Mubadalah.id – Nyai Hj. Tho’ah Ja’far menjelaskan bahwa salah satu aspek paling menonjol dari kepribadian Sayyidah Nafisah adalah kedekatannya dengan rakyat serta keberanian moralnya dalam menyuarakan kebenaran di hadapan kekuasaan.
Dalam sejumlah riwayat klasik disebutkan bahwa ia pernah menegur penguasa di Mesir yang berbuat zalim terhadap rakyat. Teguran itu ia sampaikan melalui sepucuk surat. Pesan utama surat tersebut menekankan bahwa jabatan seorang penguasa mungkin bertahan di dunia, tetapi doa orang yang dizalimi tidak akan pernah terhalang di hadapan Tuhan. Bagi Nyai Tho’ah, kisah ini adalah bukti pemihakan Sayyidah Nafisah kepada penguasa yang berbuat zalim.
Ia menilai, keberanian Sayyidah Nafisah merupakan ekspresi tanggung jawab seorang ulama terhadap masyarakat. Sebab, dalam Islam, seorang ulama juga berperan sebagai pelindung. Karena itu, teguran terhadap penguasa zalim dipandang sebagai bagian dari amanah. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa otoritas yang Sayyidah Nafisah miliki tidak membuatnya justru hadir di tengah persoalan masyarakat.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa kedalaman ilmu yang dimiliki tokoh perempuan itu tidak menjadikannya eksklusif atau tertutup. Sebaliknya, ia terkenal aktif bergaul dengan masyarakat dari berbagai lapisan. Orang-orang datang kepadanya bukan hanya untuk belajar ilmu agama, tetapi juga mencari nasihat dan solusi atas persoalan hidup.
Dalam banyak kisah, rumahnya menjadi ruang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan. Hal ini menegaskan bahwa otoritas keilmuan dalam tradisi Islam sering kali teruji bukan hanya di ruang majelis, melainkan juga dalam interaksi sosial sehari-hari.
Nyai Tho’ah juga menyoroti reputasi keilmuan Sayyidah Nafisah yang terkenal sebagai alim, ahli hadis, penghafal Al-Qur’an, serta memahami tafsir. Riwayat yang berkembang di kalangan murid dan penulis biografi klasik bahkan menyebutkan bahwa ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an sekitar 6000 kali. Angka tersebut mungkin merupakan catatan kesaksian murid terhadap rutinitas ibadahnya.
4 Nilai
Dalam analisis Nyai Tho’ah, kisah hidup Sayyidah Nafisah menyimpan sejumlah pelajaran penting bagi pembacaan sejarah Islam. Pertama, sejarah mencatat perempuan sebagai subjek ilmu, bukan sekadar objek narasi. Kedua, otoritas spiritual perempuan dapat terakui secara terbuka oleh ulama besar maupun masyarakat luas.
Ketiga, perempuan mampu menjadi pusat jaringan keilmuan sekaligus rujukan sosial. Keempat, integrasi antara kesalehan, intelektualitas, dan kepedulian sosial perempuan telah hadir sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum wacana kesetaraan modern berkembang.
Penekanan ini penting, sebab menurutnya diskursus keadilan gender dalam Islam kerap disalahpahami sebagai gagasan yang diimpor dari luar. Padahal, jejak historis menunjukkan bahwa nilai tersebut telah lama hidup dalam warisan intelektual Islam sendiri.
Sosok seperti Sayyidah Nafisah menjadi bukti konkret bahwa perempuan dapat tampil sebagai ulama, pendidik, sekaligus teladan bagi masyarakat.
Bagi Nyai Tho’ah, teladan tersebut relevan untuk konteks kontemporer, ketika masyarakat membutuhkan figur ulama yang tidak hanya fasih berbicara teks, tetapi juga peka terhadap realitas sosial.
Oleh karena itu, figur Sayyidah Nafisah menjadi rujukan historis yang memperkuat optimisme lahirnya generasi ulama perempuan masa kini dan mendatang. Ia menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam sejak awal telah menyediakan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara penuh. Warisan tersebut bukan sekadar catatan masa lalu. Melainkan fondasi yang dapat terus kita hidupkan untuk membangun masa depan tradisi ilmu yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban. []








































