Mubadalah.id – Di tengah masih terbatasnya pembacaan atas sosok emansipatoris pesantren, Nyai Noor Chodijah, ada satu dawuh beliau yang menurut saya sangat kaya untuk direnungkan hari ini, bahkan terasa lebih bermakna daripada banyak seminar rumah tangga modern. “Tirakatmu menentukan masa depan suamimu.”
Dulu, saya memahami ucapan ini secara sempit.
Sederhana. Domestik.
Bahkan nyaris seperti pengukuhan lama bahwa perempuan memang ditakdirkan hanya menjadi “Kanca wingking” bagi laki-laki.
Namun belakangan, melalui proses perenungan yang cukup panjang, saya mulai menyadari bahwa dawuh ini justru menyimpan lapisan makna filosofis yang jauh lebih dalam jika kita baca dengan perspektif kesalingan.
Dawuh ini terasa begitu relevan hari ini. Waktu di mana kita hidup di zaman yang terlalu memuja sesuatu yang terlihat. Yang terlihat sibuk dianggap sedang bekerja keras. Lalu yang mondar-mandir ke luar rumah dianggap berjuang. Yang menghasilkan uang dianggap berkontribusi nyata.
Menilik Jargon Khairunnas Anfa’uhum Linnas
Ukuran kebermanfaatan perlahan tereduksi menjadi sesuatu yang visual, terukur, dan bisa terpamerkan. Akibatnya, kerja-kerja domestik kerap kehilangan martabatnya di hadapan pandangan publik. Kerja batin, doa panjang, kesabaran merawat kehidupan rumah tangga, juga ketelatenan menjaga tumbuh-kembang jiwa dalam keluarga, kerap dianggap seperti sesuatu yang otomatis ada dalam diri perempuan, bukan sebagai kontribusi nyata yang berdampak.
Beberapa waktu lalu, dalam tulisan saya yang menyoal “Jargon Khairunnas Anfa’uhum Linnas dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif”, saya sempat menyinggung situasi yang menuntut kita untuk terus berguna, produktif, dan memberi dampak.
Sampai-sampai, sebagian dari kita merasa bersalah ketika beristirahat, bahkan merasa tidak berharga ketika hidupnya tidak tampak “wah”. Akibatnya, kita menjadi generasi yang sibuk membuktikan diri secara eksternal, namun perlahan asing dengan ruang batinnya sendiri.
Dan ironisnya, perempuan sering menjadi pihak yang paling mudah terdorong untuk merasa kecil. Ketika hidupnya banyak berlangsung di ruang domestik, ia mulai merasa tidak sedang “memberi manfaat” karena kerjanya tidak menghasilkan validasi sosial. Padahal, tak jarang, tokoh-tokoh besar bertumbuh dari perempuan-perempuan yang tirakatnya bahkan tidak pernah tercatat sejarah.
Laku Spiritual dalam Lensa Mubādalah
Dalam perspektif mubādalah yang digagas Kiai Faqihuddin Abdul Kodir, relasi laki-laki dan perempuan tidak terbangun di atas logika siapa memimpin dan siapa melayani, namun siapa yang saling menguatkan. Karena itu, dawuh “tirakatmu menentukan masa depan suamimu” tidak tepat kita baca sebagai beban sepihak yang terpanggul perempuan demi kesuksesan laki-laki. Ia justru dapat terbaca sebagai pengakuan bahwa hidup manusia terbentuk oleh kontribusi yang saling menopang—lahir maupun batin, tampak maupun tak tampak.
Kalau tirakat seorang istri bisa menguatkan suami, maka tirakat seorang suami pun menentukan masa depan istrinya. Kalau perempuan menopang rumah dengan doa dan ketahanan jiwa, laki-laki pun berkewajiban menopang rumah dengan cinta, penghormatan, rasa aman, dan keadilan.
Sebab rumah tangga yang sehat tidak pernah terbangun oleh pengorbanan satu pihak saja, namun oleh kesediaan dua manusia untuk saling menjaga kehidupan yang mereka bagi bersama.
Karena itu, yang perlu kita tegaskan bukanlah bahwa perempuan “seharusnya” tinggal di ruang domestik. Perempuan tetap memiliki otoritas penuh atas jalan hidup dan ruang pengabdiannya, baik di ruang publik maupun domestik.
Namun persoalannya, kerja-kerja perawatan, pengasuhan, penjagaan emosi, dan laku batin selama ini terlalu sering dianggap bukan kontribusi, padahal darinya banyak kehidupan justru bertumbuh.
Dan dalam kenyataan sosial kita, kerja-kerja semacam ini masih sangat sering perempuan pikul tanpa pengakuan yang layak.
Kesalingan dalam Hal-hal yang Tak Tampak
Kesalingan tidak selalu hadir dalam bentuk pembagian tugas yang kaku bak tabel Excel rumah tangga. Ia tidak melulu soal siapa mencuci, siapa bekerja, atau siapa mengurus anak, lalu semuanya terhitung secara matematis.
Ada bentuk-bentuk kesalingan yang tak kasatmata, tetapi justru kokoh menopang jiwa. Kesalingan yang termanifestasi melalui cara pasangan saling menjaga kewarasan satu sama lain ketika hidup terasa berat. Saling menjadi tempat pulang saat realitas di luar terlalu keras dan menuntut. Saling menopang ketika salah satunya sedang rapuh, hilang arah.
Lebih jauh dari itu, kesalingan juga hidup dalam untaian mujahadah dan tirakat batin yang dijalani bersama: melalui doa-doa yang dilangitkan di sepertiga malam, kesabaran yang terus dilatih, serta ikhtiar spiritual untuk menjaga kekokohan ruh sebuah rumah tangga.
Ada hal-hal yang memang tidak terlihat mata, tetapi justru menjadi fondasi terkuat dalam sebuah keluarga.
Jika dawuh Nyai Noor Chodijah itu pada mulanya menyebut suami, maknanya tidak harus terbatasi hanya pada figur suami sebagai individu. Dalam relasi rumah tangga, masa depan suami kerap bertaut erat dengan masa depan keluarga secara keseluruhan. Dari sinilah kita bisa memahami bahwa laku batin seorang perempuan—dan, dalam semangat kesalingan, juga laku batin seorang laki-laki—sering kali tidak berhenti pada dampaknya bagi pasangan, tetapi menjalar hingga membentuk atmosfer sebuah rumah.
Atmofser Batin Sebagai Fondasi Pendidikan Anak
Kita sering lupa bahwa pendidikan pertama seorang anak bukanlah kurikulum sekolah, akan tetapi atmosfer batin rumahnya.
Anak belajar tentang cinta bukan dari seminar parenting, melainkan dari cara orang tuanya memandang dirinya. Mereka belajar rasa aman dari pelukan. Belajar bahasa dari percakapan sehari-hari. Bahkan mengenal Tuhan mula-mula dari nada suara orang tuanya. Kerja domestik memang jarang menghasilkan material. Tapi yang pasti, ia menghasilkan manusia.
Memaknai Ulang Tirakat
Kembali berbicara soal tirakat, bagi saya tirakat tidaklah berhenti pada ritual puasa mutih, wirid panjang, atau bangun malam. Tirakat juga berkelanjutan pada kemampuan diri dalam menjaga kejernihan jiwa di tengah rutinitas yang melelahkan. Tentang mempertahankan laku batin saat hidup berjalan keras dan serba sulit.
Selanjutnya tentang bersikap selektif terhadap harta yang masuk ke dalam dompet rumah tangga di tengah himpitan ekonomi. Tentang memastikan bahwa apa yang masuk ke perut keluarga kecil kita tidak hanya halal, tetapi juga tayyib dan berkah.
Sebab semua itu membutuhkan komitmen bersama dan kesalingan untuk menjaga prinsip rumah tangga tetap kokoh.
Dalam banyak kisah ulama, keberhasilan seseorang sering kali berdiri di atas laku batin yang panjang. Kita mengenal kisah ibu Imam Syafi’i yang membesarkan beliau dalam keterbatasan namun tetap menjaga pendidikan dan adabnya dengan luar biasa. Kita juga mengenal bagaimana ibunda Imam al-Ghazali menitipkan anak-anaknya kepada seorang sufi sebelum wafat, karena percaya bahwa ilmu tanpa ruhani hanya akan melahirkan kekeringan jiwa.
Dalam tradisi pesantren pun kita kerap menemukan sosok-sosok nyai yang tidak banyak muncul dalam kitab sejarah, tetapi diam-diam menjadi penjaga ruh sebuah generasi. Mereka tidak tampil di podium, tetapi doanya hidup di tubuh murid-muridnya.
Meskipun sejarah sering kali hanya mencatat siapa yang berdiri di depan, peran perempuan di belakangnya tetap tidak mampu kita nafikan. Masih banyak pekerjaan yang tidak viral, tetapi menentukan arah hidup manusia, sebagaimana tirakat yang tidak terlihat, tetapi berperan penting dalam menentukan masa depan keluarga.
Akhirnya, di manapun perempuan berada hari ini, kiprahnya tidak pernah benar-benar kecil dalam menentukan arah generasi penerus. Sebab laku batin dan tirakat bukan sekadar urusan kesalehan personal, melainkan cara merawat arah hidup sebuah keluarga agar tidak kehilangan kompasnya. Wallahu a’lam. []











































