Jumat, 6 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    Selibat

    Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    Pernikahan

    Larangan Pemaksaan Pernikahan terhadap Perempuan

    Hak Pernikahan

    Nabi Tegaskan Hak Perempuan Menentukan Pernikahan

    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    Selibat

    Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    Pernikahan

    Larangan Pemaksaan Pernikahan terhadap Perempuan

    Hak Pernikahan

    Nabi Tegaskan Hak Perempuan Menentukan Pernikahan

    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

5 Isu Feminisme dalam Film Raya and The Last Dragon

Film Raya dari Disney ini, yang pertama kali mengangkat isu feminisme dengan tema pahlawan perempuan dari Asia Tenggara.

Lenni Lestari by Lenni Lestari
11 Januari 2023
in Film, Rekomendasi
A A
1
Isu Feminisme dalam Film Raya and The Last Dragon

Ada 9 Isu Feminisme dalam Film Raya and The Last Dragon

30
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setelah tiga film sebelumnya, Frozen, Moana dan Mulan, kini Walt Disney Animation Studio menampilkan kembali tokoh kepahlawanan perempuan dalam film animasi Raya and The Last Dragon. Ini adalah film dari Disney yang pertama kali mengangkat isu feminisme dengan tema pahlawan perempuan dari Asia Tenggara.

Sebenarnya ada banyak sekali pesan positif dari film ini, namun tidak mungkin dibahas dalam artikel yang singkat ini. Maka dari itu, tulisan ini akan fokus pada unsur-unsur terkait paradigma masyarakat tentang perempuan.

Diakui, unsur perempuan dalam film ini cukup kuat. Peran protagonis dan antagonis juga dilakoni oleh perempuan. Hal ini tentu bukanlah hal yang sederhana, mengingat film-film tema kepahlawanan, sering kali diperankan oleh kaum laki-laki. Tak heran, jika masyarakat pun cukup mudah menyebutkan nama-nama karakter yang berakhiran dengan kata “boy atau man” di akhir nama setiap tokoh, seperti Superboy, Batman, Superman, Ironman, dan lain-lain.

Apakah ada versi perempuannya? Ada, namun tidak begitu dikenal, seperti; Supergirl, Batgirl, Catwoman, Wonderwoman, dan lain-lain. Fakta ini menyiratkan bahwa maskulinitas adalah simbol kepahlawanan dan kekuatan.

Seperti dilansir dalam tirto.id, belakangan ini Hollywood memang dituntut untuk menyajikan film-film yang mengusung unsur-unsur keadilan dan kesetaraan. Terutama terkait dengan isu ras, suku, dan kesetaraan gender. Sepertinya, orang-orang semakin sadar bahwa film memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam membentuk paradigma dan peradaban masyarakat.

Seperti halnya film animasi Raya and The Last Dragon, tokoh protagonis (pemeran utama) dalam film adalah perempuan yang bernama “Raya”. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang berani, cerdas, kuat, dan teliti. Perilaku dan cara berfikirnya, tampaknya perpaduan antara maskulinitas dan feminitas.

Ia digambarkan bermental kuat, tak takut perkelahian, sekaligus tak tega mengabaikan uluran tangan bayi kecil yang meminta bantuan padanya. Jiwa keibuannya terpanggil, meskipun ia akhirnya tertipu dengan bayi tersebut.

  1. Perempuan dan Pertemanan

Akar masalah yang muncul dalam film ini juga erat kaitannya dengan sisi emosional perempuan. Raya dan sahabat barunya, Namaari, terlibat dalam percakapan yang akrab. Melihat percakapan perdana mereka, cukup membuat perasaan saya tak karuan. Bagaimana bisa mereka bisa seakrab itu di pertemuan pertama, sementara suku mereka bersaing sejak 500 tahun yang lalu.

Namun tak lama, jawaban tersingkap. Tiba-tiba, Namaari memanfaatkan kebaikan Raya dan tak segan ia “menusuk” dari belakang. Akibat perkelahian yang sengit, Bola Permata Naga pecah menjadi lima bagian, yang diperebutkan oleh lima suku (ekor, cakar, tulang, taring, dan hati).

Adegan Raya yang cepat mempercayai Namaari, menurut saya, adalah sisi psikologis perempuan yang lebih mudah menerima dan mempercayai sikap baik seseorang. Namaari berhasil menyentuh sifat dasar perempuan, yang cenderung kooperatif.

Terkait dengan sikap kooperatif ini, Morton Deutsch, yang mengembangkan teori cooperative-competitive mengatakan bahwa kooperatif (kerjasama) adalah saat dimana prestasi tujuan seseorang dengan yang lainnya saling berkorelasi positif dan mereka percaya bahwa mereka dapat mencapai tujuan jika orang lain juga mencapai tujuan mereka.

Sedangkan dalam teori kompetitif, orang percaya bahwa prestasi tujuan mereka berkorelasi negatif dan masing-masing merasakan bahwa suatu pencapaian menghilangkan -atau setidaknya- memperkecil kemungkinan orang lain dapat mencapai tujuan mereka.

Raya percaya bahwa Namaari dapat dijadikan partner untuk mengembalikan persatuan di negeri Kumandra, sehingga ia tak segan memperlihatkan Namaari tempat rahasia penyimpanan Bola Permata Naga. Sedangkan Namaari tetap menganggap Raya sebagai musuh dan tanpa membuang waktu, Namaari menyerang Raya untuk mengambil Bola Permata Naga.

Apa yang dilakoni Raya, cukup berhasil mencerminkan sisi perempuan yang lebih suka merekrut, bekerja sama, menjaga relasi dan menghindari persaingan. Berbeda dengan laki-laki, yang lebih waspada pada dunia baru yang ia temui. Bagi laki-laki, dunia ini dipenuhi oleh persaingan dan peperangan.

  1. Raya dan Naga Anti Mainstream

Dalam proses pencarian pecahan Bola Permata Naga, Raya akhirnya menemukan Naga terakhir, yang bernama Sisu. Uniknya, film ini cukup kreatif dalam menampilkan naga anti mainstrem. Bagaimana tidak, sosok naga ini sama sekali tidak mengerikan dan sangar. Melainkan feminim, cantik, lincah, dan lucu.

Ketika menyentuh pecahan Permata yang kedua, Sisu berubah menjadi perempuan. Lagi-lagi perempuan. Wajah dan tubuhnya dirancang seperti perempuan, lengkap dengan rambut panjang dan prilaku feminitasnya. “Sahabat perempuan baru” inilah yang menjadi salah satu teman perjuangan Raya selanjutnya. Sesekali Sisu berubah wujud menjadi naga ketika diperlukan.

Bersama Sisu, Raya menghadapi dunia penuh persaingan melawan empat suku. Kalimat-kalimat dari lisan Raya juga lebih berjiwa kompetitif. Terlebih di babak hidupnya yang kedua ini, Raya punya satu prinsip hidup, yaitu tidak memercayai siapapun.

  1. Perempuan dan Senjata

Dilihat dari perspektif budaya, pedang Raya cukup unik. Pedangnya berbentuk keris. Persis seperti keris khas budaya Indonesia. Bedanya, keris ini lebih panjang dan besar. Pemilihan pedang berbentuk keris ini adalah bentuk manifestasi budaya Indonesia yang menjadi salah satu inspirasi tim Disney membuat film ini.

Untuk mendapatkan informasi kekayaan budaya Indonesia, tim Disney juga melibatkan sejumlah seniman dan pakar budaya Indonesia, seperti Griselda Sastrawinata, Dewa Berata, dan Emiko Susilo. Dari sudut pandang feminisme, pedang yang digunakan pahlawan perempuan juga menyiratkan sebuah pesan yang unik. Dari sekian banyak alternatif senjata yang ada, pedang dipilih sebagai senjata andalan Raya.

Pemilihan pedang ini juga pernah ada dalam film lain, seperti Wonder Woman dan Mulan. Hal ini pernah diulas dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Erina Adeline Tandian tentang Perjalanan Pahlawan Perempuan dalam Film Wonder Woman (2017) dan Mulan (2020).

Disebutkan dalam artikel ini, sebenarnya ada jenis senjata lain bernama Labrys yang dianggap sebagai simbol feminisme. Labrys adalah senjata berbentuk kapak bermata dua yang secara spesifik merujuk pada labia perempuan sebagai pelindung di jalan masuk rahim. Senjata ini pernah digunakan oleh pahlawan perempuan dalam film The Old Guard (2020).

Lalu, mengapa pedang yang dipilih? dalam buku The Jacatra Secret karya Rizki Ridyasmara mengatakan bahwa dalam sejarah purba, maskulinitas biasa dilambangkan dengan bentuk sebuah bilah pedang terbuka atau tertutup. Sedangkan dalam sejarah ksatria Eropa, para mujahid di Jazirah Arab, para samurai di Jepang, para pendekar di Cina, para prajurit Bhayangkara dan para senopati, selalu dilambangkan dengan pedang dan memang secara fisik membawa pedang.

Pedang dalam perjalanan sejarahnya, menggambarkan kepahlawanan, kekuasaan, kekuatan, keberanian, dan kemenangan. Pedang identik dengan laki-laki, karena memang laki-laki yang terlibat aktif dalam medan peperangan.

Tampaknya Disney ingin melekatkan simbol-simbol maskulinitas ini dalam diri Raya. Sehingga, meskipun Raya adalah seorang perempuan, namun ia tetap memiliki sisi maskulinitas yang tak diragukan untuk memenangkan pertempuran melawan musuhnya.

  1. Kepemimpinan Perempuan

Dari judul dan sampul film ini, jelas terlihat bahwa yang berperan sebagai pemimpin adalah perempuan. Film ini berhasil menanamkan konsep bahwa pemimpin tak harus laki-laki.

“Siapapun yang memiliki gagasan, ia adalah pemimpin yang sebenarnya”, itulah pesan utama yang diusung dari kepemimpinan Raya. Raya yang sedari awal ingin menyelesaikan misi penyelamatan, ternyata didukung juga oleh Kepala Suku Tulang (Spine), dan ia adalah laki-laki dengan tubuh tinggi dan besar.

Dalam proses penyelesaian misi, Raya berulang kali memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk menyampaikan pendapat. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Raya dengan segera memilih pendapat siapa yang ia ambil. Terkadang usulan Boun, Sisu, atau Kepala suku Tulang.

  1. Trik Menyelesaikan Masalah ala Perempuan

Diantara sifat kepemimpinan perempuan adalah mementingkan kolaborasi. Konsep inilah yang ditunjukkan dalam film Raya. Awalnya Raya masih mengedepankan konsep zero sum games (yang satu menang, yang lain kalah). Biasanya cara ini banyak digunakan dalam kepemimpinan laki-laki.

Namun, menjelang akhir cerita, Raya menerima usulan Sisu untuk menggunakan cara damai dalam menyelesaikan misi. Satu prinsip dasar yang diajarkan Sisu adalah saling percaya.

Tak disangka, cara ini berhasil. Raya dengan sukarela menyerahkan pecahan Permata Naga kepada musuhnya, Namaari, dan diikuti oleh teman-temannya yang lain. Di akhir cerita, pesan yang ingin disampaikan adalah untuk mengalahkan Druun, bukan sihir naga saja yang dibutuhkan, melainkan saling menjaga kepercayaan antar sesama.

Berdasarkan ulasan di atas, dapat dipahami bahwa industri perfilman tampaknya mulai konsen untuk mengusung tema keadilan gender. Menyatukan sisi maskulinitas dan feminitas adalah hal yang wajar dan bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Hal ini juga menegaskan bahwa dalam diri seseorang, sisi maskulinitas dan feminitas adalah dua hal yang bisa saling berdampingan. Wallahu a’lam bi al-shawab. []

 

 

 

 

Tags: DisneyfeminismeFilmGenderHollywoodkeadilanKesetaraanmaskulinitasPahlawan Perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Lenni Lestari

Lenni Lestari

Pencinta buku yang suka belajar tentang isu-isu perempuan dan keluarga

Related Posts

Tragedi Anak NTT
Aktual

Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

4 Februari 2026
Disabilitas dan Dunia Kerja
Disabilitas

Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

3 Februari 2026
Pegawai MBG
Publik

Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

30 Januari 2026
WKRI
Publik

WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

2 Februari 2026
Disabilitas
Disabilitas

Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

2 Februari 2026
American Academy of Religion
Personal

Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

15 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Mengurai Kembali Kesalingan Tradisi dan Modernitas

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    17 shares
    Share 7 Tweet 4

TERBARU

  • Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223
  • Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV
  • Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi
  • Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama
  • Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0