Mubadalah.id – Kasus penyekapan dan penyiksaan terhadap seorang perempuan korban kekerasan di Bandung beberapa waktu terakhir menyentak nurani banyak orang. Selama 3 tahun, korban diduga mengalami kekerasan hingga harus menjalani perawatan intensif dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa hidup dalam ketakutan begitu lama, sementara orang-orang di sekitarnya mengira semuanya baik-baik saja.
Di media sosial, bermunculan pertanyaan, “Mengapa korban tidak melarikan diri?” atau “Mengapa bertahan selama itu?” Pertanyaan semacam ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya tidak sesederhana jawabannya. Kekerasan dalam relasi sering kali tidak mulai dengan pukulan atau penyiksaan. Ia tumbuh perlahan, merambat sedikit demi sedikit, hingga korban kehilangan keberanian untuk keluar dari lingkaran yang menyakitkan.
Saya teringat pada sebuah kisah yang pernah saya dengar dari seseorang. Ia menjalin hubungan bertahun-tahun dengan seorang laki-laki yang, jika kita lihat sepintas, tampak baik. Tidak pernah memukul, tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Namun, semakin lama hubungan itu berjalan, ia merasa dia semakin kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Hampir setiap hari ia harus menjelaskan sedang berada di mana, bersama siapa, dan melakukan apa. Pertemanan mulai terbatasi dengan alasan “demi kebaikan hubungan”. Jika ingin berkumpul dengan teman, selalu ada rasa tidak enak karena khawatir akan memicu pertengkaran. Sedikit demi sedikit, ia mulai menjauh dari lingkungan yang selama ini membuatnya nyaman.
Yang paling menyakitkan justru bukan larangan-larangan itu, tetapi ucapan yang terus berulang. Ia sering dibuat merasa tidak cukup baik. Setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai bentuk ketidakmengertian terhadap pengorbanan pasangannya.
Sesekali ia mendengar kalimat seperti, “Kamu seharusnya bersyukur masih ada yang mau sama kamu,” atau “Aku sudah banyak berkorban, jadi wajar kalau kamu mengikuti apa yang aku inginkan.” Bahkan sempat terlontar sepatah dua patah kata yang sangat tidak pantas terucapkan dari mulut seorang pria untuk wanita yang katanya sangat ia cintai.
Kalimat-kalimat itu mungkin tidak meninggalkan luka pada tubuh, tetapi perlahan mengikis harga diri seseorang. Lama-kelamaan ia mulai mempertanyakan diri sendiri, merasa selalu salah, dan menganggap semua tuntutan itu sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah hubungan. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya membuat seseorang bertumbuh, bukan terus-menerus merasa kurang.
Kekerasan Tidak Selalu Meninggalkan Lebam
Kita sering mengidentikkan kekerasan dengan luka fisik. Padahal, ada luka yang tidak tampak di permukaan, tetapi dampaknya jauh lebih lama. Merendahkan pasangan, mengontrol setiap aktivitasnya, membatasi hubungan dengan keluarga atau teman, membuatnya merasa bersalah setiap saat, hingga menanamkan keyakinan bahwa ia tidak akan mendapatkan pasangan yang lebih baik. Semua itu merupakan bentuk kekerasan psikis yang tidak boleh kita anggap sepele.
Banyak orang menyebut perilaku seperti ini sebagai hubungan yang toxic. Apa pun istilahnya, intinya sama. Relasi tersebut tidak lagi menghadirkan rasa aman. Cinta berubah menjadi alat untuk menguasai, bukan untuk saling menguatkan. Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah pelaku tidak selalu tampak kasar di hadapan orang lain. Di luar rumah ia bisa terlihat ramah, penyayang, bahkan terkenal sebagai pribadi yang baik. Namun, di dalam relasi, ia membangun ketakutan melalui kata-kata, rasa bersalah, dan kontrol yang berlebihan.
Islam Mengajarkan Kasih Sayang, Bukan Penguasaan
Islam tidak pernah meletakkan hubungan laki-laki dan perempuan di atas dominasi salah satu pihak. Al-Qur’an menggambarkan pasangan sebagai pakaian bagi satu sama lain. Pakaian berfungsi melindungi, memberi rasa nyaman, dan menutupi kekurangan. Tidak ada pakaian yang sengaja menyakiti pemakainya.
Begitu pula Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang justru tampak dari cara ia memperlakukan keluarganya. Tidak ada teladan yang menunjukkan bahwa cinta terbangun dengan ancaman, penghinaan, atau membuat pasangan merasa tidak berharga.
Dalam perspektif mubadalah, hubungan antarmanusia berdiri di atas prinsip kesalingan. Artinya, laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk dihormati martabatnya. Tidak ada ruang bagi relasi yang membuat salah satu pihak kehilangan kebebasan, rasa aman, apalagi harga dirinya.
Kasus di Bandung mengingatkan kita bahwa kekerasan sering kali berlangsung jauh lebih lama daripada yang orang lain ketahui. Sebelum penyiksaan fisik terjadi, bisa jadi korban telah lebih dahulu mengalami kekerasan verbal, tekanan psikologis, atau pengasingan dari lingkungan terdekatnya. Pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukanlah mengapa korban bertahan, tetapi mengapa pelaku merasa berhak mengendalikan hidup orang lain.
Korban membutuhkan orang-orang yang mau mendengar tanpa menghakimi. Mereka membutuhkan dukungan agar berani mencari pertolongan, bukan komentar yang justru membuat mereka merasa bersalah atas apa yang ia alami.
Cinta Semestinya Membebaskan
Tidak semua penjara memiliki jeruji besi. Ada penjara yang terbangun dari rasa takut, ancaman, penghinaan, dan keyakinan bahwa seseorang tidak pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Di sinilah pentingnya membedakan mana cinta dan mana penguasaan. Jika sebuah hubungan membuat seseorang kehilangan kebebasan untuk bertemu keluarga, menjauh dari sahabat, takut menyampaikan pendapat, atau terus-menerus merasa dirinya tidak berharga, barangkali yang sedang dipertahankan bukan lagi cinta, namun sebuah relasi yang tidak sehat.
Kasus di Bandung menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak selalu datang secara tiba-tiba. Ia sering berawal dari hal-hal yang kita anggap biasa. Dari kata-kata yang merendahkan, dan kontrol yang terbungkus perhatian. Dari larangan yang disebut sebagai bukti cinta.
Islam mengajarkan bahwa cinta adalah jalan menuju sakinah, bukan ketakutan. Cinta yang sejati tidak membelenggu, tidak merendahkan, dan tidak menguasai. Sebab, mencintai seseorang berarti menjaga martabatnya, bukan menjadikannya tawanan atas nama kasih sayang. []












































