Sabtu, 25 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

Ada falsafah Jawa yang menjadi napas Wayang Limbah Ki Samidjan. Memayu Hayuning Bawana, Memperindah sekaligus merawat kehidupan dunia.

Yumira by Yumira
25 Juli 2026
in Disabilitas
A A
0
Wayang

Wayang

3
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id-Karya seni wayang selama ini sering kita maknai sebagai sebuah warisan budaya. Ia dipentaskan untuk menjaga sebuah tradisi, lalu kita peringati setiap kali muncul kekhawatiran bahwa generasi muda mulai meninggalkannya. Kita sering bertanya bagaimana cara menyelamatkan wayang, namun jarang untuk bertanya : “Kepada siapa sebenarnya wayang tersebut tertuju?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kebudayaan selalu hidup di tengah-tengah kehidupan manusia beserta segala persoalannya. Seni yang hanya sibuk merawat masa lalu, namun tetap diam terhadap ketidakadilan hari ini, lambat laun akan kehilangan daya hidupnya. Ia mungkin masih tetap indah untuk kita tonton, namun telah mati menjadi bahasa yang mampu menyentuh realitas.

Kisah Kus Sri Antoro menawarkan cara pandang yang cukup berbeda menanggapi hal tersebut. Bersama komunitas Wayang Limbah Ki Samidjan yang dirintis ayahnya, ia tidak sekadar membuat wayang dari plastik bekas maupun limbah rumah tangga.

Yang jauh lebih penting saat ini adalah bagaimana wayang yang terbuat dari limbah plastik tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita yang selama ini nyaris tak mendapatkan tempat di panggung kebudayaan. Penyandang disabilitas, kelompok rentan dan minoritas, hingga mereka yang tersisih oleh sistem sosial.

Ketika Wayang Berhenti Menjadi Nostalgia

Sering kali pelestarian budaya kita maknai hanya sebatas untuk menjaga bentuk. Wayang harus tetap seperti dahulu, cerita harus tetap sama, tokohnya tidak boleh berubah. Seolah-olah perubahan merupakan ancaman bagi sebuah tradisi. Padahal sejarah menunjukkan realitas yang berbeda.

Wayang sendiri lahir melalui proses yang sangat panjang terhadap dialog budaya. Ia terus beradaptasi mengikuti zamannya. Para dalang sejak dahulu juga menggunakan pertunjukan budaya wayang untuk menyampaikan kritik sosial, sindiran, politik, hingga persoalan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan justru merupakan bagian dari tradisi itu sendiri.

Karena itu Kus menghadirkan kisah seorang anak difabel melalui dongeng Jelungan, ia sebenarnya sedang mengembalikan wayang kepada fungsinya dahulu, yaitu menjadi media yang dapat berbicara tentang hakikat manusia. Yang ia ubah bukan ruhnya, namun objek kepeduliannya.

Membawa Mereka yang Selama Ini Berada di Pinggir

Ada satu kecenderungan yang patut untuk kita kritisi dalam banyak karya seni maupun narasi keagamaan. Kelompok rentan sering hadir hanya sebagai objek belas kasihan. Mereka diceritakan agar orang lain merasa iba, bukan agar masyarakat mempertanyakan mengapa ketidakadilan itu terus langgeng berkuasa.

Padahal persoalan penyandang disabilitas bukan semata tentang keterbatasan fisik. Hambatan terbesar mereka justru lahir dari lingkungan yang tidak menyediakan akses yang setara, seperti trotoar yang tidak ramah, bangunan publik yang sulit mereka akses, kesempatan bekerja yang terbatas, hingga cara pandang masyarakat yang masih menganggap mereka “Berbeda”. Sebagaimana Kus sampaikan, masalahnya bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena kesempatan yang kita berikan belum benar-benar setara.

Dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisik maupun kemampuan yang dimilikinya. Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap manusia mulia sebagai ciptaan Allah (Q.S. Al-Isra’:70), sementara perbedaan kondisi tubuh merupakan bagian dari keragaman penciptaan, bukan alasan untuk mengurangi martabat seseorang.

Karena itu, persoalan disabilitas tidak semestinya kita pandang sebagai kekurangan yang harus kita kasihani, melainkan sebagai pengingat bahwa masyarakatlah yang berkewajiban menciptakan ruang hidup yang adil bagi semua orang.

Mubadalah Sebagai Kacamata Kajian

Melihat hal itu, Mubadalah hadir sebagai salah satu kacamata perspektif. ia mengajarkan bahwa relasi antar manusia terbangun atas prinsip kesalingan, yakni saling memuliakan, saling menguatkan, dan saling memastikan tidak ada satu pihak pun yang tertinggal.

Cara pandang ini menggeser fokus dari memberi belas kasihan kepada penyandang disabilitas menuju tanggung jawab bersama untuk menghapus berbagai hambatan yang menghalangi mereka menjalankan hak-haknya sebagai warga negara maupun sebagai sesama hamba Allah. Dengan demikian, inklusi bukan lagi kita pahami sebagai kemurahan hati kelompok mayoritas, melainkan sebagai bentuk nyata dari keadilan yang menjadi tujuan ajaran Islam.

Perspektif inilah yang terasa dekat dengan semangat Mubadalah. Ketidakadilan tidak lahir dari identitas seseorang, namun dari relasi sosial yang membuat sebagian orang lebih mudah memperoleh hak daripada yang lain. Karena itulah, membela kelompok marjinal bukan tindakan belas kasihan. Ia adalah ikhtiar menghadirkan keadilan.

Seni yang Memilih Berdiri Bersama yang Rentan

Keberanian Kus tidak berhenti pada isu disabilitas. Pada tahun 2020, ia bersama Samidjan juga pernah memainkan wayang di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Yogyakarta. Lakonnya mengangkat kesulitan seorang kelompok rentan dalam memperoleh dokumen kependudukan yang kemudian berdampak pada akses pekerjaan, layanan kesehatan, hingga hak politik. Tentu tidak semua orang akan sepakat dengan pemilihan tema tersebut. Namun, justru hal tersebutlah fungsi seni dapat teruji.

Seni bukan hanya untuk hiburan mereka yang sudah sepakat dengan kita. Seni juga mengundang masyarakat untuk melihat manusia yang selama ini sengaja kita abaikan. Ia menggeser fokus dari label menuju ke pengalaman hidup manusia. Dalam banyak kesempatan, kita terlalu cepat untuk mendebat identitas seseorang sebelum sempat mendengar penderitaan mereka.

Kebudayaan Yang Berpihak

Ada falsafah Jawa yang menjadi napas Wayang Limbah Ki Samidjan. Memayu Hayuning Bawana, Memperindah sekaligus merawat kehidupan dunia. Falsafah tersebut diterjemahkan bukan hanya melalui penggunaan limbah sebagai bahan wayang, namun juga melalui keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan secara bersamaan. Barangkali hal tersebutlah pelajaran dapat kita petik. Bahwa kebudayaan itu tidak cukup hanya sekadar kita lestarikan.

Ia harus terus kita pertanyakan, Apakah masih menghadirkan kemaslahatan?, Apakah masih membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak terdengar?, Ataukah justru ikut membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak terdengar?, Ataukah justru ikut mempertahankan batas-batas yang membuat sebagian orang tetap berada di pinggiran?.

Tradisi yang sehat bukan tradisi yang membeku. Ia adalah tradisi yang terus bertumbuh bersama persoalan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Mungkin, cara terbaik menjaga wayang bukan dengan menyimpannya di museum atau sekadar merayakannya sebagai warisan budaya. Melainkan dengan membiarkannya terus berbicara tentang manusia, tentang keadilan, dan tentang mereka yang selama ini belum pernah kita beri kesempatan menjadi tokoh utama dalam cerita kita. []

Tags: BudayaHak Penyandang DisabilitasIndonesia InklusiseniTradisiWayang
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

Yumira

Yumira

Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya. Semoga

Related Posts

Islam Kita
Personal

Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

22 Juli 2026
Anak dengan Down Syndrome
Disabilitas

Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

21 Juli 2026
Humor Disabilitas
Disabilitas

Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

20 Juli 2026
Hukum Adat Bali
Publik

Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

16 Juli 2026
Krisis Pangan
Disabilitas

Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

15 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama
  • Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?
  • Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga
  • Belajar Empati dari Perkemahan di SLB
  • Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0