Rabu, 28 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo dan Gerakannya dalam Emansipasi Perempuan Indonesia

RM Tirto Adhi Soerjo mendirikan Poetri Hindia yang sekaligus terbit perdana pada tanggal 1 Juni 1908 di Batavia (Jakarta). Saat itu, Poetri Hindia menjadi koran pertama di Indonesia yang khusus ditujukan untuk kaum perempuan

Irfan Hidayat by Irfan Hidayat
22 Juni 2022
in Figur
A A
0
Emansipasi Perempuan

Emansipasi Perempuan

310
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bagi para pecinta novel Pramoedya Ananta Toer (Pram), tentunya tidak akan asing dengan sosok ‘Minke’ di dalam bukunya yang berjudul “Bumi Manusia”. Melalui novel setebal 535 halaman tersebut, Pram terinspirasi menghidupkan tokoh Raden Mas (RM) Tirto Adhi Soerjo melalui sosok Minke sebagai penggerak emansipasi perempuan di Indonesia.

Tulisan ini tidak akan membahas ataupun membuat resensi dari Novel Pram yang diterbitkan tahun 1980 tersebut. Namun, saya bermaksud mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat dengan tokoh RM Tirto Adi Soerjo. Nama RM Tirto ini terabadikan dalam karya Pram melalui sosok Minke, serta gerakannya mendorong emansipasi perempuan Indonesia.

Siapa RM Tirto Adi Soerjo?

Menurut Darwati (2022), dalam bukunya yang berjudul: “Nasionalisme dan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia”, RM Tirto Adi Soerjo lahir di Blora, Jawa Tengah pada tahun 1880 dengan nama kecil RM Djokomono. Dia merupakan putra dari Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro dan cucu dari Raden Mas Tumenggung Tirtonoto.

RM Tirto Adi Soerjo merupakan ‘Bapak Pers Nasional’. Ia merupakan orang pertama dalam sejarah Indonesia yang merintis penggunaan surat kabar sebagai alat advokasi rakyat dan pembentuk pendapat umum. Sejak usia muda, Ia sering mengirimkan tulisan-tulisannya ke beberapa surat kabar berbahasa Jawa dan Belanda. Ia juga pernah membantu di koran ‘Chabar Hindia Olanda’ pimpinan Alex Regensburgh selama dua tahun, sebelum akhirnya pindah menjadi Redaktur ‘Pemberita Betawi’ yang pimpinan F. Wriggers.

Ketika tinggal di Bandung, RM Tirto Adi Soerjo mendirikan tiga surat kabar yaitu Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908). Kemudian pada tahun 1909, Poetri Hindia menjadi surat kabar pertama yang mendapatkan apresiasi dari Ratu Emma, permaisuri almarhum Raja Willem III atau ibunda penguasa Kerajaan Belanda, Sri Ratu Wilhelmina. Seperti diilansir Kompas.com (09/02/2022).

Poetri Hindia: Gebrakan Baru Jurnalis Perempuan

RM Tirto Adhi Soerjo mendirikan Poetri Hindia yang sekaligus terbit perdana pada tanggal 1 Juni 1908 di Batavia (Jakarta). Saat itu, Poetri Hindia menjadi koran pertama di Indonesia yang khusus ditujukan untuk kaum perempuan.

Kehadiran Poetri Hindia merupakan gebrakan baru bagi pers ‘bumiputera’ yang saat itu media-media yang bercorak ‘maskulin’ mulai mendominasi. Bahkan, apresiasi terhadap Poetri Hindia tidak hanya muncul dari tanah air, tetapi juga dari luar negeri pun turut menyambut baik kehadirannya. Salah satunya ialah ‘Nieuw Controul’. Surat kabar terbitan ’s-Gravenhage, Belanda tersebut beberapa kali memuat informasi dan laporan tentang Poetri Hindia.

Misalnya, seperti Pram tulis dalam novelnya yang berjudul: “Sang Pemula” (2004: 113), Nieuw Controul menulis: “Berkala tengah-bulanan ini bukan asing lagi bagi pembaca kita, sudah beberapa kali kita memberitakan tentangnya. Ia dibaca dari Sabang sampai Merauke. Pembaca wanitanya tidak hanya di Jawa dan Madura, juga di Sumatera, Borneo, Celebes, dan Maluku, bahkan di Kesultanan Johor dan negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka.”

Prof. Ana Nadhya Abrar, dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Kajian Jurnalisme, yang kemudian dibukukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada dengan judul: “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi” (2022), menjelaskan bahwa sebagian besar, Poetri Hindia mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan kaum perempuan, baik anak-anak, remaja, maupun ibu-ibu.

Salah satu contohnya ialah adanya rubrik “Perempuan Hindia”, “Perawatan Kecantikan”, “Pemeliharaan Anak”, serta artikel lainnya seputar tata cara dan etika dalam berkeluarga. Selain itu, terdapat juga rubrik cerita pendek, hikayat, serta artikel-artikel hiburan lainnya.

Meskipun saat itu Poetri Hindia belum banyak membahas terkait kesadaran perempuan sebagai subjek atau pelaku pergerakan. Namun keberadaan kaum perempuan dalam media ini telah menunjukkan perempuan juga memliki peran publik, dalam hal ini sebagai pewarta.

Gerakan Emansipasi Perempuan

Pada awal masa pergerakan nasional (seiring lahirnya Boedi Oetomo: 1908), belum ada gerakan sosial untuk emansipasi yang perempuan lakukan atas gagasannya sendiri, termasuk dalam sektor jurnalistik yang murni  kaum perempuan pribumi miliki.

Menurut Muhidin M. Dahlan (2008), dalam bukunya yang berjudul: “Karya-Karya Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan”, meskipun saat itu sudah ada sekitar 12 orang istri bupati di Jawa yang pandai menulis serta berbicara bahasa Belanda, mendirikan dan mendukung sekolah wanita, serta menulis artikel di koran, namun belum bisa tersebut dengan gagasan lahirnya gerakan perempuan.

Baru setelah RM Tirto Adhi Soerjo mendirikan Poetri Hindia pada tahun 1908, gerakan emansipasi perempuan mulai dapat terlihat secara nyata. Reni Nuryanti (2008), dalam tulisannya yang berjudul: “Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa”, menjelaskan bahwa Poetri Hindia merupakan wadah bagi jurnalis perempuan generasi awal untuk menempa diri.

Poetri Hindia merupakan surat kabar pertama yang bagi kaum perempuan, bahkan juga terkelola langsung oleh para perempuan hebat. Seperti penjelasan Maman S. Mahayana (2003) dalam tulisannya yang berjudul: “Majalah Wanita Awal Abad ke-20: Corong Ide Emansipasi”.

Hal itu bisa terlihat dari susunan redaksi Poetri Hindia Nomor 1 Tahun ke-3 (1910). Terdapat nama-nama yang berasal dari berbagai daerah, seperti: R.A. Hendraningrat (Tangerang), R.A. Tjokroadikoesoemo (Cianjur), Siti Habiba (Bogor), Raden Fatimah (Bogor), R.A. Mangkoedimedjo (Yogyakarta), dan S.N. Norhar Salim (Bukittinggi), serta redaktur dan jurnalis perempuan lainya.

Poetri Hindia kemudian redup karena R.M. Tirto Adhi Soerjo seringkali mengkritik pejabat kolonial maupun pribumi melalui tulisan-tulisannya. Ia diajukan ke pengadilan dan mendapat hukuman pembuangan ke Maluku pada Desember 1913.

Ia kemudian meninggal dunia pada 7 Desember 1918 di Batavia beberapa saat setelah kembali dari pengasingannya. Saat ini, Nama R.M. Tirto Adhi Soerjo telah terabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Bogor, dan peresmiannya oleh Walikota Bogor, Bima Arya, bertepatan dengan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2021 lalu.

Tantangan Mewujudkan Kesetaraan di Dunia Jurnalistik

Saat ini, sekitar 114 tahun semenjak lahirnya Poetri Hindia, Indonesia belum memiliki regulasi secara khusus terhadap perlindungan jurnalis perempuan dari berbagai kekerasan yang bisa saja menimpa mereka. Meskipun sudah mulai banyak perempuan yang berkarir di dunia jurnalistik. Namun, masih marak jurnalis perempuan yang rentan terkena diskriminasi serta pelecehan dan kekerasan seksual saat bekerja.

Hal tersebut merupakan permasalahan yang tak kunjung selesai sejak masa kemerdekaan Indonesia. Atau bahkan sejak gerakan pertama pers perempuan berdiri. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan yang perempuan hadapi tidak pernah habis.

Untuk itu, kita memerlukan adanya regulasi terkait perlindungan khusus terhadap jurnalis perempuan. Selain itu, setiap jurnalis, baik laki-laki maupun perempuan, harus senantiasa mengamalkan serta menjaga kode etik jurnalistik dalam setiap melakukan pekerjaannya.

Dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di dunia jurnalistik, kita memerlukan rekonstruksi hukum perempuan dan laki-laki memiliki hak sama. Masyarakat juga harus senantiasa meningkatkan kepekaan terkait isu gender supaya diskriminasi yang membedakan antara laki-laki dan perempuan tidak terus terjadi. Hal ini tentu bukan hanya dalam dunia jurnalistik, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan. []

 

Tags: emansipasiIndonesiaperempuanRM Tirto Adhi Soerjosejarah

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
This work is licensed under CC BY-ND 4.0
Irfan Hidayat

Irfan Hidayat

Alumni Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga, Kader PMII Rayon Ashram Bangsa

Related Posts

Ummu Syuraik
Pernak-pernik

Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

28 Januari 2026
Perempuan Kaya
Pernak-pernik

Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

28 Januari 2026
Kerja Perempuan
Pernak-pernik

Islam Mengakui Kerja Perempuan

28 Januari 2026
WKRI
Publik

WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

28 Januari 2026
Penggembala
Pernak-pernik

Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

28 Januari 2026
Kerja adalah sedekah
Pernak-pernik

Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

27 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi
  • Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi
  • Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen
  • Islam Mengakui Kerja Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0