Mubadalah.id – Nabi selalu hadir dalam Ramadan kita. Kita menyebut namanya dalam selawat, mengingat kebiasaannya saat sahur dan berbuka, dan meniru caranya beribadah. Setiap kali Ramadan datang, kerinduan pada teladan beliau ikut menguat.
Kita sering membayangkan Nabi berdiri di masjid, memimpin salat, menyampaikan nasihat. Namun jarang sekali kita membayangkan, jika Nabi berbuka di rumah kita. Beliau duduk di ruang makan rumah kita sendiri. Padahal justru di ruang yang paling domestik itulah nilai-nilai hidup diuji secara nyata.
Beliau juga hidup sebagai kepala keluarga. Beliau tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga mencontohkan cara berelasi. Karena itu, saya sering bertanya pada diri sendiri: kalau Nabi mengetuk pintu rumah kita sore ini, tepat sebelum magrib, apa yang akan beliau lakukan?
Magrib tinggal beberapa menit lagi.
Di dapur, minyak berdesis. Uap naik dari panci. Tangan bergerak cepat mengangkat gorengan, memotong buah, menuang minuman ke gelas. Sementara itu, di ruang depan, seseorang sudah bersiap berangkat tarawih lebih awal agar mendapat saf depan. Televisi menyiarkan azan dari masjid besar.
Namun ada satu orang yang belum duduk.
Sejak kecil, saya melihat pola yang sama setiap Ramadan. Ibu selalu menjadi orang terakhir yang berbuka. Ia memastikan semua orang mendapat bagian. Ia mengecek piring ayah. Ia menambah minum adik. Ia mengambil sendok yang kurang. Setelah semua siap, barulah ia duduk, sering kali ketika yang lain hampir selesai.
Kami memujinya.
Kami menyebutnya sabar.
Namun kami jarang mengambil alih perannya.
Ramadan membuat rumah terasa religius. Kami menyusun target khatam Al-Qur’an, mengatur jadwal tarawih, dan memperbanyak doa. Akan tetapi, kami jarang menyusun jadwal berbagi kerja.
Islam itu Mawaddah dan Rahmah
Padahal Allah mengingatkan:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu mawaddah dan rahmah.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat itu berbicara tentang ketenteraman. Ayat itu menyebut cinta dan kasih sayang. Maka saya bertanya: bagaimana ketenteraman tumbuh jika satu orang terus bergerak sementara yang lain terus menunggu? Bagaimana rahmah hadir kalau beban hanya berputar di bahu yang sama?
Di titik itulah saya mengingat riwayat tentang Nabi Muhammad Saw. Aisyah menceritakan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah. Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan ikut terlibat dalam kerja-kerja domestik. Setelah itu, ketika waktu salat tiba, beliau keluar untuk salat.
Riwayat itu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa kuat.
Sekarang bayangkan lagi.
Bagaimana Sikap Nabi?
Nabi duduk di ruang tamu kita. Beliau melihat satu orang mondar-mandir di dapur. Beliau melihat yang lain menunggu makanan tersaji. Azan hampir berkumandang.
Apakah beliau tetap duduk?
Ataukah beliau berdiri dan berkata, “Apa yang bisa aku bantu?”
Ramadan memang melatih kita menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, Ramadan juga melatih kita menahan ego. Kita bisa belajar menahan rasa ingin dilayani. Kita bisa belajar melepaskan keyakinan bahwa kerja dapur melekat pada satu pihak saja.
Allah berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan… Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menempatkan takwa sebagai ukuran. Bukan jenis kelamin. Bukan posisi dalam rumah.
Kalau takwa menjadi standar, maka takwa harus tampak dalam pembagian kerja. Takwa harus terlihat dalam keputusan kecil: mengambil alih cucian piring, memotong buah tanpa diminta, atau menyuruh pasangan duduk lebih dulu.
Sunnah Juga Tentang Relasi
Selama ini kita sering memahami sunnah sebagai gerakan ibadah yang terlihat. Kita meniru cara berbuka. Kita mengikuti cara salat. Namun sunnah juga hidup dalam relasi. Sunnah bernafas dalam cara kita memperlakukan orang terdekat.
Karena itu, bagi kita yang merasa selalu ingin mengikuti sunnah Nabi secara utuh, pernahkah kita sungguh-sungguh membayangkan pertanyaan ini: jika Nabi tinggal bersama kita selama Ramadan, apakah pola relasi di rumah kita tetap sama?
Atau justru kita merasa canggung karena kebiasaan kita terlalu jauh dari teladannya?
Pertanyaan ini tidak menyerang siapa pun. Saya juga menujukkannya pada diri sendiri. Saya pun tumbuh dalam budaya yang menganggap semua itu wajar. Namun Ramadan selalu memberi ruang untuk evaluasi.
Selain menahan lapar, Ramadan mengajak kita menata ulang relasi.
Bayangkan satu momen kecil: azan magrib berkumandang. Semua orang sudah duduk. Tidak ada yang berdiri di belakang. Tidak ada yang menunda berbuka demi memastikan orang lain nyaman. Setelah makan, semua beres-beres bersama. Setelah itu, semua pergi beribadah dengan hati yang ringan.
Bukankah suasana seperti itu lebih dekat dengan mawaddah dan rahmah?
Pendidikan Anak dari Kesalingan di Rumah
Saya juga memikirkan dampaknya pada anak-anak. Seorang anak laki-laki melihat ayahnya mencuci piring tanpa merasa kehilangan wibawa. Seorang anak perempuan melihat ibunya duduk tanpa rasa bersalah. Dari situ mereka belajar bahwa ketakwaan tidak pernah bertentangan dengan kesalingan.
Pada akhirnya, mungkin ukuran cinta kita kepada Nabi tidak berhenti pada seberapa sering kita menyebut namanya, melainkan sejauh mana kita meneladani cara beliau memanusiakan orang-orang di rumahnya.
Ramadan akan terus datang. Kita akan terus mengejar pahala. Kita akan terus memadati masjid. Namun di sela semua itu, ada ruang yang tidak kalah penting: ruang keluarga.
Di meja makan.
Dapur.
Saat percakapan kecil sebelum tidur.
Jika suatu hari kita benar-benar membayangkan Nabi berbuka di rumah kita, semoga kita tidak hanya menyuguhkan makanan terbaik, tetapi juga menghadirkan relasi yang adil.
Sebab bisa jadi, takwa yang paling jujur tidak selalu terdengar dalam doa yang panjang, melainkan terasa dalam tangan yang ikut bekerja. []








































