Mubadalah.id – Pernahkah kamu merasa sudah memahami seseorang, padahal yang kamu pahami sebenarnya hanyalah ekspektasimu sendiri? Kita hidup di zaman di mana kita dituntut untuk menilai orang lain secepat mungkin. Kita sering lupa pada satu pertanyaan dasar: apakah kita benar-benar melihat orang tersebut secara utuh, ataukah kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat?
Menurut filsuf dan novelis Irlandia, Iris Murdoch, ketidakmampuan kita untuk melihat orang lain apa adanya berakar dari satu masalah psikologis, yakni ego. Ego adalah mesin yang memproduksi fantasi. Ia bekerja 24 jam tanpa henti. Tujuannya satu: untuk melindungi perasaan, rasa aman, dan kenyamanan kita sendiri.
Saat kita merasa terancam, ego ini akan menutup mata kita dengan kabut prasangka. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita tidak lagi terlihat sebagai manusia yang rumit dan mandiri, melainkan menyusut menjadi karakter-karakter figuran yang tugasnya hanya untuk melayani narasi yang kita buat sendiri, atau menjadi tokoh antagonis yang layak kita benci dan salahkan.
Murdoch melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita memahami moralitas dan kaitannya dengan hubungan antarmanusia di era modern. Menurutnya, kita sering kali hanya memedulikan apa yang kita lakukan secara fisik di ruang publik atau pada pilihan-pilihan rasional, dan tindakan luar semata. Padahal, jauh sebelum kita bertindak atau mengambil keputusan moral, ada pergulatan batin yang terjadi di dalam pikiran kita.
Maka dari itu, Murdoch mengangkat kembali satu konsep yang sering kali dianggap cengeng, klise, atau irasional oleh para akademisi modern: cinta. Ia berkeras bahwa filsafat harus kembali memberi ruang bagi cinta, karena cinta, sama halnya dengan filsafat itu sendiri, berurat akar dalam setiap denyut kehidupan manusia.
Bagaimana Kita Memandang Cinta?
Mari kita jujur tentang bagaimana kita memandang cinta, ungkapnya. Sering kali kita, secara tidak sadar, merasionalkan kenapa kita mencintai seseorang. Kita seperti membuat alasan, seperti “karena dia pintar,” “karena dia cantik,” “karena dia lucu,” “sabar,” atau “karena status sosialnya.” Namun, jika cinta hanya sebatas alasan-alasan yang bisa diukur dan dinilai seperti itu, kita akan terjebak pada apa yang kita sebut dengan dilema “tukar tambah”.
Logika kita pasti akan menuntut bahwa jika kita mencintai seseorang karena dia punya 10 kualitas baik. Lalu di kemudian hari kita bertemu orang lain yang punya 15 kualitas baik yang sama. Kita seharusnya akan meninggalkan kekasih lama dan memilih yang baru karena itu lebih “menguntungkan”.
Tetapi, kita semua tahu bahwa cinta bukanlah kalkulator. Cinta bukanlah kalkulasi matematis di mana kita membuat daftar alasan yang bisa terhitung dan kita timbang. Ketika seseorang berkata bahwa ia mencintai hidung pasangannya, atau mencintai tawa pasangannya, itu bukanlah argumen analitis ilmiah, tapi ekspresi pengakuan yang melampaui alasan-alasan dangkal.
Tidak adanya alasan logis tentang cinta bukan berarti cinta itu irasional. Itu justru menunjukkan bahwa cinta punya kedalamannya sendiri. Cinta punya realitas yang tidak terkungkung dalam daftar alasan-alasan yang kita buat.
Cinta, sebagaimana yang Murdoch bayangkan, adalah proses penemuan yang amat sulit dan menyakitkan, di mana kita menyadari bahwa ada sesuatu selain diri kita yang benar-benar nyata. Cinta menarik kita keluar dari cangkang egoisme, memaksa kita untuk mengalihkan pandangan dari cermin dan menatap orang lain secara seksama. Cinta bukan sekadar ketertarikan, tapi juga hasrat murni untuk belajar dan memahami orang lain lebih jauh.
Perhatian, adalah Perjuangan Tanpa Akhir
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa meruntuhkan ego kita dan benar-benar melihat orang lain apa adanya? Jawabannya ada pada satu kata kunci sederhana: “perhatian”. Murdoch meminjam konsep “perhatian” ini dari mistikus Prancis, Simone Weil. Perhatian di sini tidak berarti kita memelototi seseorang dengan konsentrasi penuh seolah lagi ujian. Sebaliknya, perhatian adalah sikap keterbukaan.
Akar kata dari perhatian mencakup makna “menjangkau” sekaligus “menunggu” (di sini Murdoch menggunakan kata Latin “at tendere”, yang merupakan asal kata “attention” dalam Bahasa Inggris). Jika kita mau memahami orang lain, kita wajib menunda segala penilaian dan prasangka kita, mengenyampingkan keinginan, dan kepentingan kita sendiri, lalu memberi ruang agar kebenaran tentang orang lain bisa muncul ke permukaan dengan sendirinya.
Tentu saja, perhatian bukanlah hal yang mudah kita lakukan. Sering kali perhatian adalah perjuangan tanpa akhir karena pikiran kita akan selalu mencari jalan pintas untuk kembali pada ilusi dan kenyamanan kita sendiri. Murdoch memberikan ilustrasi tentang bagaimana perhatian terjadi dalam keseharian kita melalui kisah tentang ibu mertua, sebut saja M, dan menantu perempuannya, D.
Sejak awal, M tidak menyukai D. Di mata M, D adalah perempuan udik, berisik, dan terlalu kekanak-kanakan. Namun, M adalah orang yang memegang teguh tata krama dan sopan santun. Ia tidak pernah menunjukkan kebenciannya. Sikapnya kepada D di ruang keluarga selalu manis, bertutur kata benar, dan sesuai dengan norma sosial. Di luar, hubungan mereka tampak harmonis. Tidak ada piring yang melayang, tidak ada pertengkaran hebat, dan tidak ada caci maki.
Membongkar Ilusi Palsu
Namun, seiring berjalannya waktu, M mulai merenung. Ia bertanya pada dirinya: apakah penilaianku tentang menantuku ini sudah objektif? Atau jangan-jangan, aku hanya cemburu karena anakku direbut, atau aku sedang terjebak pada pandangan kolot dan merasa sok suci?
M kemudian mengambil keputusan yang radikal. Ia memutuskan untuk mempraktikkan “perhatian”. Ia menunda semua sentimen negatifnya, menyingkirkan ego keibuannya, dan mulai menatap D dengan pandangan yang adil dan penuh kasih. Ia berusaha melihat D bukan sebagai ancaman bagi egonya, melainkan sebagai individu yang merdeka dan bernapas di dunianya sendiri.
Di luar, proses “perhatian” ini tidak mengubah apa pun. D tetap menjadi perempuan yang sama dan melakukan hal-hal yang sama seperti sebelumnya. M pun tetap bersikap sama sopan dan formalnya seperti biasa. Tetapi, ada perubahan moral yang terjadi secara diam-diam di dalam benak M.
Setelah memberikan perhatian yang jernih dan membersihkan kacamata batinnya dari prasangka, penilaian M terhadap D pun berubah drastis. Apa yang dulu ia anggap sebagai “udik” dan “berisik”, perlahan ia pahami sebagai “spontanitas”. Sifat “kekanak-kanakan” yang dulu membuatnya muak, kini tampak sebagai “kegembiraan jiwa muda yang tulus dan tidak dibuat-buat”. D tidak berubah, tetapi M lah yang berhasil membongkar ilusi palsu yang ia ciptakan sendiri dan akhirnya melihat D apa adanya.
Mengubah Cara Kita Memandang Orang Lain
Kisah M dan D di atas membuktikan bahwa aktivitas moral tidak muluk tentang aksi amal yang besar atau tindakan kepahlawanan yang bisa diliput media. Sering kali, pekerjaan moral yang paling berat, paling melelahkan, dan paling mulia justru terjadi di dalam keheningan batin kita sendiri.
Mengubah cara kita memandang orang lain—dari tatapan yang penuh prasangka dan penghakiman menjadi tatapan yang adil dan berlandaskan cinta—adalah pencapaian tertinggi dari moralitas manusia. Kita tidak bisa sekadar menggunakan kata-kata moral yang abstrak seperti “baik” atau “buruk” untuk menilai orang; kita butuh bahasa yang kaya dan manusiawi untuk benar-benar memahami kedalaman seseorang.
Tentu saja, mempraktikkan hal ini di tengah masyarakat modern adalah hal yang berat. Kita memiliki kecenderungan bawaan untuk melarikan diri dari kenyataan yang ruwet dengan membangun stereotip-stereotip yang menyederhanakan segalanya.
Menghadapi manusia lain dengan apa adanya itu butuh energi yang tidak sedikit, sehingga kita lebih suka bersembunyi di balik ekspektasi sosial atau sibuk mencampuri dan mengkritik kehidupan orang lain dari kejauhan tanpa pernah mau repot-repot memahami luka dan cerita mereka. Kita tumbuh menjadi masyarakat yang lebih pandai menegur dan mempermalukan orang lain, alih-alih mencoba mengerti dalam diam.
Iris Murdoch mengingatkan bahwa memahami orang lain bukanlah keterampilan yang bisa dikuasai dalam waktu semalam, tetapi ikhtiar yang perlu kita lakukan seumur hidup. Ia menuntut kita untuk menelan gengsi kita, meruntuhkan tembok fantasi-fantasi egois yang selama ini menghalangi pandangan kita, dan memperhatikan segala sesuatu sebagai kerja batin yang tak kenal lelah.
Cinta, oleh karena itu, bukan sekadar debaran di dada atau deretan alasan-alasan yang memuaskan akal budi. Cinta adalah kerendahan hati yang mengakui bahwa dunia ini tidak hanya berputar di sekitar kita saja, dan bahwa setiap orang di sekitar kita punya hak untuk dilihat secara utuh, dipahami, dan diterima apa adanya. []










































