Mubadalah.id – Di reels instagram, konten-konten iklan makanan seringkali berseliweran yang membuat kita, terutama Gen Z, penasaran lalu terpacu untuk membelinya. Siapa sih yang nggak “ngiler” melihat iklan mie pangsit yang topping ayam dan kuah kaldunya sampai tumpah-tumpah? Tak dapat kita pungkiri, generasi muda kita memang sering kepincut sama makanan cepat saji yang enak-enak.
Namun, tulisan ini tidak hendak mengkritisi mereka-mereka yang doyan makan seblak, gorengan, atau makanan cepat saji lainnya. Lha wong saya juga tak jarang masih makan yang begituan.
Tren Jajanan Rebusan
Selain iklan makanan cepat saji yang bikin perut kita tiba-tiba bergejolak, dalam tren yang belakangan populer, iklan jajanan rebusan dan kukusan (real food), juga membanjiri lini media sosial kita. Ini seperti hanya mengulang masa lalu saja. Sebab, sebelum generasi milenial dan Z lahir ke bumi, para orang tua kita menjadikan real food sebagai konsumsi sehari-hari.
Orang tua saya misalnya, yang kebetulan menjadi petani sejak jauh sebelum saya lahir, rutin mengonsumsi umbi-umbian dan buah-buahan dari hasil tani. Umbi-umbian itu terkadang direbus, kadang dikukus. Sampai sekarang, saya masih sering melihat singkong maupun ketela rebus di rumah. Kini, jajanan rebusan menjadi tren di kalangan anak muda sebab pengaruh dari media sosial dan gaya hidup sehat.
Istilah “real food” pun menjadi tak asing lagi di telinga sebagian orang. Mereka yang fanatik terhadap junk food dan anti jenis makanan lainnya, mungkin akan pura-pura tidak mendengar istilah ini. Real food merujuk pada makanan alami, minim proses, dan dekat dengan bentuk aslinya. Dalam konteks ini, seperti sayur rebus, umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, biji-bijian, serta pangan segar lainnya.
Tren Konsumsi Real Food
Di tengah banjir makanan ultra-proses, tren konsumsi “real food” muncul sebagai bentuk perlawanan diam terhadap gaya hidup instan yang berdampak pada kesehatan. Tidak sedikit masyarakat yang mulai mengonsumsi rebusan atau kukusan karena melihat tren itu di media sosial, meski mereka juga belum sepenuhnya meninggalkan makanan cepat saji.
Rebusan singkong, ubi, jagung, kacang tanah, hingga pisang rebus kembali hadir di meja makan. Ini bukan lagi sekadar simbol keterbatasan ekonomi, melainkan dipandang sebagai pilihan sadar: lebih sehat, lebih jujur, dan lebih ramah tubuh.
Media sosial kita juga dibanjiri konten clean eating, whole food dan pola makan alami. Klinik kesehatan, komunitas kebugaran, eco-organisasi, hingga rumah tangga urban mulai mempromosikan kembali pangan tradisional yang dulu dianggap “makanan kampung”.
Namun, di balik tren ini, ada pertanyaan besar yang jarang kita bahas. Bisakah jajan rebusan terus tersedia jika ekologi tempat ia tumbuh justru rusak?
Anda mungkin akan bilang “Nah kan bisa impor, ketela impor, singkong impor, dan lain-lain.” Ya kemudian apakah negara ini akan terus bergantung pada impor ketika alam kita sendiri menyediakan sumber daya melimpah?
Para pakar sendiri banyak yang bilang, bergantung pada impor umbi-umbian dapat melemahkan petani lokal karena harga jatuh dan sulit menjual hasil panen, serta mengancam ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Real Food Bisa Terus Diproduksi Jika Ekologi Sehat
Makanan tidak lahir di rak supermarket, juga tidak lahir dari ruang hampa. Ia berasal dari tanah, air, udara, dan ekosistem yang bekerja dalam keseimbangan. Produksi pangan sejatinya adalah proses ekologis. Tanah yang subur, air yang bersih, serangga penyerbuk, mikroorganisme tanah, dan iklim yang stabil adalah fondasi utama agar pangan—terutama jajan rebusan dan kukusan—dapat terus dihasilkan.
Ini berbeda dengan makanan sintetis atau ultra-proses yang bisa “diciptakan” tangan-tangan kreatif manusia di pabrik. Real food sepenuhnya bergantung pada alam. Sayur rebus yang kita konsumsi hari ini adalah hasil dari tanah yang tidak tercemar. Singkong, wortel, ubi, dan kacang tanah yang direbus adalah hasil dari ekosistem yang masih mampu menopang kehidupan tanaman dalam jangka panjang.
Ketika ekologi sehat, siklus pangan berjalan alami. Petani bisa menanam kembali, benih bisa terwariskan, dan produksi pangan menjadi berkelanjutan. Sebaliknya, jika ekologi rusak—tanah terdegradasi, air tercemar limbah industri, bahkan yang lebih parah hutan hilang—maka produksi real food akan terganggu, bahkan dalam dampak yang lebih membahayakan, akan terhenti.
Ekologi Sehat Ditandai oleh Keanekaragaman Hayati
Salah satu indikator utama ekologi yang sehat adalah keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Kekayaan spesies tumbuhan (seperti anggrek, raflesia) dan hewan (orangutan, harimau, gajah, serangga unik) yang melimpah, termasuk banyak spesies endemik unik, menjadikannya gudang genetik penting bagi dunia. Ini yang harus disyukuri oleh orang Indonesia.
Termasuk keanekaragaman tumbuhan (flora) yang menyediakan sumber pangan, gizi (vitamin, mineral, serat), dan karbohidrat, adalah umbi-umbian dan sayur mayur yang bisa kita makan hari ini. Alam yang sehat tidak hanya menghasilkan satu atau dua jenis pangan, tetapi beragam jenis umbi, kacang, serealia, dan tanaman lokal yang saling menopang satu sama lain.
Sialnya, di daerah-daerah tertentu, keanekaragaman hayati menurun di kawasan hutan tropis, salah satunya disebabkan oleh kerakusan manusia melalui deforestasi. Sumatera adalah contoh kecil, ketika hutan dibabat, pohon ditumbangkan, yang hilang bukan cuma keanekaragaman hayati, tetapi juga nyawa manusia.
Keserakahan manusia yang eksploitatif tidak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati di hutan, lahan pertanian yang menjadi salah satu tempat lahirnya bahan pangan, juga di beberapa tempat alami kerusakan.
Di Rancaekek, Jawa Barat, misalnya. Lahan pertanian banyak rusak parah karena ulah pabrik yang membuang limbah sembarangan. Hal ini berdampak pada penderitaan warga karena kualitas padi menjadi buruk, harga jatuh dan kesulitan mendapatkan air bersih (Mongabay, 2025).
Indonesia Kaya Keragaman Hayati
Sejatinya, Indonesia memiliki ratusan jenis umbi-umbian dan biji-bijian lokal. Keanekaragaman ini bukan hanya kekayaan budaya, tetapi juga sistem perlindungan alam. Jika satu tanaman gagal panen, masih ada tanaman lain yang bisa tumbuh.
Sayangnya, modernisasi pertanian yang berorientasi pada monokultur (sawit, misalnya) dan efisiensi jangka pendek justru menggerus keanekaragaman ini. Alam terpaksa seragam. Benih lokal tergantikan oleh varietas tunggal. Padahal, real food sejati lahir dari keragaman, bukan keseragaman.
Apa jadinya masa depan real food jika alam terus dirusak oleh mereka yang mengatasnamakan pembangunan? Apa jadinya jika lahan pertanian tempat masyarakat adat bekerja malah tergusur paksa atas nama industri yang belum tentu masyarakat lokal merasakan dampak positifnya? Bagaimana dengan masa depan bahan pangan bergizi di Indonesia ketika tanah dan hutan semakin menyempit jumlahnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali terpikirkan oleh saya ketika melihat kerusakan ekologi di Indonesia intensitasnya terus naik. Bukan masyarakat adat, bukan pula warga biasa yang merusak, tetapi oleh mereka yang punya modal, kuasa, kekuatan, dan kepentingan.
Dalam hal ini, negara perlu berpihak pada masyarakat sipil, melalui kebijakan, lewat aturan-aturan, dengan penegakan hukum, untuk menghentikan atau setidaknya mempertimbangkan kembali segala praktik-praktik yang berpotensi besar merusak lingkungan dan kemungkinan menghilangkan keanekaragaman hayati. Jangan sampai negara justru menjadi pelaku dari perusakan lingkungan itu sendiri.
Alam Rusak Berdampak ke Segala Sektor
Jika tanah kehilangan kesuburannya, biaya produksi akan melangit. Sebab, petani harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk input tambahan seperti pupuk, pestisida, dan air irigasi agar tanaman tetap bisa tumbuh dan menghasilkan panen yang layak. Tanah yang tidak subur menjadi miskin nutrisi, sulit menahan air, sehingga membutuhkan lebih banyak intervensi untuk mengatasi masalah tersebut.
Selain itu, jika air bersih langka, kualitas pangan menurun. Jika iklim tidak stabil, panen menjadi tidak pasti. Dalam kondisi ini, real food justru berisiko menjadi barang mahal dan eksklusif, hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Dalam hal ini, masyarakat miskin tentu saja tidak akan bisa membeli jajanan rebus sebab harganya tidak terjangkau.
Kerusakan alam di Indonesia diakibatkan oleh deforestasi, pencemaran limbah industri, alih fungsi lahan, dan krisis iklim, secara langsung menghancurkan keragaman hayati. Tanaman liar punah, benih lokal hilang, dan ekosistem menjadi rapuh. Ketika satu spesies tumbuhan menghilang, rantai kehidupan ikut terganggu.
Keragaman hayati bukan sekadar isu lingkungan, tetapi isu pangan. Umbi-umbian, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian adalah tulang punggung real food. Mereka sumber energi alami, serat, dan mikronutrien penting. Hilangnya satu jenis tanaman berarti hilangnya satu sumber nutrisi, satu pilihan pangan, dan satu pengetahuan lokal. Alam yang rusak akan menyederhanakan pilihan kita: dari beragam menjadi terbatas.
Jika keragaman ini hilang, maka pola makan manusia akan semakin bergantung pada pangan olahan dan sumber karbohidrat tunggal. Lebih-lebih di era keterbukaan informasi, konten makanan cepat saji yang bikin nagih akan semakin mempengaruhi pola hidup manusia, terutama di kalangan muda.
Selain itu, masyarakat menjadi tergantung pada impor, benih industri, dan sistem pangan global yang rentan krisis. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya ancaman kesehatan, tetapi juga ancaman sosial dan ekonomi.
Tren makan real food seharusnya tidak berhenti di meja makan. Ia perlu kita perluas menjadi kesadaran ekologis. Karena pada akhirnya, menjaga real food berarti menjaga alam. Tanpa alam yang bugar, real food hanya akan menjadi kenangan, bukan pilihan masa depan. []




















































