Mubadalah.id – Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang menjalani rutinitas yang tertata rapi, seperti bangun pagi, berolahraga, menyelesaikan pekerjaan, memenuhi kewajiban, mengurus rumah, serta menjalankan peran sosial.
Namun, di balik rutinitas tersebut, sebagian orang tetap merasakan kekosongan batin. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai makna hidup yang dijalani, bukan sekadar untuk bertahan, tetapi tentang apa yang sebenarnya dirawat dalam kehidupan tersebut.
Pertanyaan tersebut dibahas dalam buku Ikigai karya Hector Garcia dan Francesc Miralles. Buku ini kerap dikenal sebagai bacaan yang mengulas rahasia panjang umur masyarakat Okinawa, Jepang.
Namun, isi buku tersebut juga menekankan bahwa makna hidup tidak selalu berasal dari pencapaian besar. Melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, relasi sosial yang hangat, serta ritme hidup yang seimbang.
Ikigai dipahami sebagai cara manusia menjaga keterhubungan dengan makna hidup melalui praktik sehari-hari yang sederhana.
Dalam buku tersebut, Ikigai dimaknai sebagai alasan seseorang untuk bangun setiap pagi. Konsep ini sering dijelaskan melalui empat unsur utama, yakni apa yang dicintai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang dapat menjadi sumber penghidupan.
Meskipun tampak sederhana, konsep ini tidak selalu mudah kita terapkan, mengingat banyak orang menjalani hidup berdasarkan kondisi yang tidak sepenuhnya dapat mereka pilih. Sebagian orang bangun setiap pagi bukan karena panggilan jiwa, melainkan karena tanggungan hidup, kebutuhan ekonomi, dan tuntutan pekerjaan.
10 Prinsip Hidup
Garcia dan Miralles kemudian merangkum 10 prinsip hidup masyarakat Okinawa yang dapat menjadi rujukan kita semua:
Pertama, tetap aktif dan terus bergerak. Bagi masyarakat Okinawa, usia panjang tidak menjadi alasan untuk berhenti merasa berguna. Selama tubuh dan pikiran tetap aktif, hidup dipandang memiliki arah yang jelas.
Kedua, meluangkan waktu untuk berhenti sejenak. Masyarakat Okinawa tidak menjalani hidup dengan kecepatan tinggi. Bagi mereka, ketenangan menjadi lebih penting daripada kecepatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Ketiga, membangun lingkar pertemanan yang sehat. Mereka mengenal konsep moai, yakni kelompok kecil yang berfungsi sebagai ruang saling menjaga, berbagi cerita, saling membantu, dan menguatkan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa kelelahan hidup sering kali muncul bukan karena kurangnya kekuatan individu, melainkan karena beban hidup yang ia pikul sendirian.
Keempat, membiasakan diri untuk tersenyum setiap hari. Meskipun terdengar sederhana, senyum dipandang sebagai sumber energi yang membantu menjaga hubungan sosial tetap hangat dan meringankan beban emosional.
Kelima, menjaga keterhubungan dengan alam. Aktivitas seperti berjalan kaki, berkebun, atau duduk sambil memandang laut menjadi bagian dari keseharian mereka. Alam dapat kita pahami sebagai ruang untuk menenangkan pikiran dan menjaga keselarasan hidup.
Keenam, bersyukur atas hal-hal kecil. Masyarakat Okinawa terbiasa mengucapkan terima kasih atas hal-hal sederhana, seperti sinar matahari pagi, makanan sehari-hari, dan kondisi tubuh yang masih sehat.
Ketujuh, berkaitan dengan pola makan secukupnya. Mereka menerapkan prinsip hara hachi bu, yaitu berhenti makan ketika merasa 80 persen kenyang. Prinsip ini tidak hanya kita maknai sebagai pola makan sehat. Tetapi juga sebagai kemampuan untuk merasa cukup di tengah budaya yang mendorong keinginan berlebih.
Memiliki Tujuan Kecil Setiap Hari
Kedelapan, memiliki tujuan kecil setiap hari. Masyarakat Okinawa tidak selalu memikirkan rencana jangka panjang, melainkan fokus pada aktivitas harian yang kita jalani dengan kesadaran penuh, seperti menanam, memasak, atau membantu sesama.
Kesembilan, menikmati momen saat ini. Mereka menjalani aktivitas tanpa tergesa-gesa dan hadir secara utuh dalam setiap kegiatan, baik saat minum teh, berbincang, maupun bekerja. Kebahagiaan kita pahami sebagai sesuatu yang hadir di masa kini, bukan sekadar tujuan akhir.
Kesepuluh, menjalani hidup sesuai dengan panggilan jiwa. Mereka tidak memaksakan diri untuk menjadi orang lain, melainkan mengenali hal-hal yang membawa ketenangan batin. Kemudian menjadi dasar tumbuhnya ikigai secara perlahan.
Dari keseluruhan prinsip tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan kepemilikan materi yang berlimpah. Melainkan dengan cara hidup yang tidak menguras tenaga dan pikiran.
Makna hidup tidak selalu kita temukan melalui pencarian yang besar dan dramatis. Tetapi tumbuh dari rutinitas yang kita jalani dengan niat baik serta aktivitas yang kita lakukan dengan rasa cinta dan kepedulian.
Buku Ikigai juga menegaskan pentingnya menikmati proses kehidupan, sebagaimana ungkapan find joy in the journey, not just the destination. Makna hidup, menurut buku ini, dapat kita temukan melalui langkah-langkah kecil yang kita jalani setiap hari, yang pada akhirnya membentuk proses pertumbuhan yang berkelanjutan. []




















































