Sabtu, 18 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Jangan Tanya Lagi, Kapan Aku Menikah?

Menjadi perempuan itu tidak mudah, ternyata. Menikah muda jadi gunjingan. Menikah lalu memilih berpisah jadi bahan pembicaraan.

Uus Hasanah by Uus Hasanah
29 Juni 2025
in Sastra
A A
0
Kapan Menikah

Kapan Menikah

20
SHARES
986
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ini adalah kali pertama aku keluar rumah semenjak mudik seminggu yang lalu.
Setelah berpuluh purnama berada di rantauan, ternyata pertanyaan utama yang mereka lontarkan masih tetap berkutat pada statusku.

“Kapan menikah?”

“Masih betah sendiri?”

“Si A sudah punya dua anak, lho…”

Sebetulnya aku mulai kebas dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tinggal senyumin saja, lah. Tapi ya, bagaimana ya… mulut netizen kadang lebih tajam dibanding silet.

Ajang silaturrahmi Idulfitri di rumah saudara tertua ibuku kali ini begitu mengesankan. “Sangat mengesankan!”

“Yan, kapan menikah? Tidak ada riwayat perawan tua di keluarga kita,” cletuk Uwa, suami dari kakak tertua ibuku.

Aku yang sedang memangku cucunya langsung menuangkan teh hangat yang tersaji di meja.

“Kalau kamu belum punya pilihan, biar Uwa yang carikan!” pungkasnya mantap.
“Nanti kalau sudah ada yang sreg, pasti saya kenalkan, Wak,” selorohku setelah menyeruput teh hangat.

“Ah, Dian jawabnya selalu begitu…,” ungkap anaknya yang juga sepupuku.
“Dikenalin sama Danu yang ganteng dan kaya gak mau, sama ponakannya kaji Durokman gak cocok, cari yang gimana sih Yan? Yan, jangan palah pilih tebu![1]” lanjutnya sedikit meninggikan suara.

“Perempuan itu tidak baik lama-lama sendiri, bisa jadi fitnah!” tegas Uwa ku.
“Lagi pula kalau sudah menikah, enak. Kamu tidak perlu merantau lagi untuk kerja, kan sudah ada yang jamin hidupmu, Yan. Atau… jangan bilang kalau kamu masih mengharapkan Bana, Yan!”

Suara kakak ibuku dari balik hordeng datang sambil membawa beberapa toples kue. Seketika, teh hangat yang baru kuminum kembali menyembur karena tersedak.

***

Sejujurnya, aku malas kalau harus muter-muter ke rumah keluarga. Tapi ibu dan bapakku sama-sama anak bungsu, jadi mau tidak mau mereka harus berkeliling mendatangi para kakaknya untuk bersilaturrahmi.

Meskipun ingin menolak ajakan ibu, aku tak tega melihatnya. Terlebih sudah tiga tahun aku tidak mudik. Alhasil, ya begini ini.

Sepulang dari silaturahmi, ibuku jadi termenung sepanjang hari. Tampaknya pertanyaan-pertanyaan dari saudara-saudara yang kami temui tadi sangat mengusik pikirannya.

Aku, anak semata wayangnya, masih melajang.

Lalu, apa masalahnya? Mungkin niat dan maksud Uwa ku baik. Tapi melihat ibu aku jadi geram juga. apakah sebuah kesalahan kalau di usia yang menjelang 40 ini aku masih sendiri?

Toh, aku bisa hidup mandiri, tidak membebani mereka. Malah, sering kali mereka yang meneleponku untuk meminjam uang. Lagi pula, menikah itu bukan untuk menyerahkan hidup agar dijamin oleh suami.

Aku tidak menolak cinta, hanya saja aku menolak dipaksa untuk tunduk pada waktu dan standar orang lain. Hidupku bukan utang yang harus dibayar dengan menikah. Aku perempuan, bukan barang kadaluarsa.

Entahlah. Memang repot kalau mendengarkan perkataan orang lain atau sejujurnya lebih terasa “penghakiman”.

Menjadi perempuan itu tidak mudah, ternyata. Menikah muda jadi gunjingan. Menikah lalu memilih berpisah jadi bahan pembicaraan.

Lah, yang terjadi padaku ini, belum menikah, apalagi…!

****

“Bana.”

Mendengar nama itu, hatiku bergetar. Suara Uwak tadi seolah melesat jauh, menembus relung-relung terdalam hatiku. Dalam sepersekian detik, gelombang suara itu memanggilnya keluar dari tumpukan ingatan yang selama ini coba kutimbun dengan segala cara untuk dilupakan.

Seolah ingin mengusir kehadirannya dari pikiranku, aku buru-buru berpamitan pada ibu yang sedang nderes Al Qur`an. “Bu, Aku keluar dulu ya…” kataku pendek sambil melangkah cepat ke luar rumah.

Hatiku yang mulai sesak berharap bisa menemukan semilir angin ketenangan.

Skuterku melaju perlahan, menerobos jalanan ramai yang dipenuhi pengendara motor. Udara malam kuhirup dalam-dalam, mencoba meredam gejolak dalam dada. Jalanan Sumur Watu, Kecamatan Terisi, tampak begitu berbeda sekarang.

Waktu seakan berlari cepat. Dulu, saat aku masih remaja, jalan ini begitu sepi, apalagi ba’da Isya seperti ini. Saat itu, aku pasti sedang berada di langgar, melantunkan nadzom atau lalaran kitab-kitab klasik seperti Abda ‘Ubis, Alala, Tasrifan, Safinah, atau fathul qorib yang bahkan belum sempat aku khatamkan.

Sering kali aku merasa iri pada remaja-remaja lain yang bisa duduk santai di teras rumah menunggu kekasih datang apel, atau menonton sinetron sambil ngemil. Tapi untukku, mengaji adalah kewajiban. Orang tuaku sangat disiplin, dan sebagai anak satu-satunya, aku tidak punya banyak pilihan.

Batas Tegas Nyata dan Virtual

Aku berhenti sejenak di pom bensin Terisi. Tempat yang terang benderang ini dulunya hamparan sawah dengan parit curam dan langganan banjir. Kuperhatikan sekeliling, lalu kuputuskan menyeberang dan berhenti di bawah pohon baujan (Samanea saman) yang batangnya meneduhi area parkir sebuah kafe.

Hiasan lampu pijar melingkari batang pohon dan dinding kafe berornamen kayu, menciptakan suasana teduh dan bersahaja. di kafe ini. Suasananya begitu ramai; remaja, pasangan dewasa, bahkan keluarga muda dengan anak-anak mereka memenuhi setiap sudut.

Suasana malam Minggu ini sangat kontras dengan malam Mingguku di masa lalu. Paling banter, aku hanya izin tidak mengaji, lalu tiduran di kamar sambil mendengarkan radio di saluran JTA fm, kemudian Ara, penyiar legendaris di awal 2000-an membacakan atensi yang didalamnya terdapat pesan khusus yang katanya dari pengagum rahasiaku.

“…Dian Indah Sari, seperti biasa nih, ada bingkisan khusus untukmu. Persembahan lagu dari Padi, Menanti Sebuah Jawaban.”

“Aku tak bisa luluhkan hatimu

Dan aku tak bisa menyentuh cintamu

………….”

Musik pun mengalun, dan hatiku kala itu berdebar-debar.

Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda.

Gaya nongkrong muda-mudi sekarang lebih modern, menyeruput kopi di kafe sambil memotret suasana untuk kemudian diunggah ke media sosial. Mereka tampil rapi, wangi, dengan outfit yang tampak terpilih dengan cermat, seolah setiap pertemuan adalah sesi pemotretan tak resmi.

Dunia mereka bergerak cepat, penuh koneksi, dan serba mudah. Tak ada lagi batas tegas antara yang nyata dan virtual, semuanya menyatu dalam layar-layar kecil di genggaman mereka.

****

Aku melangkah masuk ke dalam kafe. Bagian luar sudah penuh pengunjung. Beruntung, masih ada tempat kosong di pojok dekat area musala. Dua kursi dan satu meja kecil menantiku.

Tak lama, pramusaji datang mengantarkan pesananku: sepiring banana roll dan segelas lemon squash.

Aku bersandar, mencoba menikmati suasana dan perubahan yang kusaksikan di daerahku. Tapi kemudian seketika jantungku berdegup kencang.

Pandangan mataku terpaku pada sosok pria yang berjalan menuruni tangga bersama istri dan ketiga anaknya. Kami bertatapan. Seketika keringat dingin mengalir di keningku. Dadaku sesak. Aku nyaris tersedak dan hanya bisa mendehem pelan, mencoba menormalkan detak jantung yang porak-poranda.

Dia juga tampak terkejut. Sekilas, seolah hendak menyapa, tapi urung. Ia melangkah pergi, menoleh tiga kali, seperti memastikan, apakah benar perempuan yang ia lihat adalah aku.

“Allah… Allah…”

Lirihku dalam hati.

Kenangan yang kukira telah lenyap itu, datang lagi tanpa permisi.

Masih aku sebut, “Allah… Allah… Allah…”

Aku mencoba menenangkan diriku. Tanganku gemetar saat meletakkan potongan banana roll kembali ke piring. Segelas lemon squash yang kuminum terasa hambar.

Kuseka bulir air mata sebul benar-benar jatuh.

Perasaan sakit yang dulu pernah menenggelamkanku kini kembali menghampiri, begitu jelas, begitu dalam.

Dialah Bana

Santri tahap akhir dari sebuah pesantren di Jawa Timur. Ia dikenalkan oleh Habil, teman ngajiku dulu.

Dialah yang selama tiga tahun pernah empat kali datang ke rumah untuk menemuiku.

Yang di pertemuan terakhir berkata ia mencintaiku dan memintaku menunggunya sampai ia menyelesaikan masa pengabdiannya.

Yang meyakinkan hatiku dengan memberi cincin dan sebuah mukena berbahan sutra Jepang bermotif bordir bunga tabur berwarna merah muda. “Cincin dan mukena ini sebagai pertanda kemantapan hatiku padamu. Setelah aku boyong dari pesantren, berjanjilah engkau akan menerima pinanganku.”

Kini, ia di hadapanku. Bersama istri dan anak-anaknya.

Dan luka itu…

Luka itu kembali menganga.

Aku pun memilih pulang, sepanjang perjalanan, dengan tangan yang masih dingin dan bergetar ku coba terus menyeka air mata yang mengganggu pandangan. Dalam tangis, terngiang suara kiaiku ketika ngaji kitab Ayyuhal Walad karya ulama besar Imam Al Ghazali;

الْعُبُوْدِيَّةِ وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ : أَحَدُهَا مُحَافَظَةُ أَمْرِ الشَّرْعِ وَثَانِيْهَا الرِّضَاءُ بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ وَقِسْمَةِ اللّٰهِ تَعَالٰى وَثَالِثُهَا تَرْكُ رِضَاءِ نَفْسِكَ  [] فِيْ طَلَبِ رِضَاءِ اللّٰهِ تَعَالٰى

 

 

 

[1] Palah-pilih tebu suatu ungkapan yang bermakna memilih-milih cari yang manis (terbaik) dapatnya yang busuk

Tags: cerita pendekKapan MenikahperempuanSastrastigma
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Begal dan Geng Motor yang Kian Meresahkan

Next Post

Fikih yang Berkeadilan: Mengafirmasi Seksualitas Perempuan

Uus Hasanah

Uus Hasanah

Guru di MA GUPPI Terisi Indramayu

Related Posts

HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Romina Pourmokhtari
Figur

Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga

12 Juli 2026
Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Next Post
Seksualitas Perempuan

Fikih yang Berkeadilan: Mengafirmasi Seksualitas Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali
  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?
  • Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender
  • Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS
  • Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0