Mubadalah.id — Direktur Rumah Kitab, Lies Marcoes menyebut Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) sebagai peristiwa penting dalam sejarah Islam kontemporer. Dalam tulisannya di Kupipedia.id, ia menilai bahwa KUPI bukan hanya peristiwa nasional, tetapi juga memiliki signifikansi global.
Menurut Lies, melalui KUPI, Indonesia menunjukkan bahwa Islam mampu berkembang secara dinamis dan responsif terhadap isu keadilan gender tanpa kehilangan akar teologisnya. Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya persoalan ketertindasan perempuan di berbagai belahan dunia Muslim.
Ia menjelaskan bahwa KUPI secara sadar menghubungkan isu-isu lokal seperti perkawinan anak, kekerasan seksual, buruh migran, dan perusakan lingkungan dengan wacana Islam global.
“KUPI membuktikan bahwa pengalaman perempuan Indonesia relevan bagi dunia,” tulisnya.
Lies juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kerja-kerja ulama perempuan yang selama ini berjalan. Kongres KUPI, menurutnya, telah memberi legitimasi dan afirmasi terhadap kontribusi mereka dalam bidang keilmuan, sosial, dan kemanusiaan.
Ia menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana ulama laki-laki dan lembaga keagamaan arus utama mampu merekognisi capaian ini tanpa melihatnya sebagai ancaman.
“Keulamaan perempuan bukan kompetitor, melainkan mitra dalam mewujudkan Islam yang adil dan beradab,” tulis Lies.
Dengan demikian, KUPI tidak hanya mencatat sejarah baru bagi perempuan ulama Indonesia. Tetapi juga membuka jalan bagi dialog global tentang masa depan Islam yang lebih setara dan manusiawi. []


















































