Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh

Perjuangan Rainha Boki Raja Melawan Penjajah Portugis

Dalam bukunya Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenam belas, Toeti Heraty mengatakan, “Seorang putri lahir di Kesultanan Tidore, tahun tak diketahui pasti, sebelum 1500 Masehi barangkali, dan namanya dilupakan oleh sejarah

Moh. Rivaldi Abdul by Moh. Rivaldi Abdul
10 Juli 2021
in Rekomendasi, Tokoh
A A
0
Budaya

Budaya

11
SHARES
525
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Berjuang, dan nyaris terlupakan.

Mubadalah.id – Rangkaian kata itu agaknya bisa menggambarkan eksistensi Boki Raja, julukan seorang Rainha (Ratu) Ternate di abad 16 M. Dalam bukunya Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenam belas, Toeti Heraty mengatakan, “Seorang putri lahir di Kesultanan Tidore, tahun tak diketahui pasti, sebelum 1500 Masehi barangkali, dan namanya dilupakan oleh sejarah–siapa yang mencatat sejarah kalau tidak pendatang bule (Portugis) yang menaklukkan Goa dan Malaka tahun 1511….”

Sumber sejarah tertulis tentang Boki Raja hanya ditemukan dalam dokumen-dokumen Portugis. Berdasarkan catatan-catatan bule itu para sejarawan mengonstruksi riwayat hidupnya. Dia disebutkan pertama kali dalam surat Gubernur Portugis, Antonio de Brito, yang dikirim untuk Raja Manuel I pada 1523, dan setelah 1548 tidak ada lagi catatan Portugis yang menyebut namanya.

Sebab ceritanya hanya bisa dibangun dari sumber yang ditulis penjajah, sehingga tentu butuh kehati-hatian dalam memaknai kisahnya. Apalagi di Ternate waktu itu banyak intrik, propaganda, dan fitnah yang didalangi oleh kelakuan Portugis untuk memecah belah Ternate. Namun, yang pasti dia adalah perempuan yang pantas dikenang sebagai sosok hebat dari Ternate.

Boki Raja adalah anak dari Sultan Al Mansur (Sultan Tidore 1512-1526). Dia menikah dengan Sultan Bayanullah (Sultan Ternate 1500-1522). Ketiga anaknya beruturut-turut menjadi Sultan Ternate, yaitu Deyalo (1522-1529), Abu Hayat (1529-1532), dan Tabariji (1532-1535).

Nama aslinya tidak begitu jelas. Dia juga dikenal sebagai Nyai Cili Boki Raja atau Sultanah Nukila. Boki Raja disebut juga sebagai Nyai Cili Nukila. Apakah Nukila adalah nama asli Boki Raja? Entahlah? “…bagaimana menentukan kebenarannya setelah 500 tahun berselang.” Demikian kata Toeti Heraty dalam bukunya.

Duka Boki Raja

Pasca kematian suaminya, Sultan Bayanullah, yang mati diracun, anaknya Deyalo menjadi pewaris tahta. Namun, sebab pangeran masih sangat kecil, sehingga ditunjuklah dua orang sebagai pengganti sultan hingga dirinya dewasa, yaitu Boki Raja dan Pangeran Taruwese yang merupakan saudara Sultan Bayanullah. Dalam hal ini, meski memimpin dengan sistem dua kekuasaan, dapatlah dikatakan kalau Boki Raja menjadi seorang Sultanah Ternate.

Beberapa tahun setelahnya, duka kembali menghampiri Boki Raja. Ayahnya, Sultan Al Mansur, wafat diracun. Saat itu, Sultan Deyalo sebagai cucu Sultan Al Mansur termasuk orang yang pantas untuk menggantikan kakeknya. Hal ini merupakan peluang untuk menyatukan dua kesultanan besar di Maluku: Ternate dan Tidore. Kesempatan ini sangat dipahami oleh Boki Raja.

Namun jelas Portugis tidak senang jika Tidore dan Ternate sampai bersatu, sebab itu akan menyusahkan upaya penjajahan. Sehingga, Portugis pun mulai menghasut Taruwese untuk melakukan kudeta. Terjadilah perang antara Boki Raja yang didukung Tidore dan Taruwese yang mendapat bantuan Portugis. Dalam konflik ini, Sultan Deyalo yang masih kecil terbunuh pada 1529. Nasib Taruwese tidak lebih baik, setelah menjadi alat Portugis, dirinya dibunuh oleh mereka.

Tahta Ternate kemudian beralih ke Pangeran Abu Hayat (1529-1533). Tapi, tidak lama menjabat, Portugis menyusun fitnah untuk menjebloskannya ke penjara. Saat berada dalam tahanan, dia wafat diracun. Tersisa seorang putra Boki Raja bernama Tabaraji. Dia pun diangkat sebagai sultan dalam usia sangat muda. Baru setahun Tabaraji (1533-1534) naik tahta sudah masuk jebakan Portugis, yang kemudian mengasingkan sultan dan ibunya, Boki Raja, ke Goa, India.

Kemudian Khairun (anak tiri Boki Raja/putra Sultan Bayanullah dari istri yang lain) naik tahta pada 1535. De Freitas menyarankan, agar Tabaraji bisa kembali mendapatkan tahtanya, dia harus dibaptis, serta menyatakan kalau Ternate bukan lagi sebagai kesultanan Islam dan takluk di bawah Portugis. Dia pun setuju dan masuk Kristen pada 1537 dengan nama Don Manuel. Boki Raja juga ikut masuk Kristen dengan nama Dona Isabel. Tidak lama kemudian Tabaraji mendapatkan kembali tahtanya.

Jainul Yusup menjelaskan dalam artikelnya di Jurnal Pusaka yang berjudul Sultan Khairun: Sang Mujahid yang Cinta Damai, “Sebelum Portugis mengembalikan Tabaraji untuk memerintah di Ternate sebagai bagian dari Kerajaan Portugis, de Freitas, Gubernur Portugis di Ternate, menangkap Sultan Khairun pada tahun 1544 atas tuduhan penghianatan. Setelah ditangkap Sultan Khairun dibawa ke Goa untuk diadili. Portugis segera membawa (memulangkan) Tabaraji untuk memerintah di Ternate atas nama Kerajaan Portugis.”

Namun dalam perjalanan pulang, ketika lewat di Malaka, Tabaraji meninggal akibat diracun. Dan, sebagaimana dijelaskan Toeti Heraty bahwa, “…anehnya, kemudian Jordao de Freitas, ayah baptisnya mengumumkan bahwa dalam surat wasiatnya Tabaradji menyerahkan wewenang kesultanan kepada Raja Portugis.” Nampaknya kematian Tabaraji termasuk intrik Portugis untuk mengosongkan tahta Ternate. Ah, bahkan, berbagai rangkain kematian elite Ternate sebelumnya dan perpecahan dari dalam kesultanan, semuanya termasuk konspirasi yang disusun Portugis untuk menjatuhkan Ternate.

Dalam masa-masa itu, lembaran kehidupan Boki Raja penuh goresan duka. Bagaimana tidak? Suaminya, ayahnya, hingga ketiga anaknya menjadi korban intrik Portugis yang ingin menguasai kekayaan Ternate. Tidak berlebihan jika Paramita Abdurachman memberi judul artikelnya di Jurnal Modern Asian Studies (1988) dengan: ‘Niachile Pokaraga’, a Sad Story of a Moluccan Queen (‘Nyai Cili Boki Raja’, Cerita Sedih Seorang Ratu Maluku).

Adrian B. Lapian menjelaskan pada pengantarnya dalam buku Rainha Boki Raja:Ratu Ternate Abad Keenambelas, “…riwayat hidupnya bukan suatu cerita gembira. Terlebih sesudah 1538, nasibnya semakin memburuk dan beliau tak lagi berdaya menghadapi perlawanan dari dalam maupun luar. Kalau selama lebih dari 15 tahun peran Boki Raja sangat sentral dalam kanca politik Maluku Utara, sesudah 1538 kekuatan-kekuatan dalam negeri maupun dari pihak Portugis mendepaknya ke samping, dan akhirnya ke luar kedaton. Akhirnya sejak 1548 sumber-sumber Portugis tidak pernah lagi menyebutnya.”

Boki Raja Melawan Portugis

Boki Raja yang sama-sama berlayar pulang ke Ternate dengan anaknya–Tabaraji yang meninggal waktu mereka di Malaka–tetap melanjutkan perjalanan. Dia sampai di Ternate dalam keadaan hati yang sangat hancur. Namun, demikian, Boki Raja tetap dapat mengisi kekosongan tahta kala itu, dan memerintah Ternate di bawah kedaulatan Portugis. Meski terkesan tunduk pada penjajah, namun sikap Boki Raja ini terbilang penting. Sebab, dengan dia mengisi kekosongan tahta, maka Portugis tidak sepenuhnya menguasai Ternate.

Di tahun-tahun sebelumnya, Boki Raja memainkan peran sentral dalam menjaga eksistensi Ternate dari ancaman Portugis. Dia melawan Pangeran Taruwese yang bersekongkol dengan Portugis untuk mengambil alih tahta dari putranya. Dalam perjuangan ini, putranya, Sultan Deyalo (1522-1529) wafat. Dan, kedua putranya yang lain–Abu Hayat dan Tabaraji–ditawan.

Mendapat dukungan dari para menteri dan rakyat, Boki Raja pada 1530 melawan Portugis dan mengepung benteng mereka di Ternate. Dalam perlawanan Boki Raja ini, Gonzales Pereire, Gubernur Portugis di Ternate (1530-1532), mati terbunuh oleh orang Portugis sendiri.

Meski sudah dikepung, Portugis masih menolak mengembalikan kedua pangeran Ternate. Perjuangan Boki Raja mendapat dukungan dari raja-raja lain di Maluku. Mereka sepakat untuk tidak memasok perbekalan ke Portugis. Hingga Portugis akhirnya memenuhi tuntutan Boki Raja dengan catatan tetap mendapatkan fasilitas perdagangan rempah-rempah. Di masa-masa kritis perjuangan Ternate melawan Portugis dengan segala intrik dan fitnahnya, Boki Raja ikut memainkan peran penting dalam mempertahankan eksistensi Kesultanan Ternate.

Keluar dari Hiruk Pikuk Intrik Kekuasaan

Agaknya sikap Tabaraji yang mendeklarasikan Ternate tunduk di bawah Portugis, kemudian diikuti dengan dirinya dan Boki Raja masuk Kristen, menjadi keputusan yang sangat keliru. Mengingat, Ternate merupakan kesultanan Islam.

M. Adnan Admal menjelaskan dalam bukunya Tahun-tahun yang Menentukan: Babullah Datu Syah Menamatkan Kehadiran Portugis di Maluku, “Ketika masih berada di Malaka, Khairun diberi tahu bahwa Sultan Tabaraji telah dikonversi ke dalam agama Kristen. Dengan enteng Khairun menjawab: hak Tabaraji menjadi sultan telah gugur sejak ia berpisah dengan Islam. Tentang proklamasi Tabaraji yang menyatakan Kerajaan Ternate sebagai kerajaan Kristen dan menjadi vasal Portugis, Khairun hanya menyatakan bahwa telah terjadi persekongkolan jahat antara Tabaraji dan de Freitas. Karena itu, proklamasi Tabaraji tidak sah.”

Pada tahun 1547, ketika Khairun kembali dari pengasingan, Boki Raja menyerahkan tahta Ternate kepadanya. Sultan Khairun kemudian mengembalikan status Ternate sebagai kesultanan Islam yang tidak di bawah kedaulatan Portugis. Dan, Boki Raja pun keluar dari hiruk pikuk intrik kekuasaan yang didalangi Portugis dengan politik belah bambunya.

Tidak banyak diketahui bagaimana akhir kehidupan dari Ratu Ternate ini. Beberapa tulisan mengabarkan kalau dia tidak lagi tinggal dalam lingkungan kedaton, dan hidup bersama putri tirinya, istri Francis Xavier yang merupakan seorang misionaris Katolik di Maluku. Boki Raja diketahui telah dibaptis dengan nama Dona Isabel. Demikian hikayat hidup Rainha Boki Raja, yang kata Toeti Heraty sebagai: “…seorang perempuan yang patut dikenang, dan tidak mudah kita melupakannya–meskipun tidak pernah kita mengenal namanya (nama kecil Boki Raja).” []

Tags: Pahlawan Perempuanpemimpin perempuanSejarah IndonesiaSejarah NusantaraTokoh Inspiratif
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Eksistensi Peranan Perempuan dalam Menjaga Alam

Next Post

Mengenang Sosok Inspiratif Almarhum KH Affandi Mukhtar

Moh. Rivaldi Abdul

Moh. Rivaldi Abdul

S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2019. S2 Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Islam Nusantara di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang, menempuh pendidikan Doktoral (S3) Prodi Studi Islam Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related Posts

Rahmah El Yunusiyah
Figur

Rahmah El Yunusiyah: Pahlawan Perempuan, Pelopor Madrasah Diniyah Lil-Banat

13 November 2025
Rima Hassan
Figur

Rima Hassan: Potret Partisipasi Perempuan Aktivis Kamanusiaan Palestina dari Parlemen Eropa

16 Oktober 2025
Syajarat al-Durr
Figur

Syajarat al-Durr dan Bukti Kepemimpinan Perempuan dalam Sejarah Islam

10 Oktober 2025
Sushila Karki
Publik

Sushila Karki, Perempuan yang Dipilih Gen Z Nepal

20 September 2025
Nyai Siti Walidah
Figur

Nyai Siti Walidah: Ulama Perempuan Dibalik Perintis Muhammadiyah dalam Bayang Kolonialisme

21 Agustus 2025
80 Tahun Indonesia
Publik

80 Tahun Ke(tidak)beragaman Indonesia: Membicarakan Konflik Sesama Bangsa dari Masa ke Masa

17 Agustus 2025
Next Post
KH Affandi Mukhtar

Mengenang Sosok Inspiratif Almarhum KH Affandi Mukhtar

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang
  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?
  • Strategi Dakwah Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0