Mubadalah.id – Beberapa waktu terakhir, video dari akun TikTok @violettaaxendrea viral, konten kreator dalam video tersebut menirukan cara berjalan disabilitas, cara berbicara mereka, juga menirukan karakter dengan keterbatasan fisik sebagai sumber lelucon dan bahan promosi produk atau endorsement.
Ribuan orang tertawa, bahkan jumlah penonton meningkat hingga kolom komentar dipenuhi emoji tertawa. Namun, di balik layar gawai yang sama, ada sebagian orang yang tidak ikut tertawa. Ada penyandang disabilitas yang kembali merasakan perasaan lama yakni dianggap berbeda, terpandang aneh, dan sering menjadi objek hiburan.
Ada pula para pegiat komunitas difabel yang merasa perjuangan panjang mereka untuk membangun masyarakat yang inklusif seolah dipatahkan oleh satu unggahan yang viral. Fenomena ini menghadirkan sebuah kontras yang menarik. Dalam satu sisi, pembuat konten menganggap video tersebut sebagai hiburan yang tidak perlu dibawa terlalu serius.
Di sisi lain, mereka yang selama hidupnya berhadapan dengan diskriminasi justru melihatnya sebagai bentuk pengulangan luka yang selama ini berusaha mereka sembuhkan. Perbedaan sudut pandang itu muncul karena tidak semua orang mengalami realitas yang sama.
Ketika Disabilitas Menjadi Komoditas Hiburan
Bagi sebagian kreator, menirukan gerak tubuh atau cara bicara tertentu mungkin hanya bagian dari kreativitas. Namun bagi penyandang disabilitas, lelucon tersebut bukanlah peran yang bisa dilepas setelah kamera dimatikan. Itu adalah kenyataan yang mereka jalani setiap hari. Ketika kondisi itu dijadikan bahan candaan, yang ditertawakan bukan lagi sebuah adegan, melainkan pengalaman hidup seseorang.
Di sinilah letak persoalannya. Sebuah lelucon sering kali dianggap berhasil ketika mampu membuat banyak orang tertawa. Akan tetapi, ukuran keberhasilan humor tidak semestinya berhenti pada seberapa banyak orang tertawa. Ada pertanyaan lain yang perlu kita ajukan, siapa yang menjadi objek tawa itu?
Jika sebuah candaan dibangun dengan merendahkan kelompok yang selama ini berjuang mendapatkan penerimaan sosial, maka hiburan tersebut patut dipertanyakan. Sebab tawa yang lahir dari penghinaan tidak pernah benar-benar netral. Ia ikut membentuk cara pandang masyarakat terhadap kelompok yang menertawakannya.
Tidak mengherankan apabila komunitas difabel kerap bersuara ketika konten semacam ini muncul. Mereka memahami bahwa masalahnya bukan hanya satu video atau satu kreator. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi cara berpikir yang melihat disabilitas sebagai sesuatu yang lucu, aneh, atau layak menjadi bahan olok-olok.
Luka Bagi Penyandang Disabilitas
Padahal, perjuangan penyandang disabilitas selama ini justru bergerak ke arah yang berlawanan. Mereka berusaha menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak mengurangi nilai kemanusiaan seseorang.
Mereka ingin kita lihat sebagai individu yang memiliki kemampuan, cita-cita, dan hak yang sama sebagai warga negara. Ironisnya, ketika berbagai pihak sedang berupaya menciptakan ruang yang lebih inklusif, sebagian konten digital justru menarik masyarakat kembali pada stereotipe lama.
Dalam pandangan Islam, setiap manusia memiliki martabat yang harus kita hormati. Karena kemuliaan seseorang tidak kita ukur dari kondisi fisiknya, kesempurnaan tubuhnya, maupun kemampuan yang ia miliki.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak saling merendahkan dan tidak menjadikan pihak lain sebagai bahan ejekan. Sebab boleh jadi orang yang ia rendahkan justru memiliki kedudukan yang lebih mulia di hadapan Allah.
Pesan ini terasa sangat relevan dengan realitas media sosial hari ini. Ketika seseorang menjadikan keterbatasan orang lain sebagai sumber hiburan, yang ia lakukan bukan sekadar etika digital, tetapi juga penghormatan terhadap martabat manusia itu sendiri. Islam juga mengajarkan pentingnya menempatkan diri pada posisi orang lain.
Sebelum mengucapkan sesuatu, seseorang harus mempertimbangkan dampaknya. Sebelum bertindak, ia juga perlu memikirkan bagaimana perasaan pihak yang menerima tindakan tersebut. Kesadaran semacam ini melahirkan empati, bukan sekadar simpati.
Sayangnya, budaya viral sering kali membuat pertimbangan itu menghilang. Sebab yang ia cari hanyalah perhatian. Semakin kontroversial sebuah konten, semakin besar peluangnya mendapatkan penonton. Dalam situasi seperti ini, angka tayangan terkadang lebih berharga daripada perasaan manusia. Padahal, tidak semua luka dapat kita lihat.
Ketika seorang penyandang disabilitas menonton dirinya atau kelompoknya menjadi bahan lelucon, mungkin ia tidak akan langsung menulis protes. Mungkin ia hanya diam, namun diam bukan berarti tidak terluka.
Bahkan, ada rasa tidak nyaman yang menumpuk, ada perasaan tidak mereka hargai yang terus berulang, dan ada pesan yang secara tidak langsung penyandang disabilitas terima : bahwa keberadaan mereka masih berbeda dari yang lain.
Mengembalikan Empati di Ruang Digital
Media sosial seharusnya menjadi ruang yang memungkinkan lebih banyak mendengar suara, termasuk suara penyandang disabilitas. Bukan ruang yang justru memperkuat luka dan stigma yang selama ini mereka hadapi. Tentu, tidak ada yang melarang orang untuk membuat konten hiburan.
Dunia digital membutuhkan humor, kreativitas, dan tawa. Akan tetapi, tawa yang paling bernilai adalah tawa yang tidak mengharuskan orang lain menjadi korban.
Sebab jumlah penonton mungkin hanya bertahan beberapa hari. Viralitas mungkin hanya berlangsung beberapa minggu. Namun perasaan direndahkan dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan mereka yang mengalaminya.
Pada akhirnya, ukuran sebuah masyarakat yang beradab bukan terletak pada seberapa keras ia mampu tertawa. Melainkan pada seberapa besar ia mampu menjaga perasaan mereka yang paling rentan untuk terluka. Karena itu, persoalan ini sesungguhnya bukan tentang larangan bercanda.
Masyarakat tidak sedang kehilangan selera humor. Yang perlu kita persoalkan adalah kebiasaan menjadikan kelompok disabilitas sebagai bahan lelucon. Kita tentu masih bisa tertawa tanpa harus merendahkan siapa pun. Kita masih bisa kreatif tanpa menjadikan keterbatasan orang lain sebagai bahan hiburan.
Sebab ukuran kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya terlihat dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat setiap manusia.
Mungkin sudah saatnya ruang digital harus kita isi oleh konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memanusiakan. Sebab tawa yang baik adalah tawa yang menghangatkan banyak orang, bukan tawa yang lahir dengan mengorbankan harga diri sebagian lainnya. []











































