Mubadalah.id – Kita hidup di tengah perkembangan inovasi teknologi yang begitu cepat. Hampir setiap hari muncul inovasi baru yang menawarkan kemudahan hidup. Mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), perangkat kesehatan digital, hingga berbagai produk yang diklaim semakin modern dan praktis.
Namun, di balik pesatnya perkembangan tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan. Untuk siapa teknologi sebenarnya kita rancang?
Pertanyaan ini penting karena tidak semua orang mengalami dunia dengan cara yang sama. Apa yang terasa mudah bagi sebagian orang, bisa menjadi tantangan besar bagi orang lain. Mengenakan pakaian, mendengar percakapan, membuka pintu, membaca informasi, atau menggunakan telepon pintar merupakan aktivitas sehari-hari yang sering kita anggap biasa.
Padahal, bagi sebagian perempuan penyandang disabilitas atau lansia, aktivitas tersebut dapat menjadi hambatan yang memengaruhi kemandirian, rasa aman, bahkan martabat mereka.
Di sinilah teknologi menemukan makna kemanusiaannya. Inovasi teknologi tidak lagi sekadar menunjukkan kecanggihan, tetapi menjadi cara untuk menghapus hambatan yang selama ini membuat sebagian orang tertinggal.
Bra Inklusif dan Hear ini Hijab bagi Perempuan Disabilitas
Baru-baru ini, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia menghadirkan REKAT, bra inklusif yang terancang khusus bagi perempuan penyandang disabilitas dan lansia. Berbeda dari bra pada umumnya yang menggunakan kait di bagian belakang, REKAT menggunakan sistem pengait magnet di bagian depan sehingga lebih mudah terpakai oleh perempuan yang memiliki keterbatasan gerak pada tangan dan bahu.
Sekilas, inovasi ini tampak sederhana. Namun sesungguhnya ia menyentuh persoalan yang sangat mendasar. Hak perempuan untuk merawat tubuhnya secara mandiri. Selama ini, banyak perempuan penyandang disabilitas masih membutuhkan bantuan orang lain untuk mengenakan pakaian. Ketergantungan tersebut bukan hanya menyangkut persoalan teknis, tetapi juga menyentuh aspek privasi, harga diri, dan otonomi atas tubuhnya sendiri.
Contoh lain datang dari Hear in Hijab, inovasi yang Wardah kembangkan bagi perempuan pengguna alat bantu dengar yang berhijab. Selama ini, posisi mikrofon pada alat bantu dengar sering tertutup kain hijab sehingga suara yang diterima menjadi kurang optimal.
Melalui penempatan mikrofon pada bros hijab dan terhubung secara nirkabel dengan alat bantu dengar, perempuan berhijab dapat mendengar lebih jelas tanpa harus mengubah cara mereka berpakaian.
Kedua inovasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi terbaik tidak selalu lahir dari laboratorium yang paling canggih. Ia sering lahir dari kemampuan mendengarkan pengalaman orang-orang yang selama ini tidak kita anggap sebagai pengguna utama.
Ketika Pengalaman Menjadi Sumber Pengetahuan
Selama bertahun-tahun, banyak produk dirancang berdasarkan pengalaman kelompok mayoritas. Dalam dunia desain, kondisi ini terkenal sebagai default user, yaitu anggapan bahwa ada satu jenis pengguna yang dianggap mewakili semua orang. Akibatnya, kebutuhan perempuan, penyandang disabilitas, lansia, maupun kelompok rentan lainnya sering kali terabaikan.
Padahal, pengalaman hidup setiap orang merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Seorang perempuan dengan cerebral palsy tentu mengetahui kesulitan yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang desainer yang tidak pernah mengalami kondisi tersebut. Demikian pula perempuan tuli yang berhijab memiliki pengalaman berbeda yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh perusahaan pembuat alat bantu dengar.
Karena itulah gerakan disabilitas di berbagai negara memperkenalkan prinsip Nothing About Us Without Us. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap kebijakan, layanan, maupun teknologi yang menyangkut penyandang disabilitas tidak boleh kita rancang tanpa melibatkan mereka secara aktif.
Mereka bukan sekadar penerima manfaat, akan tetapi pemilik pengalaman yang menjadi sumber pengetahuan paling otoritatif.
Design Justice: Teknologi yang Berpihak
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi pendekatan Design Justice yang dikenalkan oleh Sasha Costanza-Chock. Pendekatan ini mengajak kita melihat bahwa desain dan teknologi tidak pernah benar-benar netral. Siapa yang duduk di meja perancangan akan menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang justru kembali terpinggirkan.
Selama kelompok rentan hanya kita posisikan sebagai objek penelitian atau konsumen, teknologi akan terus mengulang ketimpangan yang sama. Sebaliknya, ketika mereka menjadi bagian dari proses perancangan, inovasi yang lahir akan lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Perspektif ini sangat dekat dengan semangat mubadalah yang menempatkan setiap manusia sebagai subjek yang memiliki martabat yang setara. Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik ataupun kemampuan tertentu, tetapi oleh kemanusiaannya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Karena itu, menghadirkan teknologi yang dapat terakses oleh semua orang bukan sekadar persoalan inovasi, tetapi juga bagian dari mewujudkan keadilan sosial.
Inovasi sebagai Ikhtiar Mewujudkan Kemaslahatan
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī’ah, setiap ikhtiar yang menghadirkan kemaslahatan dan mengurangi kesulitan (raf’ al-ḥaraj) merupakan tujuan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Teknologi yang memudahkan perempuan penyandang disabilitas berpakaian secara mandiri, membantu perempuan berhijab mendengar lebih baik, atau membuka akses pendidikan dan pekerjaan bagi kelompok rentan merupakan bentuk nyata dari menghadirkan kemaslahatan tersebut.
Sayangnya, inklusi sering kali dipahami sebatas menyediakan fasilitas tambahan setelah sebuah produk selesai dibuat. Padahal, inklusi seharusnya kita mulai jauh lebih awal, yakni ketika kelompok yang selama ini terpinggirkan diajak berdialog sejak tahap mengidentifikasi masalah, merancang solusi, hingga menguji sebuah inovasi.
Inilah yang sesungguhnya perlu terus kita dorong. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan revolusi digital, kita memang membutuhkan teknologi yang semakin pintar. Namun, jauh lebih penting lagi adalah memastikan bahwa teknologi juga semakin mampu mendengarkan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukanlah seberapa rumit teknologi yang kita gunakan. Akan tetapi seberapa banyak manusia yang dapat hidup lebih bermartabat karenanya.
Teknologi yang lahir dari empati tidak hanya menyelesaikan persoalan praktis. Ia juga mengingatkan kita bahwa setiap pengalaman manusia layak terdengar. Setiap kebutuhan layak kita pertimbangkan, dan setiap orang berhak menjadi bagian dari masa depan yang sedang kita bangun bersama. []








































