Mubadalah.id – Terhitung sepekan ini, jagat media sosial ramai dengan pernyataan kontroversial dari seorang gadis yang menikah di usia 19 tahun tanpa menamatkan pendidikan SMA. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pilihannya untuk menikah muda di usia yang tergolong masih belia.
Namun, sangat kita sayangkan golden age untuk menempuh pendidikan di bangku kuliah tersebut ia tutup dengan nikah muda. Bahkan, dalam konten di Instagram miliknya ia menceritakan bahwa ia memilih berhenti sekolah di usia 15 tahun. Dia lebih memilih jalan hidup untuk menikah di usia yang kawan sebayanya berbondong-bondong melaksanakan ujian masuk kampus.
Satu hal yang kita sayangkan lagi, dan membuat netizen muntab adalah pernyataan suaminya bahwa kuliah itu scam, kecuali jika mengambil spesialisasi. Hal ini sontak mengundang amarah masyarakat media sosial. Mereka melontarkan banyak hujatan di kolom komentar. Tidak sedikit pula tokoh masyarakat yang bersuara perihal tindakan yang tidak mereka perhitungkan tersebut.
Namun, tulisan ini tidak akan membahas benar tidaknya pernyataan perihal kuliah itu scam. Tulisan ini akan membahas bagaimana ketika nikah muda menjadi sebuah tren, diromantisasi di media sosial oleh para influencer, kemudian berakibat sunyinya bangku pendidikan.
Di tengah derasnya arus media sosial, para remaja tidak hanya eksis di ruang belajar. Media sosial kini menjadi “panggung” tersendiri bagi mereka untuk mengekspresikan diri mulai dari membuat konten make up, konten bisnis, konten fotografi, konten belajar, hingga konten yang tidak pantas dilakukan di usia mereka.
Remaja, Media Sosial dan Normalisasi Konten Tidak Pantas
Media sosial yang dewasa ini menjadi tempat personal branding, sebenarnya seperti dua mata pisau. Ia tajam dan mematikan bagi mereka yang keliru cara mengasahnya. Banyak sekali kita temui, konten remaja dan pelajar yang mengemas hal tidak pantas dengan ringan dan romantis.
Konten yang berisi video pendek saling memeluk, kata-kata mesra berlebihan, hingga tindakan yang seharusnya bersifat privat. Ketika unggahan tersebut mendapat banyak suka, komentar, dan terbagikan ulang, ia perlahan berubah dari perilaku menyimpang menjadi tren yang dianggap wajar di kalangan sebaya.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Relasi remaja yang semestinya menjadi ruang belajar tentang batasan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri sendiri, justru terkemas menjadi tontonan publik demi pengakuan digital. Dalam banyak kasus, anak remaja belum memiliki kematangan emosional untuk memahami konsekuensi jangka panjang dari jejak digital yang mereka tinggalkan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, tren ini sering kali berjalan tanpa pendampingan yang memadai dari orang tua, sekolah, maupun lingkungan sosial. Alih-alih mendapatkan edukasi tentang kesehatan mental, relasi yang sehat, dan literasi digital, remaja justru belajar dari algoritma media sosial yang cenderung mengangkat konten sensasional ketimbang edukatif.
Normalisasi konten pacaran anak remaja yang tidak pantas ini berkelindan dengan romantisasi hubungan dan pernikahan usia muda. Ketika relasi mereka tampilkan sebagai tujuan utama hidup, pendidikan, pengembangan diri, dan proses pendewasaan emosional menjadi nomor sekian. Akibatnya, para remaja terdorong untuk “cepat dewasa”, tanpa benar-benar siap secara mental maupun sosial.
Pada titik ini, media sosial bukan sekadar cermin perilaku remaja, melainkan ruang yang turut membentuknya. Tanpa intervensi dan kesadaran kolektif, tren semacam ini berpotensi mempersempit makna masa remaja yang seharusnya terpenuhi oleh fase belajar dan bertumbuh, menjadi etalase romansa yang rapuh.
Influencer Inkompeten dan Kampanye Nikah Muda
Berapa banyak yang jadi influencer dadakan di media sosial, modal video viral yang entah apa isinya, banjir like, komen dan repost. Terbaca algoritma, hingga postingan lainnya ikut naik dan menambah jumlah followers. Namun, isinya nihil.
Pasalnya, tokoh yang kita sebut sebagai influencer ini cukup memiliki pengaruh dalam mengubah pola pikir anak muda. Mulai dari gaya berpakaian, model make up, pola pikir, hingga gaya hidup. Namun, perlu kita catat bahwa pengaruh yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan kapasitas pengetahuan dan tanggung jawab sosial.
Dari sinilah persoalan muncul. Ketika influencer yang inkompeten justru menjadi rujukan utama dalam isu-isu serius seperti relasi, pernikahan, dan kehidupan rumah tangga.
Banyak influencer mengampanyekan nikah muda dengan narasi yang disederhanakan. Mereka menggambarkan pernikahan sebagai solusi atas kesepian, jalan keluar dari pergaulan bebas, atau bukti kedewasaan. Konten semacam ini kerap terbungkus dengan visual bahagia, potongan momen romantis, dan testimoni sepihak tanpa konteks kesiapan mental, ekonomi, maupun risiko yang menyertainya. Bahkan, terbalut dengan agama.
Masalahnya bukan terletak pada pilihan hidup untuk menikah di usia muda, melainkan pada penyampaiannya yang timpang. Influencer yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, pengalaman konseling, atau pemahaman psikososial sering kali mengabaikan kompleksitas pernikahan. Mereka berbicara dari pengalaman personal yang terbatas, namun dipresentasikan seolah-olah kebenaran universal yang dapat ditiru siapa saja.
Bahaya Kampanye Nikah Muda
Lebih berbahaya lagi, kampanye nikah muda ini menyasar audiens remaja yang masih berada dalam fase pencarian identitas. Ketika pesan tersebut mereka terima tanpa filter kritis, pernikahan tidak lagi terpahami sebagai komitmen jangka panjang yang menuntut kesiapan, melainkan sebagai capaian sosial yang harus segera mereka raih demi validasi lingkungan.
Di tengah derasnya konten semacam ini, suara alternatif yang menekankan pentingnya pendidikan, pendewasaan emosional, dan perencanaan masa depan justru kalah algoritma. Influencer yang seharusnya berperan sebagai figur teladan malah mempersempit pilihan hidup anak muda, seolah masa depan hanya sah bila diakhiri dengan pernikahan dini. Padahal, pernikahan bukanlah sebuah pencapaian. Pernikahan adalah fase hidup yang akan semua orang alami, cepat atau lambat.
Fenomena ini mengingatkan bahwa remaja kita perlu memberikan bimbingan dan arahan dalam memilih dan memilah panutan mereka di media sosial. Fenomena ini juga menjadi PR bersama, khususnya influencer sebagai aktor publik untuk menyadari bahwa narasi yang mereka bangun di media sosial, tidak berakhir sebagai postingan belaka. Namun, ia menjadi konsumsi publik termasuk konsekuensinya.
Bergesernya Cita-cita ke Rencana “Siap Nikah”
Ketika nikah muda semakin sering terpromosikan dan dirayakan di ruang digital, orientasi hidup remaja pun ikut bergeser. Data menunjukkan sekitar 11,9% gadis remaja di Indonesia menikah sebelum usia 19, periode yang idealnya adalah waktu untuk menyelesaikan SMA atau bahkan masuk perguruan tinggi.
Penelitian juga menegaskan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan seorang perempuan menikah dini. Bahkan siswa yang hanya tamat SD memiliki risiko jauh lebih tinggi menikah dini ketimbang yang melanjutkan kuliah.
Cita-cita yang dahulu berpusat pada pendidikan, profesi, dan pengembangan diri perlahan tergantikan oleh satu target yang dianggap lebih “realistis” dan cepat diraih, siap menikah. Pergeseran ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan terbentuk oleh narasi yang terus berulang dan dinormalisasi.
Media sosial, terutama melalui influencer, memainkan peran besar dalam membingkai pernikahan sebagai pencapaian utama. Konten-konten yang menampilkan pernikahan muda sebagai simbol kedewasaan dan keberhasilan hidup sering kali mengabaikan proses panjang yang seharusnya mendahuluinya, termasuk pendidikan dan pendewasaan emosional. Akibatnya, sekolah dan kuliah tidak lagi kita pandang sebagai tujuan, melainkan sekadar pengisi waktu sebelum menikah.
Pergeseran Nilai
Di kalangan remaja, pergeseran ini terlihat dari perubahan cara mereka merancang masa depan. Pertanyaan tentang jurusan, karier, atau rencana studi lanjut mulai kalah penting daripada diskusi tentang kesiapan menikah, usia ideal menikah, atau kriteria pasangan. Pendidikan menjadi sunyi bukan karena tidak tersedia, tetapi karena tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan.
Ketika “siap nikah” menjadi tolok ukur kedewasaan, remaja terdorong untuk melompati fase penting dalam hidupnya. Mereka dituntut tampak matang secara sosial, tanpa benar-benar diberi ruang untuk bertumbuh melalui pendidikan. Dalam kondisi ini, belajar kehilangan maknanya sebagai proses pembebasan dan justru anggapannya penghalang bagi percepatan status sosial.
Pergeseran cita-cita ini menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan generasi muda. Tanpa pendidikan yang memadai, pilihan hidup menjadi sempit dan ketergantungan ekonomi semakin besar. Ironisnya, risiko-risiko inilah yang jarang muncul dalam narasi nikah muda yang beredar luas.
Jika pendidikan terus kita letakkan di pinggir panggung, maka yang terjadi bukan sekadar perubahan prioritas individu, melainkan perubahan arah kolektif. Cita-cita tergantikan oleh rencana instan, dan masa depan terbangun di atas romantisasi, bukan kesiapan yang sesungguhnya.
Menikah muda tanpa perhitungan yang layak, tanpa bekal pendidikan dan agama yang kuat, juga tanpa kondisi ekonomi yang stabil sebagai penopang, bukan hanya mempertaruhkan masa depan pasangan itu sendiri, tapi juga masa depan generasi yang terlahirkan nanti. []




















































