Sabtu, 13 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

Qana’ah bukan berarti diam pada ketidakadilan. Dalam tradisi Islam, keadilan sosial (’adl) adalah kewajiban kolektif.

Layyinah Ch by Layyinah Ch
13 Juni 2026
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Qana'ah

Qana'ah

4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Waktu SD, ibu saya sering membekali saya makan siang dengan lauk mendol (olahan tempe yang digoreng pipih), kadang disandingkan ikan asin dan urap. Di hari lainnya, kotak makan siang saya terisi oleh Lele, tempe-tahu, urap-urap dan variasi makan bergizi rumahan lainnya. Saya suka. Tidak pernah protes, tidak pernah merasa kurang.

Sampai suatu hari, seorang teman melirik kotak bekal saya dan berkomentar, “kamu nggak malu, lauknya gitu-gitu?”

Hari itu, saya hanya menutup kotak bekal itu lebih cepat dari biasanya. Dan esoknya, saya mencoba protes ke ibu tentang lauk mendol atau ikan asin, dua lauk yang sebenarnya saya doyan dan tidak ada masalah apa pun di dalamnya, kecuali fakta bahwa bekal saya tidak terlihat seperti nugget dan kentang Mc Donald di kotak bekal teman-teman saya. Tampak keren pada saat itu.

Ibu tidak langsung menanggapi. Beliau hanya tersenyum tipis lalu bertanya, “Tapi kamu suka, kan?”

Satu kalimat. Itu yang diperlukan untuk membuat saya malu pada sesuatu yang tidak semestinya memalukan. Karena faktanya, saya suka.

Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa mekanisme yang sama berlaku jauh lebih luas dari sekadar kotak bekal. Kita tidak lagi malu pada lauk di dalam kotak bekal, kita merasa tertinggal pada rumah yang belum renovasi, pada gawai yang belum ganti beberapa tahun terakhir, pada pendidikan anak yang belum masuk kategori bergengsi, atau pada liburan yang belum ke luar negeri. Dan sumbernya bukan lagi satu teman di kelas. Akan tetapi datang dari layar yang kita pegang sepanjang hari, dua puluh empat jam, tanpa jeda.

Fenomena “Makan Tabungan”

Ada fenomena yang cukup menarik di kelas menengah Indonesia. Kita rela cicil untuk traveling, tapi enggan cicil investasi. Rela berburu skincare karena review menggiyurkan influencer panutan kita tapi belum punya dana darurat. Rela upgrade gadget tiap dua tahun, tapi tabungan pensiun masih dalam wacana.

Mandiri Institute mencatat fenomena “makan tabungan” pada kelas menengah sudah berlangsung sejak kuartal II 2023. Rata-rata simpanan per rekening untuk kelompok tabungan di bawah Rp 100 juta turun konsisten dari Rp 3 juta pada 2019 menjadi Rp 1,8 juta pada 2023. Bukan karena orang Indonesia tiba-tiba jadi lebih boros, tapi karena biaya hidup yang semakin mahal bertemu dengan pendapatan yang stagnan, membuat banyak orang kesulitan menabung bahkan setelah kebutuhan dasar terpenuhi (Mandiri Institute, 2023–2024).

Di sisi lain, pasar luxury goods Indonesia mencapai USD 3,12 miliar pada 2024 dan terus tumbuh (Statista, 2024). Sementara prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen pada tahun yang sama— hampir satu dari lima balita Indonesia (Kementerian Kesehatan RI/BKPK, 2025). Dua angka ini hidup berdampingan, dan keduanya nyata.

Ini bukan soal bodoh atau pintar. Ini soal bagaimana kita membuat keputusan ekonomi bukan untuk hidup layak, tapi untuk terlihat berkelas dengan kondisi ekonomi yang terbatas

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebutnya habitus dan kapital simbolik — gagasan bahwa manusia tidak hanya berkompetisi secara ekonomi, tapi juga secara simbolik (Bourdieu, 1984). Kita membeli bukan sekadar untuk memiliki, tapi untuk terakui. Tas, mobil, sekolah anak, bahkan kotak bekal, semuanya bisa menjadi bahasa sosial yang menunjukkan di kelas mana kita berdiri. Dan bahasa itu, secara perlahan, lebih menentukan keputusan kita daripada logika keuangan mana pun.

Tapi saya tidak ingin pembahasan ini berhenti pada individu. Karena ada hal yang lebih besar tentang: mengapa standar tentang “cukup” itu terus bergerak menanjak, dan siapa yang diuntungkan ketika ia terus bergerak?

Ketika Rasa Kurang Menjadi Industri

Kemiskinan yang paling berbahaya bukan selalu yang terlihat. Ada yang disebut kemiskinan struktural. Kemiskinan Struktural bukanlah kemiskinan karena malas atau tidak mau berusaha, tapi kemiskinan yang diproduksi sistem. Upah yang by design tidak cukup untuk menabung setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Pendidikan berkualitas yang terkonsentrasi di kota-kota besar. Tanah dan modal yang dikuasai segelintir orang. Proporsi kelas menengah Indonesia bahkan menunjukkan tren penurunan: dari 41,9% kontribusi konsumsi nasional pada 2018 menjadi 36,8% pada 2023 (BPS, 2023; CORE Indonesia, 2024).  Bukan karena mereka naik kelas. Tapi karena banyak yang justru jatuh ke bawah.

Ada dimensi yang jarang masuk dalam percakapan ini. Perempuan. Ibu-ibu kelas menengah bawah menanggung beban ganda yang tidak pernah terhitung dalam statistik mana pun — bekerja produktif di luar rumah, lalu kembali menanggung seluruh kerja reproduktif di dalamnya: memasak, mengasuh, mendidik, menjaga. Tanpa upah, tanpa pengakuan, tanpa masuk ke angka PDB. Dan di atas semua itu, standar “ibu yang baik” dari algoritma terus berubah, tanpa pernah memperhitungkan kelelahan itu.

Pernah terbesit rasa minder dalam diri saya karena tidak membuatkan bekal yang estetik. Pernah juga saya ragu apakah stimulasi yang saya berikan sudah cukup, apakah mainan edukatifnya memadai. Semua pertanyaan itu lahir beriringan dengan membandingkan diri saya dengan ibu-ibu lain di layar Instagram. Jadi, kemungkinannya bukan anak saya yang kurang. Sayalah yang kelelahan oleh standar yang terus bergerak.

Pelan-pelan saya merangkak keluar dari nina bobo media sosial yang cukup silau dan sulit tergapai.

Negara, Pasar, dan Warga yang Dibuat Bergantung

Negara kita pandai membangun citra pemberdayaan. Ada bansos, ada subsidi, ada program yang namanya selalu terdengar penuh harapan. Tapi yang paling sering dibangun adalah ketergantungan yang terorganisir, bukan kapasitas rakyat untuk berdiri sendiri. Beri ikan setiap bulan — jangan terlalu serius mengajari menjala. Karena yang terus membutuhkan ikan adalah pasar yang menguntungkan bagi yang menjual jala.

Kelas menengah berada di tengah paradoks ini dengan posisi yang sangat strategis bagi sistem. Cukup nyaman untuk tidak protes keras, cukup cemas untuk terus bekerja dan terus konsumsi. Pertumbuhan ekonomi dirayakan, sementara ketimpangan semakin mengeras. Ini bukan kebetulan. Ini adalah kondisi yang terstruktur dan tersistem.

Qana’ah sebagai Perlawanan

Islam sebenarnya sudah lama memberi kerangka yang jernih untuk membaca situasi ini. Konsep qana’ah — merasa cukup dengan apa yang ada tanpa berhenti berusaha — bukan ajaran pasrah. Ia adalah perlawanan terhadap sistem yang terus menciptakan rasa kurang.

Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Dan Al-Qur’an mengingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2).

Alih-alih larangan untuk menjadi kaya, ayat ini justru memberikan peringatan keras ketika mengejar pengakuan sosial menjadi tujuan hidup yang menggeser segalanya.

Qana’ah bukan berarti diam pada ketidakadilan. Dalam tradisi Islam, keadilan sosial (’adl) adalah kewajiban kolektif. Ketimpangan bukan takdir yang harus diterima, melainkan masalah yang harus dipertanyakan, termasuk dipertanyakan kepada struktur yang menciptakannya.

Karena itu, Qana’ah tidak boleh terpakai untuk menasihati rakyat agar menerima ketimpangan dengan lapang dada. Qana’ah bukan dalih agar buruh menerima upah yang tidak layak, petani menerima harga yang timpang, anak bangsa menerima sajian makanan “bergizi” yang kurang layak, atau kelas menengah menerima terus menyusutnya ruang aman ekonomi mereka.

Dalam Islam, qana’ah bekerja pada ranah hasrat. Sementara keadilan bekerja pada ranah struktur. Yang pertama mengajarkan manusia untuk tidak diperbudak oleh keinginan yang tak berujung. Yang kedua menuntut masyarakat dan negara memastikan setiap orang memiliki kesempatan hidup yang bermartabat. Keduanya tidak saling meniadakan, justru saling melengkapi.

Pelajaran pertama tentang itu justru saya dapatkan pertama kali di meja makan rumah kami.

Ibu saya punya satu kalimat yang selalu ia ucapkan ketika saya menginginkan sesuatu yang tidak ada di meja makan kami: “Makan yang ada di meja, nduk.”

Di saat yang sama, ibu berusaha memastikan hak orang lain tetap terpenuhi. Sebagai seorang pegawai negeri dengan gaji yang tidak besar, beliau rela mengalokasikan sekitar sepertiga penghasilannya untuk membayar asisten rumah tangga sesuai standar yang berlaku saat itu. Kami diajari untuk hidup sederhana, tetapi tidak pernah diajari menghemat dengan mengorbankan hak orang lain.

Kini kalimat yang sama saya ucapkan kepada anak saya. Dan setiap kali mengucapkannya, saya sadar bahwa yang sedang saya latih bukan hanya dia, tapi juga diri saya sendiri.

Membedakan Lapar dan Keinginan

Rasa cukup tidak datang begitu saja, Namun perlu kita bangun perlahan dari kebiasaan kecil, dari cara kita berbicara tentang apa yang kita punya, dari pilihan untuk tidak membiarkan layar dan kehidupan orang lain menjadi satu-satunya tolok ukur hidup kita sendiri. Tapi menurut saya kejernihan individual belum cukup memadai jika strukturnya tetap sama.

Di sini, kita perlu keduanya: kewarasan diri dan keberanian untuk selalu mempertanyakan yang membuat sebagian orang terus berusaha tanpa pernah benar-benar maju. Wallahu A’lam. []

Rujukan:

  1. Al-Qur’an Surah At-Takatsur (102): 1-2.
  2. Badan Pusat Statistik. (2023). Laporan Perekonomian Indonesia 2023. BPS.go.id.
  3. Bank Indonesia. (2023–2024). Survei Konsumen Bank Indonesia. BI.go.id.
  4. Bourdieu, Pierre. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press.
  5. CORE Indonesia. (2024). Brief Report CORE Economic Outlook 2025. CORE Indonesia.
  6. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 — tentang kekayaan jiwa (ghina al-nafs).
  7. Kementerian Kesehatan RI / BKPK. (2025). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Kemkes.go.id.
  8. Mandiri Institute. (2023–2024). Mandiri Spending Index. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
  9. (2024). Luxury Goods Market Indonesia. Statista.com.

 

Tags: Fenomena Makan Tabungangaya hidupmedia sosialQana'ahRasa CukupTren
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

Next Post

Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

Layyinah Ch

Layyinah Ch

Layyinah CH. seorang ibu, pengajar, yang terkadang menulis sebagai refleksi diri dengan latar belakang pendidikan pesantren dan kajian Islam. Fokus tulisan pada isu keadilan gender, spiritualitas, pendidikan Islam, serta dinamika keluarga dan peran perempuan dalam ruang-ruang keagamaan.

Related Posts

Ableisme Jokes
Disabilitas

Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

5 Juni 2026
Konten Disabilitas
Disabilitas

Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

4 Juni 2026
Memperlakukan Disabilitas
Disabilitas

Normalitas yang Menyingkirkan: Kritik atas Cara Kita Memperlakukan Disabilitas

7 Mei 2026
Ketidakadilan
Personal

Diammu Tak Pernah Netral, Mari Belajar Bersuara di Tengah Ketidakadilan

17 April 2026
SHECURE Digital
Publik

Peluncuran SHECURE Digital untuk Keamanan Perempuan dan Anak di Ruang Siber

16 April 2026
Denny Sumargo
Publik

Mengecam Podcast Denny Sumargo yang Rentan Melukai Korban Anak

14 April 2026
Next Post
KB

Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual
  • Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh
  • Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya
  • Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?
  • Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0