“Semoga setiap ibu diberikan umur panjang untuk dapat menjadi saksi prestasi dan menikmati kesuksesan anaknya.”
Mubadalah.id – Begitu komentar Sheila Ebana ketika ditanya mengenai kesuksesan yang diraih oleh sang putra, Lamine Yamal. Seorang pesepak bola muda berusia 19 tahun yang membela timnas Spanyol.
Sheila Ebana dan Fatima: Fondasi Awal Lamine Yamal
Refleksi Sheila bukan tanpa alasan. Ia melahirkan Lamine Yamal di usia 16 tahun, dan tiga tahun kemudian berpisah dengan ayah Yamal. Sejak itu, ia harus bekerja keras membiayai hidup sebagai single mother. Dalam perjalanan membesarkan Yamal, Sheila bahkan rela berpindah cabang restoran fastfood tempatnya bekerja agar dapat menyesuaikan jadwal latihan sepak bola sang anak.
Bersama sang mertua, Fatima, ia bergantian mengasuh Yamal kecil agar tak kekurangan kasih sayang. Sebelum Yamal masuk akademi La Masia, sang nenek sering mengantarnya berjalan kaki atau naik transportasi umum untuk berlatih sepak bola di lapangan lokal.
Di lingkungan Rocafonda Mataro yang tergolong sebagai lingkungan pekerja keras dan memiliki tantangan sosial tersendiri, Fatima memastikan Yamal tetap berada di jalur yang benar. Ia menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan memastikan cucunya tetap rendah hati serta fokus pada sekolah dan sepak bola.
Kini, dengan penghasilan besar yang Yamal miliki, seluruh anggota keluarganya dapat hidup berkecukupan termasuk sang nenek. Yamal bahkan menawari Fatima rumah baru di kawasan elit Spanyol. Namun sang nenek menolak dan lebih memilih untuk tetap tinggal di area yang sama. Hingga akhirnya Yamal mengalah dan membelikan rumah di area tersebut agar sang nenek tetap nyaman berada di lingkungan yang sudah akrab baginya.
Nenek Celia dan Mama Maria: Mata Pertama yang Melihat Bakat Messi
Tak hanya Lamine Yamal yang memiliki sosok perempuan luar biasa di belakang kariernya. Lionel Messi, pesepak bola senior timnas Argentina, juga punya kisah menyentuh bersama nenek dan ibunya.
Jika Yamal punya Nenek Fatima, Messi punya Celia Olivera Cuccittini. Nenek dari pihak ibu, yang bisa kita bilang sebagai pendeteksi awal bakat sang cucu sekaligus orang pertama yang memperjuangkannya di lapangan hijau.
Ketika Messi baru berusia sekitar empat tahun, ia sering ikut menonton kakak-kakaknya bermain di klub lokal bernama Grandoli. Di sanalah Nenek Celia pertama kali menyadari bakat besar sang cucu. Ia bahkan sempat memaksa pelatih untuk memasukkan Messi ke dalam tim ketika kekurangan satu pemain. Pelatih semula menolak karena tubuh Messi terhitung pendek, tetapi Nenek Celia bersikeras. “Mainkan dia, kamu akan lihat seberapa bagus dia.” Pelatih akhirnya mengalah—dan Messi langsung mencetak dua gol.
Selain dukungan moril, Nenek Celia juga tak segan mengumpulkan uang untuk membelikan sepatu baru bagi sang cucu. Meski ia sendiri hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Demi kesuksesan Messi, ia merelakan uangnya agar sang cucu leluasa bermain sepak bola.
Gol Ini Untukmu, Nenek
Sayangnya, Nenek Celia meninggal dunia pada 1998 karena penyakit Alzheimer. Tepat ketika Messi berusia 11 tahun—sebelum ia pindah ke Barcelona. Kehilangan ini sangat memukul Messi kecil. Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, setiap kali mencetak gol, Messi melakukan selebrasi ikonik. Mendongak ke atas sambil mengarahkan kedua jari telunjuknya ke langit. Itulah caranya berkata, “Gol ini untukmu, Nenek.”
Tak hanya sang nenek yang meletakkan fondasi besar bagi Messi. Ibunya, Celia María Cuccittini, adalah sosok jangkar emosional dan pelindung utama di balik layar sepanjang hidup dan karier sang anak. Jika sang nenek adalah orang yang mendorong Messi ke lapangan, sang ibulah yang memastikan ia tetap bertahan, selamat, dan membumi di tengah badai kehidupan.
Ketika Messi terdiagnosis mengalami kekurangan hormon pertumbuhan (growth hormone deficiency) pada usia 11 tahun, sang ibu adalah sosok paling telaten merawatnya. Terapi tersebut mengharuskan Messi disuntik di bagian kaki setiap malam selama bertahun-tahun. Meski biayanya mencekik keuangan keluarga saat itu, Maria memastikan pengobatan berjalan disiplin.
Kini, setelah Messi menjadi bintang sepak bola dunia yang berkecukupan harta, Maria membantunya mendirikan yayasan amal bernama Leo Messi Foundation—yang berfokus pada kesehatan dan pendidikan anak-anak rentan di seluruh dunia.
Melalui peran aktif sang ibu, Messi bisa menyalurkan berkatnya untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan medis seperti yang pernah ia rasakan. Sebagai bentuk terima kasih, Messi bahkan membuat tato wajah ibunya di bahu kiri—simbol bahwa ke mana pun ia melangkah di lapangan hijau, sang ibu akan selalu menemani dan melindunginya.
Ketika Jasa Perempuan di Balik Layar Terabaikan
Melihat jasa besar perempuan di balik karier sukses Lamine Yamal dan Lionel Messi, seharusnya kita merenungkan betapa besar peran mereka. Sayangnya, sosok-sosok ini sering tak tersorot, kalah gemerlap daripada gocekan sang bintang sepak bola dunia di lapangan hijau.
Pemberitaan tentang perempuan di sekeliling pesepak bola dunia pun kerap hanya menyoroti sisi penampilan luar sebagai produk logika kapitalisme—kecantikan, gaya busana, atau barang yang mereka kenakan. Semakin menarik secara fisik, semakin besar pula nilai jualnya bagi media, sponsor, dan industri fesyen. Jarang sekali media menyoroti bagaimana perempuan-perempuan ini memberikan dukungan moril hingga finansial, yang membuat pasangan atau anggota keluarganya semakin bersinar dalam kariernya.
Pada akhirnya, kesenjangan ini menunjukkan bagaimana logika kapitalisme media bekerja. Ia lebih tertarik menjual kemolekan fisik instan yang mudah dipasarkan, ketimbang mengangkat kerja keras dan pengorbanan panjang yang tak terekam kamera. Jasa besar para perempuan seperti Sheila, Fatima, Celia, dan Maria pun akhirnya tenggelam, bukan karena kontribusinya lebih kecil, melainkan karena kontribusi itu tidak “laku” dijual dalam industri hiburan yang mengutamakan citra visual.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita, sebagai pembaca dan penikmat sepak bola, tidak hanya terpukau pada gemerlap yang tampak di permukaan. Di balik setiap gol yang dirayakan dan setiap trofi yang diarak, ada perempuan-perempuan yang berjuang dalam diam jauh sebelum panggung besar itu tergelar. Menghargai mereka bukan sekadar soal keadilan gender. Akan tetapi cara kita mengingat bahwa kesuksesan sejati selalu punya akar yang panjang dan sering kali tak terlihat. []








































