Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Film CODA (2021): Potret Keluarga Ala Perspektif Mubadalah

Cinta tidak harus dengan perkataan “aku cinta kamu”. Memberikan cinta berarti saling mengasihi satu sama lain

Zenit Miung by Zenit Miung
2 Februari 2026
in Film, Rekomendasi
A A
0
Film Coda (2021)

Film Coda (2021)

23
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Film CODA (2021) alias Child of Deaf Adults menceritakan seorang anak remaja, Ruby Rossi (Emilia Jones), dibesarkan oleh orang tua Tuli. Ayahnya adalah Frank Rossi (Troy Kotsur) dan ibunya Jackie Rossi (Marlee Matlin). Saudaranya bernama Leo Rossi (Daniel Durant) pun mempunyai kondisi  sama dengan orang tuanya.

Ruby adalah siswa kelas 12 SMA yang pendiam. Dia mempunyai bakat terpendam. Pandai menyanyi dan merdu sekali. Ayah dan kakak laki-lakinya berprofesi sebagai nelayan. Ibunya seorang ibu rumah tangga.

Film ini mengadaptasi dari Film Prancis La Familie Bélier tahun 2014. Sutradaranya mendapatkan penghargaan dengan nominee Penulis Naskah Adaptasi terbaik di Academy Awards (Oscars) ke-94.

Film berdurasi 1 jam 51 menit ini menyajikan bagaimana peran dan relasi keluarga dari perspektif mubadalah. Masing-masing anggota keluarga mempunyai ikatan kesalingan.

Keluarga Menurut Perspektif Mubadalah

Dalam buku Qira’ah Mubadalah, Faqihuddin Abdul Kodir menuliskan bahwa Mubadalah berasal dari Bahasa Arab. Kata itu dari suku kata Ba’ Dal Lam (badala). Artinya mengganti, mengubah, menukar.

Makna lain, mubadalah merupakan bentuk kesalingan (mufa’alah) dan kerja sama antar dua pihak (musyarakah). Artinya saling mengganti, saling mengubah, saling menukar satu sama lain. Ada nilai kesalingan, kerja sama, dan timbal balik.

Pada menit 8.41 sampai 9.48 memperlihatkan Frank bekerja sama dengan istrinya menyajikan makan malam. Istrinya menyiapkan piring di atas meja. Sederhana tapi ini perilaku bahasa kasih suami istri. Musyarakah berbagi tugas domestik dalam sebuah rumah tangga.

Ruby membantu ayah dan kakaknya menangkap ikan di laut. Dia pula yang menjualkan hasil tangkapannya ke tengkulak. Ya, Ruby adalah jembatan komunikasi antara keluarga dengan orang-orang “mendengar”.

Ruby merasa ayahnya sedang membutuhkan dirinya ketika situasi guncangan finansial. Dia sebagai media komunikasi antar penjaga pantai dengan radio di kapal untuk memperingatkan batas teritorial hasil tangkapan laut. Dia memutuskan untuk membatalkan mendaftar beasiswa sekolah musik.

Kakaknya yang tahu Ruby punya bakat menyanyi menentang adiknya membatalkan melanjutkan sekolah tinggi. Leo tidak mau cita-cita adiknya terhambat hanya untuk interpreter bahasa isyarat orang tuanya saja.

Sang kakak mendukung 100 persen adiknya untuk meraih mimpinya. Melanjutkan pendidikan ke sekolah musik. Dia tahu adiknya mempunyai talenta menyanyi yang luar biasa.  Orang tua dan dirinya mampu  menangkap hasil laut sendiri  dan mengurus bisnis perikanan.

Komunikasi Kunci Resiliensi Keluarga

Ruby: Ibu pernah ingin aku Tuli?

Jackie: (Berbahasa isyarat) Saat kau lahir di rumah sakit, kamu diberi tes pendengaran. Kamu kecil dan manis dengan elektroda di seluruh tubuhmu. Dan aku berdoa kamu akan menjadi tunarungu. Para tim medis mengatakan kamu bisa mendengar. Aku merasa hatiku sangat sedih.

Ruby: Kenapa?

Jackie: (Bahasa isyarat) Aku cemas kita tidak bisa akrab. Seperti aku dan ibuku. Kami tidak bisa akrab.

Dialog singkat yang menyentuh hati antara ibu dan anak perempuannya. Ibunya berpikir jika menjadi tunarungu akan menjadi ibu yang buruk dan selalu mengecewakan putrinya. Anak perempuan itu justru merasa bersyukur mempunyai ibu hebat tunarungu.

Keluarga Rossi selalu bermusyawarah dalam situasi apapun. Mereka membincang soal masalah keuangan, awal mula ingin mendirikan koperasi ikan, dan keinginan anak perempuannya melanjutkan pendidikan tinggi.

Dalam mengimplementasikan pilar rumah tangga, keluarga yang harmonis bukan berarti lepas dari sebuah konflik. Anggota keluarga mampu mengelola konflik dengan prinsip-prinsip mubadalah: saling memahami dan saling berkomunikasi.

Komunikasi dapat menjadi resiliensi keluarga. Proses berkomunikasi menghasilkan sikap saling mengungkapkan perasaan masing-masing, saling berbagi, dan berempati. (Sri Lestari, Psikologi Keluarga).

Fungsi berbicara antar anggota berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah. Beban anggota keluarga dapat dipikul bersama-sama. Pola komunikasi dalam Film CODA (2021) mengimplementasikan adanya nilai mubadalah.

Ruby dan Mekarnya Kepercayaan Dirinya

Latar belakang keluarga Ruby yang Tuli membuatnya menjadi bahan olokan di sekolah. Dia pernah berbicara seperti orang Tuli. Teman-temannya mengejeknya. Dampaknya dia tidak yakin dan percaya diri bahwa dia mempunyai suara menyanyi yang indah.

Ruby tidak malu mempunyai keluarga Tuli. Hanya saja dia tidak ingin kondisi ayah-ibu serta kakaknya menjadi bahan olokan di depan umum.

Bernardo Villalobos (Eugenio Derbez) adalah pelatih ekskul paduan suara di sekolah. Orang yang menyakinkan Ruby  menemukan jati dirinya memiliki suara emas. Dari situ, percaya diri dalam dirinya mekar kembali. Dia berani bernyanyi di depan teman-temannya dan ikut serta dalam paduan suara.

Bernardo mendorong anak didiknya yang tomboy itu untuk mendaftar beasiswa sekolah musik. Dia dapat melihat potensi bahwa Ruby layak untuk mendapatkan pengetahuan tentang musik lebih mendalam.

Eksklusivitas Ruby, Frank, Jackie, dan Leo

“Film adalah refleksi dari realita itu sendiri,” kata Reza Rahadian di Kita Kumpul Online Bersama FFI yang diselenggarakan Komunitas Narasi 2021 silam.

Perkataan Reza ini maksudnya cerita atau adegan pembuatan film diambil dari kenyataan sosial yang acap kali terjadi di sekitar kita. Salah satu realitanya adalah disabilitas tidak mendapatkan akses inklusif saat di ruang publik.

Melalui film CODA (2021), menggambarkan eksklusivitas Teman Tuli ketika sedang menonton paduan suara. Juru bahasa isyarat atau layar tulisan tida ada .

Mereka bertiga hanya melihat terpaku dalam sunyi sambil senyum tipis. Barulah mereka tersenyum lebar ketika Greetie, teman karib Ruby sekaligus pacar Leo, mengatakan suara Ruby sangat bagus.

Penonton lain menikmati suara-suara merdu dari koor paduan suara. Orang tua Ruby hanya duduk tanpa ekspresi. Terkadang mereka berbicara sendiri membahas menu makan malam. Wajar saja mereka tidak bisa mendengar  suara merdu sang putrinya.

Mereka  hanya bisa menirukan apa yang orang-orang lain lakukan, seperti: tepuk tangan dan berdiri sebagai apresiasi terhadap penampil di atas panggung.

Sang sutradara pula menggambarkan non disabilitas mengalami eksklusivitas. Ketika sedang makan malam, Jackie melarang Ruby mendengarkan musik. Itu melukai harga diri seorang Tuli.

Selang beberapa detik, Leo memainkan Tinder di meja makan. Ruby protes. Mengapa dia tidak boleh mendengarkan musik? Jackie dan Frank mendukung Leo bermain Tinder. Ibunya menjawab satu keluarga bisa merasakan bermain Tinder. Musik tidak bisa dirasakan bersama.

Tidak hanya itu, sesama disabilitas merasakan stigma bahwa dia tidak mampu berbuat apa- apa. Ceritanya Frank dan Jackie tidak mempercayakan urusan bisnis perikanan kepada Leo. Anak laki-lakinya ini sebenarnya  mampu menjadi interpreter orang tuanya.  dia mampu membaca bahasa bibir. Dia cakap mengurus bisnis keluarga. Ide mendirikan koperasi adalah Leo.

Ya, gambaran-gambaran di atas mengungkapkan bahwa eksklusivitas terjadi pada disabilitas, non disabilitas atau dan antar disabilitas sendiri.

Film Coda Memotret Disabilitas Sebagai Subjek Utuh

Di film Coda (2021) sutradara membentuk karakter disabilitas tidak menjadi “objek kasihan”. Mereka sebagai subjek utuh. Artinya Teman Tuli ini dapat menjalani kehidupan layaknya manusia non disabilitas.

Frank dan Jackie sebagai orang tua mampu mengasuh anak-anaknya. Mereka bekerja, mengumpat, saling cinta satu sama lain. Frank terkadang melakukan “jokes bapak-bapak”. Leo memadu kasih dengan Greetie. Jago mengelola koperasi ikan. Mampu bersosialisasi. Pergi ke bar. Melindungi adiknya.

Ketika pertemuan antara komunitas nelayan, Frank bersuara dengan bahasa isyarat (interpreter: anak perempuannya) tentang ketidakadilan harga ikan di tempat lelang. Hasil tangkapan lautnya selalu dibeli tengkulak dengan harga rendah.

Dia mengusulkan akan mendirikan koperasi. Pembeli akan membeli ikan dari nelayan. Dengan begitu, para nelayan mendaptkan harga yang seimbang dari jualan ikan.

Sang sutradara dan penulis naskah, Sian Herder, berhasil menggambarkan perspektif mubadalah dimana disabilitas setara dengan non disabilitas. Maknanya disabilitas dianggap manusia yang utuh.

Bahasa Cinta Tanpa Suara

Cinta tidak harus dengan perkataan “aku cinta kamu”. Memberikan cinta berarti saling mengasihi satu sama lain. Saling mendengar pendapat tanpa berpikir pendapat siapa yang benar atau salah. Saling merelakan, menghargai, menghormati, memahami, mendukung, dan bekerjasama.

Dalam scene audisi beasiswa musik, Ruby menyanyikan lagu Both Sides, Now oleh Joni Mitchell. Keluarganya turut menjadi penonton. Melihat kehadiran mereka, dia bernyanyi sambil berbahasa isyarat. Mereka terharu  “mendengar” Ruby bernyanyi.

Setelah melihat potensi diri anaknya, Frank dan Jackie mulai mendengarkan apa pendapat Ruby. Mereka sebenarnya tidak mau berinteraksi dengan orang-orang yang mendengar. Frank merasa ribet. Jackie merasa tidak berani bersosialisasi. Leo berani bersosialisasi.  Dia bisa membaca bahasa bibir.

Frank mempekerjakan orang rungu di kapalnya. Jackie mulai membuka diri untuk berinteraksi dengan orang-orang rungu. Leo mendapatkan kepercayaan untuk mengurus bisnis koperasi ikan.

Jackie dan Frank merelakan Ruby untuk menempuh pendidikan musik di kota lain. Mereka berempat berpelukan erat melepas kepergian Ruby.

Mereka saling menunjukkan rasa cinta satu sama lain melalui bahasa isyarat Amerika atau  ASL- American Sign Language. Jari kelingking, telunjuk, dan ibu jari ke atas, jari manis menekuk ke telapak tangan dan jari tengah menunggangi jari telunjuk. Salam inklusi! []

Tags: AksesibilitasFilm Coda (2021)Hak Penyandang DisabilitasInklusi SosialIsu Disabilitas
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Strategi Rahmah El-Yunusiyah Memajukan Pendidikan Perempuan

Next Post

Di Balik Cinta dan Kebencian kepada Gus Dur

Zenit Miung

Zenit Miung

Kunci menulis adalah membaca

Related Posts

Perda Inklusi
Disabilitas

Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

13 Februari 2026
Sejarah Difabel
Disabilitas

Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

13 Februari 2026
Inpirasi Perempuan Disabilitas
Disabilitas

Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

7 Februari 2026
Difabel dalam Sejarah Yunani
Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

5 Februari 2026
Disabilitas dan Dunia Kerja
Disabilitas

Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

3 Februari 2026
MBG
Disabilitas

MBG bagi Difabel: Pentingkah?

2 Februari 2026
Next Post
Gus Dur yang

Di Balik Cinta dan Kebencian kepada Gus Dur

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh
  • Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural
  • Konsep Keluarga dalam Islam
  • Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan
  • Makna Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0