Sabtu, 13 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Upaya-upaya Konkret untuk Mengatasi Ekstremisme Beragama

Dalam konteks Indonesia, ini merupakan ladang yang subur bagi merebaknya paham ekstremisme, tidak lain karena keberagaman yang dimilikinya

Aspiyah Kasdini RA by Aspiyah Kasdini RA
19 Agustus 2022
in Pernak-pernik
A A
0
Ekstremisme Beragama

Ekstremisme Beragama

7
SHARES
340
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pada hari Kamis, 11 Agustus 2022 (19.00-21.00 WIB), Universitas Muslim Indonesia Makasar dan Institut Leimena mengadakan seminar Internasional dengan tajuk ā€œLiterasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Mengatasi ekstremisme Beragama: Menjawab Pesan Kairoā€ secara daring.

Menjadi pembicara kunci seminar, Ambasador Lutfi Rauf (Duta Besar Indonesia untuk Mesir) mengatakan bahwa isu ektremisme merupakan isu yang dekat dengan kita semua. Menurutnya, belum ada definisi yang tepat untuk dapat menggambarkan apa itu ekstremisme.

Kendati demikian, beliau menggunakan definisi milik Unesco yang intinya menggambarkan bahwa kita sedang menghadapi sesuatu yang tidak kasat mata. Karena menyangkut alam pemikiran manusia, lebih tepatnya ideologi yang memberikan dampak pada tindakan, sehingga sulit kita deteksi secara akurat.

Berdasarkan pengamatannya, sebelum 2020, ekstremisme beragama ini merupakan isu global dan menjadi pekerjaan bersama bangsa-bangsa di dunia. Hingga akhirnya, datanglah pandemi yang mengalihkan isu ini. Akan tetapi, saat dunia sedang sibuk bangun jatuh bangun karena pandemi, aktor-aktor ekstremisme justru tidak berhenti bekerja.

Pandemi dan Ekstremisme Beragama

Kondisi pandemi aktor-aktor tersebut gunakan untuk menyebar paham-paham mereka bahkan melalui ruang privat, yakni melalui dunia digital. Hingga dapat kita katakan, bahwa platform digital dan platform daring selama pandemi inilah yang menjadi ancaman untuk kita semua saat ini. siapapun itu, sangat mudah untuk mengakses dan membagikan hal-hal propaganda.

Sesuai pengalamannya, dulu sangat jarang gerakan ektsremisme yang bergerak secara individu. Namun yang menjadi tantangannya sekarang, gerakan ini bahkan telah berubah menjadi gerakan individu. Ibu-ibu rela melakukan bom bunuh diri dengan anaknya. Ini adalah tantangan dan ancaman bagi kita semua. Jumlah tersangka terorisme Indonesia meningkat tiap tahunnya, yakni hampir 60% per tahun 2021.

Oleh karena itu, ancaman terorisme ini sangat nyata, mereka cenderung mengeskploitasi ajaran agama, dan hal-hal yang berbau rasisme. Dalam konteks Indonesia, ini merupakan ladang yang subur bagi merebaknya paham ekstremisme, tidak lain karena keberagaman yang dimilikinya. Beliau juga mengungkap fakta bahwa Mesir juga tengah menghadapi ancaman nyata disebabkan ekstremisme, Mesir juga menggunakan pendekatan yang sama dengan Indonesia dalam menangani hal ini.

Upaya Pencegahan Esktremisme Beragama

Salah satu dari usaha pencegahan tersebut yakni dengan mengadakan seminar pada 7-9 Juni 2022, yang juga dihadiri oleh delegasi dari Indonesia. Kemudian isi dari seminar tersebut disebut dengan ā€œPesan Kairoā€ yang menjadi bahan brainstroming dalam acara ini.

H. Muh. Hattah Fattah (Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Promosi Universitas Muslim Indonesia / UMI Makasar) juga mengungkap hal serupa. Bagi beliau, acara di Mesir merupakan rangkaian acara yang memberikan paham bahwa ekstremisme itu tumbuh di banyak agama dan di banyak Negara, sehingga ini menjadi tugas kita bersama.

Perkembangan paham radikal ini terus berkembang dengan berbagai bentuk. Oleh karena itu kita perlu melakukan banyak kajian dan mengoneksikan seluruh kerjasama yang mungkin kita lakukan dan kita miliki. Dengan harapan membicarakan tindak lanjut untuk berkolaborasi bersama guna mencegah berkembangnya Paham radikalisme ini.

Pendidikan Menjadi Kunci

Sektor pendidikan merupakan sektor yang sangat penting. Oleh karena itu sektor ini dapat menjadi wahana yang potensial untuk kita susupi. Sehingga kita wajib menjaga sektor ini dari ancaman radikalisme dan ekstremisme. Di UMI sendiri, nilai-nilai moderasi beragama ini sedang mereka implementasikan dalam kurikulum pendidikan dan berbagai kerjasama yang terjalin.

Dengan tegas beliau berkata bahwa kita semua harus bekerjasama untuk membangun persamaan konsepsi dan persepsi untuk mencegah tindakan ekstremisme. Adanya platform digital juga menjadi wahana empuk bagi mereka. Oleh karena itu kita harus mengadopsi upaya yang dilakukan oleh Universitas Al-Azhar yang mempelajari konten-konten yang beraroma radikal, dan dengan aktif kita (sebagaimana Al-Azhar) dapat memberikan fatwa atas konten-konten yang berbau radikal tersebut.

Ini bisa kita adopsi dalam pengembangan digitalisasi dengan dan menjadi startegi penting dalam realisasi pencegahan radikalisme. Memberikan paham moderasi harus dimulai sejak usia dini, sehingga anak-anak bangsa lebih dini juga memahami adanya paham toleransi, moderasi. Maka saat ada yang mulai menyusupi dengan Paham intoleran, mereka dapat memahami dan menangkalnya. Dengan demikian, mereka dapat memahami konsistensi Islam yang rahmatan lil alamin.

Intervensi Materi Keislaman di Lembaga Pendidikan

Sebagai pembicara selanjutnya, Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi (Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia) mengutip dua qaul ulama yang berkaitan dengan tindakan ekstremisme: Muhammad ibnu Sirrin, yang menekankan agar para pencari ilmu agama hendaknya mencari ilmu tersebut dari mereka yang kompeten; Abdullah bin Mubarok yang mengatakan bahwa rantai keilmuan adalah bagian dari agama, dan pentingnya rantai keilmuan tersebut dalam validasi keilmuan yang bersangkutan.

Kedua tokoh ini dapat berkata demikian karena mereka berdua melihat kehancuran yang bermula dari benih-benih destruktif yang ada di tengah-tengah masyarakat Islam saat itu. Dan hal ini adalah bagian dari ekstremisme beragama karena kesalahpahaman. TGB juga mengungkapkan bahwasanya Ibnu Sirrin saat kecil sudah mendengar kisah tentang perang Siffin, dan kisah inilah yang kerap menjadi embrio terjadinya perpecahan.

Kemudian, TGB kembali berkata bahwa, sejak awal para ulama melihat adanya kesalahpahaman terhadap agama merupakan salah satu faktor yang signifikan dalam menimbulkan ekstremisme beragama, yang berpengaruh pada segala sendi kehidupan dan mengakibatkan perang berkepanjangan dalam masayarakat beragama.

Radikalitas dan ekstreminitas adalah term yang otentik, bukan jualan kaum Barat, jangankan ekstrem, al-ghulluw atau melampaui batas itu saja sudah terlarang. Melawan radikalitas, ekstreminitas, dan hal-hal yang menuju kepadanya adalah sesungguhnya kita sedang menjalankan amanat Allah dan Rasul-Nya.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

TGB kemudian memberikan insight tentang apa tang harus kita lakukan. Pertama, Intervensi dalam pendidikan. Materi-materi keislaman yang kita ajarkan dalam semua jenjang pendidikan harus kita sisir dengan benar. Karena ini adalah basis wajah-wajah bangsa 10 bahkan 20 tahun kedepannya. Kita harus memastikan materi-materi keagamaan yang kita asupkan kepada anak didik tidak mengandung paham intoleransi dan ekstremisme.

Kedua, Para guru yang mengajar, kita harus berani dan memiliki pemahaman yang moderat. Ketiga, khususnya tentang akidah, hari ini kita bicara akidah maka harusnya selalu mengaitkan dengan akhlak. Bagaimana nilai-nilai akidah kita wujudkan dalam akhlak/interaksi sosial. Akidah tidak selalu norma, melainkan tentang akhlak. Akidah yang selalu berbentuk norma jadi mudah menyalahkah orang lain.

Keempat, memperbanyak dan menghadirkan dalam materi pendidikan kita, maupun narasi keagamann kita hal-hal yang terkait dengan kebudayaan agama. Ya, Islam tidak hanya agama, tetapi juga budaya. Jika kita menghadirkan Islam yang berwarna-warni dengan budaya yang beragam, maka ia akan menghadirkan kenyamanan bersama dan adanya keseimbangan dalam beragama dan bermasyarakat.

Teladan dari Nabi Ibrahim

Sepaham dengan TGB, Dr. Alwi Shihab (Senior Fellow, Institut Leimena) juga menegaskan bahwa fokus training ini adalah untuk memberikan gambaran bagaimana seharusnya muslim berinteraksi dengan pihak lain. Ini untuk mengantisipasi paham ektremisme yang tejadi di luar lingkungan kita, dan juga yang berada dalam sekitar dan diri kita.

Pandangan kita terhadap keberadaan agama lain adalah penting, seperti contoh, apa pandangan umat muslim Indonesia saat melihat kaum Yahudi? 90% menjawab mereka (Yahudi) adalah musuh. Menurut beliau, kita tidak bisa menggeneralisir, karena ada dari mereka yang zionis, dan ada juga yang tidak zionis.

Selengkapnya, Dr. Alwi memberikan resep untuk kita dapat berhubungan baik dengan pihak lain dengan cara yang dianjurkan (dengan mengutip teori Chris Seiple), yakni dengan memiliki tiga kompetensi. Dalam lingkup ahlul kitab, kita ambil contoh Ibrahim as yang menjadi tokoh sentral bagi tiga agama. Ini bisa mendekatkan tiga agama kepada satu sumber, sehingga terdapat simpati yang dapat kita terima, dan bahkan Alquran menekankan hal itu.

Ibrahim adalah hal yang baik/tokoh yang menjadi teladan kita semua, dan tersebutkan bahwa Ibrahim bukan Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah nabi hanifan yang pasrah kepada Allah semata. Ada banyak hal dalam Alquran yang dapat menjadi inspirasi untuk kita berinteraksi baik dengan agama yang berbeda. Syariah kita berbeda-beda, namun agama kita satu. Agama tetap satu, yakni Islam/pasrah, namun syariat yang diberikan berbeda antar kelompoknya.

Yang menarik dari pernyataan Dr. Alwi Shihab, menurut beliau, perbedaan aliran, agama, akidah maupun ajaran itu tidak apa-apa. Yang perlu kita waspadai adalah ajaran akidah yang mengandung dan mengajarkan nilai-nilai/unsur-unsur perpecahan yang dapat memberikan pengaruh buruk dalam interaksi sosial.

Membangun Narasi yang Efektif

Sebagai pembicara terakhir, Muhammad Suaib Tahir (Staf Ahli Satgas Bidang Pencegahan, perlindungan dan Deradikalisasi badan nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, mengungkap bahwa hambatan utama dalam BNPT adalah narasi. Narasi yang kaum ekstremis gaungkan ternyata lebih efektif daripada yang kita/BNPT bangun.

Mereka ini sedikit tapi aktif di media sosial, sedangkan pihak yangĀ  moderat jumlahnya banyak namun tidak aktif (masih minimnya narasi-narasi alternatif yang moderatif di media sosial). Oleh karena itu BNPT sangat berterimakasih dan membanggakan kepada instansi-instansi yang dapat berkolaborasi untuk menyebarkan narasi alternatif di berbagai media, khususnya media sosial dan pendidikan.

Akhirnya, kaum radikal dan ekstrim tidak selalu teroris, tetapi kaum teroris sudah pasti radikal dan esktrem. Akan tetapi yang pasti, kelompok-kelompok ini (ekstremis, radikalis, dan teroris) telah melakukan distorsi terhadap nilai-nilai luhur agama. []

Tags: ekstremismeKeberagamaanModerasi BeragamaPerdamaiantoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Nyai Rahmi Kusbandiyah : Perempuan Merdeka itu Bebas yang Bertanggung Jawab

Next Post

Nyai Hannah : Perempuan Merdeka itu Terbebas dari Tirani Manusia

Aspiyah Kasdini RA

Aspiyah Kasdini RA

Alumni Women Writers Conference Mubadalah tahun 2019

Related Posts

Paus Leo XIV
Publik

Paus Leo XIV dan Perjalanan Apostolik ke Aljazair yang Membawa Pesan Damai

2 Mei 2026
Triumfalisme
Publik

Triumfalisme dan Teologi Tanpa Kekerasan

25 April 2026
Toleransi dan Kemanusiaan
Figur

Toleransi dan Kemanusiaan: Harga Mati Dua Tokoh Nasional

27 Maret 2026
Idulfitri
Personal

Merayakan Tiga Kali Idulfitri dalam Satu Desa

25 Maret 2026
Idulfitri Bertemu Nyepi
Featured

Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

14 Maret 2026
rahmatan lil ā€˜alamin sebagai
Pernak-pernik

Rahmatan lil ā€˜Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

1 Maret 2026
Next Post
Nyai Hannah

Nyai Hannah : Perempuan Merdeka itu Terbebas dari Tirani Manusia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?
  • Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah
  • Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual
  • Ketika Orang Dewasa Gagal Hadir, Belajar dari Drama Korea Teach You a Lesson
  • Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui ā€œRevenueā€ Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id Ā© 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id Ā© 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0