Selasa, 24 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Runtuhnya Rezim Bashar al-Assad dan Harapan Baru untuk Suriah

Runtuhnya rezim Bashar al-Assad adalah pengingat bahwa kekuasaan yang menindas tidak akan bertahan selamanya.

Yayat Hidayat by Yayat Hidayat
11 Desember 2024
in Publik
A A
0
Runtuhnya Rezim Bashar al-Assad

Runtuhnya Rezim Bashar al-Assad

15
SHARES
774
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setelah lebih dari dua dekade bertahan di tengah protes, konflik, dan kecaman internasional, rezim Bashar al-Assad akhirnya tumbang. Runtuhnya rezim Bashar al-Assad ini tidak hanya menandai akhir dari era panjang kekuasaan otoriter di Suriah, tetapi juga membuka babak baru yang penuh harapan sekaligus tantangan bagi rakyatnya.

Bagaimana sebuah bangsa yang telah porak-poranda oleh perang dan perpecahan sektarian menemukan kembali pijakannya? Di balik kegembiraan atas kebebasan yang baru diraih, ada ketidakpastian yang membayangi: akankah Suriah mampu bangkit dari reruntuhan?

Kisah jatuhnya Bashar al-Assad adalah cerita tentang manusia—jutaan perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang hidupnya terguncang oleh konflik yang tak berkesudahan.

Dari kota-kota yang kini menjadi puing hingga kamp pengungsian yang penuh sesak. Penderitaan mereka mengingatkan kita akan harga mahal dari kebebasan dan keadilan. Namun, di tengah kegelapan, harapan tetap menyala. Harapan akan perdamaian, keadilan, dan rekonsiliasi yang melampaui luka sejarah.

Rezim Bashar al-Assad

Bashar al-Assad naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2000 menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad, yang memerintah Suriah selama hampir 30 tahun. Dengan latar belakang sebagai dokter mata yang pernah menempuh pendidikan di London. Banyak pihak awalnya berharap Bashar akan membawa reformasi dan keterbukaan di Suriah.

Namun, harapan tersebut dengan cepat sirna. Dalam praktiknya, Bashar melanjutkan tradisi ayahnya. Mempertahankan kekuasaan melalui kontrol militer, represi politik, dan propaganda negara.

Pada 2011, gelombang “Arab Spring” menyapu Timur Tengah, termasuk Suriah. Protes damai yang menuntut reformasi politik di Suriah segera direspon dengan kekerasan brutal oleh pemerintah Assad. Tindakan ini memicu perang saudara yang melibatkan berbagai aktor domestik dan internasional. Hingga kemudian menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di abad ke-21.

Penyebab Kejatuhan Rezim Assad

Kejatuhan Bashar al-Assad adalah kisah tentang kekuatan rakyat yang perlahan namun pasti meruntuhkan rezim otoriter yang selama dua dekade mencengkeram Suriah. Dalam lebih dari satu dekade konflik, suara-suara protes yang awalnya kecil berubah menjadi gelombang perlawanan yang tak terbendung.

Situasi ekonomi yang memburuk memperburuk keadaan. Masyarakat menghadapi kelangkaan kebutuhan dasar, melonjaknya pengangguran, dan inflasi yang melumpuhkan. Meski Assad mencoba mempertahankan kendalinya melalui represi militer dan propaganda, semakin banyak rakyat Suriah yang menolak untuk tunduk pada ketidakadilan yang berlangsung terlalu lama.

Di sisi lain, dukungan internasional yang selama ini menjadi tumpuan Assad mulai goyah. Rusia, yang selama bertahun-tahun menjadi sekutu utamanya, menghadapi tantangan besar dari perang di Ukraina, memaksa negara itu untuk mengurangi intervensinya di Suriah.

Iran, mitra lainnya, juga terpukul oleh masalah ekonomi dan ketidakstabilan domestik. Tanpa dukungan kuat dari kedua negara ini, Assad kehilangan pijakan geopolitiknya, membuat posisinya semakin rentan. Dalam konteks ini, kelompok oposisi, meskipun beragam dan sering kali tidak bersatu, menemukan momentum untuk merebut wilayah-wilayah strategis yang selama ini menjadi simbol kekuasaan rezim.

Momen klimaks dari kejatuhan Assad terjadi ketika pasukan oposisi memasuki Damaskus. Mereka mengakhiri kekuasaan keluarga Assad yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade. Namun, kemenangan ini tidak serta-merta membawa stabilitas.

Suriah kini menghadapi tugas monumental untuk menyembuhkan luka perpecahan, membangun kembali negara yang telah luluh lantak, dan memastikan keadilan bagi mereka yang telah menderita selama konflik. Kisah ini bukan hanya tentang runtuhnya seorang penguasa. Tetapi tentang harapan yang menyala di tengah reruntuhan, memanggil kita semua untuk merenungkan pentingnya keadilan, kemanusiaan, dan solidaritas global.

Krisis Kemanusiaan yang Mendalam

Salah satu dampak paling menyedihkan dari konflik Suriah adalah krisis kemanusiaan yang dihasilkan. Data PBB menunjukkan bahwa lebih dari 500.000 orang tewas dalam perang ini, dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp-kamp pengungsi di negara-negara tetangga seperti Turki, Lebanon, dan Yordania.

Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam konflik ini. Mereka tidak hanya kehilangan rumah dan keluarga, tetapi juga menjadi korban eksploitasi, perdagangan manusia, dan kekerasan berbasis gender. Dalam konteks ini, perspektif Mubadalah yang menekankan keadilan dan kesetaraan menjadi sangat relevan untuk mengangkat isu-isu tersebut ke permukaan.

Peluang untuk Masa Depan Suriah

Setelah kejatuhan Bashar al-Assad, Suriah menghadapi babak baru yang penuh harapan sekaligus tantangan. Di tengah reruntuhan kota dan kehancuran sosial akibat perang berkepanjangan, ada peluang untuk membangun kembali negara ini sebagai tempat yang lebih adil, inklusif, dan damai. Namun, jalan menuju masa depan tersebut tidaklah mudah.

Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh rezim lama memunculkan ancaman baru berupa persaingan antar kelompok oposisi. Di mana masing-masing memiliki visi berbeda tentang arah negara ini. Proses rekonsiliasi menjadi prioritas utama, terutama karena masyarakat Suriah terdiri dari beragam kelompok etnis dan agama yang harus kembali bersatu setelah perpecahan yang mendalam.

Langkah awal yang harus diambil adalah menciptakan dialog terbuka di antara semua pihak. Proses rekonsiliasi ini harus melibatkan pengakuan atas pelanggaran-pelanggaran masa lalu dan menawarkan keadilan bagi para korban kekerasan, tanpa terkecuali.

Rekonstruksi fisik negara juga menjadi kebutuhan mendesak. Rumah-rumah yang hancur, sekolah-sekolah yang runtuh, hingga fasilitas kesehatan yang tidak lagi berfungsi membutuhkan dukungan internasional dalam bentuk dana dan keahlian.

Selain itu, pemimpin baru Suriah harus memastikan bahwa pembangunan kembali ini tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga menciptakan kebijakan yang melindungi hak asasi manusia, terutama bagi kelompok minoritas yang selama ini menjadi sasaran diskriminasi.

Di balik tantangan besar ini, tersimpan harapan bahwa Suriah dapat menjadi contoh bagaimana sebuah bangsa yang pernah hancur oleh konflik dapat bangkit kembali. Prinsip inklusivitas dan keadilan yang ditawarkan oleh nilai-nilai Islam progresif dapat menjadi panduan untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.

Dalam dunia yang semakin terhubung, komunitas internasional, termasuk Indonesia, juga memiliki peran penting dalam mendukung transformasi Suriah melalui diplomasi, bantuan kemanusiaan, dan solidaritas global. Masa depan Suriah akan bergantung pada keberanian rakyatnya untuk bangkit, sekaligus komitmen dunia untuk tidak meninggalkan mereka dalam kesepian.

Epilog

Kisah Suriah memberikan banyak pelajaran bagi Indonesia, sebuah negara dengan keberagaman agama, etnis, dan budaya. Salah satu pelajaran utama adalah pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Muslim, memiliki tanggung jawab moral untuk terus mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, baik di dalam negeri maupun di arena internasional.

Sebagai anggota aktif PBB, Indonesia juga dapat memainkan peran penting dalam mendukung proses perdamaian di Suriah, baik melalui diplomasi maupun bantuan kemanusiaan.

Runtuhnya rezim Bashar al-Assad adalah pengingat bahwa kekuasaan yang menindas tidak akan bertahan selamanya. Namun, perubahan tidak datang dengan mudah. Dibutuhkan keberanian, solidaritas, dan kerja keras untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Sebagai pembaca, kita dapat terlibat dengan cara sederhana namun bermakna: memperluas wawasan, mendukung inisiatif kemanusiaan, dan terus menyuarakan keadilan. Mari kita jadikan pengalaman Suriah sebagai pengingat bahwa kemanusiaan adalah fondasi yang tidak boleh kita abaikan, apa pun tantangan yang kita hadapi. []

 

Tags: Hukum InternasionalPolitik GlobalRuntuhnya Rezim Bashar al-AssadSuriahTimur Tengah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Nabi Muhammad Saw saat Bersama Non-Muslim

Next Post

Meneladani Nabi Muhammad Saw dalam Berelasi dengan Non-Muslim

Yayat Hidayat

Yayat Hidayat

Perantau-Santri-Abdi Negara

Related Posts

Board of Peace
Publik

Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

3 Februari 2026
Nancy Ajram
Publik

Mengapa Nancy Ajram Begitu Menarik bagi Banyak Muslimah di Indonesia?

20 November 2025
Retno Marsudi
Figur

Retno Marsudi: PBB dan Air sebagai Perjuangan Keadilan Ekologi

9 Agustus 2025
Gerakan Ekofeminisme
Publik

Quo Vadis Gerakan Ekofeminisme di Timur Tengah

1 Agustus 2025
Genosida
Publik

7 Oktober: Merayakan Genosida Sedunia

11 Oktober 2024
Konflik Gaza
Publik

Konflik Gaza dan Perlunya Solidaritas Internasional untuk Perdamaian

9 Oktober 2024
Next Post
Non-Muslim

Meneladani Nabi Muhammad Saw dalam Berelasi dengan Non-Muslim

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0