Mubadalah.id – Sebelumnya saya menuliskan tulisan refleksi yang berjudul “Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan”. Tulisan tersebut merefleksikan tentang pengalaman live-in di Dusun Gletuk saat mengikuti kegiatan Nyadran Perdamian 2026 yang diselenggarakan oleh Aman Indonesia.
Melalui pengalaman tinggal bersama warga, saya belajar lebih mendalam tentang toleransi, relasi setara, dan kehidupan yang penuh kesederhanaan. Namun, puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini justru saya rasakan ketika mengikuti langsung tradisi Nyadran Perdamaian bersama masyarakat Dusun Gletuk dan Dusun Krecek.
Ruang Hidup Bersama dalam Keberagaman
Nyadran Perdamaian dilaksanakan di area pemakaman dua dusun tersebut. Menariknya sehari sebelum acara puncak, seluruh warga dari Dusun Gletuk dan Krecek bersama-sama membersihkan makam. Warga melakukannya dengan penuh gotong royong, tanpa memandang latar belakang agama.
Padahal di pemakaman itu terdapat makam dari berbagai agama, yakni Islam, Buddha, dan Kristen. Batu nisan dan gundukan tanah berjajar berdekatan tanpa sekat dan pembatas identitas keagamaan. Pemandangan tersebut menghadirkan kesan yang sangat kuat, bahkan setelah meninggal dunia, warga tetap “hidup bersama” dalam ruang yang sama.
Keesokan harinya, saya dan induk semang beserta warga berbondong-bondong menuju makam. Saya bersama warga membawa olahan makanan yang kami siapkan sehari sebelum acara, seperti mucu (nasi berbentuk kerucut), lauk pauk, jajanan tradisional, buah-buahan, dan hidangan lainnya.
Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang nyata. Masyarakat dari berbagai agama berkumpul dalam satu lingkaran, mengikuti rangkaian doa dan ritual dengan saling menghormati. Rasa kebersamaan dan kesadaran ada karena tradisi ini milik bersama.
Sesajen
Dalam tradisi Nyadran Perdamaian, salah satu unsur yang tak terpisahkan adalah kehadiran sesajen. Warga memaknai sesajen sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan kehidupan, bukan sekadar hidangan biasa.
Menurut Mbah Sukoyo, saat saya mengikuti kelas sesajen. Beliau memaparkan filosofi terkait sesajen itu sendiri. Mucu atau nasi berbentuk kerucut melambangkan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa sekaligus keseimbangan antara manusia, alam, dan sesame.
Lauk pauk, sayuran, buah-buahan, dan jajanan tradisional merupakan hasil bumi yang selama ini menopang kehidupan warga. Terdapat beberapa bunga segar seperti mawar, bahwa kita manusia juga berdampingan dengan leluhur yang sudah meninggal dan makhluk lain yang tidak bisa kita lihat dengan kasat mata. Serta masih banyak filosofi lainnya tentang sesajen.
Melalui sesajen, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas rezeki dari alam serta harapan agar keseimbangan itu tetap terjaga.
Sesajen dalam Nyadran juga menjadi pengingat bahwa manusia tidak hidup sendiri. Alam bukan sekadar ruang eksploitasi, melainkan mitra hidup yang harus dihormati dan dirawat. Dengan membawa hasil bumi ke pemakaman, warga seolah menegaskan bahwa kehidupan manusia, alam, dan leluhur terhubung dalam siklus yang saling bergantung. Tradisi ini mengajarkan nilai kesadaran ekologis yang lahir dari praktik budaya, bukan dari teori semata.
Setelah rangkaian acara dan terakhir doa lintan agama selesai. Warga kemudian menyantap hidangan tersebut secara bersama-sama. Tidak ada pembagian berdasarkan agama atau identitas tertentu. Semua duduk berdekatan, berbagi makanan, dan berbagi cerita.
Momen makan bersama ini menjadi simbol kuat dari kebersamaan dan kesetaraan. Tradisi Nyadran benar-benar menghadirkan ruang di mana perbedaan larut dalam rasa persaudaraan.
Merawat Tradisi, Menumbuhkan Perdamaian
Bagi saya, pengalaman mengikuti Nyadran Perdamaian membuka pemahaman baru tentang makna toleransi. Toleransi tetap terawat dan terwujud dalam tindakan-tindakan sederhana, membersihkan makam bersama, membawa makanan dari rumah, duduk dalam satu lingkaran, dan saling menghormati doa satu sama lain.
Juga di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat, kerap membuat masyarakat meminggirkan tradisi seperti Nyadran, padahal tradisi ini menyimpan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan penghormatan terhadap alam yang semakin relevan hari ini.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa perdamaian dapat tumbuh dari kearifan lokal yang dijalani secara konsisten. Nyadran Perdamaian menjadi bukti bahwa tradisi mampu menjadi ruang temu lintas iman, lintas generasi, dan lintas pengalaman hidup.
Dari Dusun Gletuk dan Krecek, saya belajar bahwa merawat tradisi berarti juga merawat hubungan antar manusia, alam, leluhur, dan sejarah. Di situlah perdamaian menemukan bentuknya yang paling sederhana, namun paling bermakna. []



















































