Sabtu, 14 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    Akhir Ramadan

    Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

    Menstruasi

    Panggilan bagi Ulama Perempuan untuk Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    Akhir Ramadan

    Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

    Menstruasi

    Panggilan bagi Ulama Perempuan untuk Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Perempuan yang Menggugat Bidadari Surga (Bagian Pertama)

Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya?

Nikmara by Nikmara
25 Januari 2023
in Sastra
A A
0
Bidadari Surga

Bidadari Surga

36
SHARES
1.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat usiaku 17, sebuah ide tercetus di kepalaku setelah berpikir mengenai masa depan relasi romantis antara aku dan kekasihku di surga. Aku seorang pencemburu akut, aku tidak rela jika kekasihku di dunia ini akan hidup dan bermesraan dengan orang lain, para bidadari itu, yang jumlahnya puluhan. Aku tidak bisa membayangkan, kekasihku memeluk wanita lain selain diriku, aku tidak bisa membayangkan ia mencium dan menggandeng tangan wanita lain selain diriku.

Ratu Bidadari dan Laku Pelayanan Abadi

Aku yang melahirkan anak, aku yang menanggung segala kebobrokan suamiku, aku yang berjuang bertahun-tahun selama hidup mendukung dan merawat laki-laki itu, lantas kenapa keberadaanku harus terkalahkan oleh bidadari asing yang tak punya andil sama sekali dalam kehidupan kami? Bahkan tubuh perempuanku yang terbuat dari “tanah” ini disebut akan kalah saing dengan tubuh sosok lain yang tercipta dari bahan yang lebih tinggi maqomnya.

Mendengar kisah indah tentang bidadari surga, setiap laki-laki tentu berimajinasi. Dan sudah pasti suamiku itu santai dan senang-senang saja karena ia adalah pihak yang diuntungkan. Dia malah membayangkan betapa menyenangkan suasana itu, bukankah begitu isi kepala kebanyakan laki-laki? Di kelilingi banyak wanita cantik dan bersenang-senang.

Sementara perempuan bumi dijanjikan menjadi komandan para bidadari surga itu, ingat: hanya komandan, yang dibalut dengan kata “ratu”. Yang pada akhirnya juga berakhir melayani laki-laki. Kapan laku pelayanan ini berakhir? Dunia sudah cukup membuat sebagian besar dari kami kehilangan masa muda, cita-cita, dan kedirian, hanya demi melayani laki-laki. Di surga-pun sama?

Sang Pemberontak

Aku bukan wanita yang gila jabatan dan ketenaran sehingga ingin menjadi ratu di antara puluhan bidadari. Kenapa harus ada sebuah kisah yang menggembirakan satu pihak dan mengancam pihak yang lain? Begitulah pikirku saat usiaku 17.

Saat mengutarakannya, beberapat teman perempuanku memarahiku, sebab menurut mereka, perempuan yang mempertanyakan otoritas laki-laki membuatnya menjadi perempuan buruk yang kurang adab. Mereka menganggapku perempuan mbalelo, sang pemberontak, tak tahu diuntung.

Kendati diserang sana-sini, aku terus bertanya. Dan sampai saat ini, belum ada satu jawaban yang mampu membuat hatiku tenteram. Sudah kujajaki isi hati semua laki-laki yang mendekatiku. Aku benar-benar menginginkan jawaban yang pasti.

Cemburu Pada “Wanita Cahaya”

“Katakan padaku, Lintang. Kau cemburu, kan?” Ucap Natagama, pacar pertamaku di SMA. Dia bilang aku cemburu. Meski cemburu bukan alasan utamaku, tapi ada benarnya. Siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain yang jauh lebih cantik, lebih bersinar, lebih muda, dan memiliki segala kualitas keindahan yang tak tertandingi? Jika pertanyaan dibalik, bukankah laki-laki juga cemburu melihat wanita kecintaannya bersama dengan pria lain yang lebih ganteng, kaya, dan saleh darinya? Hanya saja laki-laki tidak akan menderita di surga sebab segala dalil berpihak pada mereka.

“Pola pikirmu di surga sudah berubah, Lintang. Di surga semua orang saling mencintai, kebencian telah terhapuskan, jadi perasaan cemburu di surga sudah tak ada lagi.” Begitu kata Hadiwijaya. Cowok kedua yang menyatakan cinta padaku.

Begitu pula kata laki-laki ketiga, keempat, dan kesekian yang datang padaku dan mengaku cinta.

Mereka semua menyuguhkan argumen yang lumayan sulit aku bantah, tapi itu tidak menghapuskan fakta bahwa perempuan tetap di tempatkan menjadi dayang-dayang bagi laki-laki. Dan pertanyaanku semakin menjadi, aku semakin kesal. Begitukah kodrat dan fitrah perempuan yang ingin Tuhan terapkan di muka bumi ini? Inikah tempat perempuan yang sejati?

Di Surga Kau Ingin Hidup dengan Siapa?

Entah berapa banyak laki-laki yang mendekatiku, menjadi pacarku, dan tak ada satupun yang berhasil menjawab pertanyaanku. Akhirnya, selama sepuluh tahun, aku menjalani masa sekolah dan kuliahku dengan satu pertanyaan mengambang yang belum ada jawabannya. Pertanyaan yang menjadi senjata mutlakku saat ada seorang laki-laki yang ingin serius denganku. Saat ia mengaku cinta, aku balas dengan pertanyaan: di surga kau ingin hidup dengan siapa?

Ada satu laki-laki yang berkata sangat manis bahwa katanya, setelah masuk surga ia hanya ingin hidup denganku sebagaimana di bumi ini. Namun ia berkata bahwa dia punya mantan kekasih, kekasihnya mati muda dan ingin agar aku mau menerimanya menjadi maduku, hidup bertiga di surga. Seketika aku langsung bangkit dari duduk dan meninggalkannya.

Lalu datang lagi laki-laki lain yang kurasa dia memiliki jawaban yang berbeda dan bisa menentramkan hatiku. Katanya, dalam menjalin relasi, yang penting di dunia ini dia bersetia dan tidak menggoda gadis-gadis lain. Namun di surga itu urusan beda. Aku masih tidak setuju, karena bunyi teks bidadari surga susah dinalar dengan logika perempuan—lebih tepatnya logikaku. Meski surga adalah alam lain, namun itu merupakan bukti bahwa di dua alam, dunia dan surga, perempuan tetap menjadi pelengkap, bukan manusia seutuhnya.

Pada akhirnya aku seolah menggeneralisir, bahwa semua laki-laki sama. Mereka pemuja kenikmatan. Meski kenikmatan itu masih bersifat fatamorgana. Para laki-laki, di mataku, mereka sangat egois. Dari sisi lain mereka ingin agar kekasihnya yang berasal dari bumi tetap bersama mereka di surga, dan di sisi lain mereka dengan sumringah—untuk tidak mengatakan kegirangan—juga menerima puluhan bidadari surga. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat mereka cengar-cengir senang. Egois, bukan?

Histeria

Mereka sering mengatakan “itu hal yang terjadi entah kapan, alam akhirat masih jauh, tak perlu khawatir!”, kata-kata tersebut terucap hanya untuk menenangkan hati tapi tidak memberi solusi mutlak. Dan tak ada laki-laki yang serius menolak dalil tersebut. Sebab bagi pihak yang menang dan diuntungkan, nyata tidak nyata dalil tersebut, mereka tidak akan rugi, malah mendapat histeria. Setidaknya mereka punya lamunan indah yang ‘berdasar’.

Punya pikiran seperti ini membuatku merasa kuat, namun kadang juga membuatku ragu. Aku makin malas menikah. Makin malas dekat dengan laki-laki. Tak perduli orang sekitar mengataiku perawan tua, aneh, banyak maunya, ketinggian selera, pilih-pilih. Hm… Untuk apa aku menikah jika tak punya keyakinan?

Menjadi single bukan aib. Justru jika aku menikah hanya karena takut mendapat kecaman dari orang lain, itu artinya aku lemah dan tidak punya prioritas. Menikah itu untuk mendapatkan ketentraman batin, bukan untuk membungkam omongan orang. Karena omongan orang itu tidak akan ada habisnya. Mereka yang sudah menikah dan punya banyak anak juga masih terus dikejar pertanyaan. Bahkan pertanyaan yang lebih menyakitkan.

Protes Seorang Perempuan

Aku tetap percaya diri bertanya, meski sesekali aku juga sangsi karena aku merasa telah menjadi hamba kurang ajar yang terus mempertanyakan hukum yang sudah ditentukan itu. Masuk surga saja belum pasti, lantas kenapa aku sibuk mengurusi dengan siapa aku akan menjalani hidup di sana?

Protes seorang perempuan sepertiku memang disebabkan karena kami merasa bahwa kesusah-payahan kami bersetia pada suami tak ada harganya. Lelah dan sakit di bumi hanya untuk satu tujuan besar di surga, tujuan itu bernama menjadi komandan bidadari. Bukan menjadi manusia yang satu, utuh, dan tak tergantikan.

Suami yang tidak semuanya baik itu diiming-imingi bidadari. Baiklah, jika melihat sejarah, alasan logisnya mungkin karena masyarakat Arab waktu itu terbiasa memiliki istri banyak sehingga penggambaran surga menyesuaikan dengan adat, kebiasaan, watak dan alam pikir mereka supaya mereka giat beribadah.

Namun, masa kita beribadah hanya demi bidadari? Suhrawardi al-Maqtul pasti tersinggung mendengarnya, ibadah adalah aktivitas sakral. Ibadah artinya pengabdian, persembahan, memberi. Memberi kepada kekasih itu tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan. Kekasih macam apa yang ketika ingin mempersembahkan salat dan puasa, karena ingin having fun dengan bidadari?

Derajat Cinta

Bukankah derajat cintaku dipersoalkan kemudian? Satu-satunya kebahagiaan para kekasih adalah perjumpaan dengan kekasih sejatinya, kenapa yang kubayangkan adalah hidup megah leyeh-leyeh bersama yang bukan kekasih sejatiku? Bukankah perjumpaan sejati adalah dengan kekasih sejati? Munafik sekali mengatakan Tuhan adalah kekasih sejatiku, jika gambaran bidadari surga menjadikanku mabuk kepayang.

Dalam kekalutan perjalanan cintaku, kadang aku merasa lelah dan putus asa. Mungkin memang benar begitulah kehendak Tuhan untuk kami makhluk bernama perempuan, menjadi manusia kelas dua. Yang keberadaannya di dunia dan di surga tak ada bedanya, menjadi pelengkap. Hingga saat ini, aku masih berdiri seorang diri. Mengembara. Mencari. Menunggu jawaban. Menanti kekasih yang sanggup membuatku merasa penuh dan utuh. Mungkinkah ada? Atau aku akan jadi pengembara seorang diri selamanya? []

Tags: bidadaricerpenCintaperempuansurga
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Saat Nabi Muhammad Saw Bertanya Kepada Ummu Salamah Ra

Next Post

Prinsip Dasar Islam Adalah Kemanusiaan

Nikmara

Nikmara

Related Posts

Kesehatan Sosial Perempuan
Pernak-pernik

Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

14 Maret 2026
Kesehatan Keluarga Perempuan
Pernak-pernik

Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

14 Maret 2026
Merayakan IWD
Publik

Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

13 Maret 2026
Relasi Suami Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

11 Maret 2026
Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan
Aktual

Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

9 Maret 2026
Vidi Aldiano
Aktual

Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

9 Maret 2026
Next Post
Prinsip Islam

Prinsip Dasar Islam Adalah Kemanusiaan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya
  • Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan
  • Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat
  • Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara
  • Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0