Mubadalah.id – Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi secara garis besar menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan serta relasi kuasa yang mengontrol tubuh perempuan melalui kisah tokoh utamanya, Firdaus.
Buku Novel Perempuan di Titik Nol menghadirkan potret kehidupan Firdaus yang menunggu hukuman mati setelah membunuh germonya. Sekaligus membuka lapisan realitas sosial yang membentuk perjalanan hidupnya sejak kecil.
Nawal el-Saadawi dikenal sebagai penulis, dokter, dan aktivis perempuan asal Mesir. Latar belakangnya bekerja di wilayah pedesaan, rumah sakit, hingga menjabat sebagai direktur kesehatan masyarakat memperkuat sudut pandang realistis dalam novel tersebut. Pengalaman profesionalnya membuat narasi yang Nawal sajikan terasa faktual dan dekat dengan kondisi sosial yang dihadapi banyak perempuan.
Dalam cerita, Firdaus tumbuh dalam kemiskinan sejak masa kanak-kanak. Ia bekerja di ladang, memikul kendi air berat di atas kepala, dan menjalani kehidupan keras yang seharusnya tidak anak seusianya alami.
Selain tekanan ekonomi, ia juga mengalami kekerasan seksual sejak kecil, baik dari teman sebaya maupun orang dewasa di lingkungan terdekatnya. Ketidaktahuan Firdaus mengenai kekerasan yang ia alami sebagai akibat dari lingkungan yang menormalisasi perlakuan tersebut serta membatasi akses perempuan terhadap pengetahuan tentang tubuhnya.
Relasi kuasa dalam keluarga Firdaus bisa kita lihat melalui kebiasaan sehari-hari. Ia dan ibunya hanya makan setelah ayahnya selesai, bahkan harus tidur lapar jika makanan telah habis.
Saat musim dingin, ayahnya menguasai tungku api sementara Firdaus kedinginan di lantai. Realitas tersebut menunjukkan bagaimana sistem patriarki bekerja dalam praktik keseharian yang kerap mereka anggap wajar.
Novel ini juga menyoroti stigma sosial terhadap perempuan korban kekerasan. Korban tidak hanya menghadapi penderitaan akibat kekerasan, tetapi juga penghakiman dari masyarakat.
Pertanyaan yang muncul sering kali bukan mengenai pelaku, melainkan mengenai perilaku korban. Dalam konteks ini, stigma menjadi sebuah bentuk kekerasan lanjutan yang memperparah penderitaan perempuan.
Hidup dalam Trauma
Perjalanan hidup Firdaus memperlihatkan bahwa ia tumbuh dalam kepatuhan dan trauma, dengan keputusan hidup yang selalu ditentukan pihak lain, mulai dari keluarga hingga laki-laki yang berkuasa atas dirinya.
Dalam fase tertentu, ia sempat merasakan kebebasan ketika dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun situasi tersebut berubah setelah ia berada di bawah kendali germo bernama Marzouk, yang mengatur uang, tubuh, dan kehidupannya melalui ancaman.
Konflik cerita mencapai puncak ketika Firdaus berhadapan langsung dengan Marzouk. Saat merasa terancam apalagi dengan menggunakan pisau, ia merebut senjata tersebut dan membunuhnya.
Peristiwa itu menjadi titik balik yang menandai perlawanan Firdaus terhadap kontrol yang selama ini menindasnya. Tindakannya kemudian berujung pada hukuman mati.
Oleh karena itu, dari sinilah, Novel Nawal membuat cerita tersebut terasa seperti kenyataan dalam kehidupan banyak perempuan.
Apalagi tema yang ia angkat cukup relevan dengan kondisi masa kini, ketika kekerasan berbasis gender masih kerap terjadi dan korban sering menghadapi tekanan sosial untuk diam.
Dalam banyak kasus, korban didorong berdamai dengan pelaku, diminta menjaga nama baik keluarga, bahkan dipaksa menikah dengan pelaku. Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga sistem nilai yang mempertahankan ketimpangan.
Melalui kisah Firdaus, Perempuan di Titik Nol menegaskan bahwa tubuh perempuan kerap diperlakukan sebagai ruang publik yang dinilai dan dikendalikan oleh pihak lain.
Terlebih, novel ini menyoroti pentingnya kesadaran bahwa tubuh perempuan merupakan hak pribadi yang tidak seharusnya diatur oleh keluarga, pasangan, maupun masyarakat.
Karya Nawal el-Saadawi ini menjadi refleksi yang mendalam mengenai keadilan, kekuasaan, dan posisi perempuan dalam struktur sosial. Bahkan melalui kisah Firdaus menjadi gambaran bahwa perempuan seringkali tersingkirkan oleh sistem, stigma, dan pembiaran kolektif.
Dengan begitu, Novel Perempuan di Titik Nol mengajak pembaca meninjau kembali cara pandang terhadap korban kekerasan. Serta pentingnya membangun ruang aman bagi perempuan. []




















































