Judul buku: Jika Tuhan Berkuasa, Kenapa Manusia Menderita?: Memahami Akidah Islam Bersama Al-Ghazali
Penulis: Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: 2020
Kota terbit: Yogyakarta
Jumlah Halaman: 185
Mubadalah.id – Perjalanan hidup manusia tidaklah terlepas dari kondisi yang dualistik. Seakan ia selalu berputar di antara dua poros yang saling berlawanan, seperti hidup dan mati, bahagia dan derita, kebebasan dan keterbatasan. Kondisi ini, semacam paradoks atau rahasia besar dalam kehidupan manusia. Kondisi ini terkadang menjelma menjadi pertanyaan skeptis tentang kekuasaan dan kehendak Tuhan atas makhlukNya.
Sikap skeptis tersebut, memang terlihat sangat wajar secara naluri manusiawi. Namun di satu titik, ia sangatlah penting untuk kita arahkan pada satu pemahaman yang menjadi landasan dasar cara pandang orang-orang beriman terhadap Tuhannya. Karena seperti apa cara pandang kita terhadap Tuhan, akan menentukan juga cara pandang kita terhadap kehidupan dengan segala kondisinya.
Sebut saja, manusia yang beriman akan mengamini bahwa apa yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhannya. Meskipun bukan berarti manusia harus pasrah sepenuhnya tanpa usaha. Namun di titik tertentu, manusia lebih cenderung memahaminya secara kausalitas. Sebaliknya bisa juga yang melihat kebahagiaan dan penderitaan sebagai hasil penuh dari segala tindakannya.
Secara ilustrasi, jika saja manusia selalu terpenuhi dengan rasa kecurigaan (suudzan) terhadap Tuhannya, maka cara memandang suatu kondisi yang kurang ideal pun akan berujung pada perasaan tersakiti (terdzhalimi). Seakan ia menganggap kejahatan adalah suatu perbuatan yang lahir dari kekuasaan dan kehendak Tuhan.
Namun bagi orang yang beriman, mereka akan lebih cenderung melihatnya dengan sikap positif thinking (husnudzann), bahwa suatu hal yang ternilai jahat sekalipun, ia adalah manifestasi dari kasih sayang Tuhan yang akan melahirkan kebaikan lainnya. Hal ini sesuai dengan rencana besar Tuhan.
Melihat Kembali Cara Pandang Al-Ghazali
Kompleksitas demikian telah terulas lebih dalam oleh Ulil Abshar Abdalla, selanjutnya akan saya sebut Gus Ulil. Dalam bukunya yang berjudul Jika Tuhan Berkuasa, Kenapa Manusia Menderita? (2020). Dalam buku tersebut, Gus Ulil seakan membawa pembaca bertamasya untuk memahami persoalan akidah melalu kacamata Al-Ghazali. Ia adalah sosok ahli teologi Islam, di dalam magnum opusnya, Ihya Ulumuddin.
Namun demikian, betapa pun yang telah terkontekstualisasikan oleh Gus Ulil dalam membaca doktrin akidah Sunni yang digagas oleh Al-Ghazali. Dengan demikian, pembacaan yang lebih kontekstual masih sangat kita butuhkan dalam menghadapi tatanan hidup yang kian bergerak dan berubah.
Salah satu pembahasan yang dianggap pokok, adalah pembahasan yang mengkaji cara pandang al-Ghazali dalam melihat dunia yang ada saat ini. Di dalam Ihya Ulumuddin-nya, al-Ghazali menyampaikan pandangannya dengan cara pandang orang yang beriman. Pandangan al-Ghazali terhadap dunia saat ini, dengan segala penderitaanya, adalah dunia yang paling mungkin dan sempurna (laisa al-imkan abda’u mimma kan).
Tentu saja pandangan al-Ghazali ini, tidak luput dari kritik dan serangan dari ulama lain. Karena jika memang dunia yang hadir sekarang adalah dunia yang paling sempurna, maka seakan Tuhan tidak memiliki ruang untuk menciptakan dunia lain yang lebih sempurna. Jika demikian, berarti kekuasaan Tuhan tidaklah begitu sempurna, karena ia tidak mampu untuk menciptakan dunia lain yang penuh dengan kesempurnaan—tanpa adanya cacat sekalipun.
Menilik Pokok Argumen al-Ghazali
Pokok argumen al-Ghazali dalam memandang dunia ini, sebenarnya sangat cukup jernih. Al-Ghazali tidak menutup mata terhadap adanya kejahatan, penderitaan, penyakit, dan rasa sakit yang berkelindan erat dengan kehidupan manusia. Namun sekali lagi, menurutnya, “dunia yang kita alami ini merupakan bentuk tatanan yang paling mungkin sekaligus yang paling utuh.”
Dengan mengutip Abu Thalib al-Makki (w. 998) dalam Qut al-Qulub, al-Ghazali mengajukan sebuah ilustrasi imajinatif demikian. “Seandainya Tuhan menciptakan seluruh manusia dalam kondisi yang paling sempurna, dengan kecerdasan maksimal dan pengetahuan menyeluruh tentang rahasia segala sesuatu, lalu meminta mereka merancang ulang dunia, hasilnya tak akan jauh berbeda dari dunia yang sekarang kita kenal.”
Dari sini, al-Ghazali ingin menegaskan bahwa dunia yang hadir sekarang tidak memiliki alternatif yang lebih sempurna. Kekurangan dan penderitaan yang kita rasakan pada tataran pengalaman individual maupun kolektif, bisa jadi, dalam kerangka yang lebih luas, justru merupakan bagian dari keteraturan yang membawa maslahat—yang memang belum kita tahu dan rasakan keberadaannya.
Bagaimana Kita Memahamai Penderitaan di Tengah Modernitas?
Namun, pembacaan teologis atas penderitaan manusia tersebut, seyogyanya tidak berhenti pada ranah batin dan pengalaman personal semata. Dalam konteks kehidupan modern, penderitaan kerap hadir bukan hanya sebagai ujian individual, melainkan sebagai akibat dari struktur sosial, politik, dan ekonomi yang timpang.
Kemiskinan yang terstruktur, kekerasan yang terlembagakan, ketidakadilan hukum, hingga krisis ekologis, sering kali tidak lahir dari kehendak yang bersifat personal, melainkan dari sistem yang secara sadar atau tidak sadar telah terpelihara oleh manusia itu sendiri.
Di titik inilah teologi al-Ghazali—sebagaimana yang telah dibaca ulang oleh Gus Ulil—perlu kita tempatkan secara kritis dan lebih kontekstual lagi. Sebab keyakinan bahwa dunia ini merupakan tatanan yang paling mungkin dan sempurna, tidak boleh kita pahami secara simplitis sebagai legitimasi atas ketidakadilan. Apalagi sebagai alasan untuk menerima penderitaan sosial secara pasif.
Justru sebaliknya, ia menuntut kepekaan moral yang lebih tajam untuk membedakan antara penderitaan yang tidak terelakkan sebagai bagian dari keterbatasan manusia, dengan penderitaan yang seharusnya dicegah karena lahir dari kesewenang-wenangan dan kegagalan etis manusia.
Cara Pandang Orang yang Beriman
Dengan cara pandang demikian, teologi Sunni tidak hanya berfungsi sebagai obat penenang yang meredam kegelisahan sosial secara sekejap saja. Tetapi juga sebagai kerangka makna yang menjaga iman tetap teguh tanpa mematikan daya kritisnya. Kepercayaan pada rencana besar Tuhan, lebih relevan ketika kita maknai dengan tidak menafikan kewajiban manusia untuk melawan ketidakadilan.
Karena sebagaimana yang Ibnu Qayyim al-Jauziyyah utarakan di dalam kitabnya, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, bahwa “di mana ada keadilan di sutulah hukum Tuhan (Allah).” Sehingga, akan lebih bermakna untuk saat ini, ketika rencana besar Tuhan kita artikan sebagai dasar spiritual untuk berpihak pada mereka yang menderita.
Demikianlah, cara pandang orang yang beriman dalam memahami kondisi kehidupan yang dualistik. Tanpa harus meninggalkan usaha untuk berpihak kepada mereka yang membutuhkan dengan dalih keimanan yang pasrah secara total. []



















































