Sabtu, 11 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Kartini Tanpa Kebaya

Meski hidup mereka sederhana, dan ia tak memiliki kebaya, ia masih bisa bermimpi dan belajar seperti yang dulu diperjuangkan oleh Ibu Kartini.

Uus Hasanah by Uus Hasanah
27 April 2025
in Featured, Sastra
A A
0
Kartini Tanpa Kebaya

Kartini Tanpa Kebaya

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Mak, besok Nok gak sekolah ya!” ucap Wasni setengah berteriak memastikan neneknya mendengar apa yang ia katakan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemerisik angin yang mengayun-ayunkan batang padi di petak sebelah. Wasni masih sulit untuk mengatakan pada neneknya, bagaimana ia bisa meniru jejak Kartini tanpa kebaya?

Kedua tangannya trampil memilah padi basah, memisahkan dari sisa-sisa daun dan batang yang ikut terbawa. Karung usang milik neneknya menjadi alas sementara di atas pematang kecil yang lembab.

Sinar matahari menggantung tinggi di langit, memantul di permukaan air sawah yang tenang dan berkilauan. Udara lembab dan panas menyelimuti, bercampur dengan aroma khas tanah basah, lumpur, dan sisa batang padi yang basah dan mulai membususk. Sesekali terdengar lenguhan mesin perontok dari kejauhan, berpadu dengan suara deru sepeda motor atau mobil yang berlalu Lalang.

Neneknya, perempuan renta yang tubuhnya mulai bongkok itu, menoleh penasaran, keriput wajahnya mengerut.

“Loh… loh… Tumben, Nok. Kenapa?”

Ia beranjak dari petakan sawah yang masih tergenang air setinggi mata kaki. Saat kakinya terangkat dari tanah yang kehitaman, muncul bunyi kecipak lembut,bercampur bau khas yang tajam. Ujung celana panjangnya yang hitam sudah berubah warna menjadi kuning kecoklatan, penuh noda bekas tanah sawah. Ia mengelap tangan dengan ujung kaos berlambang obat semprot hama, yang sudah usang dan robek di beberapa bagian.

Perlahan ia menanjak ke tepian sawah yang berbatas langsung dengan jalan besar. Di sana, Wasni telah membersihkan padi, hasilnya mengais sisa-sisa butiran emas yang tercecer di antara jerami bekas mesin perontokan.

“Mataharinya terik sekali, Nok. Ayo kita istirahat dulu,” ajaknya, sambil menyeka peluh di dahi.

Kebaya dan Hari Kartini

Ia pun membuka cangkingan mengambil botol minum dari anyaman plastik bekas tempat berkat tahlilan. Caping ia lepas dari kepala dan diletakkan di sampingnya. Mereka berdua duduk bersandar di bawah pohon mahoni yang menjulang tinggi di pinggir jalan besar itu.

“Waktu hari Sabtu kemarin, ibu guru bilang hari Senin besok anak-anak harus pakai kebaya, Mak… Tapi Nok kan nggak punya kebaya…” ucap Wasni lirih. Ia menyambut botol minum yang disodorkan neneknya, meneguknya pelan di bawah pohon mahoni yang rindang.

Neneknya hanya diam mendengarkan, sembari menatap wajah cucunya yang tertunduk lesu. Ada rasa kasihan yang menyelusup di hatinya. Ia paham betul perasaan Wasni, sekaligus menyadari betapa sulit keadaan mereka.

“Yang lain pakai kebaya, Nok Wasni pakai baju muslim baru aja yang dibeli pas Lebaran kemarin. kan masih bagus?” ucap nenek mencoba menghibur, membuka kantong plastik yang berisi bekal mereka siang itu.

“Bukan baju muslim, Mak… Ibu guru bilang harus kebaya.” suara Wasni tetap pelan, tapi tegas.

“Memangnya kenapa harus kebaya, Nok? Yang penting bajunya bersih dan rapi, ya kan?” sangkal neneknya, mencoba menyembunyikan kecemasan akan perasaan cucunya. Tangannya sibuk membagikan nasi dilengkapi sambal terasi dan satu bungkus kecil kerupuk.

“Kata ibu guru, sekolah mau mengadakan karnaval hari Kartini, Mak. Semua anak perempuan satu sekolah harus pakai kebaya. Nok malu kalau pakai baju yang beda sendiri… Takut di olok-olok lagi kaya tahun kemarin. Masak hari Kartini tanpa kebaya”

Ia menggenggam botol minum dengan erat, suaranya mengecil dan parau.

“Bukan cuma baju, Mak… Mereka juga rias wajah di salon. Nok nggak sanggup kalau harus jalan bareng mereka tapi beda sendiri…”

Sejenak neneknya terdiam. Lalu dengan lembut ia menyodorkan  plastik berisi nasi itu ke pangkuan cucunya.

“Ya sudah… Besok nggak usah berangkat sekolah. Sekarang Nok Wasni makan dulu ya.”

Karnaval Hari Kartini

Sambil mengunyah perlahan, Wasni menunduk, matanya menatap nasi di pangkuannya. Udara terasa makin panas, meski mereka berteduh di bawah pohon mahoni yang lebat.

Neneknya memandang sejenak, lalu bertanya dengan suara lirih, “Nok… Karnaval itu maksudnya apa, sih? Maju di atas panggung gitu, ya?”

Wasni menggeleng pelan, lalu menjawab sambil mengelap peluh di pelipisnya. “Enggak, Mak. Tahun lalu tuh, dari kelas satu sampai kelas enam baris memanjang sambil jalan kaki, keliling gang kampung deket sekolah.”

“Oh gitu…” sahut neneknya, tersenyum simpul. “Emak kira tadi kayak nembang atau jogged atau drama di atas panggung.”

Ia terkekeh kecil, namun ada nada getir yang tersembunyi di ujung tawanya. Matanya kembali menatap cucunya, gadis kecil kelas tiga sekolah dasar yang sejak balita telah ia besarkan sendiri. Orang tua Wasni meninggal dunia saat pandemi COVID-19 melanda  beberapa tahun silam.

Ia tahu betul, keinginan cucunya itu bukan semata soal kebaya, tapi cerminan dari penerimaan atas kenyataan hidup mereka. Kehidupan yang tak memberi ruang untuk sekadar membeli, bahkan menyewa. Tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, hari Kartini tanpa kebaya, apalagi jika harus membayar rias wajah. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, emak bersyukur.

Wasni tumbuh jadi pribadi periang yang kuat, tidak manja, dan tahu diri. Ia tahu kapan harus meminta, dan tahu pula kapan harus diam dan menerima. “Sing gede milik rejekine, Nok,” gumam nenek itu pelan, nyaris seperti doa yang ia layangkan pada langit.

Sementara itu, suara bising kendaraan berlalu-lalang memecah kesunyian hutan yang beralih fungsi menjadi tanah garapan pesawahan. Di musim panen seperti ini, jalan jadi ramai seperti jalan pantura saat musim mudik. Sepeda motor berlalu kencang, kebanyakan dikendarai para buruh tani yang menawarkan jasa derep (memanen padi).

Es Dawet dan Buruh Tani

Truk-truk besar bermuatan gabah menjulang lalu-lalang, suaranya bising mengerang keberatan. Di sepanjang jalan, para pedagang keliling membuka lapak dadakan, ada yang menjajakan es, kopi, gorengan, hingga makanan berat di bawah tenda seadanya.

“Mang, tuku!” seru emak sambil melambaikan tangan, memanggil tukang es dawet yang melintas.

“Satu, ya, Mang!” lanjutnya sambil tersenyum lelah.

Penjual es dawet itu menepikan sepeda motornya dekat mereka beristirahat. “Sudah dapat reminya, Mak?” tanyanya sambil menuang es ke dalam gelas plastik.

“Ya, alhamdulillah, dapat mungkin sekitar dua ember.” sahut emak sambil menunjuk tumpukan biji padi yang tadi sudah dibersihkan Wasni.

“Berapa, Mang?” tanyanya lagi, tangan keriputnya mulai membuka lipatan tali kain di pinggang, benting setia yang sehari-hari ia pakai untuk menyimpan uang receh. Ia keluarkan selembar uang lima ribuan yang sudah agak kusut, lalu menyodorkannya pelan.

“Udah, Mak. Simpan saja uangnya.” tukas si penjual sambil tersenyum.

“Eh, Mang… saya mau beli.,” jawab emak memastikan.

“Gratis, Buat emak sama cucu. Alhamdulillah, hari ini rezeki saya banyak. Es nya sudah hampir habis, dan ini yang penghabisan.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Makasih, ya, Mang…” ujar emak tulus. Uang lima ribu itu ia lipat kembali, lalu ia selipkan di lipatan tali kain dan diikatkan lagi erat-erat di pinggang.

“Ini, Nok… diminum esnya. Seger, biar semangat. Nanti kalau udah habis, kita pulang aja ya. Kayaknya ini udah masuk waktu duhur. Emak juga udah capek,” katanya sambil menyerahkan es ke tangan cucunya.

Wasni mengangguk pelan. Ia terima es itu, lalu meminumnya perlahan kemudian menyodorkan gelas itu ke neneknya,memastikan neneknya juga menikmati nikmatnya es dawet di Tengah Lelah dan panasnya cuaca.

Pulang

Setelah tukang es berlalu, nenek itu segera merapikan biji padi yang tadi telah ia pilah dan dibersihkan. Tangannya yang cekatan memasukkan butir-butir padi itu ke dalam sebuah karung kecil bekas beras bulog yang ia terima dari pemerintah desa.

Sementara itu, Wasni membereskan bekas makan mereka, melipat plastik alas nasi, dan memasukkan botol minum yang airnya tinggal setengah ke dalam cangkingan anyaman plastik. Cangkingan itu kemudian ia gantungkan di setang sepeda jengki neneknya, di bagian kiri. Sementara ember tempat memuat padi sisa panen, ia letakkan di sisi kanan.

Neneknya mengikat karung kecil berisi padi itu dengan tali rafia, lalu mengangkatnya ke boncengan. Wasni duduk di bagian belakang sambil memangku karung tersebut. Di bawah sengatan terik matahari, sang nenek yang usianya sudah menginjak kepala enam, tetap kuat mengayuh sepeda di jalanan yang berdebu dan panas.

Jarak tempuh menuju rumah mereka sekitar dua belas kilometer. Tapi bukan soal jaraknya yang berat, melainkan arah tujuan yang tak pasti. Mereka tak pernah benar-benar tahu akan berhenti di mana, karena sejak pagi berangkat dari rumah, yang mereka tuju hanyalah sawah-sawah bekas panenan. Di sanalah mereka mengais sisa-sisa biji padi yang jatuh dari mesin perontok dan tidak diambil pemiliknya.

Bermimpi Menjadi Seperti Kartini

Dengan stelan baju dan celana panjang yang sudah lusuh, serta kerudung tipis yang membalut kepala, Wasni tak terlalu merasa panas. Semilir angin yang menerpa wajahnya saat sepeda terus melaju, sedikit banyak membantu mengusir gerah yang menempel.

“Mak,” ucap Wasni pelan di tengah perjalanan, “Kata Bu Guru, ibu Kartini itu pahlawan negara kita. Beliau pejuang. Bu Guru bilang, berkat perjuangannya membela perempuan, sekarang Wasni dan teman-teman perempuan lainnya bisa bersekolah.”

Neneknya hanya mengangguk pelan, mendengarkan sambil sesekali menarik napas panjang untuk mengatur tenaga di sela kayuhan sepedanya.

“Ibu kita Kartini… putri sejati… putri Indonesia, harum namanya…”

Lagu itu Wasni nyanyikan lirih namun penuh semangat. Sepanjang jalan pulang, ia terus mengulang bait-bait lagu yang diajarkan gurunya saat Sabtu kemarin, seperti sebuah penghiburan sekaligus pengingat bahwa meski hidup mereka sederhana, dan ia tak memiliki kebaya, ia masih bisa bermimpi dan belajar seperti yang dulu diperjuangkan oleh Ibu Kartini. []

Jatimunggul, 21 April 2025.

 

 

Tags: cerita pendekhari kartiniKartini Tanpa KebayaPahlawan PerempuanSastra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Media Punya Peran Strategis dalam Mencegah Konflik Akibat Tidak Dipenuhinya Hak Keberagamaan

Next Post

Jamilah binti Abdullah: Kisah Perempuan yang Mendampingi Dua Syuhada

Uus Hasanah

Uus Hasanah

Guru di MA GUPPI Terisi Indramayu

Related Posts

Hari Kartini
Figur

Hari Kartini, Kebaya dan Ajang Keluwesan Perempuan: Sebuah Refleksi

27 April 2026
Bersama Kartini
Rekomendasi

Dialog Imajiner Bersama Kartini: Apa Artinya Berani bagi Perempuan?

26 April 2026
As Long as the Lemon Trees Grow
Buku

As Long as the Lemon Trees Grow: Suara Kecil dari Suriah kepada Dunia

25 April 2026
Pekerja Rumah Tangga
Publik

Di Hari Kartini, Negara Akhirnya Melihat Pekerja Rumah Tangga

25 April 2026
Menyoal Kartini
Publik

Menyoal Kartini, Perempuan, dan Madrasatu Ulā

24 April 2026
Kartini Lingkungan
Figur

Emansipasi Ekologi: Mengapresiasi Kartini Lingkungan Masa Kini

23 April 2026
Next Post
Jamilah binti Abdullah

Jamilah binti Abdullah: Kisah Perempuan yang Mendampingi Dua Syuhada

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati
  • Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman
  • Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam
  • Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan
  • Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0