Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Tanah Ibu Kami; Perempuan sebagai Sosok Pionir Perlawanan

Film ini membawa kita untuk memahami persoalan-persoalan agraria dan juga melihat peran perempuan dalam mempertahankan haknyna atas tanah.

Atu Fauziah by Atu Fauziah
20 Mei 2021
in Film
A A
0
menjaga lingkungan

menjaga lingkungan

11
SHARES
540
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Ibu bumi wis maringi

(Ibu bumi telah memberi)

Ibu bumi dilarani

(Ibu bumi disakiti)

Ibu bumi kangadili

(Ibu bumi yang akan mengadili)

Mubadalah.id – Begitu kira-kira potongan syair yang dialunkan oleh kartini-kartini Kendeng tatkala menuai hasil kebun mereka. Ada makna yang cukup dalam serta kekuatan yang begitu menggugah dalam syair itu, seolah kita dibawa untuk merenungi kata perkatanya.

Alam yang dianalogikan sebagai sosok ibu yang selalu memberi apa yang dimiliki. Tetapi apa yang telah ibu bumi beri tak  juga disyukuri dan malah diingkari, dengan terus mengeruk keuntungan tiada henti, tanpa sadar  jikalau dengan itu bumi telah tersakiti. Meski begitu, ibu bumi tentu tidak akan diam begitu saja, karena apa yang diperbuat akan berbalik, tak terkecuali pada alam. Ibu bumi akan mengadili setiap tindakan merusak, dan membalas tangan-tangan angkara.

Tanah ibu kami, adalah sebuah film yang diproduksi oleh The Gecko Projek dan Mangabay tayang perdana pada 2 November 2020 lalu. Sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjalanan seorang jurnalis Independen yang bernama Febriana Firdaus menyusuri empat daerah di Nusantara, yakni, Desa Tegaldawo, Jawa Tengah; Mallo, Nusa Tenggara Timur;Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah; dan terakhir Banda Aceh.

Film yang merekam kisah-kisah perjuangan para perempuan yang dengan gagah berani berdiri di garda terdepan untuk mempertahkankan apa yang dimilikinya, serta meneguhkan apa yang diyakininya, dengan berbagai cara, tak terkecuali dengan cara melawan.

Tanah Ibu Kami bukan hanya menyuguhkan sebuah kisah yang dengan menontonnya menyulut rasa empati dan semangat berjuang, lebih dari itu Tanah Ibu Kami adalah Empat kisah perlawanan perempuan dalam satu film yang  berdurasi 55 menit namun  sudah berhasil membawa kita membuka mata betapa perempuan bukan makhluk yang mudah disepelekan apa lagi dianggap lemah.

Berikut empat nilai yang dimuat dalam film Tanah Ibu Kami :

Perempuan dan Kesadarannya untuk Melawan

Di awal, film ini sudah berhasil menguras emosional dengan melihat betapa kartini-kartini Kendeng tanpa rasa takut menyemen kedua kakinya dan pergi ke Istana Negara sebagai bentuk perlawanan dan penolakan terhadap pembangunan PT Semen Indonesia. Penolakan  mereka bukan tanpa alasan, karena pabrik semen tersebut telah merenggut tanah adat milik mereka, dan berpotesnsi menimbulkan kerusakan alam.

Hilangnya tanah mereka maka akan hilang pula sumber penghidupan masyarakat adat, sedangkan mereka menggantungkan hidupnya pada alam. Tak hanya itu, sumber air masyarakat pun akan terancam, sedangkan sumber air ini adalah segalanya apalagi bagi perempuan yang memiliki pengalaman biologis berbeda dengan laki-laki.

Itulah yang kemudian mendorog kartini-kartini Kendeng untuk melawan, mereka memiliki kesadaran atas potensi-potensi kerusakan yang akan ditimbulkan bila adanya pabrik semen. Karena apa yang mereka khawatirkan bukan saja keberlangsungan hidup mereka kini, tetapi juga keberlangsungan hidup anak cucu mereka kelak. Sehingga mereka memiliki kesadaran untuk tidak membiarkan hal tersebut terjadi, mereka harus melakukan sesuatu untuk mencegah pabrik semen tersebut beropersi.

Kesadaran untuk melawan  eksploitasi alam ini bukan hanya dilakukan oleh para kartini Kendeng, tetapi juga perempuan lainnya seperti Aleta Baun di Mallo, Nusa Tenggara Timur. Dan di Sulawesi Tengah ada Eva Bande yang melakukan perlawanan bersama kawan-kawannya dalam usaha menolak pengalihpungsian lahan menjadi perkebunan sawit.

Sederet kisah-kisah mereka telah menyadarkan kita betapa perempuan memiliki daya kritis terhadap realitas yang terjadi di lingkungannya, perempuan bukan makhluk kelas dua yang kurang akal atau bodoh. Tetapi perempuan makhluk yang peka dengan situasi yang terjadi, juga memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang mereka yakini sebagai tindakan yang memang perlu dilakukan.

Perempuan Memiliki Peran Penting dalam Upaya Mempertahankan Keutuhan Alam

Tanah Ibu Kami membawa pesan bahwa perempuan memiliki peran yang besar dalam upaya pelestarian alam. Hal tersebut terlihat bagaimana perempuan-perempuan Kendeng yang kurang lebih seratus orang melakukan demo hingga pada akhirnya berujung kekerasan,. Perlawanan mereka sampai pada puncaknya ketika  kartini-kartini Kendeng menyemen kaki mereka di Istana Negara. Meski pada akhirnya mereka harus kehilangan kawan seperjuangan mereka yang wafat ketika selesai aksi di Jakarta menuju pulang, yaitu Yu Patmi.

Jika di Jawa Tengah ada kartini-kartini Kendeng, maka di NTT ada mama-mama Mallo yang berjuang mempertahankan gunung batu milik masyarakat adat. Perlawanan demi perlawaan mereka lakukan, dengan rela meninggalkan kebun mereka sehingga terbengkalai. Mereka pun banyak medapatkan kekerasan dari aparat yang memaksa melawan mama-mama Mallo. Tidak hanya luka fisik yang mereka dapatkan, tapi juga psikologis dari perjuangan itu.

Terlihat nyata banyak sekali perempuan-perempuan yang memiliki kekuatan besar dalam melawan eksploitasi terhadap alam, meski perjuangan yang mereka tempuh tentu tidaklah mudah. Begitulah yang juga dirasakan oleh Eva Bande dan juga Farwiza.

Film Tanah Ibu Kami Telah Mematahkan Stigma Bahwa Perempuan Hanyalah Makhluk yang Pantas Mengurus Urusan Domestik Saja

Stigma bahwa perempuan tidak memiliki kapsitas dalam urusan publik hanya pernyataan yang tidak berdasar. Nyatanya Aleta Baun menjadi penggagas upaya melawan perusahaan tambang di Mallo. Aleta  memang seorang anak kepala suku, tetapi dilahirkan sebagai perempuan membuat Aleta tidak diberikan kepercayaan untuk mengatur juga memutuskan suatu persoalan sukunya.

“Mereka bilang perempuan tak bisa memimpin, mama-mama bangkit dan melawan” begitu yang dikatakan mama Aleta.

Budaya yang patriarkal mencoba membatasi ruang gerak perempuan dalam urusan publik, Tetapi mama Aleta dapat meyakinkan masyarakat adatnya bahwa siapa saja dapat mejadi pemimpin. Sehingga mama Aleta bisa mengajak masyarakat adat lain untuk melakukan perlawanan dalam mempertahankan tanahnya.

Bagaimana perempuan mampu jadi sosok yang berpengaruh dalam suatu masyarakat, bahkan dapat mengorganisir masa untuk melakukan suatu perlawanan, itu jugalah yang dilakukan Eva Bande. Bahkan Eva bisa dibilang menjadi salah satu sosok yang ditakuti oleh para korporasi di tempatnya. Eva terkenal dengan tinjunya dalam jeruji besi yang menjadi sebuah simbol ketangguhan sosok perempuan pejuang itu .

Sosok Eva Bande, Mama Aleta, Kartini Kendeng, Wiza, bukan hanya muncul sebagai perempuan yang memiliki kesadaran atas pentingnya mempertahankan alam, tetapi menggambarkan betapa perempuan menjadi sosok pionir perlawanan.

Perempuan serta Keunikannya dalam Melakukan Perlawanan

Dan terakhir, yang ingin saya soroti dari film Tanah Ibu Kami adalah bagaimana perempuan selalu memiliki cara unik dalam melawan dan bergerak. Perempuan yang selalu mengutamakan cara-cara lembut dalam bertindak tercermin juga ketika mereka melakukan perlawanan.

Mama-mama Molla, mereka membawa alat-alat tenun ke gunung batu untuk mencegah para penambang melakukan aksinya. Mereka menenun di atas gunung berhari-hari tanpa lelah. Tenun adalah alat yang sangat dekat dengan perempuan, dan mama-mama Molla menjadikan itu sebagai alat perlawanan mereka.

Film ini membawa kita untuk memahami persoalan-persoalan agraria dan juga melihat peran perempuan dalam mempertahankan haknyna atas tanah. []

Tags: Alam SemestaEkofeminismeEkologifeminismeFilmGenderkeadilanKesetaraanperempuanPerlawananTanah Ibu Kami
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Perempuan dalam Realitas Praktek Berpoligami

Next Post

Perayaan Idul Fitri Masa Pandemi, Suka di Tengah Duka

Atu Fauziah

Atu Fauziah

Mahasiswi Akidah Filsafat Islam di UIN Banten.

Related Posts

Perempuan Sumber Fitnah
Pernak-pernik

Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

16 Februari 2026
Solidaritas
Publik

Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

13 Februari 2026
Novel Perempuan di Titik Nol
Buku

Tubuh, Kuasa, dan Perlawanan dalam Novel Perempuan di Titik Nol

13 Februari 2026
Feminist Political Ecology
Lingkungan

Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

13 Februari 2026
SDGs
Rekomendasi

Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

12 Februari 2026
Sains
Publik

Sains Bukan Dunia Netral Gender

11 Februari 2026
Next Post
Idul Fitri

Perayaan Idul Fitri Masa Pandemi, Suka di Tengah Duka

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang
  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?
  • Strategi Dakwah Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0