Mubadalah.id – Saya menyadari bahwa ada jenis cinta yang tidak lahir dari perjumpaan, tidak tumbuh dari percakapan, dan tidak terpelihara oleh kebersamaan sehari-hari. Kedengarannya cukup aneh. Tapi itu muncul dari cerita-cerita yang terwariskan, dari akhlak yang terus kita kenang, dari nama yang berulang kali disebut bahkan bisa menjelma menjadi bagian dari denyut batin seseorang.
Lagi-lagi cinta seperti ini mungkin terdengar ganjil bagi manusia yang terbiasa mengukur kedekatan dengan intensitas tatap muka, frekuensi komunikasi, atau jumlah foto yang tersimpan di galeri ponsel. Namun sejarah manusia membuktikan bahwa tidak semua cinta membutuhkan kehadiran fisik untuk menjadi nyata.
Seorang perempuan dari Kordoba pernah menuliskan harapan sederhana tetapi mengagumkan:
لعلني أحظى بتقبيله … في جنة الفردوس أسنى مقيل
في ظل طوبى ساكنًا آمنا … أسقى بأكواس من السلسبيل
وأمسح القلب به عله … يسكن ما جاش به من غليل
فطالما استشفى بأطلال من … يهواه أهل الحب من كل جيل
“Barangkali kelak aku beroleh kemuliaan untuk menciumnya, di Firdaus, tempat singgah termulia bagi para penghuni surga. Di bawah rindangnya pohon Ṭūbā, dalam kedamaian yang tak tersentuh rasa takut, aku menikmati minuman dari cawan-cawan Salsabil. Kemudian kusentuhkan ia ke hatiku, semoga dengannya mereda segala gelora kerinduan yang telah lama berkecamuk. Sebab sejak dahulu, para pencinta dari setiap zaman selalu mencari obat bagi rindunya pada bekas-bekas peninggalan orang yang mereka cintai.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Nuzhat al-Julasa’ fi Asy’ar an-Nisa’, jil. 1, hlm. 29).
Nostalgia dan Cinta
Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham, beliau tidak memiliki kesempatan mencium sandal Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana sebagian orang saleh pada masa lampau. beliau hanya melihat gambar atau replika yang menggambarkan bentuk sandal tersebut. Tetapi ia tidak berhenti pada kenyataan bahwa dia terlambat lahir berabad-abad setelah Rasulullah wafat. Sejak di situlah beliau berharap suatu hari dapat mencium sandal itu di Surga Firdaus, di bawah naungan pohon Tuba, ketika seluruh rasa kehilangan telah tergantikan oleh perjumpaan yang abadi.
Barangkali juga, di situlah letak perbedaan antara nostalgia dan cinta. Nostalgia hanya sibuk meratapi apa yang tidak dimiliki, sedangkan cinta menemukan cara untuk tetap berharap meskipun peluang tampak mustahil. Nostalgia mengurung seseorang di masa lalu, sementara cinta menjadikan masa depan sebagai tempat pertemuan.
Kita hidup pada zaman yang aneh. Teknologi memungkinkan manusia melihat wajah orang lain dari ribuan kilometer jauhnya, mendengar suaranya dalam hitungan detik, bahkan mengetahui aktivitasnya hampir setiap saat. Tetapi pada saat yang sama, kedekatan emosional justru semakin langka. Orang-orang saling terhubung, tetapi tidak saling mengenal. Saling mengikuti, tetapi tidak saling memahami. Saling menyukai unggahan, tetapi enggan menemani ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.
Persoalannya (mungkin) bukan karena manusia kehilangan kemampuan mencintai, melainkan karena kita terlalu terbiasa mencintai sesuatu yang segera memberikan balasan. Seperti saya misalnya, ingin pesan dibalas cepat, perhatian dibayar dengan perhatian yang sama, pengorbanan diganti dengan penghargaan. Padahal sebagian bentuk cinta yang paling murni adalah tumbuh tanpa jaminan balasan langsung.
Mencintai Nabi
Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu contohnya. Jutaan manusia mengaku mencintainya, padahal tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung, tidak pernah berjalan berdampingan dengannya, dan tidak pernah melihat wajahnya. Umat seperti kita ini hanyalah mendengar riwayat-riwayat, kisah-kisah keteladanan, dan keyakinan bahwa manusia yang mereka cintai itu adalah sosok yang pernah menangis memikirkan umatnya jauh sebelum umat itu lahir ke dunia.
Karena itu, cinta semacam ini tidak kita buktikan dengan slogan atau simbol semata. Hanya dengan usaha untuk meneladani akhlaknya, menjaga kejujuran, tetap berbuat baik ketika kebencian terasa lebih mudah, serta memelihara kelembutan hati di tengah dunia yang semakin bising dan kasar. Cinta yang tulus selalu berusaha menyerupai yang dicintainya.
Perempuan Kordoba itu tampaknya memahami sesuatu yang sering luput dari perhatian bahwa manusia kadang membutuhkan tanda-tanda kecil untuk merawat kerinduan. Orang-orang menyimpan surat lama, sebagian lain menjaga foto keluarga yang telah wafat, dan sebagian lagi menziarahi tempat-tempat yang pernah dihuni orang-orang yang mereka cintai. Semua itu bukanlah pemujaan terhadap benda atau tempat, melainkan cara manusia mempertahankan ingatan agar kasih sayang tidak lekas pudar.
Jadi manusia tidak hanya hidup dari apa yang berhasil ia miliki. Manusia juga hidup dari apa yang ia harapkan. Dan mungkin, di antara harapan yang paling indah adalah berharap bertemu dengan orang-orang yang selama ini kita cintai tanpa pernah sempat menjumpainya. Sebab cinta sejati tidak selalu meminta untuk memiliki hari ini. Berdoa saja semoga kelak dipertemukan dalam keadaan tidak lagi terpisahkan oleh waktu, jarak, dan kematian. []











































