Jumat, 13 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Menjadi Perempuan Mandiri dan Berprestasi di Tengah Sistem Patriarki

Nuril Qomariyah by Nuril Qomariyah
16 Juli 2020
in Personal
A A
0
Menjadi Perempuan Mandiri dan Berprestasi di Tengah Sistem Patriarki

Ilustrasi Oleh Nurul Bahrul Ulum

8
SHARES
376
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Hari Minggu kemarin (21/06/2020). Saya memperoleh kesempatan untuk sharing melalui live IG bersama teman-teman CIMSA Universitas Syiah Kuala. Pengalaman pertama nih sharing dengan tema “Patriarchy, Feminism, and Misogyny in Indonesia”. Dengan pembicara pertama dr. Sophia Hage, Sp. KO. (Co Founder dari Lentera Sintas Indonesia) dan saya sebagai pembicara kedua.

Selagi menunggu giliran sharing, saya mengikuti sesi dokter Sophia, yang membahas tema ini dari sudut pandang medis dan juga perspektif dokter. Di mana, ternyata kasus partiarki dan misoginis kerap terjadi di lingkungan medis. Sehingga, gerakan-gerakan feminisme perlu digiatkan agar tercapai keadilan dan kesetaraan bagi siapa saja di ranah medis.

Jika pada kesempatan diskusi ini secara teoritis terkait tema besar telah banyak disampaikan oleh, dokter Sophia, saya sebagai pembicara kedua, ingin membagikan pengalaman lebih kepada gerakan perempuan secara spesifik perempuan muda saat ini, agar bisa speak up dan berani berkarya serta berprestasi.

Apa sih patriarki, feminisme, dan misgonis itu?

Secara teoritis mungkin kita semua sudah khatam dan hafal dengan istilah ini, terlebih bagi sebagian yang bergerak dalam ranah pemberdayaan perempuan dan kesetaraan. Namun, mari kita ulas lagi, dengan melihat sejarah bagiamana perkembangan gerakan perempuan khususnya di Indonesia ini.

Jika kita mau menengok sejarah perempuan-perempuan hebat Indonesia dapat dijadikan bahan refleksi kita bersama, bahwa sebenarnya, jauh sebelum Indonesia merdeka perempuan telah banyak yang bersuara dan menyuarakan keadilan dan kesetaraan.

Ada beberapa versi yang menjelaskan pembagian periode gerakan perempuan. Dimulai dari munculnya Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sadar) yang memperjuangkan hak-hak perempuan mengenai hak waris, poligami, dan juga poliandri.

Gerakan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari GERWANI yang lebih mengutamakan terkait buta huruf dan kesetaraan bagi perempuan. Perjuangan R.A. Kartini juga tidak luput dari bagian gerakan perempuan melawan sistem feodal yang sangat patrialkal pada saat itu.

Kemudian sejak memasuki orde lama hingga orde baru, gerakan perempuan tak bergairah seperti periode sebelumnya, hanya terdapat Perwari pada tahun 1978, namun tak sebebas gerakan perempuan pada masa sebelumnya, diperiode ini, domestifikasi perempuan menyeruak kembali.

Memasuki era reformasi tahun 98, kembali muncul gerakan-gerakan dan organisasi perempuan. Namun, sayangnya tidak diimbangi dengan pendidikan politik yang menyebabkan gerakannya tidak mengakar dan cenderung hanya mengikuti isu yang dibawa oleh organisasinya sendiri-sendiri.

Setelah mengetahui akar sejarah perkembangan gerakan perempuan Indonesia, lantas seperti apakah kondisi perempuan Indonesia saat ini ditengah sistem patriarki yang sudah mengakar sedemikian rupa?

Patriarki secara harfiah adalah kondisi dimana ketika laki-laki merasa menjadi lebih berkuasa dan menjadi penguasa tunggal, senada juga dengan matrialkal ketika perempuan merasa lebih berkuasa. Keduanya dilatar belakangi sistem yang terus melanggengkan tindakan lebih berkuasa dibandingkan yang lemah.

Ketika sistem patrialkan yang berkembang akan menghasilkan produk misogini, dimana adanya rasa ketidak sukaan pada jenis kelamin perempuan. Jika dalam ranah agama Islam, kondisi ini muncul sebab adanya kisah penciptaan manusia, Adam dan Hawa. Yang diceritakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam.

Padahal dalam Buku Qiro’ah Mubaadalah yang dituliskan Dr. Faqihuddin Abdul Qadir, ayat Al Quran secara jelas menerangkan terkait penciptaan manusia atas beberapa bahan, yakni ada yang menyebutkan dari air, tanah, dan juga nutfah (yang kemudian dalam pelajaran biologi kita kenal dengan Sel Sperma dan Ovum).

Kondisi patriarki, matriarki, dan misogini yang sudah kita bahas di atas tadi menjadi titik kajian, bahwa pada dasarnya ada sifat manusia yang ingin berkuasa atas manusia yang lainnya, dalam kasus ini, ketika terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dalam suatu sistem. Khususnya yang sering sekali terjadi ada sistem patriarki di Indonesia, yang cenderung membuat perempuan enggan untuk meng-upgrade diri dan kemampuannya, karena adanya tirani sistem yang mengurungnya.

Kondisi ini yang kemudian menjadi landasan adanya gerakan yang kemudian kita sebut sebagai gerakan feminisme, gerakan untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi umat manusia, yang oleh Al Quran antara laki-laki dan perempuan adalah setara.

Jika kemudian, ada yang beranggapan feminisme adalah gerakan atau ideologi dari Barat, mungkin dia perlu mengkaji kembali. Bahwa sejak Islam hadir ke dunia, adalah untuk memebebaskan hamba yang lemah dari cengkraman penguasa yang jahiliyah pada saat itu, terlebih perempuan dan budak yang pada saat itu tidak diperlakukan layaknya manusia seutuhnya.

Perkembangan feminisme di Indonesia sangat terlihat dari perjuangan R.A Kartini, yang pada masa itu memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan dalam menentang sistem feodal yang mengakar dalam keluarganya. Lantas perlukah saat ini Indonesia dengan gerakan feminisme? Penulis rasa masih perlu, karena gerakan feminisme bukan sebatas memerangi subjek tertentu saja, melainkan sebuah sistem yang sudah mengakar di berbagai sisi kehidupan kita saat ini.

Berprestasi dan Berdikari Melawan Sistem Patriarki

Ketika kita sudah memahami istilah dan sejarah panjang perkembangan sistem patriarki dan juga bagaimana kemudian perjuangan gerakan feminisme yang tak pernah berhenti hingga saat ini, lantas apa yang dapat kita lakukan terlebih sebagai perempuan?

Mungkin bagi sebagian kita bergerak untuk memperdalam kajian dan wawasan diranah memperjuangkan kesetaraan atau dalam kata lain gerakan feminisme bukanlah hal mudah. Isu-isu sensitif yang tak pernah akan usai dibahas ini tentunya akan terus mengalami perkembangan, dan mencari pola-pola dan konsep yang kemudian dapat dijadikan dasar pijakan dan juga paradigma gerakan kedapannya. Ini yang kemudian penulis temukan di konsep Mubaadalah yang diinisiatori oleh Dr. Faqihuddin Abdul Qadir.

Dari konsep-konsep kesalingan ini ada hal besar yang harus kita garis bawahi, bahwa islam hadir menyapa laki-laki dan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Sehingga siapa saja mempunyai hak untuk mengoptimalkan tujuan hidupnya sebagai manusia, tanpa kemudian ada yang merasa lebih berkuasa dibanding yang lainnya.

Hal utama yang perlu diperbaiki untuk kemudian kita dapat memahami seutuhnya gerakan-gerakan yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan ini adalah keterbukaan dalam berfikir (open minded) kunci mendasar agar kita mampu menerima segala hal dengan pemikiran yang positif, dan berwawasan luas.

Sudah saatnya, bagi kita khususnya perempuan, ikut andil dan mengambil peran di era saat ini berani speak up untuk menyuarakan hal-hal positif bagi siapa saja, terlebih untuk terus mendukung gerakan-gerakan feminisme, yang sarat akan tujuan kemanusiaan.

Seperti halnya yang dilakukan saya dan juga teman-teman di Perempuan Bergerak dengan memaksimalkan fungsi sosial media untuk menebarkan konten-konten positif, serta menekan konten dari gerakan sebelah yang juga sangat marak belakangan.

Menjadi perempuan juga jangan sampai lupa untuk berprestasi dan mengukir jejak karier yang mapan, karena tidak dapat dipungkiri, menjadi bagian dari wanita yang mandiri sejak dini, justru akan memberikan peluang pendewasaan pikiran dengan sangat cepat. Sehingga, tidak mudah termakan isu dan mampu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mengeksplorasi kemampuan dan skill yang dimiliki.

Terlebih kemudian bagi perempuan yang aktif memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Perlu adanya rasa percaya diri yang tinggi, agar tak mudah goyah ketika merasa lelah. Berjuang untuk kebaikan dan kesetaraan bagi sesama manusia, bukanlah perkara mudah. Akan ada banyak pro-kontra yang menyapa, tinggal bagaimana kemudian kita mampu menata niat kembali untuk siapa kita berjuang.

Jika kemudian kita berjuang sebatas untuk apresiasi belaka, tentu semua tak akan bertahan lama. Karena akan memudar bentuk perjuangan itu ketika tak ada apresiasi yang datang. Namun, titik kuncinya adalah bagaimana kemudian kita berjuang dalam kebaikan untuk khidmad, menebarkan kebermanfaatan dan mengenalkan wajah Islam yang ramah dan mengajarkan kesetaraan sejak awal kehadirannya, semoga saja berjuang kita menjadi ikhlas lilla hi ta’ala, Aamiin.

Menjadi perempuan berdikari yang tak henti berprestasi dan memperbaiki relasi tanpa mengharapkan apresiasi adalah suatu perjuangan yang tak mudah, namun bukan juga perkara sulit ketika banyak ruang yang sudah diperjuangkan untuk menghilangkan sistem patriarki yang terlanjur mengakar. Tinggal kemudian satu yang perlu dipertanyakan,  sejauh ini, sudahkah kita percaya dengan diri kita sendiri?

Penulis mengutip dari KH. Sahal Mahfudh agar kita senantiasa berjuang yang benar-benar berjuang bukan sebatas untuk apresiasi dan dikenang , “Menjadi baik itu mudah. Dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang susah adalah membuat diri kita bermanfaat karena ini adalah perjuangan.” Wallahu’alam. []

*) Hasil Diskusi Bersama Teman Teman CIMSA UN SYIAH KUALA. Minggu,21 Juni 2020

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pelecehan Seksual, Salah Siapa?

Next Post

Keluarga Satu Visi Nabi Ibrahim

Nuril Qomariyah

Nuril Qomariyah

Alumni WWC Mubadalah 2019. Saat ini beraktifitas di bidang Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak di Kabupaten Bondowoso. Menulis untuk kebermanfaatan dan keabadian

Related Posts

Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Perda Inklusi
Disabilitas

Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

13 Februari 2026
Konsep Keluarga
Pernak-pernik

Konsep Keluarga dalam Islam

13 Februari 2026
Menjadi Dewasa
Personal

Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

13 Februari 2026
Mubadalah yang
Mubapedia

Makna Mubadalah

13 Februari 2026
Solidaritas
Publik

Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

13 Februari 2026
Next Post
Keluarga Satu Visi Nabi Ibrahim

Keluarga Satu Visi Nabi Ibrahim

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh
  • Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural
  • Konsep Keluarga dalam Islam
  • Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan
  • Makna Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0