Mubadalah.id – Hubungan manusia dalam perkembangan zaman kian mengalami perkembangan yang beragam. Manusia lahir di dunia seakan menjadi makhluk utuh bersih yang kerap kita kenal dengan Tabula Rasa. Sehingga dalam tumbuh kembangnya manusia akan mendapatkan dorongan untuk lebih baik (fitrah) dengan saling mengenal dan bersosial seperti halnya zoonpoliticon.
Kita dapat melihat berbagai macam pola hubungan antar manusia, entah itu Hubungan Tanpa Status (HTS), komitmenan, teman tapi mesra, bahkan pacaran. Tapi apa salahnya kita memulai dengan seseorang untuk hubungan tersebut? Apakah benaran ini berangkat dari dorongan yang kerap kita sebut “cinta”?
Manusia dan Dorongan Cinta
Dalam konteks filsafat cinta, manusia itu pada hakikatnya serakah. Menjalani kehidupan tanpa akhir untuk memenuhi keinginan, yang kerap kali kita anggap akan memberi kebahagiaan. Kita sebagai manusia menginginkan sesuatu karena menganggap dalam sesuatu itu ada ‘kebaikannya’ untuk kita.
Hal ini selaras dengan ungkapan Socrates yakninya:
“Love is desire for the perpetual possesion of the good”. (Cinta adalah keinginan untuk memiliki kebaikan secara abadi).
Namun tidak hanya manusia, segala sesuatu, ‘bergerak untuk memperoleh yang dianggapnya baik’; berarti alam semesta pun ini digerakkan oleh cinta.
Meskipun demikian, tidak banyak yang menyadari objek cinta mereka, yang mendorong pencarian itu, yang menjadi dasar setiap keinginan, yang memastikan kepemilikan abadi atas kebaikan adalah — pada hakikatnya —adalah Sang Maha Baik atau Sang Maha Indah.
Jatuh Cinta dan Situasinya
Ketika jatuh cinta pada seseorang, yang sebenarnya terjadi adalah kamu melihat bahwa dia memiliki sebuah kualitas yang belum kamu miliki. Entah itu kamu melihat dia sebagai seorang yang cool, kalem, disiplin, bahkan multitalent. Sementara kamu sendiri meskipun orangnya humble, terkadang masih moodyan, kurang tenang, bahkan amburadul.
Tentunya ada sebuah fantasi di bawah alam sadar yang kamu bentuk, bahwa dengan mendekati orang itu, kamu bisa menjadi sedikit banyak menyerupai dia. Kamu kerap berkhayal, dia dapat membantu dan mengarahkan kamu untuk tumbuh dan memaksimalkan potensi kamu.
Sehingga kita benar-banar dapat menemukan hakikat cinta dalam pandangan Plato layaknya seperti pendidikan. Artinya, kamu tidak dapat mencintai seseorang kalau kamu gak mau didik oleh pasangan kamu. Di dalam cinta, dua orang berusaha untuk berkembang bersama, dan juga membantu satu sama lain untuk terus berkembang.
Artinya, untuk mewujudkan hal tersebut, kamu perlu untuk hidup bersama dengan orang yang memiliki kualitas-kualitas yang belum kamu miliki: untuk melengkapi bagian-bagian yang kamu dan dia perlukan untuk terus berevolusi.
Lantas semua ini bergerak secara naluriah tanpa sepenuhnya kita sadari, sehingga kita kerap gamang menangkap sinyal yang sebenarnya muncul melalui kausalitas yang berjalan di bawah alam sadar.
Platonic Love
Istilah Platonic Love atau biasa dikenal cinta platonic merupakan konsep gagasan cinta dari filsuf klasik Yunani yakninya Plato. Platonic Love berarti cinta tanpa hasrat jasmaniyah. Cinta ini bersifat universal, siapapun orang yang kita cintai dapat kita cintai dan mengambil kebaikan darinya.
Kamu dapat mencintai siapapun tanpa perlu khawatir soal fisik dan rupa. Tak perlu hirau memikirkan akan diterima maupun ditolak.
Secara vulgar Platonic Love itu cinta tanpa keterikatan emosional, hal ini selaras dengan ungkapan Plato dalam karyanya “Phaedrus”.
“Lebih baik mencintai seseorang yang tidak mencintai kita atau tidak usah dipedulikan dia cinta atau tidaknya pada kita. Kenapa? Kalau kita cinta seseorang terus dia juga cinta pada kita maka akan lahir keterikatan emosional.”
Yang mana keterikatan ini menjadi sumber galau yang sering melanda kehidupan anak muda saat ini. Karena mereka hanya menjadikan yang dicintaiyasebagai jalan kesenangan/kepuasaan sendiri.
Masalahnya, kita kerap terjebak cinta yang emosional membuat pecinta dan yang dicintai bodoh dan menjijikkan. Cinta semacam ini ibarat cintanya serigala kepada domba. Membuat pasangan terhambat bahkan terjebak pada toxic reationship
Lantas bagaimana relevansi Platonic Love dengan gaya relasi manusia saat ini?
Kita kerap menganggap mencintai memiliki padanan makna yang setara dengan memiliki. Sehingga tanpa sadar cinta soal menghegemoni bahkan ketakutan untuk kehilangan.
Dalam Platonic Love, cinta hanya dorongan naluriah yang sepatutnya kita cari. Dalam penerapan keseharian kita dapat untuk mencintainya namun tetap memberi ruang dirinya tanpa harus menjadi domba dalam kacamata serigala, yang notabene sudah mengartikan cinta itu harus memiliki.
Maka tak jarang, dalam ketidakpastian hubungan satu di antara dua manusia sudah merasa paling berharap kemudian paling tersakiti bahkan ditinggalkan. Padahal apabila esensi Platonic Love ini benar-benar kita terapkan, kerumitan dan kesumpekan emosional semacam itu tidak akan pernah menemukan tempatnya.
Toh apa salahnya dalam tahap mencintai seperti dalam pandangan Plato, kita benar-benar mencari sesuatu yang lebih baik untuk upgrade diri, toh soal dapat atau tidaknya urusan belakangan, at least hal positif dalam kehidupannya dapat menjadi insight baru bagi pribadi kita nantinya. []












































