Mubadalah.id – Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa tidak mudah begitu saja kita meresapi menjadi agama masyarakat secara luas. Terjadi pergulatan yang luar biasa, terutama terkait dengan unsur-unsur pemikiran yang sudah ada sebelumnya.
Sebagaimana artikel yang saya tuliskan di edisi sebelumnya yang mengulas tentang Difabel dalam Masyarakat Indonesia. Edisi kali ini saya akan melanjutkan dengan dimensi difabelitas dalam lanskap masyarakat Jawa. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel.
Slamet Thohari melalui artikel “Menormalkan yang Dianggap tidak Normal, Difabel dalam Lintas Sejarah”, menyatakan bahwa dalam alam pewayangan, banyak sekali simbol difabelitas. Menjadi difabel sepertinya merupakan hal lumrah dan biasa, bukan sebagai sebuah keburukan.
Berbagai kelompok difabel yang hebat dan pendekar bermunculan kembali, untuk merespons pemborbardiran “kesaktian” orang-orang difabel yang menjadi paradigma pengecualian (istisna). Berbagai serat kontroversial menunjukkan bagaimana unsur-unsur hubungan antara Jawa dan Islam mengalami proses negosiasi yang pelik dan berliku.
Hal ini dapat tergambar dalam berbagai serat dan mitos-mitos seperti, Centhini, Baruklinting dan yang paling kontroversial adalah suluk Gatholotjo.
Difabel sebagai Simbol Perlawanan
Serat Gatholotjo mungkin salah satu gambaran, sosok lelaki buruk, dengkleng, dan bau. Namun dia mengaku sebagai lelananging jagat. Gatholotjo teridentifikasi sebagai seorang anak raja yang “cacat” secara fisik, dan yang mengembara untuk menemukan jati diri.
Sekalipun dia adalah orang difabel, namun Gatholotjo adalah orang yang pandai berfilsafat. Mungkin seperti Aristoteles yang selalu keliling berdebat. Demikian juga dengan Gatholotjo, selalu berkeliling menjumpai banyak orang dan berdialog.
Kata-katanya begitu pedas, akan tetapi mengandung makna yang amat mendalam dan sarat dengan nilai-nilai filosofis. Bahkan konon, Gatholotjo pernah menaklukkan sesepuh ulama Jawa, Kiai Anom dalam beradu argumentasi masalah agama dan filsafat.
Dan seterusnya kisah di atas bergulir, banyak sekali dimensi difabelitas dalam lanskap masyarakat Jawa yang menempatkan kaum difabel dalam posisi yang tinggi, bahkan sebagai simbol perlawanan. Dalam banyak hal, di sekitar masyarakat Jawa gambar-gambar Semar selalu masih menjadi bagian penting di dalam kehidupan masyarakat.
Dari nama taksi, toko emas, nama hotel dan penginapan, hingga identitas penjual es dawet Sari Ayu Banjarnegara. Unsur-unsur ini masih saja tampil menginterupsi gemerlap dunia modern.
Laku lampak Mbisu – Berjalan Keliling Merapi dengan membisukan diri, tapa Mbisu – mengelilingi Benteng di Yogyakarta, dan tentu masih banyak lagi berbagai ornamen kebudayaan yang mencerminkan bagaimana pandangan magis bagi difabel dalam masyarakat Jawa.
Simbol yang Bergeser
Difabel Jawa yang magis dan sakti ini kemudian bergeser. Bukan lagi menjadi simbol perlawanan, akan tetapi menjadi “penyakit” yang mesti dibersihkan. Bukan lagi sebagai sosok penyeimbang, namun menjadi “patologi” sosial yang harus mereka tertibkan.
Situasi ini terjadi tepatnya sejak VOC (Vereenigde oost-Indische Compagnie) untuk pertama kali memperkenalkan medikalisasi bagi para serdadu yang terluka. Tubuh dan impairment (penurunan nilai) yang melekat, secara perlahan tergiring menjadi lebih “profan”. Bahkan menjadi bagian dari penghalang demi terwujudnya kota yang baik dan bersih.
Maka, tempat-tempat yang dikhususkan untuk menormalkan tubuh pun mereka dirikan. Ini sebagai cara mudah untuk mengontrol, menata dan memudahkan pengawasan dari “kuasa keteraturan”.
Pada tahun 1621, mulailah mereka membangun berbagai rumah kecil khusus untuk pengobatan yang beredar di sekitar benteng-benteng Batavia, di mana kuasa sejati mereka tancapkan. Kuasa medis semakin kuat dan meneguhkan diri sejak pemerintah Belanda pada masa H.W. Daendles membenahi sistem dan memperluas rumah-rumah medis bagi militer dengan membentuk jaringan rapi di tahun 1808.
Medikalisasi Tubuh dan Difabelitas
Paska tahun-tahun tersebut, medikalisasi tubuh dan difabelitas semakin kuat dan berjalan dengan baik. Yakni sejak Professor G.G.K. Raindwart pada tahun 1820 mereka nobatkan menjadi komisaris manajerial urusan medis Hindia Belanda.
Rumah sakit untuk sipil atau stadsverbandhuizen mulai mereka buka. Untuk pertama kalinya stadsverbandhuizen di Batavia menangani orang yang mengidap usia renta atau menjadi crippled (lumpuh), sekalipun baru saja statusnya sebagai tahanan.
Demikian luka-luka dan keanehan-keanehan pada tubuh secara diam-diam tidak lagi berhubungan erat dengan Semar, Petruk, dan Gatholotjo. Akan tetapi erat dengan bagaimana kemampuan dokter menata tulang, menjelaskan aliran darah, menjelaskan kemampuan indra atau memberikan informasi tentang virus serta bakteri yang ada dalam tubuh.
Maka secara perlahan tubuh dan difabelitas bukan lagi tubuh yang sakti, akan tetapi tubuh yang sakit dan membutuhkan pengobatan serta perawatan medis.
Setiap yang sakit harus tersembuhkan. Mereka pun dibedah, disuntik, ditata organ-organnya. Jelasnya mereka direhabilitasi selayaknya rumah yang rusak akibat gempa. Setiap yang tidak normal harus dinormalkan dengan terapi terpisah di mana para ahli melakukannya secara khusus dan tentu melalui ilmu yang khusus pula.
Maka medikalisasi merupakan agenda normalisasi yang didahului oleh sebuah kuasa “rezim klinis.” Lantas bagaimana dengan nasib difabel setelah Indonesia menjadi negara bangsa? Saya akan tulis dalam artikel berikutnya. []









































