Mengapa narasi heroik tentang disabilitas justru mengaburkan kemanusiaan seseorang?
Mubadalah.id – Di media sosial, kita bisa menemukan banyak video yang menunjukkan seseorang dengan Disabilitas sedang berjalan pelan atau menggerakkan tubuhnya dengan penuh fokus. Setelah itu, muncul musik sendu atau teks dramatis seperti: “Kalau mereka saja bisa, masa kamu tidak bersyukur?” Atau: “Luar biasa! Meski dengan keadaan seperti itu, mereka tetap berprestasi!”
Sekilas, narasi semacam ini tampak penuh empati. Banyak orang menganggapnya sebagai penghargaan terhadap perjuangan. Namun ketika kita menelisik lebih dalam, kita menemukan sesuatu yang mengganjal: media sebenarnya sedang membangun jarak, bukan kedekatan.
Narasi itu mengangkat Disabilitas sebagai perbedaan yang perlu kita kagumi dari jauh, bukan kehadiran manusia yang bisa kita dekati secara setara. Bukankah demikian?
Narasi yang Kelihatannya Manis, tetapi Menjauhkan
Media menggunakan bahasa motivasi untuk memaknai tubuh penyandang Disabilitas. Mereka menonjolkan hal tersebut sebagai titik lemah yang berhasil mereka lampaui. Secara tidak sadar, narasi ini menempatkan tubuh mereka sebagai hambatan, bukan sebagai bentuk keberadaan yang valid.
Sebaliknya, kita tidak pernah melihat pemberitaan seperti: “Pria nondisabilitas tetap berprestasi meski sering overthinking.” Atau: “Perempuan tanpa Disabilitas tetap hebat meski malas olahraga.”
Jadi, mengapa media memperlakukan penyandang Disabilitas dengan standar berbeda?
Jawabannya: karena media membingkai mereka sebagai proyek inspirasi, bukan sebagai manusia yang menjalani hidup seperti siapa pun.
Ketika media memuji seseorang karena Disabilitasnya, media sebenarnya berkata:
“Kamu tidak sama. Kamu layak dipuji hanya jika kamu melewati batasanmu.” Iya, gak sih?
Dan, narasi ini akhirnya menciptakan jarak sosial. Penyandang Disabilitas merasa ditonton, bukan ditemani. Mereka merasa diposisikan sebagai fenomena, bukan sebagai sesama manusia. Miris, bukan?
Ketika Disabilitas Dijadikan Bahan Bersyukur
Tren media lain yang semakin marak yaitu menjadikan Disabilitas sebagai alat untuk membuat orang lain “lebih bersyukur”.
Captionnya selalu bernada serupa:
“Lihat mereka! Mereka tetap semangat! Jangan mengeluh!”
Pada permukaan, lagi-lagi kata seperti itu terdengar positif. Namun jika kita melihat konteksnya, sebenarnya media sedang memanfaatkan kerentanan seseorang untuk menciptakan ilusi moralitas. Tubuh penyandang Disabilitas berubah menjadi alat perbandingan, bukan subjek penuh martabat.
Akibatnya, penyandang Disabilitas merasa mereka hanya layak divalidasi ketika tubuh mereka bisa menggerakkan emosi orang lain. Narasi “pengingat syukur” ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga mereduksi manusia menjadi simbol.
Di banyak platform, media mengemas kisah Disabilitas dengan formula yang selalu sama:
Dramatisasi.
Musik melankolis.
Fokus pada gerakan tubuh.
Editing yang menonjolkan “keterbatasan”.
Sudut pengambilan gambar yang menciptakan kesan perjuangan.
Akhirnya, Disabilitas menjadi spektakel, bukan kenyataan hidup yang beragam dan wajar.
Media jarang bertanya:
“Apa kebutuhanmu?”
Atau: “Bagaimana cara kita menciptakan ruang yang lebih ramah?”
Sebaliknya, media bertanya:
“Bagaimana kita membuat ini terlihat mengharukan?”
Maka, tidak heran jika masyarakat memandang Disabilitas dari kejauhan. Media mengajari kita untuk menonton, bukan memahami. Untuk mengasihani, bukan berelasi. Untuk mengagumi, bukan menyapa.
Al-Qur’an Mengajarkan Martabat, Bukan Heroisme
Padahal dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan manusia dengan firman:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Perhatikan: ayat ini tidak membedakan tubuh cepat atau lambat, tubuh kuat atau rentan, tubuh yang sesuai standar atau tubuh yang keluar dari standar.
Media sering menampilkan kemuliaan sebagai hasil prestasi, padahal Allah memberikan kemuliaan sebagai fakta penciptaan. Jika media terus mengangkat Disabilitas dalam bingkai “keterbatasan yang harus ditaklukkan”, maka media sebenarnya mengabaikan pesan ayat tersebut. Mereka merayakan pencapaian, tetapi mereka gagal memuliakan manusia.
Ketika Prestasi Menjadi Syarat Validasi
Media hanya menyorot penyandang Disabilitas ketika mereka memiliki pencapaian: juara, bekerja di tempat elit, menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun ketika mereka memilih hidup biasa, media tidak tertarik.
Dengan pola itu, media mengirim pesan yang menyakitkan:
“Kamu berharga hanya ketika kamu luar biasa.”
Padahal seseorang dengan Disabilitas juga berhak biasa:
Santai itu hakmu.
Kegagalan pun wajar kau alami.
Istirahat selalu layak kau dapatkan.
Hal-hal kecil boleh kamu rayakan.
Menjadi manusia tanpa tuntutan heroik adalah ruang yang pantas untukmu.
Keragaman manusia, termasuk Disabilitas, tidak lahir sebagai pengecualian. Keragaman itu hadir sebagai keniscayaan ciptaan Tuhan.
Memindahkan Lensa: Dari Inspirasi ke Relasi
Dalam semangat itulah, Mubadalah mengingatkan kita tentang pentingnya membangun relasi yang saling memuliakan. Relasi yang lahir dari cara pandang yang lebih adil dan manusiawi. Karena itu, kita perlu mengubah cara melihat satu sama lain. Misalnya:
Ucapan “kamu hebat meski Disabilitas” berubah menjadi pengakuan bahwa kamu adalah manusia yang bernilai.
Kalimat “Disabilitas membuatmu kuat” berganti menjadi pemahaman bahwa kerentananmu pun sepenuhnya sah.
Pujian “prestasi kamu luar biasa karena Disabilitas” diganti dengan penghargaan atas usaha dan ketekunanmu sendiri.
Pernyataan “kami mengangkat kisahmu” bergeser menjadi hadir bersama sebagai sesama manusia.
Karena ketika lensa kita berubah, sikap kita ikut berubah. Kita mulai hadir dengan cara yang lebih adil, lebih lembut, dan lebih manusiawi.
Pertanyaan yang Media dan Kita Perlu Renungkan
Di titik inilah kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah kita benar-benar ingin membangun dunia yang inklusif? Ataukah kita hanya ingin merasa baik dengan memuji seseorang tanpa memahami konteks hidupnya?
Jika media terus membingkai Disabilitas sebagai bahan inspirasi, dunia tak akan pernah benar-benar setara. Kesetaraan tumbuh ketika penyandang Disabilitas kita izinkan menjalani hidup tanpa tuntutan heroisme. Ketika pemberitaan berhenti menciptakan jarak antar manusia. Saat setiap orang berani meninggalkan label yang membatasi. Dan pada akhirnya, ketika penghargaan diberikan kepada dirinya sebagai manusia, bukan semata pada keberhasilannya.
Sebab, hidup yang Tuhan titipkan pada dunia ini memang hadir dalam banyak rupa. Dan ketika kita sungguh-sungguh menerima keberagaman itu, jarak perlahan runtuh, tergantikan oleh relasi yang membuat kita saling melihat sebagai sesama. []










































