Mubadalah.id – Dewasa ini, penghabisan sumber daya alam kian membabibuta. Banyak hutan digunduli, pohon ditebang dengan melepaskan tanggung jawab setelahnya. Dalam hal ini, Sayyed Hussein Nasr menyebutnya sebagai krisis spiritual masyarakat modern. Ia menganggap bahwa alam merupakan takdir Tuhan yang patut kita jaga apalagi tugas manusia adalah khalifah di bumi. Sebagaimana manusia, alam juga bagian dari makhluk hidup yang setara.
Di samping itu, Sayyed Hussein Nasr juga berpandangan bahwa alam meruapakan ciptaan Tuhan yang sepatutnya terjaga dan kita hormati. Dengan ini, menjaga alam bisa kita katakan sebagai bentuk kesalehan dan peribadatan sebagaimana hubungan antara manusia dan Tuhan.
Sementara itu krisis spiritual masyarakat modern berdasarkan pada kerancuan pola pikir yang meliputi pemahaman teks dan konteksnya. Tak dapat kita pungkiri bahwa alam termasuk di dalamnya adalah bumi menawarkan keuntungan yang sangat menjanjikan. Tetapi ada yang manusia lupakan yakni dampak dari perampasan hak-hak alam tanpa mengembalikan ekosistemnya.
Hal ini disebabkan oleh degradasi moral dan spiritual masyarakat yang akhirnya mengarahkannya melakukan perampasan-perampasan yang membabibuta tersebut. Di samping kerusakan alam yang sengaja dipraktikkan sebagian manusia.
Meski demikian, saya tetap optimis setelah mengunjungi salah satu pesantren di pesisir. Tepatnya di Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka aktif membudidayakan mangrove dan menanamnya di laut. Agak kontradiktif, sebab tepat di belakang rumah pengasuh terdapat hamparan laut yang juga menjadi galian tambang aktif.
Jadi ketika kami sedang melakukan penanaman, di sana ada kelompok orang yang sedang melakukan penggalian. Tak hanya daerah pesantren di pesisir, melainkan ketika sedang di perjalanan kami melihat banyak proyek-proyek penggalian dan pengundulan hutan. Tempat yang ketika saya kunjungii 15 tahun lalu sudah berubah dari bukit padang ilalang menjadi proyek galian yang tidak semua berjalan sesuai rencana.
Budidaya Tanaman Mangrove
Saya melihat bahwa beberapa komunitas di sini melakukan kepedulian pada alam khususnya pada komunitas keagamaan (baca: pesantren). Kendati tidak memiliki banyak santri dengan bangunan yang sangat apa adanya, pengasuh atau pengelola pesantren di pesisir melakukan tugasnya dengan sangat baik. Sebagai manusia yang memiliki otoritas spiritual di tempatnya, ia melakukan pengembalian ekosistem kendati hampir mustahil. Sebab yang ia hadapi adalah akibat dari mega proyek yang memiliki akses di mana-mana.
Sasliansah selaku salah satu aktivis lingkungan setempat berargumen dengan optimis bahwa “jika mereka menebang membabibuta maka kami juga akan menanam membabibuta”, ucapnya pada kami kala hendak mengunjungi lokasi.
Sensitifitas terhadap alam memang tidak bisa dijual, tidak pula kita pelajari namun dilakukan atas ketulusan hati. Komunitas yang saya temui hadir dengan semangat ekologi tinggi, mereka menyediakan segala perlengkapan dengan mandiri, kemudian uang yang donatur berikan, mereka belanjakan bibit mangrove, lalu akan mereka kelola untuk pengembangan pesantren.
Dari aktivitas aktor-aktor agama di pesisir tersebut akhirnya menyadarkan bahwa kala carut marutnya fenomena kesalehan yang media suguhkan, ternyata masih ada kelompok-kelompok kecil yang melakukan kepedulian pada sesama, termasuk lingkungan. Ia menyuguhkan angin segar pada fenomena akitvis sosial kegamaan yang kadang menyesakkan dada.
Ia juga menyadarkan bahwa banyak hal kecil yang berdampak besar. Misal dengan membudidayakan pohon dan menanamnya. Kegiatan ini merupakan hal kecil yang dekat dengan mereka serta menjadi hal pokok yang bisa mereka lakukan.
Berdasarkan informasi, pengelola pesantren di pesisir adalah individu yang memiliki jiwa “dakwah” tinggi meski dengan fasilitas yang kurang memadai. Kendati aktif dalam bidang keagamaan, mereka sangat lihai dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan (baca: menanam dan membudidayakan tanamanan mangrove).
Menyelamatkan Bumi dan Laut
Jika menengok dampak positif dari menanam pohon mangorove, mereka sejatinya sudah menyelamatkan bumi termasuk laut dan ekosistem di dalamnya. Di mana, ia menyelamatkan dari abrasi, menjaga ekosistem laut, mitigasi perubahan iklim dan lainnya. Mereka layak untuk kita sematkan menjadi pahlawan lingkungan.
Kendati yang mereka lakukan adalah hal kecil dan tentu tidak memakan waktu yang lama, aktivitas ini sudah menyelamatkan bumi serta pengejawantahan dari teori-teori yang berada dalam diskusi akademik maupun non akademik dari penyelamatan lingkungan. Jika melihat pandangan Sayyed Hussein Nasr, aktivitas ini bisa kita katakan sebagai bentuk aktivitas spiritual dari upaya memandang bumi atau lingkungan sebagai makhluk Tuhan yang harus kita jaga.
Nyatanya, hubungan vertikal tak berhenti pada pujian-pujian kepada Sang Pencipta, tetapi merawat dan menganggap bahwa alam juga patut kita syukuri dengan menjaganya sebaik mungkin. Hubungan vertikal juga menyangkut tindakan horizontal yang menjadikannya harmoni, sebagaimana insan kamil yang memiliki keindahan hubungan dengan manusia, alam dan Pencipta. wallahu a’lam bishshawab. []












































