Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Jalan Tengah untuk Abah dan Azizah

Momen ini telah kutunggu bertahun-tahun. Momen ketika kerasnya hati kami berdua luluh karena kuatnya kasih sayang antara anak dan orang tua

Dewi Surani by Dewi Surani
8 Juni 2025
in Sastra
A A
0
Abah dan Azizah

Abah dan Azizah

31
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kereta Joglosemarkerto berhenti di Stasiun Gombong pukul sembilan lewat beberapa menit. Kuambil ranselku yang nangkring di bagasi atas. Kugendong ransel itu sembari menenteng satu paper bag berisi bakpia pesanan ibuku. ”Jangan lupa belikan bakpia isi kacang ijo yang merek Kenari,” pesannya. Di tengah gempuran berbagai penganan kekinian, bakpia original masih punya tempat di hati sebagian orang.

Di pintu keluar stasiun, sudah menunggu dua orang laki-laki berusia dua puluhan awal. Mereka memakai baju koko dan sarung batik, lengkap dengan peci hitam. Mereka tersenyum sambil menunduk menyambutku.

”Mangga, Ning Zizah. Mobilnya sudah siap. Kami bawakan barangnya,” kata salah satu di antara mereka.

”Panggil ’mbak’ saja,” sahutku. ”Bawaanku tidak banyak. Aku bisa bawa sendiri.”

”Tapi, Ning….” kata-katanya terhenti ketika aku langsung berjalan menuju parkiran.

Mobil Avanza hitam itu menyusuri jalan raya, kemudian berbelok ke jalan menuju pedesaan. Melewati jalan di antara persawahan dan bukit-bukit kecil. Hingga akhirnya masuk ke area kompleks pondok pesantren. Di depan sebuah rumah berlantai dua yang ukurannya cukup besar itu kami berhenti.

Di depan pintu, sudah ada Ibu yang menyambut kami. Perempuan usia enam puluh tahun tampak masih cantik dengan gamis batiknya. Segera kucium telapak tangan dan kupeluk tubuhnya.

Obrolan Meja Makan

”Jogja dan Gombong itu dekat lho,” kata Ibu sambil mengambil sayur.

Sebuah kalimat yang sederhana, tapi cukup untuk menghantamku pada kenyataan bahwa aku sangat jarang pulang. Kesibukanku dan keenggananku untuk memperdebatkan pilihan-pilihan hidupku dengan orang tuaku adalah dua hal utama yang membuat rumah terasa tak menarik untuk aku singgahi.

Kulirik jam di ruang makan, sudah hampir pukul 20.00. ”Abah ke mana kok jam segini belum pulang?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

”Sebentar lagi juga pulang. Ada walimah di Kutoarjo. Kiai Mahmud mantu anaknya yang bungsu, Gus Fattah yang dulu dijodohkan denganmu, tapi tidak jadi itu.”

”Oh,” kataku pendek. Sekali lagi ibuku mengingatkanku pada laki-laki bertampang manis, memasang citra religius, tapi perilakunya ternyata tak mencerminkan bahwa ia berilmu. Lima tahun lalu, ketika aku sedang melakukan wawancara dengan seorang PSK untuk penelitian skripsiku, kulihat dia check in di sebuah hotel. Dengan merangkul mesra seorang perempuan yang tentu bukan mahramnya.

Aku meradang. Kupikir dia lelaki baik yang punya potensi menjadi teman hidupku, imamku, dan ayah untuk anak-anak. Dia tertegun lama melihatku, seolah dunia berhenti. Kemudian dia tersadar ketika tamparanku mendarat di pipinya.

”Zizah….” katanya sambil mengejarku. ”Zizah, tolong jangan ceritakan ini pada orang tua kita. Aku takut kalau reputasi mereka….”

”Reputasi?” tanyaku. ”Masih peduli kamu dengan reputasi orang tuamu? Sementara waktu kamu melakukannya, kamu ingat apa? Tidak ingat bahwa itu dosa besar dan berisiko? Tidak takut menularkan penyakit kalau kita menikah?”

Abah dan Sikap Diamnya

Saat itu juga aku memutuskan bahwa perjodohan itu batal. Ketika aku menyampaikan masalah itu kepada orang tuaku dan orang tuanya, mereka cukup tercengang mendengar cerita itu, tetapi masih berupaya membujukku agar memaafkan Fattah, menutupinya, dan tetap melanjutkan perjodohan.

Kejadian itu menjadi awal buruknya hubunganku dengan Abah. Alih-alih membelaku, Abah justru diam dan membiarkan spekulasi di dalam tembok pesantren hingga ke kalangan koleganya bergulir dengan liar. Tak ada jalan tengah untuk Abah dan Azizah. ”Bagaimanapun Gus Fattah itu anaknya Kiai Mahmud, kiai yang Abah segani. Anak polah, bapa kepradah. Seperti apa nanti pandangan orang terhadap Kiai Mahmud dan pondoknya?”

”Assalamu’alaikum,” kata Abah sambil membuka pintu. ”Wa’alaikumsalam,” jawab Ibu sambil menyambutnya dan menerima satu tas kresek oleh-oleh. ”Tadi mampir pondoknya Kiai Sufyan. Dibawain peyek produksi santri.”

Abah melirikku sesaat, barangkali berharap aku akan mencium tangannya. Aku mengacuhkannya sambil terus mengunyah makanan.

”Mau makan, Bah? Ada pepes ikan mas dan sambel kecombrang kesukaan Abah,” kata Ibu. Abah menggeleng. ”Sudah kenyang, Bu. Minum teh saja.”

”Ehem….” Abah berdehem. Berusaha mencairkan suasana antara kami. ”Di rumah berapa hari?”

”Tiga,” jawabku singkat.

Abah meneguk sedikit tehnya dari gelas keramik, kemudian menutupnya kembali.

Pilihan yang Tak Sejalan Abah dan Azizah

”Abah dengar, kamu kerja di lembaga sosial yang banyak membantu perempuan untuk cerai dari suaminya.”

”Bukan membantu perempuan untuk cerai, Bah. Tapi membantu perempuan yang mengalami KDRT, pelecehan seksual, dan terpinggirkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menurut Abah, apakah membebaskan perempuan dari pasangan yang toksik itu bukanlah kebaikan? Sama halnya kita menyelamatkan satu nyawa, Bah,” kataku.

”Tapi kan berbuat kebaikan tidak harus dengan mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Agak ironis, ketika Abah sering kali memberikan ceramah nasihat perkawinan, tapi anaknya justru menyuruh orang-orang untuk bercerai. Carilah pekerjaan yang lebih baik, bukan yang seperti ini.”

Aku membanting sendok, kemudian berdiri. ”Adakah yang lebih penting bagi Abah selain reputasi?” Kudorong kursi makan dari kayu itu, kemudian beranjak ke kamarku.

”Kamu dan Abah itu sama kerasnya,” kata Ibu sambil membelai rambutku. ”Mungkin kepergian Huda ke Amerika belum cukup untuk memberinya kesadaran bahwa anak-anaknya sudah semakin jauh darinya.

”Mas Huda pernah menghubungi Ibu?”

”Pernah, tapi diam-diam, tanpa sepengetahuan Abah.”

”Ibu ada di pihak Mas Huda atau Abah?”

Ibu tersenyum, ”Ibu ada di tengah-tengah, menjadi jembatan antara kalian dan Abah.”

Hanifah, Teman Kecilku

”Bu, aku ke rumah Ipah ya,” pamitku kepada Ibu.

Ibu berhenti sejenak dari kegiatannya tadarus di sofa ruang tamu. ”Ipah sekarang tinggal di rumah suaminya. Agak jauh rumahnya. Diantar sopir saja ya.”

Aku menggeleng. ”Tidak usah, Bu. Aku terbiasa pergi sendiri. Pinjam motor ya, Bu.”

”Pakai saja. Kok pakai pinjam?”

”Kan itu punya Abah….”

Berbekal alamat yang diberikan oleh sepupuku yang bertetangga dengan orang tua Hanifah, aku menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan motor. Terbayang wajah Hanifah, gadis manis yang jadi kawanku semasa kecil. Keluarganya bukanlah keluarga santri, tetapi aku kerap mengajaknya bermain ke pondok.

Usai lulus SD, orang tuaku mengirimku mondok di Jawa Timur sehingga aku dan Hanifah jarang berjumpa. Hanya sesekali jika kebetulan aku pulang. Lama-kelamaan, komunikasi kami semakin sulit sampai satu saat aku mendengar bahwa Hanifah dinikahkan dengan seseorang yang namanya pun aku tak pernah dengar. Pernikahan itu terjadi di usianya yang baru 16 tahun.

Sampai di sebuah desa, aku bertanya kepada warga sekitar tentang lokasi rumah Hanifah. ”Masih lurus, Mbak. Nanti di perempatan belok kiri. Dari situ, lurus sampai rumah ketiga yang ada pohon kelapanya. Nah, di situ rumahnya,” kata seorang ibu.

Mengikuti arahan itu, motorku terhenti di depan sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu tampak tak terlalu terurus. Rumput-rumputnya tinggi, ada sampah daun berserakan, dan di terasnya banyak kotoran ayam.

Perjumpaan Kawan Lama

”Assalamu’alaikum,” kataku sambil mengucap salam dan mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan dengan kerudung bergo abu-abu membuka pintu sambil membalas salamku dengan agak terkejut. ”Wa’alaikum salam…. Masyaallaaaaah…Ning Zizah!”

Kami berdua berpelukan, layaknya dua sahabat yang melepas kerinduan setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Air mata haru pun menetes dari ujung mata kami. Acara lepas kangen itu harus berhenti ketika terdengar suara tangis bayi. ”Oeeeek…oeeeek….”

”Maaf, Ning. Anakku menangis. Masuk dulu. Maaf, rumahnya berantakan.”

Setelah melepas sepatuku, aku masuk ke rumah Hanifah. Di ruang tamu yang juga difungsikan untuk menonton televisi itu tergelar kasur. Seorang bayi tengah menangis menantikan uluran tangan dari ibunya.

”Ini anakku, Ning. Namanya Sofia. Kakaknya yang pertama SD kelas 4, yang kedua TK.”

Trenyuh sekali aku melihat Hanifah yang cekatan meraih anaknya, kemudian menenangkannya dengan memberinya ASI. Hanifah yang dulu jadi kembang desa, kini berubah menjadi kurus dan terlihat lebih tua dari usianya yang belum genap 30 tahun.

”Pah…jangan panggil ’ning’. Aku kan temanmu.”

”Tapi kan orang-orang….”

”Ini kan bukan di pondok,” kataku sambil mengusap kepala si bayi.

Beban yang Bertumpuk

”Zizah, kata orang-orang kamu sering mengurus perceraian ya?”

Dahiku mengernyit. Apa pasalnya Hanifah langsung bertanya seperti itu? Sungguh aku takut membayangkan terjadi sesuatu pada pernikahan Hanifah.

”Lebih tepatnya mendampingi perempuan yang mengalami ketidakadilan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Kenapa memangnya?”

Tak ada sepatah kata terucap dari mulut Hanifah, tetapi kedua matanya berbicara. Ada luka yang tersirat dalam tatapannya. Tidak lama kemudian, Hanifah menangis terisak-isak sambil memeluk bayinya.

”Ipah…ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?”

”Rasanya aku sudah tidak kuat, Zizah. Saat itu, aku terima saja dijodohkan dengan suamiku karena katanya dia laki-laki yang baik dan rajin bekerja. Waktu melahirkan yang pertama, aku harus caesar karena panggulku sempit. Suamiku dan keluarganya marah-marah karena mereka harus keluar banyak uang, padahal suamiku belum mapan.”

Aku menggenggam tangan Hanifah yang mungil itu. Mencoba menguatkannya ketika menceritakan nasibnya.

”Aku bingung Zizah. Di tengah banyaknya kebutuhan dan pendapatan yang tidak menentu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana bisa aku bekerja sambil mengurus tiga anak dan rumah? Terlebih lagi….”

Hanifah menyingkap lengan dasternya yang longgar. Alangkah terkejutnya aku melihat lengannya biru lebam, seperti bekas dipukul. ”Astagfirullah, Ipah…. Sering suamimu berbuat seperti ini?”

Hanifah mengangguk. ”Iya, terutama kalau aku menegurnya untuk tidak boros. Memintanya menyimpan uang itu untuk biaya sekolah anak-anak daripada untuk beli rokok atau nongkrong tidak jelas.”

Tiada yang bisa kukatakan untuk mengekspresikan rasa simpatiku kepada Hanifah. Hanifah yang dulu bermimpi menjadi guru, telah dipatahkan mimpinya di usia muda. Bahkan, mimpi untuk menjalani rumah tangga yang tenang pun rasanya sulit diwujudkan.

”Ipah…aku tahu bahwa posisimu sangat sulit. Bertahan atau pergi, sama sulitnya dan masalah ekonomi tentunya akan jadi pertimbangan penting.” Kuberikan kartu namaku kepada Hanifah. ”Mantapkan hatimu. Apa pun keputusanmu, aku siap membantumu. Kamu bisa menghubungi aku dan kantorku ya.”

Abah Percaya….

Malam itu meja makan tetap terasa dingin meski Ibu menghidangkan sup iga buatannya hangat-hangat. Cepat-cepat Ibu menghangatkannya selepas Abah pulang dari salat Magrib berjamaah, kemudian memanggilku yang tengah asyik membaca di kamar. Seperti biasa, Ibu mengambilkan nasi, sayur, sambal, dan segala keperluan Abah.

Meskipun perang dingin dengan Abah belum berakhir, Ibu tetap memintaku hadir di ruang makan. Kata Ibu, ”Akan lebih menyenangkan membicarakan masalah ketika perut kenyang dan kepala dingin.”

”Ada puding lumut. Abah mau?” tanya Ibu. “Iya, boleh.” ”Zizah mau juga?” Aku menggeleng.

”Ehem….” Abah berdehem. Jika Abah sudah melakukannya, artinya akan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. ”Balik ke Jogja kapan?”

”Besok,” jawabku singkat.

”Bisa ditunda dulu?” tanya Abah.

Aku mengernyitkan dahi, ”Untuk?”

”Beberapa waktu lalu, Abah diskusi dengan ustaz dan ustazah muda. Kata mereka, akhir-akhir ini banyak sekali kasus pelecehan seksual di pesantren. Sepertinya penting membekali santri dengan pengetahuan dasar untuk melindungi diri.”

”Hubungannya dengan Zizah?”

”Kamu kan sering berkegiatan di bidang ini. Mungkin bisa memberikan pelatihan untuk para santri.”

”Memangnya Abah percaya sama Zizah?”

”Lho, kapan Abah meragukanmu?”

Perlahan air mataku menetes, ”Tapi semua keputusan Zizah selalu salah di mata Abah.”

“Tidak pernah Abah berkata bahwa keputusanmu salah, hanya saja berbeda dari Abah. Kalau kamu yakin, ya sudah.”

Sambil menahan gemuruh di dadaku, aku mendekat ke arah Abah, kemudian menangis di pangkuannya. Inilah jalan tengah untuk Abah dan Azizah. Meski agak canggung, momen ini telah kutunggu bertahun-tahun. Momen ketika kerasnya hati kami berdua luluh karena kuatnya kasih sayang antara anak dan orang tua. Dan aku yakin, Ibu ada di baliknya. []

Tags: Hak anakKDRTkeluargaorang tuaperempuanpernikahanrumah tangga
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

7 Langkah yang Dapat Dilakukan Ketika Anda Menjadi Korban KDRT

Next Post

Kursi Lipat dan Martabat Disabilitas

Dewi Surani

Dewi Surani

Dewi Surani adalah alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Masuk 2008 dan lulus 2012 dengan fokus studi linguistik. Saat ini bekerja di salah satu penerbit universitas di Yogyakarta sebagai pemeriksa aksara. Membaca, menari, dan fotografi adalah hobi yang digelutinya.

Related Posts

Kehamilan
Keluarga

Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

21 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

20 Juli 2026
Sepak Bola Dunia
Aktual

Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

20 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Next Post
Kursi Lipat

Kursi Lipat dan Martabat Disabilitas

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome
  • Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?
  • Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?
  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0