Selasa, 24 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh. Lewati rintang untuk anakmu. Ibuku sayang masih terus terbayang walau langkah kaki penuh darah penuh nanah. Seperti udara kasih yang kau berikan. Tak mampu aku membalas. Ibu. (Iwan Fals)

Zahra Amin by Zahra Amin
13 Desember 2020
in Pernak-pernik, Sastra
A A
0
Ibu
4
SHARES
211
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Cirebon, 10 Januari 2007

“Kapan kamu akan mengerti Sarah. Ayahmu sudah tiada, jangan kau bebani Ibumu untuk memenuhi semua keinginanmu.” Kata-kata Ibu masih jelas terngiang dalam ingatan. Teguran dan kemarahan Ibu aku anggap angin lalu. Ketika setiap keinginanku tak bisa diberikan Ibu aku akan pergi dari rumah diam-diam, dan menginap di rumah teman.

Tak sekali dua kali aku lakukan itu. Bahkan sering. Hingga kadang-kadang ketika jelang  subuh aku baru pulang ke rumah, aku dapati Ibu menangis dalam sujud shalatnya. Dan seketika aku menyesal, tetapi hanya sesaat. Begitu mendengar keluhan Ibu tentang ekonomi keluarga yang semakin sulit, pendapatan keuangan yang semakin sedikit, kebiasaanku kabur dari rumah kembali lagi.

Dalam titik jenuh kehidupan, seringkali aku berpikir untuk meninggalkan bangku kuliah dan memilih kerja. Apa saja yang penting itu halal dan bisa aku lakukan di usiaku yang masih 20-an. Kalau perlu mencari pekerjaan paruh waktu, entah di kampus atau di sekitar tempat tinggalku, di Cirebon.

13 Januari 2007

Saat pikiranku sedang karut-marut. Kacau-balau. Sahabat dekatku, Nayla Azkia mengajakku nongkrong di kampus. Kongkow bareng sahabat-sahabat BEM Fakultas. Kebetulan saat itu, para pengurus BEM-F tengah mempersiapkan pelantikan pengurus baru. Mungkin karena melihat raut mukaku suntuk, tak jelas dan tak beraturan, Nayla menanyakan kenapa dengan mood boosterku tiba-tiba lemah, yang biasanya selalu full energi.

Lalu aku bercerita tentang kondisi keluargaku, Ibu yang sakit-sakitan dan semakin uring-uringan karena persoalan sepele. Sekedar minta uang untuk membeli pulsa hp, ceramahnya sudah kemana-mana. Belum selesai aku curhat ke Nayla, salah satu senior kampus Bang Hans datang menghampiri. Bang Hans itu, selain senior kami di kampus dia juga bekerja di salah satu harian lokal terbesar di Indramayu.

“Nay, kamu punya teman yang bisa nulis nggak? Kabar Cherbond lagi butuh jurnalis nih, tapi mintanya cewek.” Ujar Bang Hans.

Spontan saja Nayla melirikku. “Sarah ini kesempatan buat kamu, lumayan bisa nambah uang jajan dan beli pulsa, kamu kan hobby menulis”, bisik Nayla di sampingku.

Dan aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. “Siap Bang Hans. Di sebelahku ini jago nulis, dia namanya Sarah Amalia. Kapan proses interview dan kerjanya Bang?”, jawab Nayla dengan penuh semangat. Bang Hans melihatku sebentar dan menanyakan ulang apakah aku siap bergabung di media Kabar Cherbond. Aku bilang siap lahir batin. Siap kapanpun pekerjaan itu ada untukku.

Kemudian Bang Hans menyuruhku datang ke Kantor Biro Kabar Cherbond keesokan harinya. Kalau kata pepatah lama “pucuk di cinta ulam pun tiba”. Artinya sesuatu yang sedang di harap-harapkan tiba-tiba muncul di depan mata. Aku percaya bahwa jika manusia sebagai makhluk Tuhan yakin dengan kekuasaanNya, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Tinggal bagaimana cara kita berusaha untuk mewujudkan harapan itu.

14 Januari 2007

Sehari setelah pertemuan di kampus aku mendatangi kantor biro Kabar Cherbond di Jl. Jenderal Sudirman. Tidak lupa dengan membawa persyaratan sebagai mana orang mau melamar kerja. Ada daftar riwayat hidup. Ada surat keterangan masih menempuh pendidikan di salah satu kampus negeri. Ada foto copy ijazah terakhir dan beragam sertifikat pendidikan kilat kepenulisan jurnalistik serta sertifikat pendukung lainnya.

Setelah bertemu dengan Direktur Perusahaan, atau yang biasa disebut Bos Besar, aku tidak ditanyakan apapun terkait dengan pekerjaan atau sejauh mana aku bisa menulis. Bos Besar hanya menyuruhku bercerita tentang siapa diriku, bagaimana keluargaku dan kenapa aku tertarik bergabung dengan Kabar Cherbond. Karena aku terbiasa berbicara dengan banyak orang di organisasi maka aku tak menemukan kesulitan berarti. Malah membuat Bos Besar takjub. Heran mungkin, ada anak perempuan, yang masih ingusan nekad bekerja dalam dominasi laki-laki di tempat kerja.

Beliau lalu berdiri dan menjabat tanganku “Selamat datang di Kabar Cherbond. Selamat bergabung bersama keluarga Kabar Cherbond. Kami tunggu karya dan kreativitasmu bersama Kabar Cherbond. Besok kamu langsung ikut magang bersama jurnalis senior. Semua bidang harus kamu masuki, dari berita politik, kriminal, ekonomi dan bisnis.”

Aku tertegun. Begitu mudahnya masuk perusahaan media, apalagi Kabar Cherbond adalah salah satu media lokal terbesar di wilayah 3 Cirebon. Sesampai di rumah aku langsung mencium tangan Ibu dan menyampaikan kabar gembira ini. Ibu menangis terharu. Memandangku dengan mata nanar. “Semoga Ibu bisa terus melihatmu menapaki tangga keberhasilan hidup. Doa Ibu akan selalu menyertaimu Nak.”

15 Januari 2007

Aku pamit sama Ibu. Berangkat ke kantor pusat Kabar Cherbond di Kota Cirebon. Aku bilang sama Ibu, satu minggu aku akan meninggalkan rumah. Magang kerja menjadi salah satu jurnalis di media Kabar Cherbond. Saat itu aku tak punya firasat apa-apa. Aku hanya melihat wajah ibu yang nampak tua dan lelah. Meski saat itu Ibu kerap kali mengeluh sakit, tapi tak pernah mau di bawa berobat ke dokter atau rumah sakit. Ibu hanya bilang tak apa-apa nanti juga akan hilang sendiri.

21 Januari 2007

Aku pulang lagi ke rumah setelah satu minggu menyelesaikan salah satu syarat menjadi jurnalis tetap, yakni magang kerja bersama jurnalis senior. Aku benar-benar kerasan bersama para jurnalis di Kabar Cherbond. Mereka semua orang-orang yang penuh dedikasi, dan semangat kerja, produktif serta kreatif. Ada saja ide-ide segar yang bisa dijadikan bahan liputan atau tulisan.

Aku ikut termotivsi dan terinspirasi bersama orang-orang hebat itu. Sejenak bisa aku lupakan segala persoalan di rumah. Sesekali kadang aku juga mengabari Ibu yang kadang tak sabar ingin tahu bagaimana kondisiku di tempat kerja yang baru. Dan tak lupa aku menanyakan kabar Ibu dan kesehatannya.

Sesampai di rumah aku melihat Ibu malah semakin parah kondisinya. Kata para tetangga Ibu terlampau sedih di tinggal aku selama satu minggu. Sebagai anak satu-satunya dan perempuan lagi, tentu Ibu terlampau mengkhawatirkanku. Mengingat akhir-akhir ini di media televisi ada saja berita negatif tentang perempuan lajang yang tinggal sendirian di luar kota.

Setelah aku di rumah, dan aku bujuk rayu Ibu agar mau di bawa ke rumah sakit, aku bilang pada Ibu apakah masih ingin melihat anaknya sukses, menikah dan nanti punya cucu. Akhirnya Ibu mau aku antar ke rumah sakit. Karena mungkin penyakit Ibu sudah parah dokter menyuruh Ibu untuk opname dan operasi. Saat itu demi kesehatan Ibu aku iyakan saja. Yang penting Ibu bisa kembali sembuh seperti sedia-kala.

28 Januari 2007

Ibu telah usai di operasi. Setiap hari aku bolak-balik dari rumah sakit ke tempat kerja. Sesekali pulang ke rumah hanya untuk mandi dan ganti baju. Aku senang semangat hidup Ibu telah kembali lagi. Tetapi kadang aku tidak tega juga setiap kali perawat membersihkan bekas luka operasi. Ibu seperti menahan sakit dan menahan air mata agar tidak keluar. Selalu aku tanyakan apakah sakit Bu. Jawabnya tidak, hanya sakit sedikit. Tapi aku tahu mata Ibu tidak bisa di bohongi, ia terus mengeluarkan air mata tanda bahwa sakitnya tak tertahankan lagi.

29 Januari 2007

Hari itu aku lelah sekali. Ada lebih dari lima titik liputan dari pagi hingga sore. Padahal malamnya aku begadang menemani Ibu di rumah sakit. Pagi sebelum berangkat aku tanya pada Ibu ingin di bawakan apa. Ingin dibelikan apa. Ingin makan apa. Dan Ibu menjawab ingin makan dendeng daging sapi dan buah durian.

Aku titipkan Ibu pada para perawat. Hari ini lagi-lagi aku tak punya firasat apa-apa. Aku berangkat seperti biasa, dengan membawa kamera digital, buku notes kecil dan flashdisch. Sesuai permintaan Ibu, pulang kerja aku bawakan apa yang Ibu inginkan. Ibu makan sedikit dendeng sapinya, sedangkan buah durian belum disentuh sama sekali.

Dan tiba-tiba malam sekitar jam 10 malam ibu kejang-kejang. Luka operasinya mengalami infeksi. Malam itu Ibu tak sadarkan diri dan koma. Aku terjaga menunggu keajaiban itu datang. Berharap mata itu akan terbuka lagi. Ketika raga ini tak sanggup menahan kantuk aku tertidur di samping Ibu. Dengan tanganku tetap memegang tangan Ibu.

30 Januari 2007

Sayu-sayup adzan subuh terdengar. Aku terbangun namun mata Ibu masih tertutup rapat. Aku segera menjalankan ibadah shalat subuh. Berharap masih ada keajaiban, Ibu akan sadar kembali dan pulang ke rumah. Jam di dinding terus bergerak, dan tiba-tiba saja tubuh Ibu bergerak pelan sekali. Aku mendekati hanya kalimat “Allah” yang aku dengar lirih. Lalu Ibu pergi untuk selamanya.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Aku tergugu menangis seorang diri. Ibu telah menyusul Ayah menghadap ke haribaanNya. Di usia 19 aku menjadi Yatim dan kini di usia 22 aku pun menjadi piatu. Maafkan anakmu Ibu, belum bisa membahagiakanmu. Maafkan anakmu yang belum bisa memberikan senyum kebanggaan di wajahmu.

Maafkan anakmu Ibu yang belum mampu mempersembahkan gelar sarjana. Maafkan anakmu Ibu yang kerap kali membuatmu menangis. Maafkan anakmu Ibu yang selalu menyusahkanmu. Maafkan anakmu Ibu yang meski aku tahu di malam-malam sunyimu ada namaku kau sebut dalam doa, namun aku tetap saja sering abai terhadap kehadiranmu.

Maafkan, begitu banyak yang ingin aku sampaikan padamu. Terimakasih telah menjadi Ibu yang hebat bagiku. Terimakasih telah mendidikku menjadi perempuan, gadis kecilmu yang tetap apa adanya. Terimakasih telah mengajarkanku untuk menjadi perempuan yang kuat, terimakasih telah mengingatkanku agar menjadi perempuan yang berdikari –berdiri di atas kaki sendiri-, perempuan yang tegar menatap masa depannya meski tanpa kepastian.

Damailah Ibu dalam tidur panjangmu. Sampaikan salamku untuk Ayah. Sarah akan baik-baik saja, karena kehidupan harus terus berjalan.  Dan di hari itu juga Ibu di makamkan. Persis di samping makam ayah. Langkah kakiku akan terus berjalan, meski tanpa kehadiran orang tua. Di alam sana, aku percaya mereka akan tetap melihatku dari kejauhan. Akan aku tunaikan janjiku menjadi sarjana, meniti jalan masa depan dengan percaya diri dan langkah pasti.

Sayup-sayup terngiang lagu “Ibu” yang dinyanyikan Bang Iwan Fals. “Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu. lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku, dengan apa membalas ibu.” Dengan berurai air mata, aku mengantarkan jenazah Ibu menuju keabadian.[]

Tags: cerita pendekHari IbuHari Pergerakan Perempuan IndonesiaIbuperempuanSastra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tentang Agama Hari Ini

Next Post

Mbak Yenni Wahid Yang Hebat tapi Membumi

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Feminization of Poverty
Publik

Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

20 Februari 2026
Hijrah dan jihad
Ayat Quran

Bahkan dalam Hijrah dan Jihad, Al-Qur’an Memanggil Laki-laki dan Perempuan

23 Februari 2026
Next Post
Mbak Yenni Wahid Yang Hebat tapi Membumi

Mbak Yenni Wahid Yang Hebat tapi Membumi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0