Jumat, 23 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Potret Pendidikan Perempuan dalam Al-Qur’an

Pendidikan layaknya transportasi yang akan menjadi sarana bagi para penumpangnya sampai ke tujuan. Begitu kiranya pengibaratan bagi pesan dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11

Karina Rahmi ST Farhani by Karina Rahmi ST Farhani
22 Oktober 2022
in Publik
0
Potret Pendidikan Perempuan Indonesia

Potret Pendidikan Perempuan Indonesia

660
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

 “Jika kamu mendidik seorang laki-laki, maka kamu sedang mendidik satu orang. Jika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu sedang menyiapkan satu peradaban.”

Mubadalah.id – Berikut ini potret pendidikan perempuan dalam Al-Qur’an. Kutipan di atas, begitu kiranya yang pernah dikatakan oleh Mohammad Hatta. Satu kepedulian dari Pahlawan Proklamator Indonesia melalui gambaran betapa pentingnya pendidikan perempuan dalam kehidupan ini.

Jika melihat dalam teks agama, penyebutan “perempuan” tak luput menjadi sorotan. Hal yang sama juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an. Dengan ragam bentuk penyebutan, potret “perempuan” yang dimaksud pun dapat berlainan makna.

Berdasar kepada penelitian yang dilakukan oleh Prof. Nasaruddin Umar dalam bukunya “Argumen Kesetaraan Gender”, Al-Qur’an menggunakan tiga bentuk terma perempuan. Yakni imraah, al-untsa, dan al-nisa.

Pertama, imraah banyak digunakan untuk menjelaskan perempuan yang matang secara usia (dewasa). Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an, Imraah seringkali ditemukan dalam ayat yang menjelaskan Istri orang terdahulu. Seperti kisah istri Fir’aun dalam QS. al-Qashash[28]: 9 juga QS. al-Tahrim[66]: 10 yang menjelaskan istri Nabi Nuh. Hanya dalam QS. al-Naml kata imraah digunakan untuk menyebutkan selain figur Istri, namun ratu Balqis yang mana seorang perempuan dewasa.

Kedua, al-untsa, yang banyak digunakan dalam ayat yang membahas terkait aspek biologis perempuan. Seperti halnya nampak dalam QS. al-Nisa[4]: 124, bahwa laki-laki ataupun perempuan ketika mereka beriman, maka Tuhan tidak ragu untuk memasukkannya ke surga.

Ketiga, al-nisa. Kata ini lebih familiar dalam keseharian masyarakat khususnya di Indonesia. Dalam Al-Qur’an kata ini digunakan untuk menjelaskan terkait aspek konstruk sosial (gender) dari perempuan. Contohnya QS. al-Nisa[4]: 34 yang seringkali diartikan sebagai perempuan sebagai makmum atau makhluk inferior atas laki-laki. Nyatanya, ayat itu sedang menyinggung feminimitas dari seorang manusia yang harus dipimpin oleh sisi maskulinitas dari manusia lain.

Kata terakhir ini merupakan bentuk yang akan dibahas selanjutnya. Di mana banyak digunakan kata al-nisa untuk disandingkan dengan kata tarbiyah yang memiliki makna pendidikan, pengasuhan dan pengajaran. Karenanya, sudut pandang yang akan dihasilkan adalah pendidikan perempuan—yakni aspek konstruk sosial yang melekat pada perempuan.

Kelompok Pertama: pendidikan perempuan dari teks sebagai poros pendidikan

Pola pikir ini dimiliki oleh mereka yang memiliki pemahaman normatif dalam memandang serta memosisikan pendidikan perempuan . Dari mulai gagasan hingga aksi nyata yang mereka lakukan, sangat dikelilingi oleh norma teks. Pengalaman hidup serta konstruk psikologis perempuanlah yang banyak dijadikan landasan bagi mereka. Di sinilah titik tolak golongan pertama memandang penting konsep pendidikan perempuan.

Dapat dilihat dari kondisi pendidikan perempuan di banyak pondok pesantren. Sebagai Lembaga pendidikan keagamaan khas Indonesia, pondok pesantren secara tidak langsung juga memiliki andil dalam penerapan wacana pendidikan perempuan ini. di mana para santriwati akan mendapatkan porsi khusus yang berkaitan dengan keperempuanan, khususnya dalam kajian fikih.

Hal itu juga saya alami sewaktu di jenjang pendidikan menengah. Norma perilaku hingga cara berpakaian pun saya dapatkan kala itu. Tentunya dengan merujuk kepada buku pedoman bahan ajar di Pesantren. Salah satunya adalah buku Tarbiyyah An-Nisa karya dari KH. Aceng Zakaria. Di dalamnya disampaikan bahwa buku tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para Muslimah dalam berkeseharian.

Banyak tema yang dibahas di dalamnya. Satu di antaranya adalah uraian mengenai “Larangan perempuan untuk keluar rumah”. Penulis buku memaparkan sejumlah dalil baik ayat Al-Qur’an maupun teks hadis. Dengan diakhiri kesimpulan pembahasan bahwa perempuan harus didampingi mahram ketika aktivitas keluar rumah.

Namun, sebagai bahan ajar bagi generasi Z, memahami buku tersebut begitu saja, rasanya akan banyak ketidaksesuaian. Saya menyebutnya dengan “keabsenan dari konteks zaman”. Artinya, ketika norma yang dipegang terlalu erat, pembahasan pun menjadi kaku untuk diaplikasikan hari ini. Di mana ruang publik sudah menjadi kebutuhan bagi setiap individu. Baik itu pendidikan, transaksi, perjalanan hingga ibadah.

Kelompok Kedua: potret pendidikan perempuan sebagai pembebasan dari keterkungkungan

Kelompok ini banyak diisi oleh kalangan terpelajar bahkan aktivis yang dengan lantang menyuarakan isu keperempuanan. Saya sebut sebagai kalangan elitis yang dekat dengan akses kemodernan dalam ilmu pengetahuan. Produksi pengetahuan secara metodologis pun banyak dilakukan dalam aktivitas kelompok ini.

Sebut saja seperti gagasan yang dikemukakan oleh tokoh perempuan Indonesia, Musdah Mulia. Dalam bukunya bertajuk Ensiklopedia Muslimah Reformis, Musdah Mulia meletakkan pembahasan pendidikan perempuan sebagai permulaan dari karyanya. Karakter progresif pun sangat kentara dari gagasan pendidikan ramah perempuan yang ditawarkannya. Ia menekankan, bahwa perempuan harus menjadi subjek penuh dalam kehidupan. Itulah mengapa SDM perempuan harus berpendidikan.

Selain muncul dari sudut pandang individual, konsep serupa juga digunakan oleh beberapa organisasi maupun perkumpulan lainnya. Ciri khas yang kental adalah upaya rekonstruksi pemahaman yang dilakukan, demi terwujudnya suatu perubahan sosial.

Produksi pengetahuan yang dihasilkan pun kaya akan gaya multidiscipline approach. Sebagai upaya untuk membaca teks agama dengan kacamata aplikatif waktu dan tempat. Juga adanya landasan metodologis yang dijadikan algoritma berpikir, sehingga pendapat yang muncul dapat dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, kelompok ini juga rentan akan “eksklusifitas golongan”. Yang mana berimplikasi pada pandangan negatif mereka terhadap golongan lain yang dinilai belum sesuai dengan keidealan yang mereka yakini. Ini menjadi salah satu kehati-hatian yang harus terus diwaspadai oleh para pihak elitis tersebut.

Seperti disinggung oleh Mahmoud Saba dalam bukunya Politics of Piety: The Islamic Revival and the Feminist Subject, bahwa para kalangan yang mengklaim dirinya lebih progresif, seringkali menafikan tradisi. Rasa diri lebih unggul seringkali muncul ketika dihadapkan dengan kaum agamis yang kehidupannya sarat akan norma. Di situlah perlunya mencoba memandang secara jernih kedua kelompok tersebut.

Tawaran: bukan upaya peleburan

Dalam rangka menjembatani kedua kelompok, saya menawarkan sebuah gagasan. Bagi golongan pertama dengan karakter pemahaman normatif, agaknya fleksibilitas dalam pengejawantahan hasil bacaan atas teks mengenai pendidikan perempuan lebih diperlukan. Juga dapat menjadi sarana dalam meramu problem masyarakat yang kadangkala luput dari contoh yang disebut dalam teks agama.

Sedangkan bagi golongan kedua, aktivitas individu yang masuk di dalamnya perlu lebih membumi. Artinya, tidak hanya berhenti sampai pada penelitian ilmiah, tapi terjun pada hal-hal yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat secara umum.

Menyertakan gagasan di media online salah satunya. Disajikan dengan diksi penjelasan ringan dan informatif. Hasil dari berbagai penelitian itupun juga sedikit demi sedikit akan menyentuh ranah masyarakat. Tentu ini memungkinkan, di tengah arus informasi yang serba digital saat ini.

Karenanya, keberadaan portal media berwacanakan perempuan seperti mubadalah.id, rahma.id dan website lainnya, dapat dijadikan wadah bagi para golongan elitis untuk menyampaikan gagasannya. Utamanya untuk dijadikan kontrol wacana mengenai pendidikan perempuan di Indonesia.

Termasuk inisiasi Pelatihan Muslimah Reformis oleh Yayasan Mulia Raya (milik Musdah Mulia), tentu menjadi wujud konkrit lainnya. Namun sekali lagi, tidak hanya selesai dalam pelatihan. Perlu adanya kontribusi aktif para peserta yang merupakan perempuan berusia 20-35 tahun untuk ikut mencerdaskan sesama kaum perempuan.

Pendidikan layaknya transportasi yang akan menjadi sarana bagi para penumpangnya sampai ke tujuan. Begitu kiranya pengibaratan bagi pesan dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11. Serupa dengan lima ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW. Artinya, perintah berilmu dari mulai membaca, mengetahui, memahami bahkan hingga mengaplikasikan adalah tugas seumur hidup manusia seluruhnya.

Termasuk bagi kaum perempuan. Pemilik identitas madrasatul-ula bagi anak biologisnya. Figur yang dalam banyak potret keluarga, memiliki kedekatan psikologis tersendiri dengan anaknya. Pendidikan secara khusus bagi kaum perempuan menjadi penting, seiring meluasnya subordinasi hingga marginalisasi atas perempuan.

Demikian potret pendidikan perempuan dalam Al-Qur’an. Semoga potret pendidikan perempuan dalam Al-Qur’an bermanfaat. []

Tags: GenderkeadilanKesetaraanLembaga PendidikanMuslimah ReformisperempuanPondok Pesantrensuara perempuan

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Karina Rahmi ST Farhani

Karina Rahmi ST Farhani

Perempuan asal Garut. Mahasiswi Program Pendidikan Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal - LPDP . Menekuni kajian Keislaman-Keperempuanan

Related Posts

Kesehatan
Pernak-pernik

Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

23 Januari 2026
Disabilitas
Publik

Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

23 Januari 2026
Seksualitas
Pernak-pernik

Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

22 Januari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

21 Januari 2026
Ulama KUPI
Publik

KUPI: Ruang Kolektif Ulama Perempuan

18 Januari 2026
Fahmina
Publik

Peran Fahmina dalam Membentuk Jaringan Ulama Perempuan

18 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan
  • Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)
  • Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia
  • Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian
  • Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID