Mubadalah.id – Seks adalah kehidupan. Dengan aktivitas seks manusia berkembang biak, beranak pinak dan melanjutkan keberadaannya di dunia sebagai khalifah fi al-ard. Jadi mengapa orang menganggap ini sebagai hal yang tidak penting, tidak serius?
Padahal, justru karena menyangkut eksistensi manusia membahas isu seks dan seksualitas secara cerdas dan dewasa sangatlah penting. Adalah benar, sebagai tema atau isu, seks sering dianggap kontroversial, ia ditabukan tapi sekaligus diminati. Orang membahasnya antara minat dan benci. Disepelekan tapi dianggap maha penting.
Dibahas secara berbisik-bisik atau disuarakan dengan lantang di jalan-jalan ketika berdemonstrasi untuk mendukung atau menolak undang-undang yang mengatur seksualitas seperti Undang-undang Pornografi.
Pusat kekisruhan ini sesungguhnya bersumber pada cara pandang manusia sendiri yang mendua pada persoalan ini. Tak ada tema yang paling kontroversial dalam pembahasan tentang tubuh manusia selain isu seks dan seksualitas.
Namun sebelum melangkah jauh, perlu kita bahas terlebih dahulu apa beda di antara keduanya. Seks biasanya mengacu pada pengetahuan manusia tentang aspek ketubuhan kita terkait dengan fungsi, organ reproduksi, atau konsep biologis dari perangkat alat reproduksi manusia.
Karena terkait dengan hal yang biologis, secara konseptual aspek biologis dari alat dan fungsi reproduksi ini sering ia anggap sebagai sesuatu yang tetap, pasti, terbawa dari lahir atau takdir.
Fungsi Seks
Di sini ini, ketika hanya terkait dengan fungsi dan alat reproduksinya saja, manusia pada dasarnya sama dengan binatang yang punya alat reproduksi. Di sisi ini pula alat-alat reproduski itu dapat berfungsi tanpa harus ia pelajari.
Sebagaimana pada binatang fungsi-fungsi itu muncul akibat adanya dorongan alamiah dari fungsi-fungsi hormonal. Serta fungsi faal atau organ yang demikian rumit mengatur sistem insting untuk beproduski.
Jadi jika ada dua manusia lelaki dan perempuan sejak bayi tersesat di hutan, tanpa bejalar ari siapapun mereka akan punya kemampuan untuk bereproduksi sebagaimana juga terjadi pada binatang yang ada di sekelilingnya.
Pada binatang tak ada aturan yang berlaku bagi mereka dalam mengendalikan atau mengatur seks mereka. Semuanya berjalan secara isntingtif, tidak belajar dan tidak ia pelajari. Musim kawin, cara kawin binatang selalu tetap, tak berubah oleh zaman atau keadaan. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan




















































