Mubadalah.id – Dalam Pasanan Pemikiran Islam II, Nyai Hj. Tho’ah Ja’far menegaskan posisi penting Sayyidah Nafisah binti al-Hasan dalam sejarah intelektual Islam sebagai ulama perempuan yang otoritas keilmuannya diakui para imam besar.
Ia menjelaskan, kajian tersebut menempatkan Sayyidah Nafisah sebagai figur sentral dalam jaringan keilmuan abad ke-2 Hijriah. Tokoh yang hidup di Mesir itu berkembang pada masa pertumbuhan tradisi keilmuan Islam dan memiliki hubungan intelektual dengan sejumlah ulama terkemuka, antara lain Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal.
Menurut pemaparannya, relasi keilmuan tersebut menunjukkan adanya pengakuan terbuka terhadap kapasitas intelektual Sayyidah Nafisah dalam tradisi keilmuan Islam klasik. Sekaligus menegaskan peran perempuan dalam sejarah otoritas keilmuan Islam.
Riwayat yang kita kenal luas dalam literatur klasik menyebutkan bahwa Imam Syafi’i ketika menetap di Mesir sering mengunjungi kediaman Sayyidah Nafisah. Kunjungan itu bentuk penghormatan seorang ulama besar kepada perempuan alim yang mereka akui kedalaman ilmunya.
Ia meminta doa, mendengarkan nasihat, dan mengambil berkah dari kesalehan sang ulama perempuan. Bahkan salah satu riwayat menyebutkan bahwa ia pernah melaksanakan shalat Tarawih di dekat rumahnya sebagai tanda pengakuan atas otoritas yang Sayyidah Nafisah miliki.
Menurut pemaparan Nyai Tho’ah, kisah ini dalam tradisi biografi ulama kerap menjadi rujukan penting untuk menegaskan bahwa otoritas keilmuan dalam Islam tidak kita tentukan oleh jenis kelamin.
Mengakui Kedalaman Ilmu Sayyidah Nafisah
Para ulama besar pada masa klasik tidak segan mengakui keutamaan seseorang apabila ia memang memiliki kedalaman ilmu dan ketakwaan. Karena itu, relasi antara Imam Syafi’i dan Sayyidah Nafisah binti al-Hasan dipandang sebagai bukti historis bahwa perempuan memiliki ruang legitim dalam tradisi transmisi ilmu keislaman.
Kedekatan spiritual keduanya bahkan berlanjut hingga masa sakit sang imam. Dalam satu riwayat, ketika kondisi kesehatannya memburuk, Imam Syafi’i meminta muridnya mendatangi Sayyidah Nafisah untuk memohonkan doa.
Dalam pengajian tersebut menjelaskan juga bahwa reputasi Sayyidah Nafisah memang terkenal luas sebagai ahli hadis, penghafal Al-Qur’an. Sekaligus seorang sufi yang tekun beribadah. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta doa, nasihat, dan bimbingan ruhani.
Literatur klasik juga mencatat konsistensi ibadahnya yang luar biasa, termasuk riwayat bahwa ia menunaikan ibadah haji hingga tiga puluh kali. Mengingat ibadah tersebut hanya berlangsung setahun sekali, angka itu menunjukkan disiplin spiritual yang hampir tak tertandingi. Perjalanan haji itu bahkan kerap ia tempuh dengan berjalan kaki dari Mesir menuju Mekkah, perjalanan panjang dan berat pada masa ketika sarana transportasi belum berkembang.
Ketekunan tersebut, menurut penjelasan Nyai Tho’ah, menggambarkan bahwa perjalanan ibadahnya bukan sekadar catatan asketisme pribadi, melainkan simbol kemenangan spiritual—bahwa kedekatan dengan Tuhan menuntut kesabaran, disiplin, dan keikhlasan yang terus-menerus.
Menjelang akhir hayatnya, asketisme Sayyidah Nafisah semakin mendalam. Ia menggali liang kuburnya sendiri di dalam kamar dan menjadikannya ruang ibadah. Di tempat itu ia salat, berzikir, serta membaca Al-Qur’an. Praktik tersebut menjadikan kematian sebagai pengingat soal kedekatan dengan Tuhan.
Menjadi Imam Shalat Jenazah
Riwayat lain menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berwasiat agar kelak jenazahnya dishalatkan oleh Sayyidah Nafisah. Namun takdir berkata lain: sang imam wafat lebih dahulu ketika kondisi Sayyidah Nafisah telah sangat lemah karena usianya semakin tua.
Saat kabar wafatnya Imam Syafi’i sampai kepadanya, para murid membawa jenazah sang imam ke depan rumahnya agar wasiat untuk dishalatkan oleh Sayyidah Nafisah. Karena tidak mampu keluar, ia menyalatkan dari dalam rumah sementara jamaah mengikuti dari luar.
Peristiwa ini sering para sejarawan tafsirkan sebagai pengakuan publik seorang imam besar terhadap otoritas seorang ulama perempuan. Penghormatan itu terjadi di hadapan masyarakat luas.
Melalui pemaparan tersebut, Ngaji Pasanan menegaskan kembali posisi Sayyidah Nafisah sebagai figur penting dalam sejarah keilmuan Islam. Ia tokoh pusat rujukan intelektual yang diakui ulama besar sezamannya. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa otoritas ilmu tidak ditentukan oleh gender. Melainkan oleh kedalaman pengetahuan, integritas spiritual, serta kontribusi nyata bagi umat. []











































