Mubadalah.id– Lagi ramai topik obrolan In This Economy akhir-akhir ini, jadi ingat Kalimat yang saya tulis secara spontan di Threads beberapa waktu lalu. “Mau ngumpulin perempuan ambis yang udah kerja tapi masih kepikiran kerja apa lagi ya?”
Awalnya, saya hanya ingin bercanda dengan sesama perempuan yang sering merasa belum cukup produktif meski sudah memiliki pekerjaan tetap. Saya membayangkan respons yang muncul akan berupa candaan ringan tentang perempuan yang sulit diam dan selalu mencari kesibukan baru.
Yang terjadi justru di luar dugaan. Ribuan orang melihat unggahan tersebut dan puluhan perempuan membagikan kisah mereka. Semakin banyak komentar yang saya baca, semakin saya menyadari bahwa yang berkumpul di kolom komentar bukan sekadar perempuan-perempuan “ambis”. Mereka adalah perempuan yang sedang berjuang menciptakan rasa aman di tengah kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti.
Semakin banyak komentar yang saya baca, semakin saya sadar bahwa yang berkumpul di sana bukan sekadar perempuan-perempuan ambisius. Mereka adalah perempuan yang sedang berusaha menciptakan rasa aman di tengah situasi ekonomi yang semakin tidak pasti.
“Kerja Apa Lagi Ya?”: Bahasa Baru Kecemasan Ekonomi
Kalimat “kerja apa lagi ya?” muncul berulang kali dalam berbagai bentuk. Ada yang bekerja di kantor pada siang hari lalu mengerjakan proyek freelance pada malam hari. Memiliki usaha kecil setelah pulang kerja. Bahkan masih terus mencari peluang tambahan meski jadwal hariannya sudah sangat padat.
Salah satu komentar menuliskan, “Kerja kantor 9 sampai 5, punya bisnis nail art setelah pulang kerja, weekend bantu jaga toko orang tua. Tapi masih kepikiran pengen jadi content creator atau jualan sesuatu lagi.”
Ada yang bekerja sebagai pengajar di sekolah penuh waktu, lalu melanjutkan mengajar privat pada sore hingga malam hari. Ada yang berjualan produk digital, menerima pekerjaan lepas, hingga tetap mencari peluang usaha baru. Seorang perempuan menulis, “Sekarang kepikiran mau jualan apa lagi ya.”
Jika dibaca sekilas, komentar semacam ini mungkin terdengar seperti cerita tentang ambisi. Namun, ketika puluhan perempuan menyampaikan pengalaman serupa, saya justru melihat sesuatu yang lain. Kecemasan ekonomi yang diam-diam menjadi pengalaman bersama.
Pertanyaan “kerja apa lagi ya?” bukan lagi sekadar keinginan untuk menambah penghasilan. In this economy kondisi tersebut menjadi cara banyak perempuan merespons ketidakpastian hidup. Di tengah harga kebutuhan yang terus meningkat, biaya pendidikan yang semakin mahal, dan masa depan yang terasa sulit diprediksi, satu pekerjaan sering kali tidak lagi memberikan rasa aman yang cukup.
Ketika Satu Penghasilan Tidak Lagi Memberikan Rasa Aman In This Economy
Selama bertahun-tahun, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa memiliki pekerjaan tetap adalah jalan menuju stabilitas hidup. Namun, realitas hari ini tampaknya tidak sesederhana itu. Banyak perempuan yang memiliki pekerjaan penuh waktu tetap merasa perlu membangun sumber penghasilan tambahan. Mereka tidak sedang mengejar gaya hidup mewah. Mereka sedang membangun bantalan pengaman bagi kehidupan mereka.
Seorang perempuan menulis, “Senin sampai Jumat WFO delapan jam. Sebelum berangkat dan setelah pulang kantor masih ngerjain task freelance. Weekend juga masih ngerjain task freelance.” Komentar ini memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam cara orang memandang pekerjaan. Jika dulu satu pekerjaan dianggap cukup untuk menopang hidup. In this economy, banyak orang merasa perlu memiliki beberapa pintu pemasukan sekaligus. Kehilangan satu pekerjaan tidak boleh berarti kehilangan seluruh sumber penghasilan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya tidak hanya terletak pada etos kerja individu. Ada kondisi ekonomi yang membuat banyak orang merasa harus terus bergerak dan mencari peluang baru agar tetap merasa aman.
Perempuan yang Tidak Pernah Benar-benar Selesai Bekerja
Namun, bagi perempuan, persoalan ini memiliki lapisan yang lebih kompleks. Ketika membicarakan pekerjaan, kita sering hanya menghitung pekerjaan yang menghasilkan uang. Padahal banyak perempuan juga menjalankan pekerjaan domestik yang tidak dibayar. Mereka bekerja di kantor, mengelola usaha sampingan, lalu tetap bertanggung jawab atas berbagai urusan rumah tangga.
Perempuan sering kali menghadapi beban berlapis: kerja profesional, kerja tambahan, dan kerja domestik sekaligus. Salah satu komentar yang paling membekas bagi saya datang dari seorang perempuan yang bekerja pada dua pekerjaan dengan zona waktu berbeda. Ia menulis, “Pernah dapat project deadline malam, itu mata rasanya sudah nggak ketolong.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian. Kelelahan. In this economy sering kali lingkungan menuntut kita untuk mengabaikan rasa lelah, dan terus produktif.
Di balik cerita tentang produktivitas dan kerja keras, ada tubuh yang lelah, waktu istirahat yang berkurang, serta ruang personal yang semakin sempit. Banyak perempuan tidak pernah benar-benar pulang dari pekerjaannya. Tubuh mereka mungkin sudah berada di rumah, tetapi pikiran dan tenaga mereka masih tersita untuk pekerjaan berikutnya.
Lagi-lagi In This Economy, Ambisi atau Strategi Bertahan Hidup?
Setelah membaca puluhan komentar dalam unggahan tersebut, saya mulai mempertanyakan kembali label “perempuan ambis” yang sering dilekatkan pada kebanyakan perempuan yang fokus mengembangkan kariernya.
Apakah mereka benar-benar sedang mengejar kesuksesan tanpa batas? Atau justru sedang beradaptasi dengan situasi ekonomi yang membuat satu sumber penghasilan terasa terlalu berisiko?
Mungkin yang kita lihat hari ini bukan sekadar budaya produktivitas yang berlebihan. Justru perempuan-perempuan yang berusaha bertahan dengan cara mereka sendiri. Mencari sumber pendapatan tambahan bukan karena ambisius, tetapi karena ingin memiliki kendali yang lebih besar atas masa depan dan diri mereka sendiri .
Memiliki lebih dari satu pekerjaan bukan selalu tentang ambisi. Ia adalah strategi bertahan hidup. Sebuah upaya untuk menciptakan rasa aman di tengah ketidakpastian yang terus membayangi. Sudah saatnya kita berhenti menghakimi perempuan yang memiliki banyak pekerjaan sebagai sosok yang terlalu ambisius. Sebaliknya, kita perlu bertanya: kondisi seperti apa yang membuat begitu banyak perempuan merasa satu pekerjaan saja belum cukup?
Sebab in this economy menjadi perempuan yang bisa hidup tenang hanya dengan satu sumber penghasilan bukan lagi sesuatu yang biasa. Bagi banyak orang, ia telah menjadi sebuah kemewahan. []












































