentar ini menunjukkan satu hal penting bahwa tubuh dan pilihan perempuan masih anggapannya sebagai ruang publik yang sah untuk kita nilai. Apa pun yang perempuan lakukan, selalu terlekati makna moral. Ketika menolak dapur, menganggapnya ia melawan. Ketika masuk dapur, ia kita anggap kalah. Padahal, dapur bukan penjara, dan memasak bukan takdir biologis.
Masak Bukan Kodrat: Sebuah Kampanye Terselubung
Melalui akun Instagram dan TikTok @masakbukankodrat, saya dan pasangan saya membuat konten memasak bukan untuk meromantisasi peran domestik, apalagi mengglorifikasi pengorbanan perempuan. Konten masak bukan kodrat ini lahir dari kegelisahan panjang kami tentang bagaimana kerja domestik terus-menerus melekat pada perempuan, sementara laki-laki terposisikan sebagai pembantu jika ikut terlibat.
Kami juga terinspirasi dari berbagai konten kreator yang konsisten membicarakan isu pangan dan kesetaraan gender seperti Babeheji, Mas Dhamang dan Mbak Rosandra, Mbak Kalis bersama Mas Agus, Mas Yoga Arizona, dan kawan-kawan lain yang membuka percakapan soal dapur dan pembagian peran rumah tangga dengan cara yang lebih adil dan setara.
Selain itu, kami ingin membongkar cara pandang lama yang memisahkan kerja publik dan kerja domestik secara timpang. Kami ingin mengingatkan bahwa rumah adalah ruang hidup bersama, bukan wilayah kodrati satu jenis kelamin. Dalam konteks ini, masak bukan kodrat. Ia juga bukan pesan kepatuhan, melainkan pesan pembagian peran.
Mengapa Kodrat Sering Disalahgunakan?
Istilah kodrat kerap kita gunakan seolah-olah ia adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa tergugat. Padahal, kodrat memiliki batas yang jelas. Secara biologis, kodrat perempuan berkaitan dengan fungsi tubuh: menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Itu pun tidak semua perempuan alami dengan cara dan pengalaman yang sama.
Sementara memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak, dan merawat anggota keluarga yang sakit adalah kerja domestik dan perawatan (care work). Ia bisa kita pelajari, diajarkan, terbagi, dan kita negosiasikan. Tidak ada gen memasak dalam tubuh perempuan. Yang ada adalah kebiasaan yang terwariskan dan dinormalisasi lintas generasi. Ketika kerja domestik dan perawatan kita sebut sebagai kodrat, di situlah ketidakadilan mulai terlegitimasi.
UN Women dalam berbagai laporannya menunjukkan bahwa pekerjaan domestik dan kerja perawatan yang tidak dibayar masih dibebankan secara tidak proporsional kepada perempuan di seluruh dunia. Perempuan menghabiskan waktu dua hingga tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki untuk kerja domestik dan pengasuhan.
Kerja ini menopang kehidupan, tetapi jarang diakui sebagai kerja yang bernilai. Ia tidak tercatat dalam slip gaji, tidak dihitung sebagai jam kerja formal, dan sering dianggap sebagai kewajiban alamiah perempuan. Akibatnya, ketika perempuan lelah, kelelahan itu tidak dianggap sah.
Memasak sebagai Pilihan, Bukan Kepatuhan
Saya dan pasangan saya memasak karena kami mau. Lebih sering kami berbagi peran. Saya memasak dia mencuci piring, begitu pun sebaliknya. Kami melakukannya bukan karena patriarki memberi perintah. Dalam praktik sehari-hari, dapur justru menjadi ruang paling jujur untuk melihat relasi siapa yang terbiasa terlayani, siapa yang belajar berbagi, dan siapa yang mau bertanggung jawab.
Ketika laki-laki masuk dapur, dunia tidak runtuh. Ketika perempuan memilih tidak memasak, harga dirinya tidak hilang. Namun budaya kita masih kesulitan menerima dua kemungkinan ini tanpa rasa curiga.
Simone de Beauvoir dalam The Second Sex mengatakan bahwa seseorang tidak terlahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan. Peran domestik bukan bawaan lahir, melainkan hasil pembentukan sosial yang terus berulang hingga tampak alamiah.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa kontribusi kerja domestik perempuan sangat besar terhadap keberlangsungan ekonomi, meskipun tidak tercatat sebagai aktivitas produktif dalam sistem upah formal. Bersama UNDP, berbagai kajian menunjukkan bahwa jika kerja-kerja perawatan terhitung sebagai nilai ekonomi, kontribusinya bisa mencapai sepertiga Produk Domestik Bruto di banyak negara.
Fakta ini penting untuk kita ingat, karena masih banyak yang menyebut kerja domestik sebagai bantuan, bukan tanggung jawab bersama. Padahal, tanpa kerja ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan.
Karena itu, kampanye Masak Bukan Kodrat tidak pernah mengatakan perempuan tidak boleh memasak. Yang kami tolak adalah pemaksaan, penghakiman, dan penutupan pilihan.
Dapur sebagai Ruang Pendidikan Relasi
Dalam keluarga, dapur sering menjadi ruang pertama anak-anak belajar tentang keadilan. Mereka melihat siapa yang bekerja, siapa yang beristirahat, dan siapa yang kita anggap wajar untuk lelah. Anak-anak belajar bukan dari ceramah, tetapi dari praktik sehari-hari.
Karena itu, rumah adalah ruang pendidikan politik paling awal. Bukan politik kekuasaan, melainkan politik keadilan dan pembagian tanggung jawab.
Lewat @masakbukankodrat dan #SetaraJalurPangan, kami ingin mengajak lebih banyak orang melihat dapur secara jujur. Bukan sebagai simbol kepatuhan, dan bukan pula alat penindasan. Dapur hanya menjadi masalah ketika ia kita paksakan dan termonopoli.
Pada akhirnya, yang perlu kita perjuangkan bukan siapa yang memasak, melainkan siapa yang kita beri pilihan, siapa yang boleh berubah, dan siapa yang tidak dipermalukan karena hidupnya bergerak.
Karena perempuan yang merdeka bukan perempuan yang menjauhi dapur selamanya, melainkan perempuan yang bisa masuk dan keluar dari dapur tanpa kehilangan diri dia. Dan itulah mengapa kami terus mengampanyekan dengan sadar bahwa Masak bukan kodrat. []


















































