Mubadalah.id – Berbagai masalah kesehatan yang dialami oleh orang dengan AIDS dapat berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun. Kondisi ini dapat menguras energi, waktu, dan sumber daya, baik bagi orang yang sakit maupun keluarga yang merawatnya.
Bila Anda mengidap AIDS, kemungkinan Anda perlu memeriksakan diri secara rutin kepada tenaga kesehatan, puskesmas, atau rumah sakit. Apabila muncul penyakit atau gangguan kesehatan tertentu, penanganan perlu dilakukan sesegera mungkin.
Namun, hal tersebut tidak selalu berarti Anda harus menjalani rawat inap. Jika tidak benar-benar diperlukan, menjalani perawatan di rumah sering kali terasa lebih nyaman karena didampingi keluarga dan berada di lingkungan yang telah dikenal.
Apabila Anda tinggal di rumah dan mendapat bantuan perawatan dari keluarga. Tetapi masalah kesehatan yang Anda alami tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke tenaga kesehatan, puskesmas, dokter, atau rumah sakit yang memiliki pengalaman dalam menangani pasien AIDS.
Sebaiknya, setiap kali mengalami masalah kesehatan, Anda memeriksakan diri ke tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan yang sama. Tidak perlu berpindah-pindah klinik, dokter, atau rumah sakit karena hal tersebut dapat menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya, sementara hasilnya belum tentu lebih baik.
Biasanya, ketika ada anggota keluarga yang sakit di rumah, perempuanlah yang paling sering mengambil peran sebagai perawat. Jika Anda sedang merawat seseorang yang hidup dengan AIDS, pastikan kebutuhan diri Anda sendiri juga tetap terpenuhi. Usahakan meringankan beban perawatan dengan meminta bantuan anggota keluarga lain, teman, atau tetangga.
Paguyuban warga, kelompok keagamaan seperti majelis taklim, kelompok pengajian, atau jemaat gereja, kelompok pemuda. Serta kelompok dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS dapat menjadi sumber bantuan yang berharga.
Berbagai kelompok tersebut dapat memberikan dukungan dan bantuan yang Anda perlukan dalam merawat anggota keluarga yang sedang sakit. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 382.











































