Mubadalah.id – Gegap gempita pergantian tahun sudah berada di tengah kita. Riuh-riuh euforia perayaan tahun baru sudah bergema seantero jagat raya. Ajakan liburan, bakar-bakar ikan, dan bentuk perayaan serupa lainnya sudah seliwuran di grup wa keluarga.
Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita di Sumatra dan Aceh? Jangankan untuk merayakan, bahkan sekadar bertahan saja harus menarik nafas dalam-dalam. Mereka berjibaku dengan kelaparan yang sudah banyak merenggut nyawa keluarga mereka.
Melansir dari sumbarkita.id, per 30 Desember 2025 angka kematian akibat bencana Aceh Sumatra sudah mencapai 1.141 korban jiwa. Sementara jumlah korban hilang mencapai 163, dan 399.200 orang mengungsi. Angka kematian kemungkinan akan terus bertambah mengingat tingginya jumlah korban yang belum ditemukan.
Di balik tragedi banjir dahsyat yang menggugah jiwa kemanusiaan tersebut, siapakah kelompok yang paling rentan dan terdampak dari bencana? Baik dari sisi kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, potensi mengalami kekerasan khususnya kekerasan seksual, serta dampak buruk lainnya.
Perempuan menghadapi tantangan yang lebih besar daripada laki-laki dalam mengakses sumber daya air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, dan mungkin menanggapi tantangan ini dengan mengadopsi praktik yang tidak aman yang meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi (IMS).
Perempuan dan Anak Perempuan Rentan Mengalami Kekerasan Saat Bencana
Berdasarkan data dari United Nation Population Fund, dalam artikel yang berjudul Shelter From The Storm: A Transformative Agenda For Women And Girls in A Crisis-Prone World menyatakan bahwa saat bencana perempuan, anak, lansia, dan disabilitas, bagian dari kelompok rentan terhadap kedua hal tersebut.
Terlebih lagi perempuan dengan disabilitas, anak dengan disabilitas, dan lansia dengan disabilitas tentu mengalami kerentanan yang berlapis. Perempuan dan anak perempuan menghadapi peningkatan risiko yang signifikan untuk kehamilan yang tidak diinginkan. Lalu kekerasan berbasis gender, Infeksi Menular Seksual, dan kematian ibu.
Hal ini terbukti dengan adanya kasus kekerasan seksual yang seseorang mahasiswi di Aceh Tamiang alami. Pelaku mengambil kesempatan melampiaskan nafsu bejatnya dan menutup mata untuk aksi kemanusiaan.
Di tengah air bah yang deras dan cokelat pekat, pelaku menawarkan bantuan kepada korban untuk diberikan tumpangan melewati derasnya arus banjir. Saat itulah pelaku melancarkan aksinya, korban pun merasa serba salah. Meskipun ia berontak, tapi tidak mungkin ia lari dan terjun ke air bah yang mengebung mereka. Korban pun berteriak, hingga akhirnya pelaku menjadi bulan-bulanan massa.
Hal serupa juga tersebutkan dalam Pedoman Perlindungan Hak Perempuan dan Anak dari Kekerasan Berbasis Gender dalam Bencana oleh KemenPPPA dan UNFPA. Di mana mereka menyebutkan bahwa situasi akibat bencana sangat berpotensi terhadap Kekerasan Berbasis Gender dan Kekerasan Terhadap Anak.
Kondisi tersebut karena anak kehilangan orang tua dan terpisah dengan sanak keluarga sehingga harus tinggal dengan orang asing seperti di penampungan, panti asuhan, diadopsi, atau dengan sanak keluarga yang belum pernah dekat sebelumnya. Situasi ini sangat problematik bagi anak perempuan karena sangat rentan menjadi korban kekerasan termasuk kekerasan seksual.
Dampak bagi Kesehatan Reproduksi Perempuan
Selain bayang bayang Kekerasan Berbasis gender, perempuan juga terhantui dengan berbagai penyakit lainnya yang timbul karena air banjir, selain penyakit yang dialami oleh laki-laki dan perempuan pada umumnya.
Dalam Pernyataan Sikap Komnas Perempuan Merespon Situasi Bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, didapatkan informasi dari berbagai sumber bahwa mayoritas perempuan saat ini mengalami kesulitan akses terhadap pangan, air bersih, sanitasi yang bersih, dan layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan reproduksi.
Sejumlah wilayah juga melaporkan meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender akibat terbatasnya ruang aman dan tingginya kepadatan di lokasi pengungsian. Hal tersebut sangat berkorelasi terhadap kondisi mental dan kesehatan reproduksi perempuan.
Penelitian dari Harvard University dengan judul Extreme weather events (EWEs)-Related health complications in Bangladesh: A gender-based analysis on the 2017 catastrophic floods menyebutkan bahwa saat banjir 75% perempuan melaporkan manajemen menstruasi yang tidak tepat.
Kondisi ini menyebabkan guncangan mental yang berakibat pada kacauanya siklus menstruasi perempuan dalam jangka waktu yang bervariasi. Selain itu, resiko infeksi pada organ reproduksi juga menjadi momok yang menakutkan bagi perempuan korban bencana banjir.
Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Penting Menjadi Prioritas
Nur Fitriah Jumartin dalam disertasinya yang berjudul Gambaran Kesehatan Reproduksi Wanita Sebelum, Saat, dan Setelah Bencana Banjir di Kabupaten Konawe Utara, menyebutkan bahwa pelayanan reproduksi bagi perempuan pasca bencana banjir khususnya pada ibu antenatal (ANC), postnatal (PNC), dan bayi baru lahir (BBL) cenderung terlupakan. Padahal, pada situasi bencana, pelayanan pemeriksaan kesehatan sangat ibu butuhkan pada masa ANC, PNC, dan juga pada BBL.
Perawatan antenatal (ANC) sangat penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin. Di sana mencakup pemeriksaan vital seperti tekanan darah, kadar gula darah, pemantauan pertumbuhan janin, serta edukasi mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan. Jika tidak, maka potensi preeklampsia untuk berkembang tanpa terdeteksi semakin besar.
Contohnya seperti yang saya lansir dari detik.com bahwasanya di Kabupaten Pidie Jaya, dua orang ibu hamil korban banjir dan tanah longsor harus segera tertangani karena mengalami preeklampsia berat. Jika tidak segera tertangani, maka nyawa mereka menjadi taruhannya. Syukur-syukur saat itu ada relawan medis yang siap siaga. Jika tidak, maka nyawa ibu dan bayi menjadi taruhannya.
Siaga Hadapi Bencana
Penelitian yang Nasim Partash dkk lakukan dengan judul The Impact of Flood on Pregnancy Outcomes: a Review Article menjelaskan bahwa kondisi lingkungan pasca banjir memainkan peran penting dalam tingkat Low Birth Weight (LBW). Sehingga jika semakin baik kondisi kehidupan di pengusian dan semakin baik akses layanan perawatan prenatal, maka semakin rendah tingkat LBW yang akan terjadi.
Selain itu, hipertensi gestasional, preeklampsia, dan eklampsia juga sedikit meningkat setelah banjir. Tentu hal tersebut memegang pengaruh besar untuk kelangsungan hidup ibu dan bayi.
Penelitian dari Farzaneh Safajou dkk dalam Reproductive Health Challenges During a Flood: A Qualitative study menyatakan bahwa Ibu menyusui juga membutuhkan perhatian khusus terhadap kebutuhan nutrisi mereka, sama seperti ibu hamil.
Namun, kebutuhan nutrisi mereka tidak terpenuhi secara memadai selama masa banjir. Makanan utama dan tambahan tidak bisa mereka dapatkan. Sehingga hal tersebut mempengaruhi produksi ASI ibu menyusui. Banyak ibu menyusui tidak bisa memberikan ASI maksimal kepada bayi mereka karena produksi ASI yang sangat sedikit.
Berdasarkan tulisan ini, semoga perempuan dan kaum rentan lainnya bisa mengakses air bersih, sanitasi yang layak, serta perhatian kepada perempuan hami dan menyusui bisa lebih meningkat saat bencana. Selain itu juga, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana kita harapkan meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan informasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir dan tanah longsor. []




















































