Rabu, 7 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Manusia yang layak

    Tidak Ada Manusia yang Layak Dipertuhankan

    Masyarakat jahiliyah

    Mengapa Al-Qur’an Mengkritik Perilaku Masyarakat Jahiliyah?

    Kesehatan Mental

    Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan

    Memanusiakan

    Tauhid yang Membebaskan dan Memanusiakan

    Pendidikan Tinggi Perempuan

    Membuka Akses dan Meruntuhkan Bias Pendidikan Tinggi Perempuan

    Islam dan Kemanusiaan

    Islam dan Fondasi Kemanusiaan Universal

    Nikah Muda

    Konten Romantisasi Nikah Muda: Mengapa Memicu Kontroversi?

    Pembaruan

    Peran KUPI dalam Pembaruan Islam Berbasis Pengalaman Perempuan

    Pacaran

    Pacaran: Femisida Berkedok Jalinan Asmara

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Manusia yang layak

    Tidak Ada Manusia yang Layak Dipertuhankan

    Masyarakat jahiliyah

    Mengapa Al-Qur’an Mengkritik Perilaku Masyarakat Jahiliyah?

    Kesehatan Mental

    Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan

    Memanusiakan

    Tauhid yang Membebaskan dan Memanusiakan

    Pendidikan Tinggi Perempuan

    Membuka Akses dan Meruntuhkan Bias Pendidikan Tinggi Perempuan

    Islam dan Kemanusiaan

    Islam dan Fondasi Kemanusiaan Universal

    Nikah Muda

    Konten Romantisasi Nikah Muda: Mengapa Memicu Kontroversi?

    Pembaruan

    Peran KUPI dalam Pembaruan Islam Berbasis Pengalaman Perempuan

    Pacaran

    Pacaran: Femisida Berkedok Jalinan Asmara

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Perempuan yang Menggugat Bidadari Surga (Bagian Pertama)

Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya?

Nikmara Nikmara
25 Januari 2023
in Sastra
0
Bidadari Surga

Bidadari Surga

1.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat usiaku 17, sebuah ide tercetus di kepalaku setelah berpikir mengenai masa depan relasi romantis antara aku dan kekasihku di surga. Aku seorang pencemburu akut, aku tidak rela jika kekasihku di dunia ini akan hidup dan bermesraan dengan orang lain, para bidadari itu, yang jumlahnya puluhan. Aku tidak bisa membayangkan, kekasihku memeluk wanita lain selain diriku, aku tidak bisa membayangkan ia mencium dan menggandeng tangan wanita lain selain diriku.

Ratu Bidadari dan Laku Pelayanan Abadi

Aku yang melahirkan anak, aku yang menanggung segala kebobrokan suamiku, aku yang berjuang bertahun-tahun selama hidup mendukung dan merawat laki-laki itu, lantas kenapa keberadaanku harus terkalahkan oleh bidadari asing yang tak punya andil sama sekali dalam kehidupan kami? Bahkan tubuh perempuanku yang terbuat dari “tanah” ini disebut akan kalah saing dengan tubuh sosok lain yang tercipta dari bahan yang lebih tinggi maqomnya.

Mendengar kisah indah tentang bidadari surga, setiap laki-laki tentu berimajinasi. Dan sudah pasti suamiku itu santai dan senang-senang saja karena ia adalah pihak yang diuntungkan. Dia malah membayangkan betapa menyenangkan suasana itu, bukankah begitu isi kepala kebanyakan laki-laki? Di kelilingi banyak wanita cantik dan bersenang-senang.

Sementara perempuan bumi dijanjikan menjadi komandan para bidadari surga itu, ingat: hanya komandan, yang dibalut dengan kata “ratu”. Yang pada akhirnya juga berakhir melayani laki-laki. Kapan laku pelayanan ini berakhir? Dunia sudah cukup membuat sebagian besar dari kami kehilangan masa muda, cita-cita, dan kedirian, hanya demi melayani laki-laki. Di surga-pun sama?

Sang Pemberontak

Aku bukan wanita yang gila jabatan dan ketenaran sehingga ingin menjadi ratu di antara puluhan bidadari. Kenapa harus ada sebuah kisah yang menggembirakan satu pihak dan mengancam pihak yang lain? Begitulah pikirku saat usiaku 17.

Saat mengutarakannya, beberapat teman perempuanku memarahiku, sebab menurut mereka, perempuan yang mempertanyakan otoritas laki-laki membuatnya menjadi perempuan buruk yang kurang adab. Mereka menganggapku perempuan mbalelo, sang pemberontak, tak tahu diuntung.

Kendati diserang sana-sini, aku terus bertanya. Dan sampai saat ini, belum ada satu jawaban yang mampu membuat hatiku tenteram. Sudah kujajaki isi hati semua laki-laki yang mendekatiku. Aku benar-benar menginginkan jawaban yang pasti.

Cemburu Pada “Wanita Cahaya”

“Katakan padaku, Lintang. Kau cemburu, kan?” Ucap Natagama, pacar pertamaku di SMA. Dia bilang aku cemburu. Meski cemburu bukan alasan utamaku, tapi ada benarnya. Siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain yang jauh lebih cantik, lebih bersinar, lebih muda, dan memiliki segala kualitas keindahan yang tak tertandingi? Jika pertanyaan dibalik, bukankah laki-laki juga cemburu melihat wanita kecintaannya bersama dengan pria lain yang lebih ganteng, kaya, dan saleh darinya? Hanya saja laki-laki tidak akan menderita di surga sebab segala dalil berpihak pada mereka.

“Pola pikirmu di surga sudah berubah, Lintang. Di surga semua orang saling mencintai, kebencian telah terhapuskan, jadi perasaan cemburu di surga sudah tak ada lagi.” Begitu kata Hadiwijaya. Cowok kedua yang menyatakan cinta padaku.

Begitu pula kata laki-laki ketiga, keempat, dan kesekian yang datang padaku dan mengaku cinta.

Mereka semua menyuguhkan argumen yang lumayan sulit aku bantah, tapi itu tidak menghapuskan fakta bahwa perempuan tetap di tempatkan menjadi dayang-dayang bagi laki-laki. Dan pertanyaanku semakin menjadi, aku semakin kesal. Begitukah kodrat dan fitrah perempuan yang ingin Tuhan terapkan di muka bumi ini? Inikah tempat perempuan yang sejati?

Di Surga Kau Ingin Hidup dengan Siapa?

Entah berapa banyak laki-laki yang mendekatiku, menjadi pacarku, dan tak ada satupun yang berhasil menjawab pertanyaanku. Akhirnya, selama sepuluh tahun, aku menjalani masa sekolah dan kuliahku dengan satu pertanyaan mengambang yang belum ada jawabannya. Pertanyaan yang menjadi senjata mutlakku saat ada seorang laki-laki yang ingin serius denganku. Saat ia mengaku cinta, aku balas dengan pertanyaan: di surga kau ingin hidup dengan siapa?

Ada satu laki-laki yang berkata sangat manis bahwa katanya, setelah masuk surga ia hanya ingin hidup denganku sebagaimana di bumi ini. Namun ia berkata bahwa dia punya mantan kekasih, kekasihnya mati muda dan ingin agar aku mau menerimanya menjadi maduku, hidup bertiga di surga. Seketika aku langsung bangkit dari duduk dan meninggalkannya.

Lalu datang lagi laki-laki lain yang kurasa dia memiliki jawaban yang berbeda dan bisa menentramkan hatiku. Katanya, dalam menjalin relasi, yang penting di dunia ini dia bersetia dan tidak menggoda gadis-gadis lain. Namun di surga itu urusan beda. Aku masih tidak setuju, karena bunyi teks bidadari surga susah dinalar dengan logika perempuan—lebih tepatnya logikaku. Meski surga adalah alam lain, namun itu merupakan bukti bahwa di dua alam, dunia dan surga, perempuan tetap menjadi pelengkap, bukan manusia seutuhnya.

Pada akhirnya aku seolah menggeneralisir, bahwa semua laki-laki sama. Mereka pemuja kenikmatan. Meski kenikmatan itu masih bersifat fatamorgana. Para laki-laki, di mataku, mereka sangat egois. Dari sisi lain mereka ingin agar kekasihnya yang berasal dari bumi tetap bersama mereka di surga, dan di sisi lain mereka dengan sumringah—untuk tidak mengatakan kegirangan—juga menerima puluhan bidadari surga. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat mereka cengar-cengir senang. Egois, bukan?

Histeria

Mereka sering mengatakan “itu hal yang terjadi entah kapan, alam akhirat masih jauh, tak perlu khawatir!”, kata-kata tersebut terucap hanya untuk menenangkan hati tapi tidak memberi solusi mutlak. Dan tak ada laki-laki yang serius menolak dalil tersebut. Sebab bagi pihak yang menang dan diuntungkan, nyata tidak nyata dalil tersebut, mereka tidak akan rugi, malah mendapat histeria. Setidaknya mereka punya lamunan indah yang ‘berdasar’.

Punya pikiran seperti ini membuatku merasa kuat, namun kadang juga membuatku ragu. Aku makin malas menikah. Makin malas dekat dengan laki-laki. Tak perduli orang sekitar mengataiku perawan tua, aneh, banyak maunya, ketinggian selera, pilih-pilih. Hm… Untuk apa aku menikah jika tak punya keyakinan?

Menjadi single bukan aib. Justru jika aku menikah hanya karena takut mendapat kecaman dari orang lain, itu artinya aku lemah dan tidak punya prioritas. Menikah itu untuk mendapatkan ketentraman batin, bukan untuk membungkam omongan orang. Karena omongan orang itu tidak akan ada habisnya. Mereka yang sudah menikah dan punya banyak anak juga masih terus dikejar pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang lebih menyakitkan.

Protes Seorang Perempuan

Aku tetap percaya diri bertanya, meski sesekali aku juga sangsi karena aku merasa telah menjadi hamba kurang ajar yang terus mempertanyakan hukum yang sudah ditentukan itu. Masuk surga saja belum pasti, lantas kenapa aku sibuk mengurusi dengan siapa aku akan menjalani hidup di sana?

Protes seorang perempuan sepertiku memang disebabkan karena kami merasa bahwa kesusah-payahan kami bersetia pada suami tak ada harganya. Lelah dan sakit di bumi hanya untuk satu tujuan besar di surga, tujuan itu bernama menjadi komandan bidadari. Bukan menjadi manusia yang satu, utuh, dan tak tergantikan.

Suami yang tidak semuanya baik itu diiming-imingi bidadari. Baiklah, jika melihat sejarah, alasan logisnya mungkin karena masyarakat Arab waktu itu terbiasa memiliki istri banyak sehingga penggambaran surga menyesuaikan dengan adat, kebiasaan, watak dan alam pikir mereka supaya mereka giat beribadah.

Namun, masa kita beribadah hanya demi bidadari? Suhrawardi al-Maqtul pasti tersinggung mendengarnya, ibadah adalah aktivitas sakral. Ibadah artinya pengabdian, persembahan, memberi. Memberi kepada kekasih itu tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan. Kekasih macam apa yang ketika ingin mempersembahkan salat dan puasa, karena ingin having fun dengan bidadari?

Derajat Cinta

Bukankah derajat cintaku dipersoalkan kemudian? Satu-satunya kebahagiaan para kekasih adalah perjumpaan dengan kekasih sejatinya, kenapa yang kubayangkan adalah hidup megah leyeh-leyeh bersama yang bukan kekasih sejatiku? Bukankah perjumpaan sejati adalah dengan kekasih sejati? Munafik sekali mengatakan Tuhan adalah kekasih sejatiku, jika gambaran bidadari surga menjadikanku mabuk kepayang.

Dalam kekalutan perjalanan cintaku, kadang aku merasa lelah dan putus asa. Mungkin memang benar begitulah kehendak Tuhan untuk kami makhluk bernama perempuan, menjadi manusia kelas dua. Yang keberadaannya di dunia dan di surga tak ada bedanya, menjadi pelengkap. Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya? []

Tags: bidadaricerpenCintaperempuansurga
Nikmara

Nikmara

Terkait Posts

Pembaruan
Publik

Peran KUPI dalam Pembaruan Islam Berbasis Pengalaman Perempuan

6 Januari 2026
Metodologi KUPI
Publik

Metodologi Fatwa KUPI Berbasis Pengalaman Perempuan

5 Januari 2026
Ibnu Hajar al-‘Asqalani
Personal

Perempuan, dan Masa Depan Umat: Perspektif Ibnu Hajar al-‘Asqalani

4 Januari 2026
Pengalaman Perempuan
Publik

Ulama KUPI Harus Berpihak pada Pengalaman Perempuan

1 Januari 2026
Femisida
Publik

Bahaya Femisida dan Kekerasan terhadap Perempuan dalam Relasi Pacaran

30 Desember 2025
Perempuan Disabilitas Berlapis
Publik

Diskriminasi Berlapis Perempuan Disabilitas di Negara yang Belum Inklusif

27 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Nikah Muda

    Konten Romantisasi Nikah Muda: Mengapa Memicu Kontroversi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Islam dan Fondasi Kemanusiaan Universal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tauhid yang Membebaskan dan Memanusiakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan di Titik Nol: Kisah Perlawanan Perempuan dari Padang Pasir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Tidak Ada Manusia yang Layak Dipertuhankan
  • Perempuan di Titik Nol: Kisah Perlawanan Perempuan dari Padang Pasir
  • Mengapa Al-Qur’an Mengkritik Perilaku Masyarakat Jahiliyah?
  • Pentingnya Circle of Trust dan Kesehatan Mental Aktivis Kemanusiaan
  • Tauhid yang Membebaskan dan Memanusiakan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID