Sabtu, 7 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    Bencana Alam

    Prof. Maghfur UIN Gus Dur: Bencana Alam adalah Bencana Politik

    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    Kesetaraan Gender

    Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

    Curu Pa'dong

    Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

    Hari Kemenangan

    Difabel, Hari Kemenangan (Raya), dan Mendambakan Kesejahteraan

    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Nabi

    Dakwah Nabi Muhammad Saw. Juga Ditopang Tokoh Non-Muslim

    Permusuhan

    Ketika Relasi Antaragama Masih Dipandang sebagai Permusuhan

    Program KB

    Program KB Dinilai Beri Manfaat Ekonomi Besar bagi Indonesia

    Hak Perempuan

    Hak Perempuan dan Kebijakan Kependudukan dalam Pengendalian TFR

    Demografi

    Indonesia di Titik Kritis Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    Bencana Alam

    Prof. Maghfur UIN Gus Dur: Bencana Alam adalah Bencana Politik

    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    Kesetaraan Gender

    Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

    Curu Pa'dong

    Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

    Hari Kemenangan

    Difabel, Hari Kemenangan (Raya), dan Mendambakan Kesejahteraan

    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Nabi

    Dakwah Nabi Muhammad Saw. Juga Ditopang Tokoh Non-Muslim

    Permusuhan

    Ketika Relasi Antaragama Masih Dipandang sebagai Permusuhan

    Program KB

    Program KB Dinilai Beri Manfaat Ekonomi Besar bagi Indonesia

    Hak Perempuan

    Hak Perempuan dan Kebijakan Kependudukan dalam Pengendalian TFR

    Demografi

    Indonesia di Titik Kritis Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Perempuan yang Menggugat Bidadari Surga (Bagian Pertama)

Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya?

Nikmara by Nikmara
25 Januari 2023
in Sastra
A A
0
Bidadari Surga

Bidadari Surga

36
SHARES
1.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat usiaku 17, sebuah ide tercetus di kepalaku setelah berpikir mengenai masa depan relasi romantis antara aku dan kekasihku di surga. Aku seorang pencemburu akut, aku tidak rela jika kekasihku di dunia ini akan hidup dan bermesraan dengan orang lain, para bidadari itu, yang jumlahnya puluhan. Aku tidak bisa membayangkan, kekasihku memeluk wanita lain selain diriku, aku tidak bisa membayangkan ia mencium dan menggandeng tangan wanita lain selain diriku.

Ratu Bidadari dan Laku Pelayanan Abadi

Aku yang melahirkan anak, aku yang menanggung segala kebobrokan suamiku, aku yang berjuang bertahun-tahun selama hidup mendukung dan merawat laki-laki itu, lantas kenapa keberadaanku harus terkalahkan oleh bidadari asing yang tak punya andil sama sekali dalam kehidupan kami? Bahkan tubuh perempuanku yang terbuat dari “tanah” ini disebut akan kalah saing dengan tubuh sosok lain yang tercipta dari bahan yang lebih tinggi maqomnya.

Mendengar kisah indah tentang bidadari surga, setiap laki-laki tentu berimajinasi. Dan sudah pasti suamiku itu santai dan senang-senang saja karena ia adalah pihak yang diuntungkan. Dia malah membayangkan betapa menyenangkan suasana itu, bukankah begitu isi kepala kebanyakan laki-laki? Di kelilingi banyak wanita cantik dan bersenang-senang.

Sementara perempuan bumi dijanjikan menjadi komandan para bidadari surga itu, ingat: hanya komandan, yang dibalut dengan kata “ratu”. Yang pada akhirnya juga berakhir melayani laki-laki. Kapan laku pelayanan ini berakhir? Dunia sudah cukup membuat sebagian besar dari kami kehilangan masa muda, cita-cita, dan kedirian, hanya demi melayani laki-laki. Di surga-pun sama?

Sang Pemberontak

Aku bukan wanita yang gila jabatan dan ketenaran sehingga ingin menjadi ratu di antara puluhan bidadari. Kenapa harus ada sebuah kisah yang menggembirakan satu pihak dan mengancam pihak yang lain? Begitulah pikirku saat usiaku 17.

Saat mengutarakannya, beberapat teman perempuanku memarahiku, sebab menurut mereka, perempuan yang mempertanyakan otoritas laki-laki membuatnya menjadi perempuan buruk yang kurang adab. Mereka menganggapku perempuan mbalelo, sang pemberontak, tak tahu diuntung.

Kendati diserang sana-sini, aku terus bertanya. Dan sampai saat ini, belum ada satu jawaban yang mampu membuat hatiku tenteram. Sudah kujajaki isi hati semua laki-laki yang mendekatiku. Aku benar-benar menginginkan jawaban yang pasti.

Cemburu Pada “Wanita Cahaya”

“Katakan padaku, Lintang. Kau cemburu, kan?” Ucap Natagama, pacar pertamaku di SMA. Dia bilang aku cemburu. Meski cemburu bukan alasan utamaku, tapi ada benarnya. Siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain yang jauh lebih cantik, lebih bersinar, lebih muda, dan memiliki segala kualitas keindahan yang tak tertandingi? Jika pertanyaan dibalik, bukankah laki-laki juga cemburu melihat wanita kecintaannya bersama dengan pria lain yang lebih ganteng, kaya, dan saleh darinya? Hanya saja laki-laki tidak akan menderita di surga sebab segala dalil berpihak pada mereka.

“Pola pikirmu di surga sudah berubah, Lintang. Di surga semua orang saling mencintai, kebencian telah terhapuskan, jadi perasaan cemburu di surga sudah tak ada lagi.” Begitu kata Hadiwijaya. Cowok kedua yang menyatakan cinta padaku.

Begitu pula kata laki-laki ketiga, keempat, dan kesekian yang datang padaku dan mengaku cinta.

Mereka semua menyuguhkan argumen yang lumayan sulit aku bantah, tapi itu tidak menghapuskan fakta bahwa perempuan tetap di tempatkan menjadi dayang-dayang bagi laki-laki. Dan pertanyaanku semakin menjadi, aku semakin kesal. Begitukah kodrat dan fitrah perempuan yang ingin Tuhan terapkan di muka bumi ini? Inikah tempat perempuan yang sejati?

Di Surga Kau Ingin Hidup dengan Siapa?

Entah berapa banyak laki-laki yang mendekatiku, menjadi pacarku, dan tak ada satupun yang berhasil menjawab pertanyaanku. Akhirnya, selama sepuluh tahun, aku menjalani masa sekolah dan kuliahku dengan satu pertanyaan mengambang yang belum ada jawabannya. Pertanyaan yang menjadi senjata mutlakku saat ada seorang laki-laki yang ingin serius denganku. Saat ia mengaku cinta, aku balas dengan pertanyaan: di surga kau ingin hidup dengan siapa?

Ada satu laki-laki yang berkata sangat manis bahwa katanya, setelah masuk surga ia hanya ingin hidup denganku sebagaimana di bumi ini. Namun ia berkata bahwa dia punya mantan kekasih, kekasihnya mati muda dan ingin agar aku mau menerimanya menjadi maduku, hidup bertiga di surga. Seketika aku langsung bangkit dari duduk dan meninggalkannya.

Lalu datang lagi laki-laki lain yang kurasa dia memiliki jawaban yang berbeda dan bisa menentramkan hatiku. Katanya, dalam menjalin relasi, yang penting di dunia ini dia bersetia dan tidak menggoda gadis-gadis lain. Namun di surga itu urusan beda. Aku masih tidak setuju, karena bunyi teks bidadari surga susah dinalar dengan logika perempuan—lebih tepatnya logikaku. Meski surga adalah alam lain, namun itu merupakan bukti bahwa di dua alam, dunia dan surga, perempuan tetap menjadi pelengkap, bukan manusia seutuhnya.

Pada akhirnya aku seolah menggeneralisir, bahwa semua laki-laki sama. Mereka pemuja kenikmatan. Meski kenikmatan itu masih bersifat fatamorgana. Para laki-laki, di mataku, mereka sangat egois. Dari sisi lain mereka ingin agar kekasihnya yang berasal dari bumi tetap bersama mereka di surga, dan di sisi lain mereka dengan sumringah—untuk tidak mengatakan kegirangan—juga menerima puluhan bidadari surga. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat mereka cengar-cengir senang. Egois, bukan?

Histeria

Mereka sering mengatakan “itu hal yang terjadi entah kapan, alam akhirat masih jauh, tak perlu khawatir!”, kata-kata tersebut terucap hanya untuk menenangkan hati tapi tidak memberi solusi mutlak. Dan tak ada laki-laki yang serius menolak dalil tersebut. Sebab bagi pihak yang menang dan diuntungkan, nyata tidak nyata dalil tersebut, mereka tidak akan rugi, malah mendapat histeria. Setidaknya mereka punya lamunan indah yang ‘berdasar’.

Punya pikiran seperti ini membuatku merasa kuat, namun kadang juga membuatku ragu. Aku makin malas menikah. Makin malas dekat dengan laki-laki. Tak perduli orang sekitar mengataiku perawan tua, aneh, banyak maunya, ketinggian selera, pilih-pilih. Hm… Untuk apa aku menikah jika tak punya keyakinan?

Menjadi single bukan aib. Justru jika aku menikah hanya karena takut mendapat kecaman dari orang lain, itu artinya aku lemah dan tidak punya prioritas. Menikah itu untuk mendapatkan ketentraman batin, bukan untuk membungkam omongan orang. Karena omongan orang itu tidak akan ada habisnya. Mereka yang sudah menikah dan punya banyak anak juga masih terus dikejar pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang lebih menyakitkan.

Protes Seorang Perempuan

Aku tetap percaya diri bertanya, meski sesekali aku juga sangsi karena aku merasa telah menjadi hamba kurang ajar yang terus mempertanyakan hukum yang sudah ditentukan itu. Masuk surga saja belum pasti, lantas kenapa aku sibuk mengurusi dengan siapa aku akan menjalani hidup di sana?

Protes seorang perempuan sepertiku memang disebabkan karena kami merasa bahwa kesusah-payahan kami bersetia pada suami tak ada harganya. Lelah dan sakit di bumi hanya untuk satu tujuan besar di surga, tujuan itu bernama menjadi komandan bidadari. Bukan menjadi manusia yang satu, utuh, dan tak tergantikan.

Suami yang tidak semuanya baik itu diiming-imingi bidadari. Baiklah, jika melihat sejarah, alasan logisnya mungkin karena masyarakat Arab waktu itu terbiasa memiliki istri banyak sehingga penggambaran surga menyesuaikan dengan adat, kebiasaan, watak dan alam pikir mereka supaya mereka giat beribadah.

Namun, masa kita beribadah hanya demi bidadari? Suhrawardi al-Maqtul pasti tersinggung mendengarnya, ibadah adalah aktivitas sakral. Ibadah artinya pengabdian, persembahan, memberi. Memberi kepada kekasih itu tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan. Kekasih macam apa yang ketika ingin mempersembahkan salat dan puasa, karena ingin having fun dengan bidadari?

Derajat Cinta

Bukankah derajat cintaku dipersoalkan kemudian? Satu-satunya kebahagiaan para kekasih adalah perjumpaan dengan kekasih sejatinya, kenapa yang kubayangkan adalah hidup megah leyeh-leyeh bersama yang bukan kekasih sejatiku? Bukankah perjumpaan sejati adalah dengan kekasih sejati? Munafik sekali mengatakan Tuhan adalah kekasih sejatiku, jika gambaran bidadari surga menjadikanku mabuk kepayang.

Dalam kekalutan perjalanan cintaku, kadang aku merasa lelah dan putus asa. Mungkin memang benar begitulah kehendak Tuhan untuk kami makhluk bernama perempuan, menjadi manusia kelas dua. Yang keberadaannya di dunia dan di surga tak ada bedanya, menjadi pelengkap. Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya? []

Tags: bidadaricerpenCintaperempuansurga
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Saat Nabi Muhammad Saw Bertanya Kepada Ummu Salamah Ra

Next Post

Prinsip Dasar Islam Adalah Kemanusiaan

Nikmara

Nikmara

Related Posts

Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an
Aktual

Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

6 Maret 2026
Pengalaman Perempuan
Personal

Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

4 Maret 2026
Hijrah
Pernak-pernik

Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

3 Maret 2026
Hadis Aurat
Pernak-pernik

Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

2 Maret 2026
Sayyidah Nafisah
Aktual

Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

27 Februari 2026
hak perempuan
Pernak-pernik

Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

25 Februari 2026
Next Post
Prinsip Islam

Prinsip Dasar Islam Adalah Kemanusiaan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dakwah Nabi Muhammad Saw. Juga Ditopang Tokoh Non-Muslim
  • Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa
  • Ketika Relasi Antaragama Masih Dipandang sebagai Permusuhan
  • Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani
  • Program KB Dinilai Beri Manfaat Ekonomi Besar bagi Indonesia

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0