Mubadalah.id – Koreng atau luka menganga pada kulit dapat terjadi akibat kecelakaan, misalnya karena teriris, tersobek, atau penyebab lain yang membuat kulit terbuka. Koreng terbentuk apabila luka tidak kunjung sembuh dan mengalami infeksi.
Koreng juga dapat muncul akibat infeksi bakteri atau karena kulit terus-menerus mengalami gesekan maupun tekanan. Misalnya, terlalu lama berbaring telentang sehingga menyebabkan luka pada punggung atau bokong.
Setiap kali terjadi luka, terutama pada orang yang hidup dengan AIDS, segera lakukan perawatan dan usahakan agar luka tidak kotor, tidak lembap, serta tidak terus mengalami gesekan agar tidak semakin parah atau mengalami infeksi.
Cara Perawatan Secara Umum
Pertama, bersihkan luka menggunakan air bersih dan sabun sedikitnya satu kali sehari. Bersihkan terlebih dahulu bagian kulit di sekitar luka, kemudian lanjutkan dari bagian tengah luka ke arah tepinya. Apabila memungkinkan, gunakan kain yang berbeda untuk setiap kali mengusap luka.
Kedua, apabila luka mengeluarkan nanah atau darah, balut luka menggunakan perban yang tidak terlalu kencang dan gantilah setiap hari.
Namun, apabila luka sudah kering dan tidak lagi mengeluarkan darah maupun nanah, sebaiknya tidak perlu dibalut agar terkena udara dan sinar matahari sehingga proses penyembuhan lebih cepat.
Ketiga, apabila luka berada di kaki atau betis, usahakan posisi kaki lebih tinggi daripada jantung sesering mungkin pada siang hari.
Saat tidur malam, sangga kaki agar tetap berada lebih tinggi daripada jantung. Hindari berdiri atau duduk terlalu lama. Berjalan kaki secara ringan justru lebih baik untuk membantu proses penyembuhan.
Keempat, perban (bukan kapasnya) atau kain pembalut dapat dicuci menggunakan air bersih dan sabun, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari.
Apabila perlu, rebus terlebih dahulu sebelum Anda jemur. Jika sudah tidak akan Anda gunakan lagi atau terlalu kotor, kubur atau bakar perban tersebut. Jangan membuangnya ke tempat sampah terbuka maupun ke dalam jamban. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 396.





































