Mubadalah.id – Ramadan sebelumnya, saya merayakan hari Nuzulul Quran dengan membuat challenge. Yakni melakukan pembacaan Alquran secara tuntas (baca: khatam) di hari itu juga. Tidak lain, hal tersebut hanya sebagai upaya belajar self-produktif, tak lebih. Terpenting memberikan manfaat untuk diri pribadi dan tidak merugikan pihak lain.
Dalam konteks ini, kalau dilihat-lihat lagi, saya cenderung merupakan tipikal orang yang lebih menyukai mengkaji daripada mengaji (meskipun masih satu akar kata, dalam KBBI ‘mengaji’ lebih cenderung mengarah pada membaca dan mempelajari Al-Qur’an).
Bagi saya, menyelami samudera huruf perhuruf yang tersembunyi di balik ayat-ayatNya jauh lebih menyenangkan dari sekadar membaca, melacak penafsiran-penafsiran dari para tokoh tersohor juga tak kalah mengasikkannya.
Dengan begitu, di momentum Nuzulul Quran kali ini saya memilih untuk mengkajinya.
Lalu saya iseng melontarkan uneg-uneg dalam sebuah story Medsos, “mengapa perintah membaca menjadi ayat yang pertama kali turun, bukan perintah salat, haji, zakat, atau lainnya?”
Ada seorang teman yang menimpali, kebetulan dia juga non-Islam, “wah, dalam kurun waktu 14 abad lamanya, pesan tersebut termasuk visioner ya.”
Dari balasan itu, seketika saya membatin, “mungkin ini salah satu jawabannya, perintah universal yang mudah diterima siapa saja, dari golongan manapun.”
Iqra’ sendiri berasal dari kata Qa-ra-a yang pada awalnya memiliki arti menghimpun. Perintah membaca dalam ayat tersebut tidak menyebutkan secara spesifik objek bacaan, tapi menjelaskan motivasi dan tujuan membaca, yakni dengan atau demi karena Tuhan yang menciptakan. Sehingga banyak ahli tafsir memahami kata ‘iqra’ bukan sekadar membaca, tapi mencakup makna menyimak, menganalisis, dan meneliti. Sekali lagi bukan hanya tilawah, tapi juga mencakup qiraah, tadarus, dan tadabbur sekaligus.
Dengan begitu, membaca di sini tidak hanya membaca teks tertulis, tidak juga terbatas pada teks lisan, namun mencakup segala apa yang tersirat dari realitas alam raya (ayat-ayat kauniyah).
Keunikan Susunan Kata Qaf-Ra-Hamzah
Keunikan lainnya terletak pada susunan huruf tersebut, “Qaf – ra – dan hamzah” yang dibaca “qa-ra-a”. Menurut Prof. Quraish Shihab, mau kita utak-atik bagaimanapun susunan kata tersebut, ia tetap memiliki makna. Sebagai contoh A-ri-qa berarti gelisah atau sulit tidur. Kalau kita baca Aqarra memiliki arti mantap atau tenang.
Sehingga semua itu mengisyaratkan bahwa kalau kita tidak membaca, kita akan merasa gelisah. Ketika gelisah atau tidak bisa tidur, maka kita tidak akan merasa tenang. Begitupun sebaliknya, jika kita membaca, kita akan memperoleh pengetahuan, dengan demikian hidup kita akan menjadi tenang.
Bila kita menyoroti proses penyampaian ayat ini, Jibril datang pada Nabi Saw, ia memberi perintah ‘iqra’ (bacalah!)’,dengan mengulanginya sebanyak dua kali seraya memeluknya. Nabi menjawab dengan bingung, ‘ma ana bi qari’ (saya tidak bisa membaca)’. untuk yang ketiga kalinya Jibril menyampaikan ayat tersebut.
Tingkatan Iqra’
Menurut Prof. Nasaruddin Umar, satu titik dalam Alquran memiliki arti dan pesan yang sangat penting. Apalagi sampai menggunakan kata perintah sebanyak tiga kali. Menurut Ulama tafsir Isyari menjelaskan bahwa pengulangan perintah Jibril kepada Nabi memiliki makna bertingkat. Ini sesuai dengan tingkat kesadaran manusia, yakni, kesadaran sensorial, kesadaran imaginal, kesadaran intelektual, dan kesadaran spiritual.
Iqra’ pertama, bagaimana membaca ayat-ayat Alquran dengan baik dan benar melalui tajwid (how to read). Jadi kalau ada yang melafalkan tanpa mengerti yang dia baca, maka masuk kategori yang pertama.
Iqra’ kedua, bagaimana memahami apa yang kita baca atau sebagai kesadaran imaginal (how to learn or think) terhadap kata demi kata dan ayat demi ayat Alquran.
Iqra’ ketiga, berhubungan dengan kesadaran intelektual (how to understand) terhadap ayat-ayat Alquran. Bagaimana menjiwai, meresapi bacaan itu sendiri yang melibatkan emosional secara aktif. Dengan kata lain melibatkan Allah, sebab jika hanya mengandalkan iqra’ (membaca) semata, hanya akan menghasilkan manusia yang mungkin berakal, tapi sering mengakali.
Iqra’ keempat. Kesadaran spiritual (how to meditate) terhadap kandungan ayat suci Alquran. Menurutnya masih ada satu Iqra’ lagi yang tertuang pada ayat iqra’ wa rabbuka al-akram. How to disclosure, sebagai tingkatan tertinggi untuk menyingkap tabir-tabir maknawi dalam Alquran di mana pemahaman melampaui teks tersurat.
Kata Iqra’ dalam surah tersebut juga berulang hingga dua kali, ini menunjukkan bahwa dalam membaca baiknya dengan cara berulang. Hal ini menunjukkan bahwa membaca bukanlah aktivitas sekali jadi, melainkan budaya yang mesti berulang untuk memperdalam pemahaman.
Hingga tulisan ini selesai. Saya tidak pernah berhenti berdecak kagum. Sungguh kaya pesan yang terkandung di dalamnya.
Betapapun wahyu pertama memang secara tegas bilang ‘bacalah!’, setelah 14 abad berlalu, pertanyaannya mungkin bukan lagi apa yang kita baca, melainkan apakah kita benar-benar masih membaca.
Semoga momentum Nuzulul Quran bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat pada satu hal yang sederhana, bahwa peradaban runtuh bukan karena manusia berhenti berdoa, tetapi karena mereka berhenti membaca.
Wallahu A’lam bi al-shawab. []








































