Kamis, 16 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    Perempuan Pembela Keadilan

    Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hepatitis B

    Cara Mengenali Hepatitis B dan Langkah Perawatan yang Tepat

    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    AIDS

    Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan

    herpes

    Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi

    Herpes

    Cara Meredakan Gejala Herpes Genitalia dan Mencegah Penularannya

    Herpes Genital

    Herpes Genitalia: Kenali Gejala, Cara Meredakan Keluhan, dan Penanganannya

    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    Perempuan Pembela Keadilan

    Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hepatitis B

    Cara Mengenali Hepatitis B dan Langkah Perawatan yang Tepat

    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    AIDS

    Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan

    herpes

    Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi

    Herpes

    Cara Meredakan Gejala Herpes Genitalia dan Mencegah Penularannya

    Herpes Genital

    Herpes Genitalia: Kenali Gejala, Cara Meredakan Keluhan, dan Penanganannya

    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Islam Mendukung Perempuan Berkarir di Ruang Publik

Ditegaskan Syekh Abu Syuqqah, para laki-laki harus terlibat dalam kerja-kerja rumah tangga, agar perempuan memiliki kesempatan yang cukup untuk bisa aktif dalam kerja-kerja kesalihan di ruang publik. Baik untuk kepentingan dirinya, keluarga, umat dan bangsa

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
11 Maret 2022
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
suami memukul istri

Islam

9
SHARES
427
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Banyak kalangan umat Islam masih memandang perempuan salihah sebagai orang yang berdiam diri di rumah, melayani suami, dan mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga. Jika memilih aktif di ruang publik, perempuan masih dituntut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sebagai tanggung-jawab utamanya.

Padahal, dalam Islam, baik kerja rumah tangga maupun kerja sosial ekonomi di luar rumah adalah bagian dari kesalihan laki-laki dan sekaligus perempuan secara bersama. Sehingga, bisa dikatakan, Islam sesungguhnya mendukung perempuan berkarir di ruang publik. Untuk dukungan ini, keterlibatan laki-laki di ruang domestik juga menjadi niscaya dalam Islam.

Hijrah dari Teladan yang Salah

Beranda Facebookku pernah terlewati sebuah film pendek yang menarik berjudul: “Maaf karena telah memberi contoh yang salah”. Film ini bercerita tentang seorang ayah yang melihat putrinya begitu sibuk di dalam rumah dengan berbagai pekerjaan rumah tangga, padahal ia baru saja pulang kerja. Sementara sang suami asyik membaca koran sambil menonton televisi.

Sang ayah merasa bangga dengan dedikasi putrinya, tapi sekaligus merasa bersalah. Menurutnya, sang putri belajar dari contoh yang salah, yaitu dirinya yang tidak pernah terlibat kerja-kerja rumah tangga. Suaminya juga belajar hal yang sama dari keluarganya, atau tepatnya ayahnya.

Perasaan itu diungkapkan sang ayah dalam bentuk surat kepada putrinya. Di akhir kalimat, sang ayah mengungkapan: “Maafkan ayahmu dan ayahnya yang telah memberi contoh yang salah. Maafkan atas nama setiap ayah yang memberi contoh yang salah. Tapi ini belum terlambat. Ayah akan sadar dan memperbaikinya. Membantu ibumu dengan pekerjaan rumah tangga. Ayah mungkin tidak menjadi juru dapur. Tapi setidaknya, ayah dapat membantu cucian. Selama ini ayah telah salah. Saatnya untuk mengatur segalanya dengan benar. Papamu.”

Film ini cukup menyentuh dan memberi inspirasi agar kita berhijrah dari teladan yang salah. Teladan bahwa kerja-kerja rumah tangga, seperti memasak, menyapu, mencuci, dan mengasuh anak adalah kodrat perempuan. Baik sebagai istri, ibu, anak, maupun saudara dalam sebuah keluarga. Teladan atau contoh bahwa laki-laki tidak perlu, bahkan tidak baik, terlibat dalam kerja-kerja rumah tangga.

Teladan yang tidak mendukung para perempuan untuk menjadi salihah, dengan menjadi cakap dan berkapasitas dalam membangun masyarakat dan mendatangkan segala kebaikan untuk mereka. Baik dalam karir sosial, kultural, ekonomi, maupun politik. Teladan salah ini masih hidup dalam masyarakat kita. Padahal, kita punya teladan baik yang harus kita pilih.

Teladan Baik dari KUPI

Berawal dari Pesantren Kebon Jambu Cirebon pada tahun 2017, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) telah bertransformasi menjadi gerakan kolektif yang menghimpun berbagai ratusan individu, lembaga, dan organiasi. Gerakan ini mendakwahkan kerjasama laki-laki dan perempuan dalam ranah domestik dan publik sebagai ajaran kesalihan dalam Islam.

Bagi KUPI, kerjasama relasi ini mengakar pada visi Islam rahmatan lil ‘alamin (anugerah bagi segenap manusia dan semesta) dan misi akhlaq karimah (akhlak mulia). Untuk membumikan ajaran kesalihan ini, KUPI tidak hanya berdakwah. Melainkan juga memperlihatkan teladan-teladan perempuan salihah yang sukses berkarir di publik, yang didukung penuh dengan kerja sama suami mereka di ruang domestik.

Sebagai contoh saja, ada Ibu Nyai Hj. Badriyah Fayumi pengasuh Pesantren Mahasina di Bekasi, pernah duduk sebagai politisi senayan, pernah ketua komisioner KPAI, sekarang menjabat wakil sekretaris MUI Pusat, salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan tentu saja Ketua Majelis KUPI.

Ada Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva pengasuh Pesantren Cirebon tempat perhelatan KUPI tahun 2017, mengasuh ribuan santri putra dan putri, yang juga menjadi Pengurus PBNU. Ada Ibu Nyai Hj. Dr. Amrah Kasim pengasuh Pesantren Makasar dan Dosen UIN Alauddin yang menjadi Anggota Majelis Masyayikh Pesantren Pusat oleh Kemenag RI.

Keseimbangan Karir dan Keluarga

Ada Ibu Dr. Ruhaini Dzuhayatin, akademisi UIN Yogyakarta, pernah duduk sebagai Ketua Komisi HAM Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jeddah, dan sekarang berkarir di Kantor Staf Kepresidenan.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Dalam  hal ini, Kupepedia.id telah mempublikasikan dalam websitenya lebih dari 100 tokoh ulama perempuan yang memiliki karir keulamaan, sosial, kultural, spiritual,  lingkungan, ekonomi dan politik.

Contoh-contoh ini telah menginspirasi banyak lagi kalangan umat Islam, terutama dari Pesantren, untuk mengamalkan prinsip kerjasama perempuan dan laki-laki sebagai ajaran kesalihan dalam Islam. Bahwa kerja rumah tangga adalah kebaikan, karena itu menjadi ruang bersama laki-laki dan perempuan. Begitupun ruang publik adalah arena kebaikan dan kesalihan bagi laki-laki maupun perempuan. Sehingga, bagi KUPI, perempuan salihah berkarir di publik adalah bagian dari teladan Islam.

Siti Latifah, seorang ibu rumah tangga di kampung Paluombo Ledokombo Jember, pada awal perkawinannya masih mencontoh tradisi keluarganya. Sebagai perempuan, ia memilih tinggal di dalam rumah saja, mengasuh anak dan melayani suami. Namun, melalui teladan baik KUPI, ia telah bertransformasi menjadi aktivis yang sukses mendirikan 11 sekolah komunitas “Bok-Ebok” untuk para ibu kampung.

Kisah suksesnya tersebut telah ia tulis dalam sebuah buku yang diterbitkan LKIS Yogyakarta tahun 2018. Ibu Latifah, yang hadir saat  perhelatan KUPI di Cirebon tahun 2017, juga menggeluti berbagai aktivitas lain terkait pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan organiasi sosial kemasyarakatan.

“Suami saya lulusan pesantren. Ia selalu mendukung dan mengajak saya bersosialisasi dengan masyarakat. Ketika di rumah, bersama saya, suami ikut mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Membersihkan rumah, mencuci, memasak, dan mengasuh anak.” Jawab perempuan kelahiran 1974 ketika ditanya tentang peran dan kiprah suaminya.

Inspirasi Pasangan Muda

Pasangan muda, Shofi Pujiastiti dan Munawar Said, yang menikah tahun 2018. Keduanya adalah santri yang juga terinspirasi secara kuat dari ajaran kesalihan KUPI. Sejak saat lamaran, mereka telah sepakat, setelah menikah untuk mengelola rumah tangga dan mengasuh anak secara bersama. Munawar juga bersedia mendukung penuh karir publik Shofi dan berkembang bersama.

Keduanya, kemudian meniti karir sebagai akademisi di sebuah perguruan tinggi Islam di Salatiga, mendirikan pesantren bersama, dan mengelola media sosial dan mengisinya secara bersama. Beranda facebook mereka berdua selalu terisi dengan kisah-kisah kebersamaan, baik di dalam rumah maupun di ruang-ruang publik, yang mereka dakwahkan sebagai ajaran kesalihan dalam Islam. Begitupun di Pesantren Tasyfiyatul Qulub, Eljawiyah Chanel, dan Majelis Muhibbin al-Qur’an yang mereka dirikan dan kelola bersama.

“Pada saat saya mengikuti pelatihan keulamaan perempuan, selama dua hari di awal Februari tahun 2022 ini, kami punya bayi usia 2.5 bulan. Saya senang sekali karena Fahmina sebagai panitia menerima kondisi saya dan bayi saya. Saat acara pelatihan berlangsung, sang bayi diasuh sepenuhnya oleh suami saya. Begitupun di dalam rumah, suami saya aktif bersama melakukan kerja-kerja rumah tangga.” Kata Shofi yang merasa bangga dengan adanya ajaran mubadalah yang didakwahkan KUPI. Sebagai bentuk dari pengamalan mubadalah ini, Shofi dan Munawar mencantumkan nama mereka berdua dalam sertifikat kepemilikan rumah dan tanah mereka.

Mencontoh Teladan Nabi Saw

Siti Latifah dan suami, Muhammad Ali, maupun Shofi Puji Astiti dan Munawar Said, meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah mencontoh teladan Nabi Muhammad Saw. Baik dalam hal kerjasama melakukan pekerjaan rumah tangga maupun mendukung perempuan salihah berkarir di ruang publik. Sebagaimana tercatat dalam berbagai Kitab Hadits, Nabi Saw selalu melakukan kerja-kerja pelayanan terhadap keluarga di dalam rumah (Sahih Bukhari, no. 680, 5417, dan 6108).

Sebagaimana terdokumentasikan Syekh Abu Syuqqah dalam 6 volume Tahrir al-Mar’ah fi Asr ar-Risalah (1995), ada banyak teks hadits yang mencatat keterlibatan para perempuan pada masa Nabi Saw di ruang publik. Baik untuk kegiatan ibadah ritual, pengetahuan dan pendidikan, kerja-kerja ekonomi, maupun sosial dan budaya. Siti Aisyah bint Abi Bakr ra, misalnya, adalah perawi lebih dari 6000 teks hadits, ahli tafsir, dan juga fiqh.

Ada lagi Umm al-Hushain ra yang mencatat khutbah Nabi Saw saat haji Wada’, ada Umm Syuraik ra yang kaya raya dan dermawan di Madinah, ada Nusaibah bint Ka’b ra yang melindungi Nabi Saw saat perang Uhud, ada Zainab ats-Tsaqafiyah ra yang bertanggung-jawab menafkahi suami dan anak-anaknya, dan banyak lagi yang lain.

Di antara pekerjaan yang perempuan geluti pada masa Nabi Saw adalah home industri, pedagang umum, penenun, perawat, perias wajah, berkebun, penggembala ternak, pemetik kurma, menyusui bayi secara komersial, dan yang lain (Qira’ah Mubadalah, 2018, hal. 462-482).

Dari teladan generasi awal Islam ini dan contoh-contoh kecil dari KUPI di atas, Islam sesungguhnya mendukung perempuan berkarir di ruang publik. Untuk itu, sebagaimana ditegaskan Syekh Abu Syuqqah, para laki-laki harus terlibat dalam kerja-kerja rumah tangga, agar perempuan memiliki kesempatan yang cukup untuk bisa aktif dalam kerja-kerja kesalihan di ruang publik. Baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, umat dan bangsa. []

 

 

 

Tags: Bersama BerperanGerakan KUPIislamkeluargaperempuanTeladan Nabiulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kepemimpinan Ratu-Ratu Nusantara yang Tenggelam oleh Sejarah

Next Post

Inventing Anna, dan Semangat #BreakTheBias dalam Perayaan IWD 2022

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Tadarus Subuh
Keluarga

Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

13 Juli 2026
Perempuan dalam Perkawinan
Personal

Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

13 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Romina Pourmokhtari
Figur

Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga

12 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Next Post
Inventing Anna

Inventing Anna, dan Semangat #BreakTheBias dalam Perayaan IWD 2022

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Mengenali Hepatitis B dan Langkah Perawatan yang Tepat
  • Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik
  • Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan
  • Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel
  • Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0