Mubadalah.id- Gagasan untuk mengajari anak dengan Down syndrome marah terdengar janggal bagi banyak orang. Pendidikan selama ini lebih akrab dengan nasihat agar anak mampu mengendalikan emosi daripada mengenali dan mengekspresikannya.
Akibatnya, banyak orang langsung menganggap kemarahan sebagai suatu ancaman. Cara pandang ini sebenarnya menyimpan persoalan yang lebih besar. Kita terlalu sibuk mengatur emosi penyandang disabilitas, tetapi jarang bertanya mengapa mereka membutuhkan ruang untuk marah.
Kemarahan tidak selalu lahir dari sikap agresif. Sering kali, kemarahan muncul ketika seseorang merasa haknya dilanggar, pendapatnya diabaikan, atau tubuhnya diperlakukan tanpa persetujuan. Karena itu, kemampuan mengenali kemarahan justru membantu seseorang memahami batas dirinya. Ia tahu kapan harus berkata tidak, kapan harus meminta bantuan, dan kapan harus menghentikan perlakuan yang merugikan dirinya.
Sayangnya, masyarakat belum sepenuhnya memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk memiliki pengalaman emosional yang utuh. Banyak orang lebih nyaman melihat mereka tersenyum daripada menyampaikan keberatan. Kita memuji mereka ketika tampak sabar, ramah, dan menerima keadaan.
Sebaliknya, kita sering menganggap mereka bermasalah ketika mulai menunjukkan rasa kesal atau penolakan. Tanpa sadar, kita membangun standar yang tidak pernah kita terapkan kepada diri sendiri. Kita mengizinkan orang lain marah, tetapi kita berharap penyandang disabilitas tetap tenang dalam situasi apa pun.
Perspektif Mubadalah mengajak kita menggeser cara pandang tersebut. Kesalingan lahir ketika setiap orang mengakui pihak lain sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai objek yang harus memenuhi harapan tertentu. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menentukan emosi apa yang boleh atau tidak boleh dimiliki penyandang disabilitas.
Mereka memiliki hak yang sama untuk menyampaikan rasa kecewa, marah, atau menolak perlakuan yang merendahkan martabatnya. Jika masyarakat hanya menerima penyandang disabilitas ketika mereka terlihat menyenangkan, berarti masyarakat belum benar-benar menerima mereka sebagai sesama manusia.
Belas Kasihan Sering Menutupi Relasi yang Tidak Setara
Banyak orang percaya bahwa rasa iba merupakan bentuk kepedulian tertinggi kepada penyandang disabilitas. Mereka menawarkan bantuan, memberikan perhatian, dan berusaha melindungi mereka dari berbagai kesulitan.
Niat itu tentu patut kita hargai. Namun, belas kasihan sering kali melahirkan hubungan yang tidak seimbang. Orang yang merasa paling tahu kebutuhan penyandang disabilitas akhirnya mengambil keputusan atas nama mereka. Sedikit demi sedikit, ruang untuk menentukan pilihan menyempit karena orang lain merasa lebih berhak mengatur apa yang mereka anggap terbaik.
Situasi seperti ini tampak sederhana, tetapi dampaknya cukup besar. Masyarakat mulai menilai penyandang disabilitas sebagai penerima bantuan, bukan sebagai individu yang mampu menyampaikan kebutuhan dan mengambil keputusan. Ketika mereka menolak bantuan, mengkritik perlakuan seseorang, atau memperlihatkan kemarahan, sebagian orang justru merasa tersinggung. Seolah-olah penyandang disabilitas telah melanggar peran yang selama ini melekat kepada mereka.
Mubadalah menawarkan arah yang berbeda. Kesalingan tidak tumbuh dari hubungan antara pihak yang selalu memberi dan pihak yang terus menerima. Kesalingan tumbuh ketika kedua belah pihak sama-sama mengakui martabat satu sama lain.
Pengakuan itu menuntut keberanian untuk mendengarkan suara penyandang disabilitas, termasuk ketika suara tersebut berisi penolakan atau kritik. Hubungan yang setara tidak menghapus perbedaan pengalaman hidup, tetapi menghormati hak setiap orang untuk menentukan batas atas tubuh, pikiran, dan perasaannya sendiri.
Karena itu, mengajarkan penyandang disabilitas mengenali kemarahan bukan berarti mendorong mereka menjadi pribadi yang agresif. Pendidikan justru membantu mereka mengubah kemarahan menjadi komunikasi yang sehat.
Mereka belajar mengatakan bahwa suatu perlakuan membuatnya tidak nyaman, meminta orang lain berhenti, atau mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Kemampuan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan citra bahwa penyandang disabilitas selalu sabar dan mudah menerima keadaan.
Kesalingan Menuntut Perubahan dari Masyarakat
Pembahasan mengenai pendidikan inklusif sering berpusat pada upaya meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas. Sekolah mengembangkan metode belajar yang lebih adaptif, keluarga melatih kemandirian, dan berbagai lembaga menyediakan layanan pendampingan. Semua upaya tersebut memang penting. Namun, masyarakat sering melupakan satu pertanyaan mendasar. Sudahkah kita mengubah cara kita membangun relasi dengan penyandang disabilitas?
Pertanyaan ini layak ada karena hambatan terbesar sering muncul dari lingkungan sosial, bukan semata-mata dari kondisi disabilitas itu sendiri. Banyak orang masih menganggap penyandang disabilitas sebagai simbol kesabaran, inspirasi, atau penerima belas kasihan.
Cara pandang tersebut memang terdengar positif, tetapi tetap menempatkan mereka dalam posisi yang sempit. Mereka harus terus memenuhi harapan orang lain agar memperoleh penerimaan. Begitu mereka menunjukkan kemarahan atau keberatan, masyarakat mulai mempertanyakan sikap mereka.
Perspektif Mubadalah mengingatkan bahwa kesalingan selalu menuntut perubahan dari semua pihak. Penyandang disabilitas memang perlu memiliki ruang untuk mengenali emosi dan menyampaikan batas diri mereka.
Namun, masyarakat juga perlu belajar menerima bahwa penolakan, kritik, dan kemarahan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak bisa ia pisahkan dari siapa pun. Kesalingan tidak akan terwujud jika hanya satu pihak yang terus belajar menyesuaikan diri, sementara pihak lain mempertahankan cara pandang lama.
Pada akhirnya, gagasan mengajari anak dengan Down syndrome untuk marah mengajak kita melihat persoalan yang lebih luas daripada sekadar pendidikan emosi. Gagasan itu menguji sejauh mana masyarakat bersedia mengakui penyandang disabilitas sebagai manusia yang memiliki suara, pilihan, dan kehendaknya sendiri.
Ketika masyarakat membuka ruang bagi mereka untuk berkata, “Saya tidak nyaman,” atau “Saya menolak diperlakukan seperti ini,” masyarakat tidak sedang mengajarkan perlawanan. Masyarakat sedang membangun relasi yang setara. Di situlah makna Mubadalah menemukan bentuknya, yakni ketika setiap orang saling mengakui martabat satu sama lain dan memberi ruang yang sama untuk didengar. []








































