Kamis, 19 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Inspirasi Pesantren Hijau di Pesantren Mahasina

Di samping santri menghafal dalil menyangkut kepedulian lingkungan, juga sekaligus mereka terbiasa mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana peduli terhadap lingkungan di pesantren

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
22 Februari 2023
in Pernak-pernik, Rekomendasi
A A
0
Pesantren Hijau

Pesantren Hijau

15
SHARES
752
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Wah, pesantrennya di sini adem ya…. Banyak pohonnya….” atau “bersih ya pesantren di sini….” Kurang lebih begitulah komentar positif para calon wali santri yang datang mendaftarkan putra atau putrinya di Pondok Pesantren Mahasina.

Mengingat letaknya di Kota Bekasi, tepatnya di Jati Waringian, Pondok Gede, kesan umum daerahnya memang panas dan cenderung tidak banyak pohon. Terlebih lokasi Mahasina di tengah perkampungan padat. Jadi tidak mengherankan, kalau banyak calon wali santri begitu datang ke lokasi saat mendaftarkan putra-putrinya seketika dibuat kaget dengan kondisi Mahasina yang jauh dari bayangan pemberitaan umum di media sosial tentang Kota Bekasi yang panas.

Di Mahasina berbagai macam pohon berbuah bahkan tumbuh. Bermacam-macam jambu, dari jambu air, jambu jamaika, jambu biji, hingga jambu mete, klengkeng, nangka, mangga, pisang, rambutan, dan kelapa, semua ada. Jika musim buah, para santri biasanya yang memanen, sebagian dihaturkan ke pengasuh, para ustadz dan ustadzah, disuguhkan ke tamu, dinikmati bersama para santri, dan dibagi-bagikan ke tukang hingga warga. Tak jarang santri dan para ustadz juga membuat rujak buah bersama di hari libur.

Banyak pohon tidak berbuah juga tumbuh di Mahasina. Ada pohon jati yang cukup besar, hingga pohon bambu dan berbagai pohon hiasan menjulang tinggi-tinggi dan rimbun daunnya. Bermacam-macam bunga ditata rapi di sudut-sudut bangunan. Ada sebagian memang ditanam para santri, namun ada juga yang dibawa santri sekembalinya ke Mahasina dari rumah sewaktu liburan.

Memang sewajarnya jika lantas tiga lembaga di PBNU, yaitu LAZISNU PBNU, LPBI NU, dan RMI PBNU, menjadikan Pondok Pesantren Mahasina sebagai satu dari tujuh Pondok Pesantren yang menjadi sasaran program Pesantren Hijau.

Mahasina bisa menjadi pesantren hijau, tidak lain karena peran sentral dari pengasuh yang sangat peduli lingkungan, cinta tanaman, dan memberikan keteladanan dalam mengamalkan ajaran Islam kepada para santri. Mengamalkan ajaran Rasulullah SAW dalam mendidik yang paling efektif. Yaitu dengan keteladanan.

Peran Sentral Pengasuh

Pengasuh Mahasina memiliki kecintaan sangat tinggi terhadap tanaman. Sewaktu Mahasina belum berdiri, KH. Drs. Abu Bakar Rahziz, M.A. dan Ibu Nyai Hj. Dra. Badriyah Fayumi, Lc. M.A., sepulang dari Mesir dan kemudian membangun rumah tinggal di Jl. Masjid Raya, Jatiwaringin, Pondok Gede. Kediaman beliau yang berornamen kayu-kayu, banyak tertanami pohon, bunga, dan tertata dengan indah.

Hobi Abah, sapaan akrab KH. Drs. Abu Bakar Rahziz, M.A., dalam menanam pohon dan tanaman berlanjut ketika mulai merintis Mahasina. Bahkan terus hingga sekarang bersama Ibu Nyai Badriyah. Awalnya memang Abah banyak membeli bibit-bibit pohon dan tanaman. Namun begitu para wali santri mulai mengetahui kecintaan beliau menanam berbagai pohon, seringkali saat sowan ke Mahasina banyak juga wali santri membawakan bibit-bibit pohon atau cangkokan.

Ibu Nyai Badriyah untuk memasifkan pesantren hijau, dan mengajarkan para santri mencintai tanaman, tiap liburan semester saat akan pulang juga menghimbau kepada santri yang di rumah punya banyak bunga atau tanaman, agar membawa satu untuk dirawat di Mahasina. Hasilnya sangat menyenangkan, Mahasina jadi semakin banyak bunga, juga beraneka macam bunganya.

Namun di tengah terus bertambah banyak santri mencapai 1000-an, turut mendorong pembangunan lokal dan asrama kian masif. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, menyangkut pohon besar yang telah tumbuh mau tidak mau lahannya harus dialih fungsikan pembangunan. Abah selalu berusaha tidak mematikan pohon yang ada.

Yang masih logis bisa kita pindahkan, akan dipindahkan. Tetapi pohon yang sudah terlalu besar dan tidak bisa kita pindahkan. Jika bisa disiasati tidak kami tebang, akan tetap dipertahankan. Sehingga, tidak mengherankan kalau ada beberapa bangunan di Mahasina yang di dalamnya terdapat pohon besar masih tetap tumbuh demi menghindari peenbangan. Menariknya, kerapkali justru itu memperindah bangunannya. Jadi unik dan lebih bernilai estetis saat dilihat.

Ragam Permasalahan Lingkungan di Pesantren

Permasalahan lingkungan di pesantren sebenarnya  tidak bisa kita pandang sederhana. Pasalnya bukan soal sekadar tanam menanam pohon atau merawatnya. Namun ada banyak hal yang menjadi persoalan serius dan jika tidak kita tangani dengan strategi cerdas, juga tersistem, akan bisa berdampak buruk, bahkan menjadi bencana.

Pertama, soal kebersihan dan sampah. Pesantren jika tidak bersih dan banyak sampah, pasti akan banyak bakteri, virus, dan membawa penyakit. Mulai dari penyakit kulit hingga berbagai penyakit lainnya. Jika ada santri sudah terpapar, penularannya sangat cepat ke santri lain. Kalau tidak tertangani dengan cepat, maka akan berdampak semakin buruk. Bisa-bisa satu pesantren tertular, karena di dalam pesantren selalu berinteraksi antara satu dengan yang lain.

Artinya, soal kebersihan adalah pemasalahan serius. Pesantren harus bersih dari sampah. Sampah juga harus terkelola dari hulu ke hilir. Mulai dari pembiasaan kedisiplinan santri dalam membuang sampah pada tempatnya. Pembedaan kategori tong sampah dari organik yang mudah diurai dan nonoganik, hingga ke pembuangan akhir.

Apakah kita bakar, dihancurkan, atau kita distribusikan ke pengelola sampah di daerah setempat. Jadwal pendistribusian sampah hingga pembuangan akhir pun juga harus terjadwal ketat. Karena jika tidak, sampah bisa menggunung dan yang berakibat selain bau pasti menyengat, juga menjadi tidak sehat.

Air Bersih dan Limbah

Kedua, air bersih dan air limbah. Persoalan air ini di pesantren juga sangat vital. Air bersih sendiri ibarat menjadi sumber kehidupan di pesantren. Karena terpakai mandi, mencuci, bersuci, kebutuhan dapur, dan berbagai kebutuhan lain. Tidak boleh stok air bersih kekurangan, apalagi habis. Pasalnya, berdampak serius ke seluruh aktivitas di pesantren yang ditinggali oleh banyak penghuni.

Sama pentingnya air bersih untuk konsumsi minum. Tidak boleh stoknya sampai habis. Terlebih secara umum bagi pondok pesantren yang aturannya ketat santri tidak mudah keluar dan harus izin.

Selanjutnya, permasalahan air limbah. Hal itu tidak bisa asal ada selokan pembuangan. Sangat kita butuhkan ilmu pengetahuan terkait hal ini, karena dampak tak kalah serius jika tidak tertangani dengan benar. Selain kebanjiran air limbah di lingkungan pesantren, menimbulkan bau tidak sedap dan juga menjijikkan, bisa berdampak ke lingkungan masyarakat sekitar.

Selokan pesantren alur alirannya juga harus kita atur dengan baik bagaimana memudahkan air lancar hingga ke pembuangan limbahnya. Ukuran selokan juga harus kita sesuaikan. Termasuk penampungan pembuangan limbah. Bahkan jika memungkinkan, kita bangun infrastruktur untuk pengolahan air limbah agar bisa kembali jernih dan bisa kita manfaatkan. Selanjutnya, pengecekan dan pola pembersihan selokan dan penampungan air limbah, juga harus kita buat penjadwalan scara berkala. Sehingga terus terkontrol dan jika ada yang tersumbat segera bisa tertangani.

Menyangkut penanganan air, juga termasuk untuk air hujan, perlu pengelolaan. Bagaimana jika turun hujan besar agar tidak sampai menimbulkan genangan, bahkan hingga kebanjiran di pesantren. Pembuangan air hujan harus terkelola, kita buat resapan-resapan untuk mempercepat air terserap ke tanah dan segera kering.

Perawatan Tanaman dan Tumbuhan

Ketiga, perawatan tanaman dan tumbuhan. Penting adanya tanaman dan tumbuhan d ipesantren karena akan membuat lingkungan pesantren sehat dan pasokan oksigen akan lancar. Air bersih tercukupi, karena akar pohon menampung air. Di samping itu hawa pesantren akan menjadi sejuk dan dari sisi pemandangan akan terlihat lebih indah. Itu jika tanaman dan tumbuhannya kita rawat dengan baik.

Namun banyaknya tanaman dan tumbuhan kalau tidak terawat, malah menambah permasalahan. Selain mati dan menimbulkan banyak sampah, jadi terlihat kotor, tidak terawat, menjadi sarang hewan berbahaya, dan batang pohon bisa tumbang sewaktu-waktu membahayakan keselamatan santri bisa tertimpa.

Pembiasaan kepedulian lingkungan di Pondok Pesantren Mahasina bagian dari implementasi konsep pendidikan terintegrasi dan sekaligus menjalankan Trilogi Santri, yaitu “Berilmu amaliyah, beramal ilmiyah, berakhlakul karimah.” Karena di Mahasina ilmu pengetahuan tidak terputus sampai hanya sekadar kita pahami dan mengerti. Namun juga desain untuk kita amalkan, biasakan, hingga menjadi karakter santri dalam kehidupan sehari-hari.

Di Mahasina para santri telah menghafal berbagai dalil-dalil tentang kepedulian lingkungan hidup, baik dari ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits. Konsep pendidikan terintegrasi yang Mahasina usung, di antaranya adalah integrasi ilmu-amal-akhlak dalam kehidupan sehari-hari dan integrasi antara kemampuan teoritis dengan keterampilan praktis (life skill). Di samping santri menghafal dalil menyangkut kepedulian lingkungan, juga sekaligus mereka terbiasa mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana peduli terhadap lingkungan di pesantren. Dengan kebiasaan itu harapannya akan menjadi karakter santri. Hingga kemudian bisa tetap terus santri lakukan begitu lulus dari pesantren.

Pembiasaan Kepedulian Lingkungan di Mahasina

Pembiasaan itu pun dibuat menjadi sistem dan dilembagakan di Mahasina. Di samping  Kiai Abu Bakar Rahziz dan Ibu Nyai Badriyah Fayumi yang membimbing santri untuk program tersebut, diangkat seorang Ustadz/ah bagian khusus yang menangani kebersihan dan pertanaman (kepedulian lingkungan) untuk membimbing santri. Adapun di Organisasi Santri Mahasina (Orsam) sendiri, baik putra maupun putri, juga terdapat divisi bidang tersebut yang menjadi penanggungjawab program.

Terkait pembiasaan kepedulian lingkungan ini sebagaimana dikatakan Kiai Abu Bakar Rahziz dan Ibu Nyai Badriyah Fayumi dalam berbagai wawancara dengan media, akan terus dipertahankan. Bahkan Kiai Abu Bakar Rahziz mengatakan, jika Mahasina nanti sudah banyak pohon dan tanaman, selanjutnya akan menghijaukan lingkungan di sekitar pondok pesantren.

Nyai Badriyah Fayumi juga menyebut, jika menghijaukan lingkungan adalah wujud iman sekaligus wujud ukhuwah alamiyah atau persaudaraan manusia dengan semesta, karena sama-sama makhluk Allah yang harus saling menghidupi. Sesama subyek semesta yang saling menjaga. Karena manusia bukan subyek yang menjadikan alam sebagai obyek. Melainkan manusia dan alam adalah sama-sama subyek bagi bumi asri lestari. Itulah nilai-nilai yang terus diedukasikan kepada santri.

Tidak hanya sekadar menjadi edukasi, namun juga dibiasakan dalam mengamalkan dan diharapkan hingga menjadi karakter kepedulian santri terhadap lingkungan. Selanjutnya, begitu nanti santri lulus bisa menjadi agen-agen kepedulian terhadap lingkungan di manapun mereka berada. Baik di tempat mereka kuliah, bekerja, maupun tempat tinggal bersama masyarakat. []

Tags: Isu LingkunganKeadilan EkologiskiaiNyaiPesantren HijauPonpes MahasinaSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pekerjaan Domestik Menjadi Tanggung Jawab Suami Istri

Next Post

Kisah Sahabat Perempuan Saat Dekat Dengan Nabi Muhammad Saw

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Cat Calling
Publik

Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

7 Februari 2026
Jihad Konstitusional
Lingkungan

Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

6 Februari 2026
Joko Pinurbo
Publik

Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

27 Januari 2026
Gotong-royong
Lingkungan

Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

2 Februari 2026
Bencana Alam
Lingkungan

Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

2 Februari 2026
Isra Mikraj
Hikmah

Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

2 Februari 2026
Next Post
Sahabat Perempuan

Kisah Sahabat Perempuan Saat Dekat Dengan Nabi Muhammad Saw

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Entrok: Realitas Pahit Masa Lalu yang Relevan hingga Masa Kini
  • Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah
  • Tingkatan Maqasid dalam Relasi Mubadalah: Dari yang Primer (Daruriyat), Sekunder (Hajiyat), dan Tersier (Tahsiniyat)
  • Khalifah fi al-Ardh dalam Paradigma Mubadalah
  • Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0