Mubadalah.id – Mubadalah adalah gagasan tentang kerjasama dan kesalingan dalam sebuah relasi. Dalam konteks gender, relasi kerjasama yang dimaksud terutama adalah antara laki-laki dan perempuan sebagai dua subjek yang sama-sama utuh, sama-sama beriman, dan sama-sama bertanggung jawab membangun kehidupan.
Sebagaimana di dalam al-Qur’an, fondasi gagasan ini juga dapat ditemukan dalam berbagai teks hadis yang secara umum berbicara mengenai kerjasama, saling menolong, saling mencintai, saling menutup aib, dan tidak saling menzalimi satu sama lain, termasuk antara laki-laki dan perempuan.
Memang, sebagian besar adalah teks-teks yang bersifat umum yang mengajarkan prinsip kesalingan dan kerja sama dalam semua jenis relasi kemanusiaan. Tetapi, karena relasi gender merupakan relasi yang paling dasar, maka sudah seharusnya ia masuk dalam prinsip umum kesalingan tersebut.
-
Saling mencintai sebagai bentuk keimanan
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ، وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ زِيَادَةٌ: أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ، وَفِي رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ زِيَادَةٌ: مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ، وَأَمَّا رِوَايَةُ أَحْمَدَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Diriwayatkan dari Anas Ra., dari Nabi Muhammad Saw. yang bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri.” Dalam riwayat Muslim, ada tambahan, “(atau beliau bersabda) untuk tetangganya sebagaimana ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri.” Dalam riwayat an-Nasa’i, ada tambahan: “sebagaimana ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri dari hal-hal yang baik.” Sementara dalam riwayat Ahmad, redaksinya berbunyi, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu kecuali mencintai sesuatu untuk orang lain. Sebagaimana ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri.” (Shahih Bukhari no. 13, Shahih Muslim no. 179, Sunan at-Tirmidzi no. 2705, Sunan an-Nasa’i no. 5034, Sunan Ibnu Majah no. 69, dan Musnad Ahmad no. 14083).
Hadits berikutnya:
عَنْ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَفْضَلِ الْإِيْمَانِ قَالَ أَفْضَلُ الْإِيْمَانِ أَنْ تُحِبَّ لِلهِ وَتُبْغِضَ فِى اللهِ وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِى ذِكْرِ اللهِ قَالَ وَمَاذَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ.
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Ra., ia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang iman yang sempurna. Rasulullah Saw. menjawab, “Keimanan akan sempurna jika kamu mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah. Serta menggunakan lidah kamu untuk mengingat Allah.” Mu’adz bertanya, “Ada lagi, wahai Rasulullah?” Dijawab, “Ketika kamu mencintai sesuatu untuk manusia sebagaimana kamu mencintai sesuatu itu untuk dirimu sendiri, kamu membenci sesuatu untuk mereka sebagaimana kamu membenci sesuatu itu untuk dirimu sendiri, dan menyatakan kebaikan atau diam.” (Musnad Ahmad, no. 22558 dan 22560).
عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ رَجُلٍ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ خَبِّرْنِى بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِى مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ قَالَ تُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتُحِبُّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ وَتَكْرَهُ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ.
Dari Mughirah, dari ayahnya, dari seorang Sahabat, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ceritakan padaku tentang perbuatan yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Rasulullah menjawab, ‘Kamu dirikan shalat, membayar zakat, menjalankan haji ke Baitullah, berpuasa pada bulan Ramadan, mencintai sesuatu untuk manusia sebagaimana kamu mencintai sesuatu itu untuk dirimu, dan membenci sesuatu untuk mereka sebagaimana kamu membenci sesuatu itu terjadi pada dirimu.” (Musnad Ahmad, no. 16130).
Menegaskan Perspektif Mubadalah
Tiga teks hadits di atas menegaskan perspektif mubādalah. Teks-teks tersebut menggunakan ungkapan-ungkapan yang sangat jelas mengenai prinsip kesalingan sebagai bagian integral keislaman. Teks pertama, misalnya, hadits Anas bin Malik Ra. menegaskan ajaran kesalingan sebagai tolok ukur keimanan. Teks kedua, hadits Mu’adz bin Jabal Ra. juga menegaskan ajaran kesalingan sebagai bagian dari keimanan. Sebagaimana cinta Allah Swt., banyak berdzikir, dan berkata jujur.
Sementara, hadits ketiga memandang prinsip kesalingan sebagai amal yang akan mendekatkan seseorang pada surga dan menjauhkannya dari neraka. Perilaku kesalingan, kemudian dapat kita samakan dengan ibadah-ibadah utama: seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Kedua teks hadits terakhir menggunakan kata “an-nās”, sehingga kesalingan ini mestinya inklusif sesama manusia, bukan bersifat komunal yang eksklusif.
Jika teks pertama hanya membicarakan prinsip kesalingan positif, teks kedua dan ketiga memasukkan juga prinsip kesalingan negatif. Kesalingan positif adalah sikap menghormati orang lain, mencintai, dan bersedia menghadirkan segala kebaikan kepada orang lain. Sementara kesalingan negatif adalah sikap dan komitmen seseorang untuk menghindarkan orang lain dari segala keburukan, kebencian dan kekerasan. Bahkan kerusakan yang ia sendiri juga ingin terhindar darinya.
-
Saling Menolong Satu Sama Lain
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Yang berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa melapangkan kesulitan orang yang beriman dalam hal urusan dunia. Maka kesulitannya di akhirat akan Allah lapangkan. Barangsiapa yang membantu seseorang yang sedang bernasib buruk, maka ia akan Allah permudah segala urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka aibnya akan Allah tutup baik di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong seseorang yang selalu menolong orang lain.” (Shahih Muslim no. 7028, Sunan Abu Dawud no. 4948, Sunan at-Tirmidzi no. 1491, Sunan Ibnu Majah no. 230, dan Musnad Ahmad no. 7545).
عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا رَوَى عَنِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا.
Diriwayatkan dari Abu Dzarr Ra., dari Nabi Muhammad Saw., sebagaimana beliau meriwayatkan dari Allah Ta’ala bahwa Dia berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku sendiri, dan Aku telah menetapkan haramnya (kezhaliman itu) di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzhalimi (satu sama lain).” (Shahih Muslim no. 6737).
Hadits berikutnya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، اَلتَّقْوَى هَا هُنَا-وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ-بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki satu sama lain, saling mengelabui transaksi kalian, saling membenci, saling gosip di belakang, jangan pula seseorang di antara kalian membeli barang yang justru sedang orang lain sedang menawarnya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara satu sama lain. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhalimi, menelantarkan, dan merendahkan satu sama lain. Ketakwaan itu di sini—Rasulullah memberi isyarat ke dadanya sebanyak tiga kali. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (Shahih Muslim no. 6706, Musnad Ahmad no. 7842. Juga diriwayatkan dengan redaksi berbeda dalam Shahih Bukhari no. 2482, Sunan Abu Dawud no. 4895, dan Sunan at-Tirmidzi no. 1493).
عَنِ النُّعْمَانِ بْن بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِى تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling menyayangi, saling mencintai, dan saling mengasihi, mereka laksana satu tubuh. Yang jika salah satu anggotanya merintih kesakitan. Maka seluruh anggota tubuh yang lain akan merasakan demam dan tidak dapat tidur.” (Shahih Bukhari, no. 6079).
Inspirasi Perspektif Kesalingan
Keempat teks hadits di atas menegaskan ajaran-ajaran dasar yang bisa menjadi inspirasi perspektif kesalingan. Baik yang positif—yaitu menghadirkan segala bentuk kebaikan—maupun yang negatif—yaitu menjauhkan segala bentuk keburukan. Teks pertama, secara umum, menjelaskan kesalingan positif, yaitu mengenai saling tolong-menolong dan saling berbuat baik sesama muslim. Teks ini kemudian ia tutup dengan kalimat yang menginspirasi nilai kesalingan positif: “Allah akan selalu menolong seseorang yang selalu menolong orang lain.” Ini kalimat kesalingan yang tegas, jelas, dan inspiratif sebagai nilai dasar relasi antarsesama manusia. Kesalingan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain menyimpan garis transendental langsung dengan Allah Swt.
Sementara, hadits kedua menegaskan bahwa kezhaliman sebagai sesuatu yang ditentang Islam. Allah Swt. mengajarkan bahwa kezhaliman adalah sesuatu yang diharamkan atas diri-Nya juga antarsesama manusia. Dalam teks ini, ada kalimat yang menegaskan kesalingan negatif; yaitu “tidak boleh saling menzhalimi satu sama lain.”
Teks berikutnya juga penuh inspirasi kesalingan negatif; larangan saling mendengki, saling membenci, dan saling menjatuhkan. Substansinya adalah berupa ajaran dasar untuk tidak memperlakukan buruk antarsesama. Semua perilaku buruk ini bertentangan dengan prinsip dan nilai kesalingan dalam Islam. Perlakuan buruk ini, dalam perspektif kesalingan, berakar pada relasi yang timpang, hegemonik, dan otoriter.
Hadits dari Nu’man bin Basyir, teks terakhir, juga merupakan inspirasi nilai kesalingan dan kerja sama, dengan menamsilkan seluruh orang beriman sebagai tubuh yang satu, yang saling mencintai, saling mengerti, dan saling merasakan. Ketujuh teks hadits tersebut menjadi dasar dan inspirasi relasi kesalingan secara umum, yang tidak eksplisit mengenai relasi laki-laki dan perempuan. Teks-teks seperti ini masih banyak jumlahnya. []










































