Selasa, 17 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Lingkungan

Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

Tren makan real food seharusnya tidak berhenti di meja makan. Ia perlu diperluas menjadi kesadaran ekologis.

Khairul Anwar by Khairul Anwar
2 Februari 2026
in Lingkungan, Publik
A A
0
Real Food

Real Food

120
SHARES
6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Di reels instagram, konten-konten iklan makanan seringkali berseliweran yang membuat kita, terutama Gen Z, penasaran lalu terpacu untuk membelinya. Siapa sih yang nggak “ngiler” melihat iklan mie pangsit yang topping ayam dan kuah kaldunya sampai tumpah-tumpah? Tak dapat kita pungkiri, generasi muda kita memang sering kepincut sama makanan cepat saji yang enak-enak. 

Namun, tulisan ini tidak hendak mengkritisi mereka-mereka yang doyan makan seblak, gorengan, atau makanan cepat saji lainnya. Lha wong saya juga tak jarang masih makan yang begituan.

Tren Jajanan Rebusan

Selain iklan makanan cepat saji yang bikin perut kita tiba-tiba bergejolak, dalam tren yang belakangan populer, iklan jajanan rebusan dan kukusan (real food), juga membanjiri lini media sosial kita. Ini seperti hanya mengulang masa lalu saja. Sebab, sebelum generasi milenial dan Z lahir ke bumi, para orang tua kita menjadikan real food sebagai konsumsi sehari-hari.

Orang tua saya misalnya, yang kebetulan menjadi petani sejak jauh sebelum saya lahir, rutin mengonsumsi umbi-umbian dan buah-buahan dari hasil tani. Umbi-umbian itu terkadang direbus, kadang dikukus. Sampai sekarang, saya masih sering melihat singkong maupun ketela rebus di rumah. Kini, jajanan rebusan menjadi tren di kalangan anak muda sebab pengaruh dari media sosial dan gaya hidup sehat.

Istilah “real food” pun menjadi tak asing lagi di telinga sebagian orang. Mereka yang fanatik terhadap junk food dan anti jenis makanan lainnya, mungkin akan pura-pura tidak mendengar istilah ini. Real food merujuk pada makanan alami, minim proses, dan dekat dengan bentuk aslinya. Dalam konteks ini, seperti sayur rebus, umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, biji-bijian, serta pangan segar lainnya. 

Tren Konsumsi Real Food

Di tengah banjir makanan ultra-proses, tren konsumsi “real food” muncul sebagai bentuk perlawanan diam terhadap gaya hidup instan yang berdampak pada kesehatan. Tidak sedikit masyarakat yang mulai mengonsumsi rebusan atau kukusan karena melihat tren itu di media sosial, meski mereka juga belum sepenuhnya meninggalkan makanan cepat saji.

Rebusan singkong, ubi, jagung, kacang tanah, hingga pisang rebus kembali hadir di meja makan. Ini bukan lagi sekadar simbol keterbatasan ekonomi, melainkan dipandang sebagai pilihan sadar: lebih sehat, lebih jujur, dan lebih ramah tubuh.

Media sosial kita juga dibanjiri konten clean eating, whole food dan pola makan alami.  Klinik kesehatan, komunitas kebugaran, eco-organisasi, hingga rumah tangga urban mulai mempromosikan kembali pangan tradisional yang dulu dianggap “makanan kampung”.

Namun, di balik tren ini, ada pertanyaan besar yang jarang kita bahas. Bisakah jajan rebusan terus tersedia jika ekologi tempat ia tumbuh justru rusak?

Anda mungkin akan bilang “Nah kan bisa impor, ketela impor, singkong impor, dan lain-lain.” Ya kemudian apakah negara ini akan terus bergantung pada impor ketika alam kita sendiri menyediakan sumber daya melimpah?

Para pakar sendiri banyak yang bilang, bergantung pada impor umbi-umbian dapat melemahkan petani lokal karena harga jatuh dan sulit menjual hasil panen, serta mengancam ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Real Food Bisa Terus Diproduksi Jika Ekologi Sehat

Makanan tidak lahir di rak supermarket, juga tidak lahir dari ruang hampa. Ia berasal dari tanah, air, udara, dan ekosistem yang bekerja dalam keseimbangan. Produksi pangan sejatinya adalah proses ekologis. Tanah yang subur, air yang bersih, serangga penyerbuk, mikroorganisme tanah, dan iklim yang stabil adalah fondasi utama agar pangan—terutama jajan rebusan dan kukusan—dapat terus dihasilkan.

Ini berbeda dengan makanan sintetis atau ultra-proses yang bisa “diciptakan” tangan-tangan kreatif manusia di pabrik. Real food sepenuhnya bergantung pada alam. Sayur rebus yang kita konsumsi hari ini adalah hasil dari tanah yang tidak tercemar. Singkong, wortel, ubi, dan kacang tanah yang direbus adalah hasil dari ekosistem yang masih mampu menopang kehidupan tanaman dalam jangka panjang.

Ketika ekologi sehat, siklus pangan berjalan alami. Petani bisa menanam kembali, benih bisa terwariskan, dan produksi pangan menjadi berkelanjutan. Sebaliknya, jika ekologi rusak—tanah terdegradasi, air tercemar limbah industri, bahkan yang lebih parah hutan hilang—maka produksi real food akan terganggu, bahkan dalam dampak yang lebih membahayakan, akan terhenti.

Ekologi Sehat Ditandai oleh Keanekaragaman Hayati

Salah satu indikator utama ekologi yang sehat adalah keanekaragaman hayati yang masih terjaga. Kekayaan spesies tumbuhan (seperti anggrek, raflesia) dan hewan (orangutan, harimau, gajah, serangga unik) yang melimpah, termasuk banyak spesies endemik unik, menjadikannya gudang genetik penting bagi dunia. Ini yang harus disyukuri oleh orang Indonesia. 

Termasuk keanekaragaman tumbuhan (flora) yang menyediakan sumber pangan, gizi (vitamin, mineral, serat), dan karbohidrat, adalah umbi-umbian dan sayur mayur yang bisa kita makan hari ini. Alam yang sehat tidak hanya menghasilkan satu atau dua jenis pangan, tetapi beragam jenis umbi, kacang, serealia, dan tanaman lokal yang saling menopang satu sama lain. 

Sialnya, di daerah-daerah tertentu, keanekaragaman hayati menurun di kawasan hutan tropis, salah satunya disebabkan oleh kerakusan manusia melalui deforestasi. Sumatera adalah contoh kecil, ketika hutan dibabat, pohon ditumbangkan, yang hilang bukan cuma keanekaragaman hayati, tetapi juga nyawa manusia.

Keserakahan manusia yang eksploitatif tidak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati di hutan, lahan pertanian yang menjadi salah satu tempat lahirnya bahan pangan, juga di beberapa tempat alami kerusakan.

Di Rancaekek, Jawa Barat, misalnya. Lahan pertanian banyak rusak parah karena ulah pabrik yang membuang limbah sembarangan. Hal ini berdampak pada penderitaan warga karena kualitas padi menjadi buruk, harga jatuh dan kesulitan mendapatkan air bersih (Mongabay, 2025).

Indonesia Kaya Keragaman Hayati

Sejatinya, Indonesia memiliki ratusan jenis umbi-umbian dan biji-bijian lokal. Keanekaragaman ini bukan hanya kekayaan budaya, tetapi juga sistem perlindungan alam. Jika satu tanaman gagal panen, masih ada tanaman lain yang bisa tumbuh.

Sayangnya, modernisasi pertanian yang berorientasi pada monokultur (sawit, misalnya) dan efisiensi jangka pendek justru menggerus keanekaragaman ini. Alam terpaksa seragam. Benih lokal tergantikan oleh varietas tunggal. Padahal, real food sejati lahir dari keragaman, bukan keseragaman. 

Apa jadinya masa depan real food jika alam terus dirusak oleh mereka yang mengatasnamakan pembangunan? Apa jadinya jika lahan pertanian tempat masyarakat adat bekerja malah tergusur paksa atas nama industri yang belum tentu masyarakat lokal merasakan dampak positifnya? Bagaimana dengan masa depan bahan pangan bergizi di Indonesia ketika tanah dan hutan semakin menyempit jumlahnya? 

Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali terpikirkan oleh saya ketika melihat kerusakan ekologi di Indonesia intensitasnya terus naik. Bukan masyarakat adat, bukan pula warga biasa yang merusak, tetapi oleh mereka yang punya modal, kuasa, kekuatan, dan kepentingan. 

Dalam hal ini, negara perlu berpihak pada masyarakat sipil, melalui kebijakan, lewat aturan-aturan, dengan penegakan hukum, untuk menghentikan atau setidaknya mempertimbangkan kembali segala praktik-praktik yang berpotensi besar merusak lingkungan dan kemungkinan menghilangkan keanekaragaman hayati. Jangan sampai negara justru menjadi pelaku dari perusakan lingkungan itu sendiri.

Alam Rusak Berdampak ke Segala Sektor

Jika tanah kehilangan kesuburannya, biaya produksi akan melangit. Sebab, petani harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk input tambahan seperti pupuk, pestisida, dan air irigasi agar tanaman tetap bisa tumbuh dan menghasilkan panen yang layak. Tanah yang tidak subur menjadi miskin nutrisi, sulit menahan air, sehingga membutuhkan lebih banyak intervensi untuk mengatasi masalah tersebut.

Selain itu, jika air bersih langka, kualitas pangan menurun. Jika iklim tidak stabil, panen menjadi tidak pasti. Dalam kondisi ini, real food justru berisiko menjadi barang mahal dan eksklusif, hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Dalam hal ini, masyarakat miskin tentu saja tidak akan bisa membeli jajanan rebus sebab harganya tidak terjangkau.

Kerusakan alam di Indonesia diakibatkan oleh deforestasi, pencemaran limbah industri, alih fungsi lahan, dan krisis iklim, secara langsung menghancurkan keragaman hayati. Tanaman liar punah, benih lokal hilang, dan ekosistem menjadi rapuh. Ketika satu spesies tumbuhan menghilang, rantai kehidupan ikut terganggu.

Keragaman hayati bukan sekadar isu lingkungan, tetapi isu pangan. Umbi-umbian, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian adalah tulang punggung real food. Mereka sumber energi alami, serat, dan mikronutrien penting. Hilangnya satu jenis tanaman berarti hilangnya satu sumber nutrisi, satu pilihan pangan, dan satu pengetahuan lokal. Alam yang rusak akan menyederhanakan pilihan kita: dari beragam menjadi terbatas. 

Jika keragaman ini hilang, maka pola makan manusia akan semakin bergantung pada pangan olahan dan sumber karbohidrat tunggal. Lebih-lebih di era keterbukaan informasi, konten makanan cepat saji yang bikin nagih akan semakin mempengaruhi pola hidup manusia, terutama di kalangan muda. 

Selain itu, masyarakat menjadi tergantung pada impor, benih industri, dan sistem pangan global yang rentan krisis. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya ancaman kesehatan, tetapi juga ancaman sosial dan ekonomi.

Tren makan real food seharusnya tidak berhenti di meja makan. Ia perlu kita perluas menjadi kesadaran ekologis. Karena pada akhirnya, menjaga real food berarti menjaga alam. Tanpa alam yang bugar, real food hanya akan menjadi kenangan, bukan pilihan masa depan. []

Tags: bencana ekologisjajanan rebusankeanekaragaman panganKrisis IklimMakanan Sehatreal food
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

PBB Soroti Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan dan Ekonomi Global

Next Post

Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

Khairul Anwar

Khairul Anwar

Dosen, penulis, dan aktivis media tinggal di Pekalongan. Saat ini aktif di ISNU, LTNNU Kab. Pekalongan, GP Ansor, Gusdurian serta kontributor NU Online Jateng. Bisa diajak ngopi via ig @anwarkhairul17

Related Posts

Ekosentrisme
Buku

Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

2 Februari 2026
Krisis Lingkungan
Lingkungan

Indonesia Emas 2045: Mimpi atau Ilusi di Tengah Krisis Lingkungan?

2 Februari 2026
Ekologis
Lingkungan

Catatan Ekologis Akhir Tahun: Menutup Luka Alam yang Belum Pulih

2 Februari 2026
Anak Perempuan Disabilitas
Buku

Kisah Anak Perempuan Disabilitas Menyelamatkan Pohon Terakhir di Desanya

2 Februari 2026
Reboisasi Relasi
Publik

Reboisasi Relasi: Menghijaukan Kembali Cara Kita Memandang Alam

14 Desember 2025
Bencana Alam
Publik

Bencana Alam, Panggung Sandiwara, dan Kesadaran Masyarakat Modern

13 Desember 2025
Next Post
Kerusakan Lingkungan

Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik
  • Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral
  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0